
Sanubari keluar dari mobil. Dia menekan bingkai kacamata bagian kanan. Hologram muncul di depan matanya begitu bunyi klik terdengar.
Telunjuk bersarung tangan hitam terulur ke depan, menyentuh tombol rute menuju gudang penyimpanan barang. Garis biru bersinar tampak tergambar di jalanan malam setelah Sanubari menyentuh tombol virtual.
"Wow, keren!" decak kagum Sanubari.
Remaja itu pun berlari mengikuti garis panjang yang tak terputus. Suasana sangat sunyi dan gulita. Sanubari tidak menabrak walau tanpa penerangan. Garis biru telah memilihkan jalur bebas hambatan untuknya.
Saat berbelok di jalanan menurun, tiba-tiba penerangan menyala kembali. Sanubari terperanjat. Sesosok lelaki dari lawan arah menggerak-gerakkan tangan seolah mengusir Sanubari.
Namun, remaja itu tetap berlari maju, mengabaikan petugas keamanan yang berjalan ke arahnya.
Jarak mereka kian dekat. Petugas keamanan itu merentangkan tangan begitu posisi mereka saling bersinggungan. Rentangan tangan kanan petugas keamanan itu menghalangi badan Sanubari.
Berpikir Sanubari adalah turis tersasar yang tak bisa berbahasa Jepang, Pria itu pun menegurnya dengan bahasa Inggris, "You are not allowed entering this place farther, Sir!"
Pria itu melarang Sanubari masuk lebih dalam. Namun, Sanubari menyingkirkan lengan di hadapannya. Dia tetap berjalan tanpa mengacuhkan petugas keamanan.
"Sir!" Petugas keamanan memegang bahu sang remaja.
Adrenalin Sanubari terpacu liar. Hatinya gugup, tetapi dia hAarus mempertahankan ketenangan. Langkah pertama sebagai batu loncatan impuiannya sudah berjalan sekurang-kurangnya dua persen.
Bagaimanapun juga keberhasilan harus berada di tangannya. Terdorong tekad masis depan yang perlahan bermetamorfosa menjadi obsesi, Sanubari menarik tangan petugas keamanan.
Gerakannya cepat dan akurat. Kurang dari satu menit, petugas keamanan itu pingsan. Sanubari kembali mengikuti garis yang diproyeksikan kacamatanya.
__ADS_1
Lima tahun bersama Canda, Sanubari belajar banyak hal dari dokter jenius tersebut. Beladiri, titik-titik akupuntur (khususnya bagian vital yang bisa melumpuhkan maupun mematikan lawan) telah dikuasainya.
Hanya saja, dia belum pernah mempraktikan secara nyata. Sembari mengingat penjelasan Canda, Sanubari terus menyusuri tempat itu. Dia berhenti sejenak ketika melihat dua orang berdiri di depan pintu yang harus dilewati.
Diamatinya dua pria berseragam hitam dari balik tembok. "Masing-masing dari mereka membawa pistol besar. Aku pasti akan langsung mati tertembak kalau berjalan dari sini ke sana."
Sanubari merapatkan punggung pada tembok. Dia pernah melihat senapan serbu yang disebutnya pistol besar dalam sebuah film aksi. Senapan tersebut bisa memuntahkan banyak peluru dalam waktu singkat.
"Terlalu riskan jika aku mengikuti jalur ini. Berpikir! Ayo berpikir apa yang bisa kulakukan!"
Memejamkan mata, Sanubari mencoba mencari jalan keluar. Kemudian, dia teringat bisa berkomunikasi dengan Eiji.
"Kak Eiji!" Sanubari mengatakannya dengan suara yang sangat lirih.
Jawaban itu terdengar jelas di gendang telinga, Sanubari pun tersenyum dari balik maskernya. "Tapi aku butuh bantuan Kakak."
"Cukup panggil aku kakak. Jangan sebut-sebut namaku!"
"Mengerti. Ada dua orang menjaga pintu di rute yang harus kulalui. Bisakah Kakak mencarikan jalan lain?"
"Tidak. Itu satu-satunya jalan yang bisa kau lalui. Lumpuhkan penjaganya, lalu masuk!"
Sepertinya Sanubari tidak memiliki pilihan lain. Sekali lagi, dia mengintip. Dua orang masih di tempat. Sanubari pun mengambil baksil dari saku celana.
"Incar lengan atau kaki jika kau tidak ingin tanpa sengaja membunuh!" Sanubari mengultimatum dirinya sendiri.
__ADS_1
Mengincar tangan dan kaki memang sulit, apalagi ketika target mengenakan pakaian panjang seperti mereka. Akan tetapi, dia harus belajar mengira-ngira ketebalan kain dan posisi tubuh supaya tidak salah sasaran.
Dalam sekali bidik, satu penjaga tumbang. Pria satunya lagi bergerak mengetahui rekannya tiba-tiba ambruk, membuat tembakan Sanubari berikutnya meleset.
Sebuah silet melesat, menembus pintu besi di belakang pia itu. Dentingan seketika meningkatkan kewaspadaan sang pria. Dia memosisikan senapan serbu dalam pose siaga.
"Dare KA?" teriak pria itu seraya mengedarkan pandangan.
"Gawat!" Panik, Sanubari kembali bersembunyi.
Dentaman-dentaman liar kian tak terkendali dalam dada Sanubari Derap sepatu makin terdengar mendekat. Bola mata Sanubari bergerak lebih cepat, mencari tempat persembunyian yang aman.
"Sial! Tidak ada tempat bersembunyi di sini. Kalau aku berlari kembali ke sana ...," Sanubari menjeda kata hatinya sejenak, menatap arah kedatangannya lalu menggeleng, "mustahil! Dia akan menembak ku lebih dulu sebelum sampai tikungan."
Penjaga tersebut berhenti sejenak. Dia terlihat sedang menyalakan alat komunikasi.
"Koko ni shinnyƫusha ga imasu." Penjaga itu menginformasikan pada seseorang bahwa ada penyusup.
Sanubari seperti orang berjudi sekarang. Dia tidak bisa membiarkan penjaga itu berbicara lebih banyak. Akan merepotkan jika lebih banyak orang mengepung tempat ini.
Dengan mempertaruhkan segalanya, dia berbalik badan, keluar dari persembunyian. Tanpa diduga-duga, penjaga telah berada tepat di sebelah dinding tempat Sanubari bersembunyi sebelumnya. Spontan Sanubari berteriak, "Waaa!"
Keduanya saling berhadapan kurang Dari setengah meter. Pria itu mengangkat senapan serbunya. Sanubari terbeliak.
Letusan senapan berbunyi beberapa kali. Selongsong-selongsong berjatuhan, berdenting di permukaan keramik.
__ADS_1