Santri Famiglia

Santri Famiglia
Olimpiade


__ADS_3

"Ini tidak seperti yang Anda pikirkan. Olahraga berpedang ini aman," kata Kelana mendekati jajaran benda yang tersusun rapi dengan pegangan mirip pedang.


"Tapi yang namanya pedang itu kan pasti tajam seperti pisau dan lebih panjang."


Kelana membuka pintu kaca. Dia mengambil salah satu benda yang menyerupai pedang. Kemudian, dia berbalik badan lalu berkata, "Coba Anda perhatikan ini!"


Ia serahkan benda itu kepada Sanubari. Sanubari memegang gagang benda itu. Diperhatikannya benda panjang yang terlihat seperti antena bergagang.


"Ringan. Apa ini?" Sanubari menggerak-gerakkan benda di tangannya.


"Itulah pedang yang akan digunakan untuk permainan anggar."


"Ini pedang? Tapi kok seperti bukan pedang? Tidak ada sisi tajamnya."


"Yang Anda pegang itu namanya foil atau floret. Seperti yang Anda lihat di sini, ada pula pedang lain yang digunakan dalam anggar." Kelana menunjukkan jajaran pedang di dekat mereka.


Ada tiga jenis pedang hampir sama tetapi berbeda di sana. Masing-masing jenis terdiri dari beberapa pasang. Tiga jenis itu adalah foil/floret, degen/epee dan sabel/saber.


"Kupikir semua pedang itu sama seperti pisau tetapi ukurannya lebih panjang. Ternyata ada ya pedang semacam ini?"


"Pedang itu memang macam-macam. Ada bokutou atau pedang kayu, shinai atau pedang bambu. Masing-masing digunakan untuk cabang olahraga yang berbeda. Sementara katana, rapier, jiyan dan semacamnya tidak digunakan dalam pertandingan resmi karena berbahaya."


"Em ... apa semua itu?"


"Anda tidak perlu tahu untuk saat ini. Yang perlu Anda lakukan sekarang adalah fokus dengan anggar karena tiga bulan lagi Anda akan ikut dalam olimpiade anggar internasional."


"Apa?" sentak Sanubari terkejut.


Matanya membulat sempurna. Mulutnya menganga lebar. Yang dia tahu olimpiade adalah perlombaan yang biasanya diikuti oleh anak-anak cerdas dalam bidang yang dipertandingkan.


Olimpiade internasional berarti pesertanya dari seluruh dunia. Untuk mengikuti ajang berlevel dunia itu setidaknya Sanubari harus menjadi jenius anggar. Boro-boro jadi jenius, tahu apa itu anggar saja tidak.


"Kenapa berteriak begitu? Di sini sepi. Berbicara pelan pun terdengar kok."


"Ini pasti salah. Paman pasti hanya bercanda, kan? Aku tidak pernah mengikuti seleksi anggar. Aku tidak mungkin secara tiba-tiba menjadi peserta olimpiade."


"Ini tidak salah. Saya yang mendaftarkan Anda. Saya sudah menghubungi IAI dan ketua umum IAI menyetujui usulan saya. Yaitu, untuk mengirim Anda sebagai perwakilan Indonesia dalam pertandingan anak perorangan. Jadi, mari kita semangat berlatih mulai hari ini!" Kelana tersenyum.

__ADS_1


IAI (Ikatan Anggar Indonesia) merupakan organisasi yang mewadahi dan menaungi atlet anggar dari seluruh Nusantara. Penyaluran atlet umtuk kompetisi bertaraf Internasional biasanya melalui organisasi ini. Baik dengan penunjukan atlet secara langsung maupun seleksi lokal terlebih dahulu.


"Paman Kelana seram. Kenapa selalu saja bisa mendapatkan sesuatu dengan mudahnya?" batin Sanubari.


"Sekarang mari kita lihat. Apakah di sini ada baju pelindung yang pas untuk Anda?" Kelana membuka almari lain.


Di sana berjajar kostum berwarna putih dalam berbagai ukuran. Tujuan Kelana mengajak Sanubari ke ruang perlengkapan adalah untuk ini. Kelana menyuruh Sanubari mencoba beberapa. Namun, semua tidak ada yang pas. Yang paling kecil pun masih terlalu besar untuk Sanubari.


"Sepertinya kita memang harus memesankan baju sendiri untuk Anda," gumam Kelana.


Baju pelindung di sana memang tidak pas. Akan tetapi, untungnya tinggi Sanubari memenuhi syarat. Meskipun hanya pada batas minimal sehingga Kelana bisa mendaftarkannya tahun ini. Sanubari hampir saja gagal diikut sertakan gara-gara tingginya itu. Padahal banyak anak seumuran dengannya yang lebih tinggi. Bisa dibilang tubuh Sanubari tergolong mungil.


Bukan tanpa alasan, Kelana membuat Sanubari ikut dalam pertandingan. Kelana sangat berharap setidaknya Sanubari akan menjadi tiga terbaik. Dengan begitu, ke depannya dia akan lebih mudah masuk ke sekolah favorit.


Selesai menjelaskan perlengkapan dan peralatan, Kelana mengajak keluar. Mereka kini berada di ruangan yang seperti lapangan sebelumnya. Di tengah-tengah ruangan itu ada arena sepanjang empat belas meter dan lebar dua meter dengan garis tengah dan beberapa garis tepi. Keduanya berdiri di tengah area itu.


"Ini namanya landasan anggar. Disebut juga loper. Seperti halnya dalam pertandingan bulutangkis, loper juga memiliki garis batas duel, peringatan dan mati. Sementara garis dimana kita berdiri sekarang disebut garis batas bersedia."


Berikutnya Sanubari diajari bagaimana cara memberi hormat atau salut. Bagian ini sangat penting untuk menjaga solidaritas. Seorang atlet yang baik harus memiliki tata krama yang baik pula.


Setiap hari Sanubari berlatih sendirian sambil belajar bahasa ketika kelas privatnya selesai atau malam hari sebelum tidur. Sanubari bosan belajar sambil duduk. Jadi, dia putuskan untuk berlatih anggar sekaligus menghafal kosa kata. Dengan begitu, dalam satu waktu dua materi bisa dia kuasai. Tidak hanya itu. Sanubari menjadi hafal di luar kepala karena fokusnya terbagi menjadi dua.


Mulutnya bahkan tetap bisa berbicara bahasa asing meskipun otaknya tidak sedang memikirkannya. Metode belajar sambil terus bergerak ini sangat efektif untuk Sanubari. Dia akan langsung beristirahat di ranjangnya begitu merasa lelah.


Selama di Italia, Sanubari memiliki kebiasaan baru. Pagi hari sebelum memulai kelas dengan Kelana, biasanya Sanubari akan pergi ke rumah kaca. Dia menengok perkembangan pohon singkongnya, mencurahkan perasaan atau sekadar menyapa pohon tidak bisa berbahasa manusia itu. Seperti yang dilakukan Sanubari saat ini.


"Tumbuh yang baik ya, Singkong! Biar nanti makin banyak pohon singkong di sini. Hari ini aku ada latihan ujian kemampuan bahasa Italia A1. Doakan aku bisa mengerjakannya dengan mudah ya, Sobat Singkong! Aku tidak mau dapat PR tambahan dari Paman Kelana karena nilaiku jelek. Oke, sudah dulu, ya!" Dada!" ucap Sanubari lalu berlari memasuki rumah.


Di meja makan, Sanum sudah menyiapkan sarapan dibantu oleh Bella dan Natasya. Aeneas duduk dengan espresonya. Kelana juga sudah ada di sana dengan secangkir espreso macchiato.


Ada biscotti dan panini di atas meja. Biscotti merupakan biskuit khas Italia yang berisi buah-buahan kering. Sementara panini adalah roti lapis Italia, tengahnya ada sayuran, irisan daging, keju, saus dan pelengkap lainnya. Bisa dibilang juga sebagai versi Italia dari sandwich.


Sedangkan di kursi Sanubari, Sanum menyiapkan susu murni hangat, sepiring aracini. Aracini adalah bola-bola nasi yang dilapisi tepung panir lalu digoreng hingga berwarna cokelat keemasan. Sanum membumbui nasinya sehingga lebih berasa. Ditengahnya diisi dengan olahan jamur dan ayam yang telah dilumuri mayones dan saus pedas. Sanum selalu mengganti-ganti isinya supaya Sanubari tidak bosan.


Walaupun mereka sudah pindah ke Italia tetapi kebiasaan Sanubari tidak berubah. Bocah itu tidak bisa jika tidak makan nasi. Setiap hari dia selalu meminta nasi. Sementara piza, panini dan semacamnya hanya dianggap sebagai camilan pelengkap nasi oleh bocah itu.


"Buongiorno!"

__ADS_1


(Selamat pagi!)


Sanubari berteriak memberi salam sambil mendekati meja makan. Semua orang menjawab salam Sanubari. Bocah itu kemudian duduk ke kursinya.


"Kemana saja kamu? Ayo cepat makan sarapanmu! Paman Kelana sudah menunggumu itu," ucap Sanum.


"Mamak seperti tidak tahu saja. Setiap pagi 'kan aku ada meeting dengan para pohon singkong yang akan menjadi calon orang tua untuk anak-anak singkong di perkebunan kita kelak," jelas Sanubari.


Kelana tertawa. "Anda ajak bicara pun pohon itu tidak akan tumbuh lebih cepat. Butuh waktu kisaran empat sampai enam bulan untuk siap dipanen dan dijadikan bibit baru."


"Siapa tahu saja keajaiban datang bila terus kuajak ngobrol."


"Makan dulu sarapanmu, Sanu!" tegur Sanum.


Sanubari pun kembali makan. Semenjak kepindahan mereka ke Italia, porsi makan Sanubari bertambah. Dia menjadi yang biasanya menghabiskan makanan yang masih tersisa di meja.


*****


"Akhirnya selesai juga." Sanubari merebahkan tubuhnya ke karpet setelah berhasil mengerjakan semua soal latihan.


Kelana langshung memeriksanya di tempat. Soal yang bisa dikerjakan dengan baik tidak akan dibahas. Hanya bagian salah saja yang akan diterangkan ulang oleh Kelana.


"Bosan," keluh Sanubari.


"Anda boleh menonton televisi atau bermain game sambil menunggu saya selesai mengoreksi."


"Aku ingin sekolah. Di rumah tidak ada teman bermain. Kalau ke sekolah 'kan enak. Aku bisa cari teman. Aku tidak mau lagi belajar sendirian di rumah. Aku mau belajar di sekolah."


"Anda belum bisa masuk sekolah umum. Sertifikat A1 saja belum Punya. Nanti akan saya ajak anak saya kemari jika Anda butuh teman bermain. Kebetulan kalian seumuran."


"Tapi aku tetap mau sekolah."


"Begini saja. Jika Anda berhasil lulus ujian C1 selama tiga bulan ke depan maka saya akan mengabulkan permintaan Anda. Jika tidak maka Anda harus bersabar sampai dua tahun lagi."


"Oke."


Kesepakatan diperoleh. Perjanjian ini membuat Sanubari termotivasi untuk belajar lebih giat. Dia akan melakukan apa pun untuk mendapatkan keinginannya.

__ADS_1


__ADS_2