
"Ara, Motohira sama, irasshaimase!" sambut seorang pelayan wanita dengan senyuman lebar.
Sanubari mengamati interaksi di sekitarnya. Dilihat dari cara mereka berinteraksi, sepertinya tim ini sudah menjadi pelanggan tetap.
"Itsumo no bashou desu ne?" Wanita itu memastikan mereka ingin memesan tempat seperti biasanya.
Pria yang paling sering tersenyum di antara tim Eiji menjawab dengan lembut, "Sou desu."
"Ano saa, Sono Mae, issho ni shashin o tottemo ini desu KA?"
Wanita itu bahkan meminta foto bersama. Sanubari tersenyum. Pandangannya tentang mafia kian rumit setelah melihat peristiwa ini. Dia hanya bisa membatin, "Apakah mafia itu setara dengan idola?"
Pada titik ini, Sanubari menjadi benar-benar bingung. Dia tidak tahu lagi apa itu mafia. Segalanya samar baginya.
Wanita itu memandu tim Eiji menuju ruangan terdalam kedai. Di sana terdapat sebuah ruangan mengarah ke taman tradisional Jepang.
Gemericik air dan ketukan bambu yang sesekali berbunyi tiap kali air penuh terdengar menyejukkan. Terdapat pula pelataran kerikil yang didekorasi dengan gaya zen.
Dengan latar natural itulah mereka bersua foto. Selepas berfoto-foto, barulah keempat pria itu duduk berhadapan. Mereka memesan menu yang sama.
"Jadi, nama kakak yang murah senyum ini Motohira?" Sanubari memandang Sai yang duduk di hadapannya.
"Apa? Kau bilang iblis es ini murah senyum?" kekeh Renji sembari menekan pipi kanan kiri Sai dengan telunjuk dan jempol. Dia menggerak-gerakkan kepala pria pendiam itu.
"Tapi, dari awal kuperhatikan, Kak Motohira ini memang suka senyum kok," ungkap Sanubari.
Renji kian tergelak. "Jangan sampai tertipu dengan tampangnya!"
"Sudah-sudah! Kita sudah bekerja sama hari ini, tapi belum melakukan perkenalan dengan benar," sela Eiji yang duduk di sebelah Sanubari.
"Ah, benar juga. Namaku Mitarai Renji. Panggil saja Ren! Pria di sebelahku ini Motohira Saiyuki. Kau bisa memanggilnya Sai," Renji menunjuk Sai sebelum akhirnya menurunkan tangan, "dan untuk ketua kita, sepertinya kau sudah tahu."
Sanubari manggut-manggut. "Aku penggemar kak Shiragami Eiji."
"Dari tadi kau mengatakan itu. Apa kau sedang mencoba mengambil hati Eiji?" tanya Renji.
"Sebenarnya, dia ini sama sekali tidak memenuhi kualifikasi untuk menjadi anggota kita. Kalau saja bukan karena ketangkasan fisiknya, mungkin aku tidak akan pernah menerimanya," ungkap Eiji menopang sebelah dagu.
__ADS_1
"Kalau begitu, lempar saja dia ke divisi lain!" saran Renji memundurkan badan, menyangga dengan kedua tangan.
"Sayangnya, hanya tim kita yang bahasa Indonesianya cukup bagus. Jadi, tidak ada yang cocok selain tim kita."
Sanubari merasa lega mendengar jawaban Eiji. Dia tidak perlu khawatir akan dialihkan ke tempat lain. Satu per satu pintu menuju rencana masa depan perlahan terbuka. Selanjutnya, dia tinggal memikirkan bagaimana membawa Eiji keluar dari Onyoudan.
""Omatase shimashita!" Seorang pelayan membawa dua nampan paket hitsumabushi. Dia meletakkannya ke atas meja, lalu mengambil dua porsi lainnya.
Sanubari membuka cawan yang menutup mangkuk besar. Warna kecokelatan daging belut yang menutupi seluruh permukaan mangkuk terlihat sangat menggugah selera. Dia menjilati bibirnya.
Dia langsung memotong daging dengan sumpit, memasukkan ke dalam mulutnya bersama nasi hangat yang ada di bawahnya. Tekstur lembut daging belut tanpa tulang dan rasa gurihnya sangat memanjakan lidah. Berikutnya, dia langsung menghabiskan rumput laut dan dan daun bawang bersama suapan kedua sampai empat.
"Hay! Ada cara untuk menikmati hitsumabushi loh! Di sini juga tertulis versi Inggrisnya," Renji mengambil selebaran yang dilaminasi dan menunjukkannya pada Sanubari, "apa kau tidak ingin mencobanya, Sanu?"
"Yang penting makan. Sama saja, bukan?" Sanubari mengangkat pandangan.
Dia sama sekali tidak tertarik dengan aturan makan. Berbeda dengan Sanubari, Sai selalu mencoba satu demi satu metode dengan tenang. Mulai dari hanya memakan daging dengan nasi, hingga menuangkan miso ke atas nasi dan daging yang telah dipindahkan ke cawan kecil.
"Baiklah, mari kita bersulang untuk anggota baru!" ajak Renji begitu semua selesai makan.
Sanubari mengambil secangkir teh. Namun, Renji merebutnya. Dia mengganti teh dengan sake.
Eiji menjauhkan gelas yang disodorkan Renji. "Dia masih di bawah umur. Tidak apa melewatkan bagian ini sekarang."
"Apa itu usia? Bukankah yang penting sekarang kita bersenang-senang?" Renji tetap memaksa sambil meneguk segelas sake.
"Maaf, tapi aku tidak bisa minum minuman beralkohol," ucap Sanubari.
"Mulai sekarang kau akan bisa." Renji menyeringai.
Tiba-tiba, dia duduk disebelah Sanubari, membawa sebotol sake. Dengan kuat, dia memiting remaja itu dan mencokolkan botol sake ke mulutnya.
Sanubari gelagapan. Sake mengalir dari sudut bibir hingga membasahi bajunya. Sementara sebagian tertelan. Eiji yang duduk di sebelah Sanubari langsung memelototi Renji.
Pria itu membentak, "Ren! Jangan paksakan kehendakmu padanya!"
Eiji mencengkeram botol. Dijauhkannya botol tersebut dari mulut Sanubari. Sake berceceran ke mana-mana karena dia harus saling mengadu tenaga dengan Renji.
__ADS_1
"Aku yakin dia akan ketagihan begitu mencicipinya. Bukankah ini enak, Sanu?" Renji tertawa.
Sanubari mengusap area sekitar mulutnya dengan punggung tangan. Dia menggeleng. Tubuhnya terasa panas setelah tanpa sengaja menelan beberapa tegukan.
Tanpa memedulikan Eiji, Renji kembali menawarkan, "Minum lagi, Sanu?"
"Tidak mau." Sanubari menunduk sambil menggeleng. Kepalanya mendadak pening.
"Mabuklah sendiri jika kau ingin mabuk! Jangan ajak-ajak Sanu!" Eiji masih berusaha melindungi Sanubari. Dia terus menampik tangan Renji yang diulurkan pada Sanubari.
"Panas," ucap Sanubari sangat lirih. Dia merasa tubuhnya tidak nyaman.
Renji bisa mendengar ucapan Sanubari yang sangat pelan. Dia meraih gelas teh, lalu menyerahkannya pada Sanubari. "Minumlah teh ini. Ini akan menyegarkanmu."
Tanpa pikir panjang, Sanubari menenggaknya dalam satu tarikan napas. Begitu habis, dia baru menyadari ada yang tidak benar. "Mengapa rasa tehnya aneh?"
Sanubari sudah beberapa hari tinggal di Jepang. Tentu dia tahu bagaimana rasa teh Jepang yang sama sekali tidak manis, dan yang baru saja diminumnya bukanlah teh. Itu yang diyakini Sanubari dalam kesadaran mengambang.
Sekedip kemudian, gelas merosot dari tangan Sanubari, menggelinding di atas meja. Remaja itu ambruk ke belakang.
"Sanu!" seru Eiji yang kemudian menepuk-nepuk pipi Sanubari untuk membangunkannya.
Renji memutar badan sambil memegang gelas sake dengan telunjuk dan jempol. Dia tersenyum puas memandang Sanubari yang baru saja ditipunya. "Ternyata, dia lebih lemah daripada kau, Ketua Ei."
Renji terkikik. Sai di seberang menikmati sakenya dengan elegan tanpa terlibat dalam keributan. Sekali waktu, dirinya pernah dalam posisi serupa. Pelakunya pun orang yang sama. Untungnya, dia memiliki toleransi cukup tinggi terhadap alkohol.
———©———
Namanya Sai terinspirasi dari Kera Sakti karena saya suka Kera Sakti. Hahaha.
Saiyuki : perjalanan ke barat
LOL
Aslinya, mau saya kasih marga Nishigami (dewa barat) biar nyambung dengan Saiyukinya. Tapi, pada akhirnya, saya memilih Motohira untuk marga Sai.
Nama terkadang memang merepotkan. Perlu waktu lama untuk memikirkannya.
__ADS_1
Sekian. Sampai ketemu di episode berikutnya!