Santri Famiglia

Santri Famiglia
Pencegatan


__ADS_3

Beberapa orang berjas hitam turun dari mobil. Mereka berdiri garang. Salah satu dari mereka berjalan, hendak mendekati ambulans yang tengah berhenti. Akan tetapi, hal yang terjadi berikutnya membuat mereka terperangah.


Sopir ambulans menarik tuas perseneling ke samping dan belakang. Dia menginjak gas untuk memundurkan kendaraan berpindah haluan.


Peringatan untuk kembali pada rute sebelumnya dari navigator yang tertempel di dashboard pun diabaikannya. Dia mengambil rute secara asal, sampai akhirnya navigator itu secara otomatis mencarikan rute baru.


"Oe!" Teriakan pengejaran terkumandangkan.


Semua pria berjas hitam kembali masuk ke mobil. Mereka ikut putar arah, mencari jejak ambulans yang telah menghilang dari persimpangan ke persimpangan.


Di kursi belakang, Eiji langsung meraih tangan adiknya. Dia menyibak kain yang menutupi pergelangan tangan gadis itu. Lelaki itu curiga pelacak ditanam di sana.


"Ada apa, Kak Eiji?" Anki tampak bingung dengan tindakan kakaknya. Wajah lelaki itu terlihat serius.


Sementara itu, Sanubari masih mengalihkan pandangan ke belakang. Dari jendela kecil di dekatnya, dia bisa melihat kondisi jalanan. Sepi—tidak ada kendaraan lain yang lalu lalang.


Dia merasa lega. Remaja itu berharap orang-orang itu tidak akan muncul lagi.


"Sanu, pinjam alatmu!" seru Eiji sembari mengulurkan sebelah tangan.


"Untuk apa?" Sanubari menolehkan kepala. Tatapannya bertemu dengan sorot gelap Eiji.


"Kita harus menyingkirkan benda ini." Eiji mengangkat tangan Anki.


Pria bermasker dan Sanubari melihat logam yang melingkar seperti gelang tersebut. Tanpa banyak tanya, Sanubari menyerahkan baksilnya. Dia tahu, Anki pasti tidak nyaman dengan benda itu. Sementara pria bermasker berpikiran berbeda.


"Mungkinkah ada pelacak di sana?"


"Kurasa begitu." Eiji mengangguk sebelum akhirnya menatap Sanubari. "Bagaimana cara memakai alat ini?"


"Geser ini ke sini, lalu tekan tombol birunya dua kali."

__ADS_1


Sanubari menunjuk rangka perangkap. Tombol-tombol aksi memang dilapisi pelindung supaya tidak sengaja tertekan. Silet-silet amunisi di dalamnya sangatlah tajam, bisa bahaya bila tanpa sengaja keluar.


Setelah memahami caranya, Eiji memotong satu demi satu borgol. Karena mereka sedang berada dalam kendaraan yang bergerak, Eiji memerlukan waktu cukup lama untuk memotong satu borgol.


Di kursi kemudi, perawat yang menjadi sopir melirik gelisah pada spion. Dia sengaja mengalihkan mobil keluar rute dan beberapa kali mempercepat laju. Namun, pemandangan pada spion tetaplah sama.


"Maaf menyela. Tuan berkacamata di belakang, bisakah Anda menggantikan saya di sini? Saya tidak tahu ke mana lagi mobil ini harus dibawa," ucap perawat itu.


"Sesuai tujuan awal," jawab sibgkat pria bermasker.


"Masalahnya Tuan, di belakang ada penguntit."


Mendengar itu, semua orang menoleh ke belakang. Memang ada mobil hitam yang mengikuti mereka. Sekilas, itu terlihat seperti pengendara biasa bagi Anki yang baru memperhatikannya.


Namun, Perawat tahu bahwa mobil itu sengaja membuntuti. Karena secara rutin memperhatikan spion, dia tahu kedua mobil itu adalah mobil yang sama sejak tadi.


"Sial! Ngomong-ngomong, apa di sini ada paku payung?" pria bermasker bertanya gelisah.


"Ini mobil ambulans. Mana ada barang semacam itu?" jawab perawat.


"Saya ini hanya perawat pengemudi, bukan polisi. Daripada mencari-cari yang tidak ada, sebaiknya Anda segera menemukan solusi atas permasalahan ini."


Tiba-tiba, satu mobil hitam sudah mensejajari mobil ambulans. Perawat itu pun mengganti gigi dan menginjak pedal gas lebih dalam. Kejar-kejaran bertambah intens. Eiji tidak berani melanjutkan pemotongan dalam mobil yang terguncang tak beraturan. Dia tidak ingin tanpa sengaja melukai Anki.


"Sial! Andai saja ada dinamit, granat, atau apalah itu yang bisa digunakan untuk menghadang mereka." Pria bermasker terus menghadap ke belakang.


Eiji mendengarkan dari tadi. Sepertinya, dia mengerti apa yang ingin dilakukan pria itu. Eji pun menyahut, "Ada, benda ini bisa digunakan layaknya pistol."


Lelaki itu ingat bagaimana Sanubari menggunakan senjata mirip ponsel lipatnya ketika menyelamatkan Kouhei. Waktu itu, Eiji sama sekali tidak mengalihkan pengawasan jarak jauhnya dari Sanubari. Saat benda di tangannya ini mampu melumpuhkan lawan dari jarak jauh pun Eiji menyaksikannya.


Pria bermasker pun menyambar alat itu dari tangan Eiji. Dia mengamatinya. "Tidak ada pelatuk. Bagaimana caranya menembak dengan ini?"

__ADS_1


"Biar aku saja yang melakukannya. Bagian mana yang harus kutembak?" Sanubari menawarkan diri.


Dirinya duduk di dekat pintu belakang. Itu memudahkannya untuk membuka jendela dan membidik target.


"Tidak-tidak! Kau duduk manis saja. Cukup beri tahu aku bagaimana caranya!"


Setelah mendapatkan informasi singkat tentang penggunaan baksil, mereka bertukar posisi. Pria bermasker membidik target dari jendela pintu belakang.


Dua tembakan tepat sasaran. Ban-ban depan meletus. Mobil hitam pun kehilangan keseimbangan, hingga menabrak pagar pembatas trotoar dengan keras. Saking kerasnya, pagar sampai penyok dan bagian depan mobil ringsek.


Mobil hitam lain menghindari tabrakan dan melanjutkan pengejaran. Dua tembakan lagi dilepaskan pria bermasker. Tiada satu pun silet terbang yang meleset. Kali ini, mobil hitam sampai terbalik serta pagar pembatas patah.


Tidak ada lagi mobil yang mengikuti. Akan tetapi, kejadian ini membuat pria bermasker harus mengatakan, "Parkir ke rumah sakit terdekat. Kita tidak bisa melanjutkan perjalanan tetap dengan ambulans ini.


Dari jarak yang cukup aman, sebuah mobil lain melaju santai. Dia terus mendengarkan percakapan sambil sesekali melirik video pada dashboard. Layar belah pada ponsel diaktifkan. Navigasi menyala bersebelahan dengan siaran langsung.


"Wew! Untung aku tidak terlalu dekat. Bisa-bisa aku harus ganti rugi bila itu juga terjadi pada mobil ini. Belum lagi, bakal kena dampratan Bos Son Complex," pria berambut putih itu bermonolog sepanjang jalan.


Dia menguap karena sudah hampir tiga hari tidak tidur. Cairan kantuk menetes dari sudut-sudut mata, membuatnya seperti sedang menangis. Lehernya letih. Bokongnya pun terasa panas karena terlalu lama duduk.


"Ingat, Damiyan! Statusmu harus tetap dirahasiakan. Lakukan pendekatan senatural mungkin, jangan sampai t7an muda curiga! Seperti yang dikatakan tuan Aeneas sebelumnya, tanggal lima Mei, jangan sampai terlambat!"


Kalimat-kalimat Kelana itu terngiang di telinga pemilik mata biru itu. Otak kurang tidurnya terasa berat untuk berpikir. Mukanya kusut seketika.


"Lima Mei, hah? Bagaimana aku bisa tepat waktu bila kondisinya terus seperti ini?"


Tak lama kemudian, Damiyan melewati lokasi kecelakaan dua mobil pengejar ambulans. Beberapa orang berjas hitam menepi. Damiyan mengabaikan mereka dan terus melajukan mobil dengan santai.


"Sepertinya, orang-orang itu pun juga sudah gila. Mungkinkah gad7is itu memiliki mantra pemikat?" gumam Damiyan dalam hati.


Gambar orang-orang itu teruz terlihat mengecil dari spion Damiyan. Ada di antara mereka yang terluka parah, lalu didudukkan bersandar di pinggir trotoar. Ada pula yang berdiri, menempelkan benda pipih ke telinga.

__ADS_1


Orang-orang itu saling memberi kabar dan memanggil bantuan. Pemimpin pengejaran itu memegang satu lagi benda pipih di tangan lain. Setelah memastikan apa yang dilihatnya benar, dia menyampaikan pesan.


"Gadis itu berhenti di rumah sakit ...."


__ADS_2