Santri Famiglia

Santri Famiglia
Satu Tantangan Terakhir


__ADS_3

Damiyan tidak pernah lagi terlihat. Setiap malam, ketika Sanubari terbebas dari latihan, dia selalu memeriksa kamar pria itu. Namun, Damian tetap tidak ada.


Tinggallah Sanubari seorang yang menghuni pondok sewaan. Sanubari pun hampir-hampir tidak pernah kembali ke rumah sederhana itu, kecuali untuk mencuci pakaian. Sebagian besar waktunya habis untuk beraktivitas di luar dan ruang bawah tanah khusus Fang. Ketika lelah, Sanubari akan tidur atau istirahat di ruang santai yang juga disediakan disitu.


Sanubari melanjutkan hari yang semakin padat. Berlari ke peternakan sejauh 15 kilometer setiap pukul 4 pagi, memberi makan ternak, lalu pulang dengan berlari lagi sambil membiasakan diri mempercepat laju.


Pukul 10 pagi, dia harus makan dan minum ramuan racun yang sangat dibencinya. Aromanya seperti teh, tapi rasanya sangat buruk. Seiring berjalannya waktu, sensasi menyiksa pasca meminumnya berkurang meski lidah Sanubari tidak pernah terbiasa dengan pahitnya.


Paket dari Anselmus tiba di tengah kesibukan. Sanubari bangun lebih pagi untuk memulai pembudidayaan. Dia juga selalu menyempatkan untuk membaca buku singkong super tebalnya setiap malam.


"Apa ini?" Sanubari bertanya-tanya ketika mencapai halaman terakhir.


Dia mengambil salah satu benda yang terselip di sampul belakang. Benda itu pipih, hitam, seperti micro SD. Satu lagi transparan dengan kemilau warna-warni layaknya hologram tersorot cahaya, bentuknya seperti burung.


Karena tidak tahu untuk apa, Sanubari mengembalikan benda itu ke ceruk sampul, menggeser lapisan sekat, lalu mengembalikan kuncian. Benda itu menempel aman di sampul.


"Mana mungkin aku membuang buku seberharga ini. Aku pasti akan menyinpannya baik-baik," katanya sambil melihat yang tertulis di halaman paling belakang.


Bulan ke tiga sejak pertama kali meminum ramuan beracun, Sanubari tidak lagi kesakitan saat meminumnya. Akhirnya, menu itu ditiadakan dari sarapannya.


Patrick dengan setia memantau kesehatan Sanubari. Dia sampai memesan jarum khusus supaya bisa mengambil sampel darah Sanubari. Dari hasil pemeriksaan menyeluruh, tubuh Sanubari tampak sehat. Upaya peningkatan kekebalan tubuh sukses.


Sanubari juga berhasil memukul bola yang telah dipercepat. Senjatanya diganti tongkat baja. Tantangan maju ke tahapan berikutnya. Sanubari harus menangkis tembakan misil yang diberondongkan padanya.


"Mungkin kita bisa mencoba ini tanpa pakaian antipeluru," kata Fang setelah mendemgar tentang kondisi tubuh Sanubari dari Patrick. Itu cukup menjelaskan mengapa tubuh Sanubari tidak memar meski tertimpuk jutaan bola.


Fang juga secara rutin membubuhkan obat yang dititipkam Damiyan ke minuman Sanubari. Botol obat baru selalu sampai tepat waktu ketika obat terakhir terpakai. Fang pernah hampir ketahuan Sanubari karena salah satu paket tiba ketika Sanubari hendak makan di tempat Fang. Beruntung, dia bisa menyembunyikan stiker pengirim paket dan mengalihkan perhatian Sanubari. Sehingga, dia bisa melanjutkan aksi diam-diamnya.


Di sisi lain, Patrick merasa tidak enak hati harus terlibat dengan persekongkolan Damiyan dan Fang. Dia seharusnya mengerti konsekuensi itu sejak sepakat membantu Damiyan menyelamatkan Sanubari. Namun, rasa taknyaman tetap mengusik hati ketika lagi dan lagi, dia harus mengikuti kebohongan. Meskipun demikian, Patrick tetap menentang setiap rencana paling membahayakan.


"Tidak! Kau tidak boleh melakukan itu, Sanu! Abaikan saja saran gila Kakek Fang!"


"Tapi, aku tidak masalah sih. Paling rasanya tidak jauh beda dengan ditimpuk bola. Hanya saja, ukurannya lebih kecil."


Vang tersenyum penuh kemenangan. "Kau dengar sendiri 'kan, Patrick? Sanubari saja tidak keberatan."


"Peluru jelas beda dengan bola, Sanu! Peluru bisa saja melubangi tubuhmu. Tubuhmu memang sulit ditembus benda tajam, tapi kita tidak tahu sampai mana batasannya. Jadi, lebih baik mencegah daripada menyesal."


Perkataan Patrick sedikit membangkitkan ketakutan. Dengan patuh, Sanubari senantiasa memakai alat keamanan lengkap setiap kali berlatih menangkis peluru.

__ADS_1


Menyemburkan jarum ditambahkan dalam agenda. Pada permulaan, Sanubari diminta meniupkan dari jarak lima meter, 10 meter, 15 meter hingga dia memperoleh tanda centang dan tanda tangan sebagai tanda keberhasilan.


Sanubari juga berhasil membudidayakan berbagai varietas singkong. Yang beracun, yang masa panennya singkat, yang empuk, yang gurih manis tanpa perlu dibumbui, yang tidak bisa mengayu, segala jenis umbi ada. Daunnya pun memiliki karakteristik berbeda satu sama lain.


Setiap kali lulus dari tantangan, Sanubari berbagi singkong keju gratis ke tetangga. Di luar itu, dia menjual singkong baik dalam bentuk olahan maupun bahan mentah. Kepiawaiannya dalam mengolah singkong membuat singkong kejunya dengan cepat menjadi favorit warga.


Hampir setiap hari, Sanubari menerima pesanan. Terkadang, dia harus menjeda penerimaan pesanan karena keterbatasan stok. Dia sempat mengutarakan ide supaya sebagian lahan pertanian Fang ditanami singkong. Namun, usulan itu ditolak. Jadi, Sanubari hanya bisa memanfaatkan halaman rumah sewaannya.


Sedikit demi sedikit, uang dari berjualan singkong terkumpul. Dalam satu bulan, Sanubari mampu mengumpulkan kurang lebih tiga ribu dolar. Itu berkali-kali lipat lebih banyak dari akumulasi upah harian selama bekerja dengan Fang. Utang pada Alfred pun terlunasi.


Sementara utang pada Patrick baru tercicil seratus juta dolar setelah tiga tahun. Selama itu pula, 200 tantangan berhasil Sanubari selesaikan. Saat ini, Sanubari melakukan ujian ulang. Itu dilakukan untuk memastikan tidak adanya kecurangan.


Fang duduk di gubuk. Tangan kirinya memegang buku tantangan Sanubari, sedangkan tangan kanan tali pancang.


Sanubari bersembunyi di balik padi kecokelatan yang merunduk. Dia bersiaga, menggenggam jarum beracun. Bibirnya pun mengapit jarum yang siap disemburkan kapan pun. Dia berjongkok waspada.


Pipit-pipit berdatangan, terbang di atas tanaman padi yang hampir memasuki waktu panen. Mereka mencucuk biji-biji padi. Ketika sudah cukup banyak burung berkumpul, Fang menarik tali.


Orang-orangan sawah bergerak, mengeluarkan bunyi khas. Para burung berterbangan, menjauhi padi.


Sanubari bergegas berdiri, menembakkan jarum beracun dari mulut. Beberapa burung seketika berjatuhan. Sanubari berlarian di sepanjang pematang, mengejar burung-burung yang semakin menjauh dan di luar jangkauan.


"Tidak akan kubiarkan kalian lolos!"


"Berhasil!"


Sanubari melompat sambil meninju langit. Kemudian, dia kembali berlari, menyusul burung terakhir yang kehilangan ketinggian.


"Kena kau!"


Sanubari menangkapnya. Sembari kembali ke tempat Fang, Sanubari menapak tilas. Dia masuk ke kebun tebu, bedengan cabai, lajur-lajur wortel guna mencari bangkai burung.


"12 ...."


Sanubari menghitungnya. Itu pula yang menjadi salah satu tantangan Sanubari. Dalam kondisi tertentu, dia harus bisa menghitung target sekaligus memperkirakan tempat jatuh mereka. Sanubari tidak akan dianggap lulus sebelum berhasil mengumpulkan seluruh burung. Sanubari menggunakan ujung kaos untuk memondong para bangkai kecil, lalu berjalan ke pondok setelah mengambil bangkai terakhir di atas topi orang-orangan sawah.


"Sudah lengkap. Jumlahnya persis 33." Sanubari menjatuhkan gunungan bangkai ke hadapan Fang.


Si kakek mulai menghitung. "Dibuat burung panggang sepertinya enak."

__ADS_1


Sesaat, Sanubari tergiur dengan perkataan Fang. Tulang-tulang yang kecil, daging yang tidak setebal ayam, pasti akan membuat teksturnya lebih mudah lembut sampai ke tulang. Bumbu pun akan lebih mudah meresap sampai bagian terdalam daging. Sanubari menelan ludah. Dia lekas menggeleng, menyingkirkan kenikmatam yang menggoda dengan intens.


"Lebih baik dikubur saja!"


"Asal direbus dengan penawarnya, dagingnya akan kembali bersih kok, dan pastinya aman untuk dikonsumsi orang biasa tanpa kekebalan racun sekalipun."


Sanubari menggeleng lagi. Dia paham apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan meski terbatas pada pengetahuan mendasar. Meski berbagai hal telah terjadi padanya, Sanubari masih memegang teguh keyakinan itu. "Kata mamak, kita tidak boleh memakan binatang yang mati tanpa disembelih, kecuali binatang air dan serangga."


Bagi Sanubari, sang ibu adalah kebenaran pertama, dan sampai kapan pun akan tetap menjadi kebenaran. Sanum adalah kebaikan, dan selamanya akan tetap menjadi kebaikan. Meski masih banyak pertanyaan dalam benak Sanubari, fakta itu tidak akan pernah berubah. Sanum akan menjadi orang teratas yang paling dipercayai Sanubari.


Andai Sanum mengajarkan keburukan kala itu, niscaya keburukanlah yang akan dipercaya Sanubari sebagai kebenaran sekaligus kebaikan. Kini, setelah Sanum tiada, Sanubari harus mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan sendiri. Dia telah kehilangan tiang stabilitas kebaikan dan dia harus membangun tiang sendiri. Sayangnya, tiang barunya masih cenderung labil tanpa kehadiran Sanum.


"Padahal sama-sama mati meski berbeda cara."


"Memang. Tapi, status mereka tergantung bagaimana cara mereka dibunuh. Bisa menjadi halal atau haram."


"Baiklah, Sanu. Dengan ini, tantanganmu selesai!"


"Apa tantangan berikutnya? Cepat katakan supaya cepat selesai! Beberapa hari ini kita hanya mengulang-ulang yang sudah tanpa kemajuan berarti."


Fang tersenyum. Dia mengembalikan buku Sanubari. "Tidak ada lagi."


Fang sudah mewariskan seluruh kemampuannya pada Sanubari. Termasuk membuat racun dan penawarnya. Tiada lagi alasan baginya untuk menahan Sanubari lebih lama.


"Lalu, bagaimana dengan lari mengalahkan Kak Dami ini? Kakek sudah janji akan melunaskan utangku kalau berhasil menuntaskan tantangan, kan? Kakek harus menghubungi dan menyuruh Kak Dami kembali ke sini!"


Sanubari mendadak panik. Hanya tersisa satu tantangan. Tapi, dia terancam gagal hanya karena lawannya tidak bersamanya.


"Sayangnya, aku tidak bisa menghubunginya, tapi aku punya solusi. Sekarang, istirahatlah! Dua hari lagi, kita akan menjalankan tantangan terakhirmu!"


"Tidak bisa sekarang saja, kah?"


"Tidak bisa. Dilarang protes lebih lanjut! Sekali lagi protes, maka tantangan kembali seperti semula. Kau harus menunggu Damiyan ke sini dengan sendirinya untuk menuntaskan tantangan terakhir." Fang meninggalkan Sanubari.


Sanubari tidak berani protes lagi. Dia mengumpulkan mayat pipit, lalu menguburnya. Sanubari menggali kuburan tepat di sebelah kuburan kuda yang tanpa sengaja dibunuhnya.


Se Sementara itu, Fang berjalan ke klinik Patrick, klinik satu-satunya yang ada di desa. Meskipun klinik, perlengkapannya lumayan lengkap. Dokter yang bekerja Patrick seorang. Dia didampingi seorang perawat magang yang sering bergonta-ganti.


"Selamat siang, Kakek Fang! Mohon tunggu sebentar! Dokter Patrick sedang ada pasien di dalam." Sang perawat tersenyum.

__ADS_1


Demikian pula Patrick dalam ruangan. Dokter muda itu hafal betul keluhan yang disampaikan lansia langganannya. Si kakek sudah menderita demensia. Jadi, dia tidak sadar telah mengatakan hal yang sama, di jam yang sama, pada hari yang berbeda. Sebagai dokter yang baik, Patrick tetap mendengarkannya penuh perhatian dan keramahan tulus.


"Dokter, jantung saya sepertinya tertinggal di ruang operasi. Saya tidak bisa mendengar detaknya. Tolong jadwalkan operasi pengembalian jantung segera sebelum saya terlanjur meninggal! Saya tidak ingin jantung saya menjadi hantu penasaran, lalu merasuki orang-orang dan membuat kekacauan bila tetap terpisah dari raga saya sampai saya wafat.""


__ADS_2