
Sanubari melonggarkan pelukan. Benaknya menyuruhnya untuk mengambil ancang-ancang, berjaga-jaga jikalau kedua orang ini membongkar penyamarannya. Namun, gelagat Sanubari dapat dibaca oleh Abrizar. Lekas pemuda dua puluh tiga tahun itu merangkul erat bahu Sanubari.
Kemudian, Abrizar mengatakan, "Non l'ho visto. Sono appena uscito dalla moschea."
(Aku tidak melihatnya. Aku baru saja keluar dari masjid.)
"Vecchio, non hai detto di averlo visto prima?"
(Pak Tua, bukankah kau bilang tadi melihatnya?)
Aljunaidi masih mempertahankan senyuman ramah tangan kiri terlipat ke belakang, tangan kanan di depan, telunjuknya memutar tasbih yang terselip di antara jari tengah dan telunjuk dalam irama konsisten. Hatinya terus beristigfar, sedangkan lisannya bertutur tenang, "Ho visto un adolescente come voi ragazzi qui l'ultima volta. Cosa c'è che non va, eh??"
(Aku memang terakhir kali melihat seorang remaja di sini sebelum kalian datang. Ada apa, ya?)
"Apa?!" Hati Sanubari berseru panik.
Baru saja kecemasan Sanubari menurun karena pernyataan Abrizar, tetapi Aljunaidi sudah menaikkannya lagi. Sanubari kebingungan dibuatnya. Ia tak tahu, haruskah ia berhenti mengharapkan dua orang asing ini atau diam lebih lama.
"Dove sta andando?"
(Kemana dia pergi?)
Aljunaidi mengedikkan bahu. "Non lo conoscevo. Quindi non sapevo dove stesse andando. Non ce l'ha detto."
(Aku tidak mengenalnya. Jadi aku tidak tahu kemana tujuannya. Dia tidak memberi tahu kami.)
Abidzar bisa merasakan kepanikan Sanubari. Bahkan debaran jantung remaja yang ia rangkul terdengar sangat jelas. Sebagai tuna netra yang mengalami kebutaan sejak lahir, indra-indra Abrizar yang lain terlatih lebih tajam dan sensitif dibandingkan manusia pada umumnya. Bahkan suara terlirih yang tidak bisa didengar manusia terdengar olehnya.
Segera Abrizar menyela, "Scusate signori, ce ne andremo quando non avremo più niente da chiedere."
(Maaf, Tuan-tuan! Jika sudah tidak ada yang ditanyakan lagi, kami mau pergi.)
"Apetta un minuto!"
(Tunggu dulu!)
Salah satu dari pengejar Sanubari menghalangi langkah Aljunaidi. Sepertinya, ia belum rela membiarkan kedua pria dengan wanita berpenampilan aneh ini pergi begitu saja. Sementara Sanubari hanya bisa menahan napas, berharap supaya prasangka buruknya tidak menjadi nyata.
Pengejar Sanubari menatap Al Junaidi, dengan serius bertanya, "Dov'è andato l'adolescente?"
(Ke arah mana remaja itu pergi?)
"Là."
(Sana.)
Empat orang itu pergi ke arah yang ditunjuk Aljunaidi. Rombongan Aljunaidi berjalan santai ke arah yang sama.
Non pensavo che Abi potesse mentire".
__ADS_1
(Tidak kusangka Abi bisa berbohong.)
"Dimmi quale parte della mia frase può essere definita una bugia!"
(Katakan bagian mana dari kalimatku yang bisa disebut kebohongan!)
"Prima, Abi ha detto che non sapeva dove andare."
(Tadi waktu Abi bilang tidak tahu dia kemana.)
Non sto dicendo che non so dove sia, ma sto dicendo che non so dove sta andando. Questo è un fatto. In effetti non ci ha detto nulla di sé e dei suoi obiettivi. Sì, vero?"
(Aku tidak bilang tidak tahu dia kemana, tetapi tidak tahu tujuannya. Itu fakta. Kenyataannya dia memang belum memberi tahu kita tentang dirinya dan tujuannya, iya 'kan?)
"Oh questo è vero."
(Ah, benar juga.)
"Non sei tu quello qui sdraiato, figlio Bri?"
(Bukankah di sini dirimu yang berbohong, Nak Bri?)
"Eh?"
"Hai detto di non averlo visto. Era chiaro che voi due vi siete scontrati."
Abrizar tertawa kecil, "Dico la verità. Lo sai anche tu, vero? Nessun cieco può vedere con gli occhi, tranne che per la cecità parziale."
(Aku berkata jujur. Abi tahu sendiri, bukan? Tidak ada tuna netra yang bisa melihat dengan mata, kecuali mereka mengalami kebutaan parsial.)
Sanubari tersenyum di balik cadarnya. Ia terhibur dengan pembicaraan dua orang asing yang baru ia temui ini. Mereka bisa menyembunyikan keberadaan Sanubari dengan mengatakan kejujuran. Sungguh orang-orang yang cerdik dan pandai memainkan kata-kata.
"Jadi, kita bisa menghindari kebohongan dengan bermain kalimat, ya?" batin Sanubari terkagum-kagum.
Satu lagi yang membuat Sanubari tercengang, terpancing untuk mengamati pemuda yang berjalan beriringan dengannya. Rasanya meragukan jika pria ini buta. Pasalnya, ia bisa langsung berjalan mengikuti Aljunaidi tanpa digandeng. Bahkan malah Abrizar SEndiri yang membuat Sanubari bergerak mengikuti Aljunaidi.
"Quindi il Grande Fratello è cieco?"(Jadi, Kakak ini buta?)
Akhirnya Sanubari membuka mulut juga. Ia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dilihat dari mana pun, tidak ada yang salah dengan mata pria di sampingnya. Manik birunya nampak sempurna. Bahkan bisa berjalan layaknya orang normal.
Abrizar hanya tersenyum. Seolah mengerti pikiran Sanubari, Abrizar berkata, "Ti starai chiedendo perché posso camminare come una persona normale, vero? O forse pensi che stia fingendo di essere cieco."
(Kau pasti berpikir mengapa aku bisa berjalan biasa, bukan? Atau mungkin menganggap aku ini pura-pura buta.)
Sanubari semakin terbelalak. Tebakan Abrizar tepat sasaran, seakan-akan isi pikiran Sanubari terucap dengan lantang.
"Puoi leggere la mia mente?"
(Kau bisa membaca pikiran juga?)
__ADS_1
"Ah, non è nemmeno così, amico mio. È solo che molte persone la pensano come te. Quindi questo è normale per me. I miei occhi non funzionano. Ma le mie orecchie, i piedi, le mani e gli altri sensi funzionano ancora bene. Per me sono tutti occhi. Possono aiutarmi a vedere il mondo e svolgere attività come una persona con una vista".
(Ah, tidak seperti itu juga, Kawan. Hanya saja, banyak orang yang berpikir sepertimu. Jadi, ini sudah biasa bagiku. Mataku memang tidak berfungsi, tetapi telinga, kaki, tangan, dan bagian tubuhku yang lain masih berfungsi dengan baik. Bagiku, semua anggota tubuhku adalah mata. Mereka bisa membantuku melihat dunia, melakukan aktivitas layaknya orang berpenglihatan.)
Sanubari diselimuti ketakjuban begitu mendengar jawaban Abrizar. Lelaki itu buta, tetapi masih bisa tersenyum dan tenang. Sanubari merasa kalau—dirinya tidak bisa setenang Abrizar andaikan dalam posisi yang sama.
Ia teringat kejadian lima tahun silam ketika pertama kali mengalami kebutaan. Setiap hari dilewatinya tanpa luput dari kegelisahan. Meskipun ia berusaha tegar dan tenang, tetapi rasa takut serta was-was selalu datang secara berkala. Ia bahkan sempat uring-uringan karena tidak bisa melakukan banyak hal.
Aljunaidi memotongh percakapan dua pemuda di belakangnya, "Faremmo meglio a trovare un posto sicuro per chiacchierare."
(Sebaiknya kita cari tempat aman untuk mengobrol.)
Kalimat tersebut membuyarkan lamunan Sanubari. Abrizar mengajak mereka ke rumahnya. Mereka saling berkenalan sebelum akhirnya Sanubari menceritakan masalahnya. Mengetahui Sanubari bisa berbahasa Indonesia, percakapan berikutnya pun dilanjutkan dalam bahasa Indonesia.
Kebetulan Aljunaidi juga mempelajari bahasa Indonesia dengan Abrizar sebagai gurunya. Sedangkan Abrizar sendiri memiliki ayah berkewarganegaraan Indonesia. Sejak kecil ia fasih berbahasa Indonesia yang merupakan bahasa ke dua baginya.
"Hm, begitu, ya. Jadi kau tidak tahu mengapa para mafioso itu mengejarmu?" Aljunaidi menyeruput teh nya.
"Mafioso?" Sanubari memiringkan kepala.
Ini adalah kosa kata baru baginya. Ia tidak ingat pasti pernah atau tidaknya mendengar kata tersebut. Yang jelas Sanubari saat ini tidak mengerti profesi semacam apa mafioso itu.
"Kau tidak tahu?" Aljunaidi meletakkan kembali cangkirnya ke atas cawan.
Sanubari menggeleng. Aljunaidi pun menjelaskan, "Mafioso itu sebutan untuk anggota mafia."
"Mafia?" Nada bicara Sanubari sedikit meninggi.
Tangannya terkepal seiring terbelalak ya mata. Ia teringat kejadian di masa lampau. Mafia telah mempersulit pemakaman kakeknya. Sampai saat ini, Sanubari masih beranggapan bahwa mafia adalah preman jahat.
Tidak hanya mempersulit pemakaman, mereka juga menghancurkan dagangan ibunya. Bahkan sampai membuat dua TNI baik hati diberhentikan secara tidak terhormat dari jabatannya. Bagi Sanubari, mafia adalah preman yang harus diberantas keberadaannya.
"Jangan bilang kalau kau juga tidak tahu tentang mafia!" Al Junaidi menatap Sanubari.
"Aku tahu. Mafia adalah preman yang pekerjaannya memalak dan menjual kuburan. Tetapi sepertinya preman di sini lebih berkelas, ya? Padahal di tempatku dulu preman cuma memakai kaos oblong atau berpenampilan acak-acakan. Di sini, preman penampilannya sangat rapi. Pakai jas pula," jawab Sanubari berdasarkan ingatan samarnya.
Abrizar tertawa mendengar jawaban Sanubari. "Tidak ada salahnya sih kau menyamakan keduanya. Memang benar preman dan mafia itu sama-sama tidak baik. Cuma beda tipis doang. Tetapi pekerjaan mereka tidak terbatas menjadi tukang palak dan jual kubur, kau tahu!"
"Eh, memang beda, ya? Memang apa bedanya?" Sanubari menatap Abrizar.
"Bisa dibilang mafia itu preman elite. Kau bisa menyebut tukang palak di pasar sebagai preman, tetapi pekerjaan mafia tidak sesederhana itu. Mereka bisa menyusup dalam lembaga pemerintahan, melakukan pemalakan besar-besaran tanpa disadari siapa pun. Itu hanya contoh kecilnya."
"Sudah-sudah! Kita di sini untuk membahas masalah Sanu, bukan memberi penyuluhan tentang apa itu mafia," pungkas Aljunaidi karena pembicaraan meluber.
"Maaf, Abi. Tetapi, kita 'kan memang sedang membicarakan tentang mafia," ucap Abrizar.
"Iya, mafia yang mengejar Sanu. Jangan menambah informasi yang tidak penting supaya masalah ini cepat kelar!"
"Ngomong-ngomong, bagaimana Abi bisa tahu mereka Mafioso? Aku saja tidak tahu siapa mereka," sela Sanubari.
__ADS_1