
Awak kapal BGA berhasil melarikan diri tanpa ketahuan. Mereka memanfaatkan sekoci yang ada di sisi lain kapal di mana tiada seorang pun di sana. Tinggallah Sai yang masih berkeliling lambung. Tawaran pergi bersama dari mereka ditolaknya.
Sai masih harus menemukan Sanubari. Kapal tersebut terlampau besar dan luas untuk disisir sendiri. Sai sudah berkeringat berlarian ke sana kemari, tapi Sanubari belum juga ketemu.
Derap langkah samar terdengar dari kejauhan. Ada percabangan dan lorong lurus di belakang serta belakang Sai. Pria itu lekas memasuki kabin di dekatnya. Tak berapa lama, bunyi tapak kaki melintas di depan persembunyian Sai.
"Sungguh sialan mereka! Mereka menyekapku sampai berhari-hari," geram pria itu.
"Pantas saja Lava bilang kurang satu atau memang mereka yang salah hitung," balas Lance. Dia berjalan cepat sampai hampir setengah berlari, mengimbangi pria yang baru ditemukannya dalam keadaan terikat dan mulut tersumpal.
"Lalu, bagaimana? Apa penyusup itu sudah tertangkap?"
"Sayangnya belum dan kondisi semakin menyulitkan kita karena terlanjur berpenampilan seperti ini."
Kedua pria itu menuju kabin tawanan. Saat tiba di sana, tempat itu telah kosong, menyisakan potongan-potongan tali yang berserak. Lance lekas melaporkan fakta itu pada Mikki.
"Biarkan saja mereka pergi! Kita tetap akan mendapat lebih banyak insentif dari pertukaran satu yang masih tersisa." Begitulah tanggapan Mikki.
Pria itu terdengar sangat santai. Toh, menjual awak kapal atau meminta tebusan pihak keluarga memanglah bukan agenda mereka. Tanpa melakukan itu pun mereka tidak akan merugi.
Selesai menurunkan barang, kapal kembali berlayar. Sai melompat ke laut dari geladak yang sepi. Dia sudah menerbangkan alat mata-mata ketika kedua perampok itu lewat. Sai mendengar semua isi percakapan mereka. Sanubari sudah tidak ada di kapal.
Tidak ada lagi alasan bagi Sai untuk berlama-lama di kapal yang entah hendak ke mana lagi. Sai menyelam, berenang ke dermaga yang agak jauh dari tempat berlabuh kapal sebelumnya, sementara Sanubari dalam perjalanan menuju sebuah hotel.
"Ke mana para pria di negara ini? KENapa hanya perempuan yang kami temui sejak tadi?" tanya Mikki.
Itu cukup membuatnya penasaran. Sopir-sopir yang mengendarai mobil boks sebelumnya pun perempuan. Termasuk pasukan keamanannya.
"Kenapa? Tidak senang bertemu perempuan?" Pengemudi itu tersenyum.
"Bukan begitu. Hanya saja, pekerjaan berat seperti tadi seharusnya dilakukan pria. Tapi kalian sebagai perempuan malah turun tangan langsung. Kalian sungguh perempuan perkasa!"
__ADS_1
"Kita sama-sama manusia. Wajar bila kita bisa melakukan hal yang sama, bukan?"
"Sebagian besar, iya. Tapi dalam hal khusus, perempuan dan lelaki memiliki peran masing-masing yang tak bisa saling dipertukarkan."
"Kau benar. Itu satu-satunya masalah kami. Andai ada solusi untuk mengatasinya ...."
"Jangan bilang kalau diam-diam kalian merencanakan penelitian pengubahan peran biologis!" Mikki menoleh.
Perempuan di sampingnya cantik dan anggun. Akan tetapi, isi percakapan mereka membuat Mikki berprasangka buruk. Perempuan ini aneh.
"Andai itu terwujud, kaum lelaki tidak akan dibutuhkan lagi di dunia ini."
"Berbicara soal itu, apa populasi pria di sini sudah punah? Atau jangan-jangan kalian menyekap mereka?"
Pandangan Mikki memperhatikan jalanan yang mereka lewati. Pertokoan, petugas pom, polisi—semuanya perempuan. Dia mengumpat dalam hati. "Sialan, Nenek Lava! Kenapa dia tidak menjelaskan kondisi gila ini?"
Terlalu banyak perempuan di mana-mana. Sebagai pria, Mikki seharusnya senang akan berinteraksi dengan banyak perempuan. Itu bila kaum hawa itu layaknya perempuan pada umumnya. Lain halnya bila yang harus ditemuinya merupakan perempuan-perempuan aneh. Mikki mulai mencemaskan nasibnya sendiri.
Mikki berdehem. "Nona, Anda tidak lupa sedang berbicara dengan pria, kan? Di kursi belakang juga ada dua pria lain."
Lance yang duduk di belakang menyahut, "Aku akan sangat senang bila memiliki waktu bersenang-senang bersama Nona setelah ini. Aku setuju dengan sebagian perkataan Nona. Pria yang hanya menjadi beban memang tidak layak dipelihara. Tapi, kami kaum pria bukan benda yang bisa dimainkan kapan pun kalian suka!"
Nada bicaranya menajam. Lance tidak terima dianggap seperti mainan. Itu pelecehan bagi martabat seorang pria.
"Au, Sayang, tidak perlu sampai tersinggung seperti itu, kan?" Si sopir perempuan mengerling, menatap Lance yang juga melihatnya melalui sepion dalam.
"Hanya mengungkapkan fakta. Bila kalian sengaja mengurangi populasi pria hanya supaya terlihat superior, sebaiknya hentikan! Pria dan wanita ada untuk menciptakan harmoni dalam kehidupan. Jika salah satu punah, dunia akan kiamat," tutur Lance.
"Tenanglah! Pria di negara ini belum punah kok. Kalau berbisnis dengan perusahaan legal, kau mungkin masih bisa bertemu banyak pria. Tapi kalau berbisnis di dunia bawah, jangan harap! Negara ini tunduk di bawah kekuasaan perempuan."
Perempuan itu tersenyum. Obrolan mereka terhenti. Mobil memasuki area parkir bawah tanah. Sebuah tembok terbelah. Mobil melaju lebih dalam, menuju area yang tidak terjangkau orang awam.
__ADS_1
Mereka turun dari mobil. Lance dan Mikki memapah Sanubari yang tidak sadarkan diri. Menaiki elevator rahasia, mereka menuju lantai 100.
Elevator berdesing ringan, terbuka di lorong gelap. Ketika melangkah keluar, penerangan menyala dengan sendirinya. Si sopir perempuan membimbing mereka.
Empat orang itu berhenti di jalan buntu. Si perempuan Meraba tembok yang tidak berlapis kertas dinding maupun semen. Kotak-kotak bata tampak jelas. Saat salah satu bata ditekan, tembok bergeser ke samping.
Sebuah ruangan luas menyambut mereka di gedung tersebut, seorang pria bersama asisten dan ajudannya telah menunggu. Seorang dokter juga dibawa serta.
"Pak Menteri, aku datang membawakan pesanan."
Menteri itu menyuruh mereka duduk. Sanubari didudukkan di antara Mikki dan Lance.
"Masing-masing koper ini berisi satu juta dolar Amerika. Ini uang muka yang kujanjikan. Semua akan menjadi milik kalian bila pemeriksaannya terbukti bagus. Uang tambahan akan kuberikan setelah terbukti semuanya cocok," kata sang menteri.
Mata Lance dan Mikki berbinar melihat tiga koper yang berjajar di atas meja. Tiga juta dolar itu jumlah yang lumayan bagi mereka. Mikki menyerahkan kartu nama palsu.
Bagaimanapun juga, dia masih perlu mengikuti perkembangan transaksi donor ilegal ini. Jika sukses, lebih banyak uang akan masuk ke pundi-pundinya. Jika gagal, keberadaannya pun tetap tidak akan terlacak karena semua yang tertera pada kartu nama hanya nomor dan email yang bisa dilenyapkan kapan pun untuk menghilangkan jejak. Tentunya tidak terdaftar atas nama Mikki sendiri.
Selanjutnya, Lance menjelaskan kondisi fisik Sanubari. "Kalian perlu pisau bedah khusus atau yang sangat tajam bila ingin menembus kulitnya, sementara korneanya masih cukup lunak. Tapi, bisa mengeras kalau terluka."
Dokter sang menteri sempat tidak percaya. Sampai alat untuk menusuk ujung jari Sanubari tidak berfungsi. Awalnya, dia pikir alatnya yang rusak. Namun, jarum suntik pun sampai patah. Barulah si dokter percaya.
Sesuai saran Lance, si dokter lantas menusuk kornea Sanubari untuk mengambil sampel darah. Sesaat setelah jarum dicabut, mata itu terlontar, mengenai hidung sang dokter. Pria itu seketika terbeliak.
Sang menteri pun memandang penuh tanya. Lance menenangkan keterkejutan mereka. Dia mengambil bola mata Sanubari dan meminta izin untuk membawanya pulang. Kini, Lance memiliki sepasang mata Sanubari.
"Apa-apaan tubuh itu? Bagaimana kalau tubuh anakku jadi rontok semua setelah mendapat transplantasi darinya?" bentak sang menteri. Dia murka.
"Saya jamin ini pasti aman. Saat terluka, mata anak ini memang bisa melompat seperti itu. Tapi, bola matanya bisa tumbuh lagi. Coba lihat ini!"
Lance membuka kelopak mata Sanubari. Sesuai dugaannya, bakal mata baru sedang bertumbuh di sana. Bulatan sebesar telur cicak itu bergerak-gerak.
__ADS_1