
Cucu Mbok Jum Segera masuk ke ICU begitu Eiji menyelesaikan administrasi. Eiji sudah seperti bendahara Sanubari. Segala urusan keuangan, dia yang menangani.
Mereka menunggu di depan ruangan. Dokter belum mengizinkan satu pun dari mereka untuk menjenguk.
"Terima kasih."
Mbok Jum mengusap sudut kelopak mata. Dia terharu. Hatinya penuh syukur. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya, seorang penolong akan muncul di detik-detik terakhir. Andai Sanubari tidak datang, mungkin nyawa cucunya tinggal hitungan jam saja.
"Sama-sama. Ngomong-ngomong, apa Nenek punya rekening?" tanya Sanubari.
Mbok Jum menggeleng. Di antara seluruh wadga, mungkin hanya dirinya yang tidak memiliki tabungan di bank. Mbok Jum hanyalah buruh serabutan yang bayarannya diberikan secara langsung.
"Pegang uang saja selalu pas-pasan."
"Aku tidak pegang uang tunai sebanyak itu lagi," ucap Eiji setelah mendengar itu.
"Kalau begitu, ayo ambil uang dulu!" ajak Sanubari yang kemudian berpamitan.
Eiji dan Sanubari pergi ke bank. Mereka menarik sejumlah uang tunai. Sebelum kembali ke rumah sakit, mereka membeli ransel untuk menaruh uang yang akan diberikan pada Mbok Jum.
Dua ratus juta utuh diserahkan pada wanita tua itu. Sementara biaya rumah sakit telah dilunasi secara terpisah tanpa perlu diganti. Setelahnya, mereka berpamitan karena masih ada banyak hal yang harus diurus di desa.
"Kau ini, mengajak membuat organisasi, tapi semua keuangan aku yang mencukupi. Seharusnya, kau yang menggajiku," canda Eiji.
"Kau ini benar-benar amatir, Sanu! Ah, apa keputusanku mengikutimu akan berbuah kesia-sian?" timpal Eiji.
"Tenang saja! Nanti pasti kuganti setelah bertanya pada Paman Kelana. Aku juga tidak tahu, kenapa tidak bisa melakukan penarikan tunai seperti Kak Eiji. Transfer pun tidak bisa," jelas Sanubari.
Dia dan Eiji ditangani teller yang berbeda. Jadi, Eiji tidak tahu apa yang menjadi masalah Sanubari. Selain itu, karena kartu mereka bukan ATM lokal biasa, mereka tidak bisa menarik uang dari mesin yang disediakan di beberapa spot.
Itulah yang menjadi kegalauan Sanubari saat ini. Kartu penyimpanan uang zaman sekarang sangat merepotkan menurutnya. Dia harus bisa menyebutkan angka-angka yang dimaksud petugas bila ingin mengambil uang. Dia sendiri bahkan tidak tahu angka apa itu.
"Jangan terlalu dipikirkan! Aku hanya bercanda. Aku memutuskan untuk bergabung denganmu. Itu artinya, aku harus siap menanggung segala konsekuensi. Termasuk bila aku harus bekerja gratis untukmu," ucap Eiji tersenyum.
"Aku memang tidak bisa membayar kalian, tapi kita bisa mendirikan kafe singkong bersama dan membagi hasilnya."
__ADS_1
"Hei Sanu, kau ini sebenarnya ingin mengajak kami mendirikan organisasi itu atau menjadi koki, hah?" selidik Renji.
"Tentu saJa itu tujuan utama kita. Tapi, kita juga harus mendirikan suatu usaha yang tetap bisa memberi pemasukan meski ditinggal. Dengan begitu, kita bisa leluasa pergi ke mana pun dan tetap punya uang untuk makan," ujar Sanubari.
Dia sudah memikirkan ini matang-matang. Tanpa uang, pergerakannya akan terbatas. Jangankan pergi ke luar negeri untuk menyelesaikan masalah, bertahan hidup dalam negeri saja belum tentu bisa. Yang ada, mereka akan mati kelaparan sebelum cita-cita sempat terwujud.
"Pemikiranmu itu cukup prospektif juga, Sanu," puji Eiji.
Walaupun Sanubari masih belum bisa menghilangkan sifat kekanakannya di mata Eiji, tetapi Eiji menghargai tindakan yang diambil Sanubari. Remaja bermata hijau itu hanya butuh lebih banyak pengalaman untuk mematangkan kepribadiannya.
Mereka bertiga terus berjalan, membelakangi senja yang Lingsir. Ketiganya baru saja menyelesaikan transaksi terakhir. Hanya dalam waktu kurang dari setengah hari, seperempat wilayah desa sudah menjadi milik Sanubari.
Itu lumayan luas. Dana yang digelontorkan pun tidak sedikit dan Sanubari belum memiliki rencana akan diapakan tanah-tanah serta bangunan yang sebentar lagi tidak berpenghuni. Tindakannya serba spontanitas.
Termasuk langkahnya yang mendadak dipercepat. Dia berlari mendahului Eiji dan Renji hanya untuk mendekati pohon kumis kucing. Dia berhenti di depan bunga yang mekar.
"Ngapain kamu?"
Eiji berlari menyusul. Namun,Sanubari tidak merespons.
"Cangcorang. Sudah lama aku tidak melihat dan menangkapnya."
Sanubari berputar, menghadap ke arah Eiji. Renji masih berjalan santai di belakang Eiji. Semburat jingga menerpa sayap transparan, membuatnya berkilau.
"Capung?"
Eiji ikut memperhatikan capung di jari Sanubari. Capung itu sangat tenang. Hanya saja, kaki-kakinya memberi sensasi seperti digelitik.
"Di desaku ini, capung kecil yang warnanya hijau disebut titik Iyek. Kalau yang besar seperti ini, warnanya jingga kecokelatan disebut cangcorang. Tapi, ini aneh. Aku belum pernah melihat yang hijau sebesar ini sebelumnya, jelas Sanubari.
Eiji juga merasa ada yang ganjil. Dia mengamati capung tersebut dari ujung ke ujung. Mendadak, Sanubari tersentak.
"Argh!"
Capung itu menggigitnya. Sanubari sontak mengibaskan tangan. Jari Sanubari terasa seperti disuntik.
__ADS_1
"Ada apa, Sanu?"
Renji mendekat, melihat Sanubari yang mengusap-usap telunjuk tangan kanan. Sanubari tampak kesakitan.
"Tidak apa-apa. Hanya sedikit terkejut," jawab Sanubari.
Sementara itu, perhatian Eiji tertuju pada capung yang terbang, hendak menjauh. Namun, Eiji lekas menangkapnya. Sekali sambar, capung sudah dalam genggaman Eiji. Seperti dugaannya, tekstur capung tersebut tidak ringkih seperti yang seharusnya. Dengan cekatan, Eiji melepas gantungan kunci. Dia menggunakannya untuk mematikan capung.
Tanpa menunda lagi, mereka melanjutkan perjalanan pulang. Sai dan Abrizar juga sudah berada di rumah. Mereka tidak mendapatkan informasi apa pun setelah berkeliling. Kecuali, teguran dari warga untuk senantiasa memakai masker ketika keluar.
Usai mandi, Eiji membuka laptop. Dia memeriksa bangkai capung yang tidak lain adalah aifka. Mata jeli Eiji tidak salah mengenali. Itu benar-benar partisi aifka generasi terbaru yang baru diluncurkan,model yang disempurnakan pasca kekacauan akibat ulah Sanubari.
Renji mengintip. Terpampang tabel nama, lengkap dengan alamat dan foto di sana. Beberapa nama diblok dengan warna merah.
"Hei, bukankah itu nama desa ini? Dan itu nama kepala desa tadi? Apa kau baru saja mencuri data kampung?" tanya Renji.
"Ini dari aifka," jawab singkat Eiji.
Perhatian Renji teralih pada capung yang terhubung pada laptop dengan kabel kecil sebelum kembali menatap layar. Eiji menggulir layar.
"Nama Sanubari juga ada. Namanya diblok merah. Apa ini maksudnya? Apa bedanya diblok dan tidak?" tanya Renji lagi.
Eiji sendiri belum tahu. Mengapa bisa ada aifka berkeliaran di sekitar sini saja dia tidak tahu.
Pada saat itu, bunyi benda jatuh sangat keras terdengar, mengejutkan semua orang. Sai berlari ke belakang terlebih dahulu untuk memeriksa.
"Sanu!" teriak Sai ketika menemukan tubuh tengkurep di depan kamar mandi.
Abrizar sedang beribadah. Jadi, yang terjatuh itu pastilah Sanubari. Sai berjongkok, membalik tubuh Sanubari. Darah mengalir dari hidung, menetez ke lantai.
"Ada apa dengan Sanu?" tanya Eiji berlari tergopoh.
Renji menyusul dari belakang. Dia berhenti tepat di samping Eiji.
"Sepertinya, dia demam. Badannya sangat panas," jawab Sai memegang kening Sanubari.
__ADS_1
"Mungkinkah dia kambuh lagi?" terka Renji.