
Setelah meneguk dinginnya jus tomat yang menyegarkan, Sanubari merasa kecemasannya perlahan-lahan menguap. Pikirannya menjadi lebih jernih, seakan-akan segarnya jus itu juga menyegarkan pikirannya.
Tiba-tiba, pertanyaan tajam dari Fang menyela suasana. "Kalian berdua kenapa basah-basahan?"
Fang melirik ke arah Sanubari dan Shawn. Bulir-bulir air menetes dari rambut dan pakaian mereka. Lantai yang dipijak, kursi yang diduduki pun turut basah.
Shawn yang duduk di sebelahnya langsung mengambil alih dengan senyum jahil. Shawn berkisah sambil tertawa. "Oh, itu semua gara-gara Sanu yang lemah. Padahal cuma menggendong aku, dia sudah kehabisan tenaga. Akhirnya, kami terjatuh ke sungai,"
Mendengar penjelasan Shawn, Sanubari memutar mata dalam hati. "Anak ini."
Sanubari sedikit kesal. Meski sudah memperingatkan Shawn sebelumnya, namun kelakuan usilnya tak kunjung berubah. Meskipun hatinya sedikit geram, Sanubari memilih untuk tidak membalas ejekan Shawn. Dia merasa lebih bijak untuk melanjutkan menikmati setiap tegukan jus tomat yang segar di tangannya. Dalam hati, Sanubari berharap agar Shawn bisa sedikit lebih berhati-hati di masa yang akan datang.
Dia berusaha memaklumi. Bagaimanapun, Shawn masihlah kecil dan kenakalan merupakan bagian dari anak-anak itu sendiri. Sanubari kembali mengenang masa kecil. Dia mengenal gadis kecil baik seperti Zunta. Dia juga mengenal bocah nakal seperti Aldin.
Mereka terus bertumbuh. Tidak selamanya, yang suka iseng tetap akan seperti itu. Sanubari yakin manusia bisa berubah. Asalkan terus dididik dengan kebaikan, setiap orang pasti bisa menjadi baik cepat atau lambat.
Fang berkata dengan tegas, "Ayo, cepat masuk ke dalam rumah dan ganti pakaian!"
Namun, Shawn dengan malasnya menjawab, "Tapi, aku ingin bermain dengan Sanu."
Dengan wajah serius, Fang sekali lagi menegaskan, "Tidak ada ruang untuk alasan. Kamu harus segera mengganti pakaian agar tidak masuk angin, kemudian selesaikan tugas sekolahmu!"
Shawn pergi dengan langkah lesu, wajahnya tampak murung. Dia menggerutu sendiri sepanjang perjalanan menuju kamar.
"Ini sungguh tidak adil," gumamnya dalam hati.
Sementara itu, Sanubari menyadari pandangan Damiyan yang lembut, lalu ia kembali memusatkan perhatian pada segelas jus di tangannya. Senyum pria berambut putih itu membuat hatinya hangat. Setiap tindakan baik yang dilakukan oleh Damiyan begitu berarti baginya. Sanubari merenung, mungkin sudah saatnya dia mengajak Damiyan bergabung dengan Santri Famiglia. Pikiran untuk memberikan pekerjaan yang layak bagi Damiyan jika dia berhasil pulang kelak terlintas dalam benaknya."
"Kakek Fang, aku terima tantangan darimu," ucap Sanubari sambil menaruh gelas kosong di atas meja. Ekspresi percaya dirinya begitu kuat seperti badai yang mendekati, mengobarkan api semangat yang memanas.
Dia harus membuktikan pada semua bahwa dia bisa. Dia harus membuktikan bahwa dirinya tak selemah yang mereka kira. Dia harus membungkam olok-olok mereka dengan pembuktian.
Fang melihatnya dengan mata berbinar, senyuman lebar terukir di wajah seperti seekor kucing besar yang tahu akan menangkap mangsanya. "Kau ambil tantangan ini dengan hati yang penuh semangat, Sanubari. Aku kagum."
__ADS_1
Hari berikutnya, matahari pagi terbit dengan cahaya lembut yang menerangi lembaran catatan di tangan Sanubari. Pemuda itu duduk di bawah pohon, mata terbelalak saat membaca petunjuk-petunjuk kecil yang ditulis dengan tinta biru di dalam buku saku berwarna biru tua.
"Memukul tembakan bola."
"Menguasai seni semburan jarum beracun."
"Mendalami ilmu beladiri."
"Menguasai meditasi batin untuk ketajaman jiwa dan pikiran."
...
Sanubari menggaruk kepala, tanda kebingungan jelas terpancar dari wajahnya. Sambil merenung, dia bergumam, "Mengapa poin lima berupa titik-titik?"
"Fang tersenyum misterius, matanya menyala dalam kecerdasan. Dengan suara pelan, dia berkata, "Tidak ada yang berharga tanpa sedikit misteri, bukan? Ini mungkin merupakan langkah selanjutnya setelah menguasai yang telah kau pelajari sejauh ini."
Fang tertawa ringan. "Percayalah, Sanu. Aku tidak akan pernah membohongi temanku sendiri. Aku akan menyatakan saat semuanya benar-benar selesai. Sisipan ini hanya untuk memastikan semua berjalan jujur. Bayangkan jika aku mengungkapkan semua detailnya, lalu membubuhkan centang atau tanda tanganku sebagai tanda tantangan telah selesai! Jika seperti itu, tidak menutup kemungkinan kau akan mencentang atau meniru tandatanganku supaya bisa cepat pergi dari sini, kan?"
"Masuk akal," Sanubari manggut-manggut, "meski aku tidak akan melakukan yang Kakek tuduhkan."
Sanubari mencoba memahami kekhawatiran Fang. Dia menyimpan buku ke saku celana. "Jadi, ladang mana lagi yang harus aku urus?"
"Tidak ada pekerjaan di ladang dan sawah hari ini."
"Apa?" Sanubari histeris, "ayolah, Kakek Fang! Berikan pekerjaan apa pun asal menghasilkan uang! Aku tidak ingin kebanyakan menganggur, lalu berlama-lama menimbun utang."
"Dasar bocah!" pekik Damiyan dengan nada bercampur kejengkelan dan sindiran. Semakin banyak waktu yang dihabiskannya bersama Sanubari, Damiyan semakin sadar akan sifat kekanakan yang melekat pada sahabatnya itu. Kerisauan Sanubari terhadap utang menjadi poin positif, semangatnya dalam menyelesaikan utang-utang tersebut juga mengisyaratkan bahwa ada tanggung jawab yang terkandung di dalam dirinya. Namun, tak bisa dipungkiri, gaya tingkah laku Sanubari terkadang mampu mengubahnya menjadi anak kecil yang ceria.
"Hah, aku tidak pernah membayangkan orang sebesar dia bisa berlaku seenaknya seperti itu," gumam Damiyan dalam hati, mata yang tajam tak henti-hentinya mengamati setiap tingkah polah Sanubari yang membuat perutnya tergelitik.
__ADS_1
Tetapi, Damiyan tahu bahwa menjadi saksi mata dari semua ulah konyol Sanubari memberikan pengalaman yang tak ternilai. "Hei, lihatlah dia! Seperti anak kecil yang menemukan mainan baru," ucap Damiyan dengan senyum simpul saat melihat Sanubari melompat-lompat dengan penuh antusiasme.
Suasana hati Sanubari begitu cepat berubah-ubah. Padahal, dia hanya mendengar kata-kata dari Fang terkait pekerjaan.
Rengekan riang Sanubari tiba-tiba terdengar seperti renyah pepohonan yang ditiup angin saat mobil berbentuk bak memasuki halaman rumah. Ternyata, Sanubari hanya salah paham. Sanubari sesaat menahan tawa malu-malu ketika menyadari bahwa pekerjaan-pekerjaan lain sudah dipersiapkan sebelum meminta.
Damiyan hanya menjadi pengamat. Kali ini, dia melakukan dengan mata sendiri, bukan melalui mata mesin buatan manusia lagi.
"Ayo, Kak Dami, kita naik!" Ajakan Sanubari penuh semangat. Dia tertawa lepas.
Dalam momen-momen seperti ini, Damiyan merasakan kedekatan yang tak tergantikan dengan Sanubari, meskipun kadang-kadang si bocah ini mampu membuatnya menggelengkan kepala dengan ulah kocaknya.
Dengan getaran mesin yang berdentum, mereka melaju menggunakan mobil bak menuju peternakan di tengah perbukitan hijau. Udara pagi yang sejuk meniup lembut di wajah mereka saat mobil meluncur di jalanan berliku. Sanubari merasa getaran kegembiraan menggelitik dadanya, berharap untuk bisa merasakan kegiatan memerah susu seperti yang pernah ia lihat dalam film-film pedesaan.
Tiba di peternakan itu, pemandangan menakjubkan menyambut mata mereka. Lahan hijau yang luas dipenuhi dengan barisan sapi perah yang tenang mengunyah rumput. Dalam keheningan pagi, terdengar gemericik air dan suara desiran angin yang menghembus lembut. Peternak yang ramah menyambut mereka dengan senyum hangat, "Selamat datang! Siapa yang ingin mencoba memerah susu?"
Sanubari dan Damiyan menatap satu sama lain. Damiyan bersikap biasa saja. Toh, dirinya hanya akan menjadi pihak yang melihat-lihat sambil jalan-jalan.
Lain halnya dengan Sanubari. Air mukanya sangat mudah ditebak. Semangat seakan-akan bocor dari sekujur tubuhnya. Mereka mengikuti peternak ke area pemerasan susu. Namun, yang membuat Sanubari terkejut adalah melihat mesin-mesin besar yang telah siap beroperasi.
"Wow, apakah kita akan memerah susu dengan tangan kita?" tanya Sanubari penuh harap.
Tawa lembut sang peternak pun pecah. "Tidak, Sayang. Waktu sudah berubah. Kini mesin-mesin modern yang membantu kami dalam proses memeras susu. Tetapi jangan khawatir, kalian masih bisa merasakan pengalaman unik ini."
Sambil mendengarkan penjelasan sang peternak, Sanubari dan Damiyan melihat bagaimana mesin-mesin canggih dengan presisi memasangkan alat-alat pemeras. Kemudian, dengan perlahan, mereka melihat susu segar mengalir ke dalam tong-tong besar. Namun, semangat mereka tak surut. Dengan bantuan peternak, mereka mencoba memasang alat pemeras pada satu dari sapi yang sudah terbiasa.
Saat Sanubari menekan tombol yang telah diajarkan oleh peternak, alat pemeras bergerak dengan halus. Suara lembut mesin terdengar di sekelilingnya. Hatinya berbunga saat melihat susu segar mengalir ke dalam wadah.
"Wow, aku melakukannya!" serunya dengan gembira.
Sanubari juga diizinkan memerah langsung menggunakan tangan saat sekali lagi memohon. Tentu, itu berkat Fang sebagai pemilik peternakan. Pekerjaan utamanya hanya sebagai kuli angkut yang memindahkan susu ke mobil pengiriman. Kendati demikian, dia diizinkan menjajaki berbagai proses. Sanubari benar-benar memperoleh pengalaman baru.
Beberapa waktu kemudian, ketika pekerjaan Sanubari usai, Sanubari dan Damiyan disuguhi susu segar. Mereka menikmati secangkir susu segar yang baru saja mereka perah sendiri. Sanubari mengungkapkan rasa bahagianya pada Fang.
__ADS_1
"Pengalaman ini sungguh luar biasa! Aku bisa merasakan betapa berharganya susu yang kita nikmati sekarang," katanya sambil tersenyum.
Pengalaman di peternakan itu tidak hanya memberikan pelajaran tentang modernisasi dalam pertanian, tetapi juga mengingatkan mereka akan nilai kerja keras dan apresiasi terhadap hasil jerih payah. Sanubari merasa hari ini menjadi babak baru dalam petualangannya, mengumpulkan kenangan berharga yang tidak akan pernah ia lupakan, sekaligus inspirasi untuk memajukan industrinya sendiri. Berkat pengalaman itu, dia juga ingin memiliki peternakan sendiri untuk menyokong perekonomian organisasi.