Santri Famiglia

Santri Famiglia
Kilas Balik Muktar 1


__ADS_3

Sebuah papan bertuliskan Al Ikhlas terpampang besar di pagar besi yang mengelilingi kompleks bangunan. Itu merupakan pondok pesantren terbesar di Kota Blitar. Kemasyhurannya telah tersebar sampai pelosok desa.


Satu gedung lima lantai berdiri di depan lapangan. Gedung tersebut merupakan MTS negeri yang terbuka untuk umum. Murid-muridnya dibebaskan memilih antara sekolah sekalian nyantri atau hanya sekolah. Meskipun begitu, mayoritas siswa lebih memilih tinggal di pondok pesantren yang disediakan


Masjid besar berdiri di sisi barat. Di sisi timur, berdiri gedung lima lantai lain yang menjadi bagian dari fasilitas sekolah. Di sebelahnya, dibangun minimarket yang bisa dimasuki dari dua sisi. Pintu mengarah ke jalan biasanya dilewati umum, sedangkan yang mengarah ke area pesantren biasanya digunakan warga sekolah.


Berseberangan dengan minimarket, berjajar ke barat dua gedung yang merupakan asrama bagi para siswa dan staf pengajar. Sementara di selatan, hamparan taman dan hutan kecil berjalan setapak menuju area dalem (rumah kyai keturunan pendiri pondok.


Di tengah, terdapat lapangan luas serba guna. Separuh berumput dan bisa digunakan untuk sepak bola. Sementara setengah lagi berlantai kayu dengan garis-garis bantu bisa digunakan untuk voli, basket, tenis, bulu tangkis, dan olahraga lainnya.


Hari itu merupakan hari pertama Muktar tiba di Blitar. Muktar baru saja menyelesaikan pendidikan strata satunya. Sejak kecil hingga dewasa, Muktar hidup di lingkungan pesantren di Jawa tengah. Orang tuanya hanya menjenguk setahun sekali.


Dia ingin ganti suasana. Untuk itu, ketika pesantren di kampung halamannya membutuhkan pengajar tambahan, Muktar segera melamar walau wisuda masih harus menanti hari. Dia langsung naik kereta ke Blitar begitu panggilan wawancara tiba.


Siapa sangka, dia langsung diterima hari itu juga. Pewawancaranya sang Kyai langsung. Sahab namanya. Kyai Sahab mengajaknya berkeliling bersama Hudi—pelamar lain yang juga diterima.


Muktar terus melemparkan pandangan ke segala arah. Mereka berjalan menyusuri Selasar yang menghubungkan antarbangunan. Sampai akhirnya, mereka sampai ke asrama putra.


"Lantai satu khusus staf dan pengajar. Ada pula dapur khusus untuk para staf. Sementara kantin untuk makan bersama ada di lantai tiga supaya adil," ujar Kyai Sahab tersenyum.


Mereka memberi salam pada pria yang duduk di resepsionis. Di seberang ruang muka itu, ada ruangan lain. Loker-loker berjajar dengan nomor sesuai nomor kamar. Kyai Sahab menjelaskan, petugas piket akan memasukkan paket atau surat ke sana bila ada yang menerima paket. Kunci hanya dipegang pemilik dan petugas berkepentingan. Jika paket terlalu besar, petugas akan menyimpan di kantor sampai diambil.


"Wah, praktis sekali! Pengaturannya mirip asrama mahasiswa di Jepang yang pernah saya tempati," komentar Muktar.


Dalam hati, Muktar mengagumi pondok pesantren ini. Waktu masih taman kanak-kanak, dia pernah menimba ilmu di tempat ini. Dahulu, tempatnya belum sebagus ini. Lahan yang sekarang menjadi asrama pun dahulu hanya belantara. Muktar sering memanjat pohon-pohonnya dan menjadikannya sebagai tempat sembunyi saat bermain petak umpet.

__ADS_1


Saat kelas lima sekolah dasar, Muktar dan keluarga pindah ke Jawa Tengah. Muktar melanjutkan pendidikan di pondok pesantren yang ada di sana. Namun, ayah Muktar dimutasikan kembali ke Blitar ketika Muktar baru masuk SMA.


Muktar memutuskan untuk menetap. Sementara keluarganya kembali ke kota asal mereka. Jaraknya tidak jauh dari pondok.


"Jadi, Mas Muktar ini pernah kuliah di Jepang?" tanya Hudi.


"Alhamdulillah, meski hanya semester pendek selama enam bulan." Muktar tersenyum.


"Itu hebat. Saya ingin juga jalan-jalan ke luar negeri, tapi belum keturutan," kata Hudi.


"Mari kita lanjut ke kamar kalian!" ajak Kyai Sahab.


Dia memperkenalkan mereka pada pria yang sedang berjaga di meja resepsionis. Pria itu memberi dua kartu—masing-masing satu untuk Hudi dan Muktar. Setelah menjelaskan banyak hal, Kyai Samad pergi. Muktar berbagi kamar dengan Hudi.


Muktar sendiri sebenarnya ingin tinggal bersama orang tua. Akan tetapi, adik iparnya tinggal di sana. Muktar sungkan bila harus serumah dengan adiknya yang baru menikah. Jadi, dia memilih untuk tinggal di asrama.


Tiba-tiba, Hudi menarik lengan Muktar, lalu berkata, "Wah, ini jam tangan edisi terbatas dari desainer terkenal itu, kan? Denger-denger, hanya ada sepasang edisi ini. Bagaimana kamu mendapatkannya?"


Ketertarikan tergambar jelas di wajah Hudi. Muktar tidak mengerti mengapa ekspresinya bisa sampai seperti itu. Desain arlojinya memang elegan dan Muktar menyukainya. Namun, Muktar menganggap itu sama saja dengan jam tangan yang dijual di pasar.


"Hadiah dari teman," jawab Muktar.


Arloji tersebut merupakan hadiah dari adik tingkatnya. Gadis itu memberikannya setelah Muktar menyelesaikan sidang skripsinya. Muktar sendiri tidak tahu menahu tentang merk jam tangan.


"Hadiah? Yang benar saja? Gila!"

__ADS_1


"Astagfirullah. Maaf, Mas. Bukannya saya lancang, tapi ini adalah area pesantren. Alangkah baiknya bila kita menjaga tutur kata," tegur Muktar. Dia agak heran dengan reaksi teman barunya.


"Maaf, saya terlalu antusias sampai tanpa sadar mengatakan itu." Hudi terkekeh, "Siapa yang mau memberi hadiah seharga dua puluh satu miliar seperti ini? Teman seperti itu pasti langka!"


"Ini hanya arloji. Masak semahal itu?" Muktar terkejut.


"Kalau tidak percaya, Mas bisa cek di internet atau tanya ke ahli yang benar-benar mengerti tentang jam tangan. Anu, boleh pinjam sebentar?"


"Tentu."


Muktar melepaskan jam tangan, lalu menyerahkannya pada Hudi. Perkataan Hudi membuatnya kepikiran. Dia akan merasa sungkan bila itu benar. Dia tidak pernah memberikan apa-apa pada gadis itu. Rasanya, tidak pantas bila dia menerima pemberian setaraf sebuah rumah mewah.


"Oh, lihatlah! Detail ini, sudah pasti ini asli!" Hudi mengamati, lalu memakainya, "Wah, jam tangan mahal memang beda! Nyaman sekali!"


Hudi tampak puas melingkarkan arloji di pergelangan tangannya. Kemudian, dia menepuk pundak Muktar, lalu berbisik, "Pastikan mengunci kamar ketika kamu meninggalkannya! Siapa pun yang mengenali jam tangan ini pasti tergoda untuk mencurinya."


"Astagfirullah. Kita diajari untuk senantiasa berhusnudzon, bukan suuzan. Sebaiknya, Mas hilangkan prasangka buruk itu. Bila jam itu sampai hilang, berarti memang bukan rezeki saya. Lagipula, ini area pesantren. Insyaallah, penghuninya pun memiliki Akhlakul Karimah."


Muktar menjawabnya dengan penuh ketenangan. Dia menjaga senyuman.


"Ya sudah kalau kamu berpikir begitu. Yang penting, saya sudah memberi tahu." Hudi menjauhkan diri. "Nah, bagaimana penampilan saya? Keren, kan?"


Hudi bergaya dengan jam tangan Muktar, menyugar sok elegan. Dia bahkan meminta Muktar memotretkan dirinya dengan fokus pose menonjolkan jam tangan. Keduanya cepat akrab.


Muktar tidak pernah menyangka bahwa peringatan Hudi itu seperti ramalan masa depan yang akan segera terjadi. Arloji itulah salah satu benda yang akan memberatkan Muktar, membuatnya tidak bisa berkelit dari tuduhan yang diarahkan padanya.

__ADS_1


__ADS_2