
Mereka menuruni jalan miring yang cukup curam. Jalan setapak yang hanya bisa dilewati satu orang. Sebenarnya, bisa saja dua orang berjajar, tetapi terlalu dekat pinggiran akan berbahaya. Jadi, Tendei menyuruh mereka berbaris satu-satu dengan urutan Abrizar, Sanubari, lalu Fukai di belakangnya.
Di sisi kanan mereka terdapat tebing batu terjal. Sementara di sisi kiri jurang. Akar-akar raksasa bertumpuk-tumpuk, meliuk-liuk di depan mereka.
"Tendei!" panggil Fukai.
Dia sudah menahan rasa penasarannya sejak tadi, sama seperti Sanubari. Akar-akar gemuk itu melebar lebih luas dari batangnya, setara luas sebuah mal atau bahkan lebih.
"Hem."
Satu suara singkat dari Tendei itu cukup keras. Dia terus berjalan cepat tanpa menoleh.
"Apa di seberang pohon itu ada jalan?"
"Tidak-tidak," Tendei menggeleng, "di sana, ada sarang binatang buas yang lebih ganas. Sama sekali bukan jalan yang bisa dilewati dengan mobil, apalagi jalan kaki. Kita akan sedikit mengambil jalan memutar untuk menghindari area itu."
"Lalu, bagaimana mobil tadi bisa muncul dari seberang pohon?"
Fukai mengejar jawaban. Menurutnya, itu aneh. Bila ada jalan mudah yang bisa ditempuh, mengapa mereka seolah ingin merahasiakannya?
"Tentu itu berbeda. Yang jelas, mereka tidak melewati seberang akar itu. Yah, itu bukan urusan kalian. Jangan terlalu dipikirkan! Ada hal yang memang sebaiknya tidak kalian ketahui," jawab Tendei.
Fukai tidak bisa memaksa. Dia diam. Abrizar pun tidak banyak berkata-kata. Dia sudah bisa menduga apa yang Fanon dan yang lain coba sembunyikan.
Giliran Sanubari yang bertanya, "Tapi, bagaimana mobil dan tronton bisa sampai ke sana kalau tidak ada jalan? Apa orang-orang itu menemukan alat teleportasi super canggih?"
"Teleportasi apa yang kau maksud? Ah, sudahlah! Jangan bahas itu lagi! Kalian sendiri, bagaimana bisa sampai tersesat sedalam ini?"
Tendei berlari, melompati akar yang melintang. Abrizar mempercepat langkah, meraba permukaan dengan tongkat. Sanubari dan Fukai mengikuti tempo mereka.
"Kami tidak tersesat. Kami memang sengaja mencari Pak Kora," jawab Sanubari.
"Ada hubungan apa kalian dengan Fanon? Kalian cukup gila menjelajahi hutan ini bila tanpa mengetahui apa pun. Bisa jadi kalian sudah terkapar di belantara, menjadi santapan para binatang buas."
Tendei menunduk, lalu merangkak. Di depan mereka, akar-akar terpelintir tumpang tindih, membentuk terowongan. Tumpukannya cukup tinggi dan tebal. Pohon raksasa di sebelah kanan. Sementara di sebelah kiri—dari arah mereka datang tergeletak batu setinggi lima meter. Tidak ada jalan selain terowongan akarr itu atau kembali ke jalan yang mereka lewati.
Dari belakang, Fukai berseru, "Merangkak, Bri!"
__ADS_1
Abrizar memendekkan tongkat. Dia mengikuti suara Tendei yang sudah masuk terlebih dahulu.
"Kami tidak punya hubungan apa-apa,dan yeah, aku hampir mati di sisi hutan sana. Mereka terus mengejar kami. Aku jadi merasa seperti buronan yang dikejar polisi."
Sanubari terus berbicara. Terowongan itu ternyata cukup kering. Dia pikir akan sedikit lembab karena di bawah pohon. Selain jaring laba-laba yang terkadang membuat wajah geli dan permukaan yang tidak rata, takada hambatan yang mereka temui.
"Tempat ini gelap sekali. Sebenarnya, seberapa panjang tempat ini?" tanya Sanubari. Dia tidak betah berlama-lama di tempat itu.
"Aku tidak tahu pastinya. Tapi, kurasa, tidak lebih dari sepuluh meter dan hanya ada satu jalur. Kita sampai," ucap Tendei.
Mereka satu per satu naik. Ternyata, ada gua batu yang menutupi jalan keluar sehingga tidak ada cahaya yang masuk ke terowongan. Jalan keluar dari terowongan pun seperti rumah gangsir. Jadi, mereka baru bisa melihat cahaya ketika sudah ke permukaan.
Vegetasi tempat itu lebih variatif. Ketika keluar gua, mereka melihat banyak pohon besar.
"Ini tempat tersejuk di sekitar sini dan pastinya paling aman. Hanya ada kera besar yang mendiami tempat ini. Mereka biasanya menyerang orang asing, tapi aku berteman dengan mereka. Jadi, kita bisa berjalan santai," jelas Tendei.
Mereka melanjutkan perjalanan. Kanopi dedaunan membuat tempat itu tampak remang. Tanah yang mereka injak pun terasa gembur, seakan-akan tidak mampu menopang beban dan bisa amblas kapan saja.
"Apa jalan ini benar-benar aman? Bagaimana kalau tiba-tiba runtuh?"
Sanubari melihat ke bawah dengan perasaan was-was. Dia bahkan tidak berani menginjak satu tempat terlalu lama. Daun-daun menutupi permukaan. Semua tampak alami. Tidak ada jejak pembukaan jalan sama sekali.
Kata leluhurku, dulu tempat ini tidak seperti ini. Kondisi geografisnya berubah setelah gempa besar. Posisi pulau bergeser, hutan meluas, jurang-jurang terjal pun terbentuk di beberapa bagian. Di sisi lain area ini ada jurrang, di seberangnya ada air terjun indah," cerita Tendei tanpa diminta.
Dua jam mereka berjalan tanpa istirahat. Akhirnya, mereka sampai ke lahan terbuka. Sabana terbentang sejauh lima ratus meter di hadapan.
"Kita istirahat dulu!" pinta Fukai mempertimbangkan kondisi Sanubari.
Mereka duduk di bawah pohon akasia, memakan sisa roti perbekalan hari sebelumnya. Tendei kembali masuk ke hutan, berteriak-teriak tidak jelas, lalu datang dengan seekor kera kecil.
Kera itu memanjat pohon kelapa, menjatuhkan empat kelapa muda, lalu masuk hutan lagi. Tendei tersenyum, membawa kelapa-kelapa muda ke dekat mereka.
"Ini enak dan menyegarkan dinikmati setelah berjalan jauh."
Tendei mengeluarkan golok yang tidak pernah dia gunakan untuk memotong daging. Dia membuat lubang pada kelapa, lalu membagikannya.
"Praktis juga memiliki sahabat binatang, ya?" celetuk Sanubari.
__ADS_1
"Begitulah," jawab Tendei setelah minum air kelapa.
Sanubari meminum air Kelapa. Hidungnya sampai kemasukan air. Bajunya pun basah. Dia terbatuk-batuk dan hidungnya sedikit pengar.
"Jangan buru-buru!" Fukai memberikan tisu pada Sanubari.
"Susah juga minum langsung dari kelapanya, ya?" Sanubari mengelap mulut.
"Kau saja yang kurang hati-hati," ledek Abrizar.
Dia membalik kelapanya yang sudah tidak meneteskan air. Sanubari cemberut. Dia lekas mengambil kelapa lagi dan minum sedikit demi sedikit selagi Tendei membelah kelapa.
Selesai makan kelapa muda, mereka berjalan lagi. Tendei mengantar rombongan Sanubari sampai ke dermaga. Jalan hutan yang mereka lalui tembus ke pesisir. Tidak ada transportasi umum selain perahu cepat dan kapal lain.
"Dari sini, kalian bisa menyewa jasa penyeberangan untuk pergi ke tempat yang lebih ramai. Tapi, aku akan dengan senang hati memandu kalian bila ingin berjalan kaki. Bagaimana?" tanya Tendei.
"Seberapa jauh itu kira-kira?" tanya Fukai.
"Seperempat atau mungkin setengah hari," jawab Tendei.
Langit tampak mendung dan air mulai menetes. Tendei merasakan satu tetes kecil di wajahnya.
"Hujan akan segera turun. Kusarankan kalian mencari penginapan. Kalian bisa bertanya pada warga sekitar. Jika kalian memutuskan untuk jalan kaki, mari bertemu di sini lagi! Aku akan ke sini besok pagi dan menunggu sampai tengah hari. Lewat dari itu bila kalian tidak menemuiku, kuanggap kalian tidak butuh bantuanku lagi. Sampai jumpa!"
Tendei menghilang ke kedalaman hutan. Tiga sekawan itu juga bergegas menghampiri bangunan terdekat. Setelah bertanya, mereka mendapat informasi tentang rumah yang menerima tamu untuk menginap.
Dua orang memperhatikan rombongan Sanubari yang menjauh. Mereka berbincang.
"Apa kau tidak salah mengarahkan mereka ke rumah itu?"
"Kalaupun tidak banyak yang bisa dipetik, mereka masih cukup rupawan. Dia pasti menyukainya dan kita bisa panen lebih dari yang kita pikirkan."
"Kau tidak kasihan dengan turis-turis tersesat itu?"
"Akan kugadaikan rasa kasihan itu demi jaminan hidup yang lebih pasti. Kau sendiri bagaimana?"
"Tidak ada yang lebih baik dari sesuatu yang pasti. Rasa kasihanku itu sangat mahal."
__ADS_1
Keduanya tertawa, lalu kembali masuk. Hujan makin deras. Suasana sangat sepi. Tidak ada orang lalu lalang, hampir-hampir seperti pulau tidak berpenghuni.