
Bangunan terus berkelebat, berlarian. Jin menyangga kepala sambil menatap ke luar jendela.
"Tidak mau. Memangnya organisasi apa yang bisa dibentuk oleh bocah udik yang baru saja terkena kasus gara-gara kuburan?"
Jin menertawakan Sanubari. Meskipun dia tahu bahwa Sanubari adalah anak Aeneas, tetapi Sanubari tetaplah bocah lugu di mata Jin. Dibandingkan sang ayah, Sanubari sama sekali tidak ada apa-apanya.
Sampai saat ini pun Sanubari tetaplah seorang bocah di matanya. Dia belum bisa memberikan penghormatan yang sama dengan yang dilakukannya terhadap Aeneas.
Bas yang menyetir, memperhatikan Sanubari dari spion dalam. Mata hijau itu mengingatkannya pada peristiwa lampau. Terkenang dalam ingatannya, Sanubari kecil yang menganggap toilet duduk sebagai sihir ajaib. Mengingat itu membuatnya menahan tawa.
"Organisasi yang akan meniadakan kasus salah tangkap seperti itu," balas Sanubari. Setiap suku katanya penuh keyakinan.
"Jangan mimpi, Bocah! Membebaskan diri sendiri saja tidak bisa. Bagaimana kau bisa mewujudkan itu?"
Jin menyangsikan Sanubari. Dia sudah hafal sifat Sanubari yang suka berbicara tanpa pikir panjang.
"Aku sudah mulai mewujudkannya?"
"Oh, iya? Lalu, siapa yang baru saja depresi dalam penjara tadi, ya?"
Jin tersenyum mengejek. Saat ini pun penampilan Sanubari masih acak-acakan. Walaupun wajahnya tidak pucat lagi, tetapi rambutnya masih mencuat ke sana/sini.
"Aku bisa saja kabur kalau mau. Tapi, aku tidak mau jadi buronan begitu saja," kilah Sanubari.
Dia tidak mau mengakui tuduhan Jin. Sebisa mungkin, Sanubari ingin segera melupakan fakta itu. Cukup sekali saja, dia masuk penjara. Sama sekali tidak ada kembali menjadi penghuni penjara yang kedua dalam daftar keinginan.
Tiba-tiba, Sanubari teringat teman satu selnya. Dia sungkan untuk meminta bantuan langsung pada Jin. Bagaimanapun, Jin baru saja mempelajari kasusnya untuk membebaskannya. Itu pasti melelahkan. Sanubari berpikir untuk menahan diri sejenak sebelum mengatakan tentang itu di lain kesempatan.
"Alasan," balas Jin.
"Kakak lihat orang yang menjemputku, kan? Mereka semua anggota organisasiku. Berikutnya, Kak Penculik Baik Hati yang akan masuk melengkapi."
Sanubari tersenyum lebar kembali. Dia tahu, Jin adalah orang baik. Sanubari hanya perlu menunjukkan kesungguhan untuk menyentuhnya. Setidaknya, itu yang ada dalam pikiran Sanubari. Pemuda itu belum tahu sisi lain dari Jin.
Tidak lama kemudian, mereka sampai di rumah makan. Jin belum memberi tanggapan karena mereka harus turun.
Kedua mobil parkir sebelahan. Angin sawah seketika menyambut bersama harum masakan. Sanubari mengedarkan pandangan. Angkringan dan bangunan bernuansa kejawen mengelilingi mereka.
__ADS_1
"Loh, Kak Eiji, Kak Abri, dan Paman Fukai di mana?" tanya Sanubari ketika mendapati mobil kurang satu.
"Sedang menjemput Anki. Aku sudah membagikan lokasi padanya. Dia akan menyusul," jawab Sai.
Sementara itu, Bas menghitung. "Jadi, kita bersembilan dan akan ada empat orang yang menyusul?"
Sai berpikir sejenak, lalu menjawab, "Benar."
Bas menuju ke kasir. Dia meminta tempat yang bisa digunakan untuk tiga belas orang. Dua pelayan memandu mereka ke area angkringan. Mereka saling berbincang untuk mengakrabkan diri.
Bas mengamati Sanubari. Dahulu, anak bermata hijau itu mengalami banyak penolakan dari warga desa. Bermain pun Sanubari hanya sendirian. Bas tahu itu saat menguntit sebelum menculik Sanubari. Tidak disangka, mereka akan berjumpa lagi ketika Sanubari sudah beranjak dewasa dan dikelilingi teman. Orang-orang desa yang dahulu mencaci bahkan telah beralih memuja-muja Sanubari.
Beberapa sekat dipindah dan meja disatukan memanjang. Mereka memesan makanan tanpa menunggu satu mobil yang belum datang.
"Kak Penculik Baik Hati, ayo bergabung denganku! Kita perangi ketidakAdilan bersama-sama."
Jin hanya berdehem sambil menggigit bebek sungkem. Itu lebih penting daripada meladeni ajakan berulang Sanubari. Bocah udik itu masih sama berisiknya seperti sembilan tahun yang lalu ketika Jin iseng menyekapnya karena penasaran.
"Wah, keren juga kalau ada pengacara di kelompok kita. Jadi, bisa tambah mudah berkelit dari hukum," timpal Renji. Dia menyuir ikan, memuluknya bersama nasi.
"Katanya organisasi perdamaian, tapi kok mau sembunyi dari hukum?" selidik Jin.
Jin manggut-manggut. Dia menarik satu sudut bibir, masih menganggap remeh Sanubari.
"Kalau masalah seperti itu saja tidak bisa menyelesaikan, artinya kalian amatir. Aku tidak mau buang-buang waktu"
"Dia ini memang amatir, tapi aku tidak. Andai bukan karena Eiji yang setuju meladeninya, aku juga tidak mau."
Renji melakukan pembelaan untuk diri sendiri. Dia tidak ingin digolongkan amatir bersama Sanubari.
Saat itulah Eiji datang. Dia membantu Abrizar naik. Anki dan Fukai mengikuti.
"Assalamualaikum!"
Salam lembut dari Anki itu membuat Jin mengalihkan perhatian. Nasi di tangannya jatuh. Matanya terus mengikuti Anki yang tersenyum, berjalan menuju tempat kosong.
Sementara itu, di depan rumah Jin, Aldin lagi-lagi menelan kekecewaan. Dia selalu gagal menemui Jin. Dia menggeram di depan gerbang yang tertutup rapat, menendangnya penuh kekesalan hingga pagar besi itu berdentang.
__ADS_1
"Kenapa sulit sekali menjumpainya?"
Dia berbalik badan, kembali menaiki sepeda pulang. Setibanya di rumah, sepeda ditaruh asal-asalan. Suasana hatinya sungguh buruk.
Wongso duduk di depan televisi. Benda persegi itu menyala, tetapi perhatiannya tidak di sana. Kedatangan Aldin pun tidak dia sadari.
Beberapa hari belakangan, Wongso sibuk memikirkan satu hal. Sejak melihat Jin memposisikan diri sebagai penasihat hukum Sanubari, pikiran Wongso mereka jutaan peristiwa yang belum terjadi.
Dia gagal mendapatkan cipratan uang denda karena hukuman dibatalkan. Lebih dari itu, kenyataan Jin dan Sanubari saling mengenal lebih mengkhawatirkannya.
"Bagaimana kalau ternyata Sanubari adalah keluarga kesayangan King? Tidak! Itu tidak mungkin," batinnya terus melontarkan pertanyaan, lalu dijawab sendiri.
"Pak!"
Panggilan dari Aldin membuat Wongso tersentak. Jantungnya berdebar kencang. Ketika Wongso menoleh, Aldin telah duduk di sebelahnya dengan muka masam.
"Ngagetin aja kau ini, Din," katanya.
"Benar kalau Sanu kembali ke desa dan akan menetap, ya?"
"Iya. Dia bahkan membeli beberapa tanah. Padahal, seharusnya tanah-tanah itu menjadi milik kita."
Berita di televisi menampilkan tentang pembebasan Sanubari. Wongso tidak menyimak. Sementara Aldin tidak senang menyaksikan itu. Dia mengambil remot dan mematikannya.
"Bapak tahu kenapa Kak Jin membela Sanu?"
"Mungkin dia hanya pengacara yang kebetulan ditunjuk pemerintah karena pengacara sebelumnya berhalangan hadir."
Wongso berharap itu fakta yang sesungguhnya. Sebab, dia tidak bisa menerima fakta lain.
"Kalau begitu, lakukan sesuatu! Bukankah Bapak bilang Sanu juga menyebabkan omset keluarga menurun?"
"Kita tidak bisa berbuat apa-apa selama Sanubari dipenjara. Itu wewenang kepolisian."
Wongso sedikit menyesali rencana pelaporan Sanubari. Andai waktu bisa diputar ulang, ia akan menyuruh anak buahnya mengeksekusi langsung. Dengan begitu, Sanubari sekarang mungkin tidak akan terlihat dan tanah yang ditinggalkan bisa beralih kepemilikan padanya.
"Tapi, sekarang, dia sudah bebas."
__ADS_1
"Kita memerlukan perencanaan matang, Din. Bapak tidak mau salah ambil langkah, lalu merugikan diri kita sendiri."