Santri Famiglia

Santri Famiglia
Bantuan


__ADS_3

Komandan tentara itu mempersilakan Damiyan duduk di kursi kabin. Wallsky Blueluck namanya.


"Maaf, kami hanya bisa membawa L50 ini. Pesawat terbaik kami—Albatros baru saja dicuri seorang amatir dan hancur di perairan Osaka." Wallsky tersenyum, sedikit basa-basi.


"Itu tidak masalah. Tuan Blueluck, kira-kira berapa waktu tempuh yang dibutuhkan pesawat ini untuk mencapai daratan Cina?"


"Tunggu sebentar!" Wallsky menekan tombol di dinding pesawat, lalu menarik sesuatu yang mencuat dari sana.


Itu sebuah benda pipih. Dia memasukkan titik koordinat. Di sana, tertera kecepatan pesawat dan jarak pelabuhan Nagoya ke Cina. Setelah menekan tombol selesai, muncullah hasil kalkulasi.


"Dengan kecepatan lima ribu kilometer per jam, kira-kira kita akan butuh satu jam kurang sedikit. Tiga puluh lima menit, tiga puluh lima detik, dua Mili detik."


Keterangan itu cukup melegakan bagi Damiyan, sekaligus mengejutkan. Waktu yang sangat singkat dibandingkan berlayar dengan sebuah kapal.


"Jadi, kita akan terbang ke Cina sekarang?" lanjut Wallsky mengkonfirmasi tujuan.


Dia memang mendengar perintah dari pusat untuk menyelamatkan seseorang. Namun, untuk keterangan pastinya, dia harus menemui seseorang di Nagoya, dan orang yang dimaksud adalah Damiyan.


Damiyan menggeleng. Dia sudah melakukan perhitungan kasar sebelum tidur. Jarak Nagoya ke Cina berkisar dua ribu sembilan ratus empat puluh enam kilometer.


Sementara kecepatan kapal kargo Meiwa Spirit antara enam puluh sampai tujuh puluh knots atau sekitar seratus sebelas sampai seratus dua puluh sembilan koma enam puluh empat kilometer per jam. Dengan kecepatan seperti itu, dibutuhkan waktu dua puluh jam lebih untuk mencapai pulau seberang.


"Kita berangkat dua jam sebelum kapal itu sampai saja."


"Kira-kira, kapan itu?" Wallsky mengangkat kepala, menanti jawaban dari Damiyan.


Damiyan mengangkat tangannya. Dia memperhatikan jarum-jarum jam yang berhenti. Sekarang, masih pukul setengah sembilan.


"Mungkin sekitar pukul sebelas nanti malam."


"Kenapa tidak sekarang saja?"


"Kapal akan berlayar dua puluh jam lebih. Berhubung sedang ada perang dingin di Cina, sebaiknya kita tidak singgah terlalu lama di sana. Aku tidak ingin memicu terjadinya konflik lain yang tidak perlu."


"Itu masuk akal. Negara lain mungkin akan mengira Amerika bersekutu dengan Cina bila melihat jet tempur kami parkir di sana dalam kondisi seperti ini. Bisa-bisa, kami juga terseret dalam peperangan." Wallsky manggut-manggut.


Sejenak tercipta kesunyian di antara mereka. Keduanya tampak tidak memiliki bahan obrolan lain, sampai akhirnya Wallsky teringat sesuatu.


"Tunggu sebentar! Aku akan memberitahu pilot untuk menghubungi bandara Cina sekarang. Aku akan segera kembali." Wallsky meninggalkan kurskinya.

__ADS_1


Tablet masih dibiarkan berada di meja portabel. Layarnya pun masih menyala, menampilkan hasil kalkulasi dan peta dunia. Sorot mata Damiyan tertuju pada dua negara terluas sedunia. Dua negara tersebut berbatasan langsung satu sama lain.


"Bodohnya aku! Kenapa bisa lupa ini? Seharusnya aku menghubungi rumah." Damiyan menepuk jidatnya sendiri.


Dia menyeringai, merasa konyol. Bisa-bisanya, dia tidak ingat bahwa Rusia itu Ada di sebelah Utara Cina, berbatasan langsung dengan Mongolia dan Korea.


Damiyan menyamankan duduknya. Dia menghubungi perusahaan persewaan mobil, mengakhiri masa sewanya hari itu juga. Sepanjang siang, dia memantau kondisi Sanubari.


Hingga akhirnya, petang pun tiba. Jet tinggal landas sesuai jadwal. Damiyan menatap keluar, memandangi titik-titik cahaya serupa bintang darat.


Headset tersemat di telinganya. Hari hampir memasuki tengah malam, tetapi masih terdengar cakap-cakap dari seberang. Lima menit berselang setelah tinggal landas, bunyi gemelegar spontan membuat Damiyan terkejut dan sontak mencabut benda itu dari telinga.


Dia menerbangkan Mosan, membuat nyamuk kecil itu mengikuti Fukai yang berjalan. Matanya kian terbelalak lebar ketika menyaksikan api di ujung lorong.


"Ini benar-benar gawat!"


Damiyan mengaktifkan mode layar belah. Satu menyorot rambut Sanubari karena nyamuk telah dikembalikan ke tempat semula. Sementara satu lagi menampilkan titik koordinat Sanubari.


Lelaki itu berlari tergopoh menuju kokpit. Bunyi gemelegar tadi pastilah menimbulkan kerusakan yang tidak ringan. Damiyan tidak bisa santai.


Ketika Damiyan sampai di belakang kokpit, Wallsky menegurnya, "Ada apa? Kelihatannya tergesa-gesa sekali."


"Tuan Blueluck, kita harus menuju ke lokasi ini!"


Damiyan menunjukkan layar ponselnya, menunjuk titik merah pada peta global. Wallsky mengamatinya. Dilihat dari posisinya, itu seperti berada di sekitar Laut Cina Selatan.


"Tengah laut?" Wallsky berjalan menghampiri Damiyan.


"Orang yangharus kita selamatkan ada di sana."


"Bukankah kita akan menunggunya di Cina?" Wallsky mengangkat sebelah alis, bertanya-tanya apa gerangan yang membuat Damiyan berubah pikiran secara dadakan.


"Tidak lagi." Damiyan menggeleng, "Kapalnha terbakar."


"Baiklah! Berikan ponselmu pada kopilot, biar dia yang menghubungkan ke navigasi pesawat!" Wallsky ikut panik.


Ini misi yang krusial. Dia sudah diwanti-wanti untuk tidak gagal. Keberhasilan akan membawa bonus besar, sedangkan kegagalan akan mengantarkannya pada akhir karir. Dia tidak ingin kehilangan pekerjaannya.


Mereka bersama menuju kokpit. Damiyan menjelaskan keadaan secara ringkas. Ketika ponsel dilepas dari headset, teriakan-teriakan serta ledakan-ledakan terdengar.

__ADS_1


"Suara apa itu?" Wallsky penasaran, "Apa kau sedang menonton film aksi?"


"Itu rekaman real-time dari kapal yang ditumpangi orang yang harus kita selamatkan. Entah apa yang memicu ledakan-ledakan itu, hingga menyebabkan kebakaran."


"Kuharap kita tidak terlambat."


"Apa di sini ada perlengkapan pemadam kebakaran?" tanya Damiyan selagi kopilot melakukan sinkronisasi data.


"Kami memiliki mantel, sarung tangan, boots, dan pelindung kepala anti api. Ada BCF, tetapi jumlahnya terbatas. Kurasa tidak akan cukup bila kebakarannya besar." Wallsky tampak cemas.


Hanya mendengar bunyi gemuruh dari ponsel Damiyan saja, Wallsky berdebar-debar. Di kepalanya, berputar-putar prediksi liar. Akan sulit untuk keluar bila keseluruhan rangka kapal terbakar.


"Evergreen, hubungi pangkalan terdekat! Kita butuh bantuan pemadam kebakaran laut!" Wallsky setengah berteriak.


"Siap, Pak!"


Kopilot menyalakan radio komunikasi. Hampir bersamaan dengan itu, data selesai disinkronisasikan. Dia mengembalikan ponsel kepada Damiyan, lalu berkutat pada buku digital.


Pesawat sedikit memutar haluan. Sebab, jalur mereka melenceng dari titik koordinat baru yang ditetapkan.


Tiba-tiba, Damiyan menyarankan, "Hubungi pangkalan udara Rusia saja!"


"Bagaimana, Pak?" Evergreen meminta persetujuan WZallsky.


"Lakukan!"


"Berikan padaku alat komunikasinya! Aku yang akan bicara langsung dengan mereka," pinta Damiyan.


Kopilot itu menyetujui permintaan Damian atas seizin Wallsky. Dia lekas menghubungi pihak yang dimaksud.


Detik terus berlalu, tetapi kecemasan yang memeluk mereka belum mau berlalu. Dalam kabin yang tidak seberapa dingin itu, mereka berkeringat.


Tidak lama kemudian, salam sangat sopan terdengar. Upaya komunikasi yang mereka lakukan bersambut. Damiyan membuka mulutnya.


"Ini Damiyan Iziaslavic Vladimirov."


Penyebutan nama keramat berulang itu seketika mencuri perhatian operator basis pangkalan tentara udara. Dia pun menyimakbaik-baik. Sejenak, dia terpaku, meragukan apa yang didengarnya.


Karena terjadi keheningan sesaat, Damiyan pun kembali berkata, "Sekali lagi kuulangi, ini panggilan dari Damiyan Iziaslavic Vladimirov. Aku butuh bantuan darurat!"

__ADS_1


__ADS_2