
Pagi begitu bangun, Fukai beranjak ke dapur. Biasanya, saat membuka mata, aroma sedap sudah menyambutnya. Namun, hari itu seperti hari berbeda lainnya ketika Sanubari tidak ada di rumah. Kompor bergeming. Di balik tudung saji pun hanya tersaji kekosongan.
"Tumben Sanu belum bangun. Jam berapa dia pulang semalam?"
Fukai mengambil panci, lalu menaruhnya ke wastafel. Selagi menunggu air tertampung, dia mengambil sepuluh bungkus mi rebus.
"Mereka tidak pulang," sahut Abrizar yang baru keluar dari ruang sembahyang.
"Mereka menginap di luar?" tanya Renji.
"Sepertinya terjadi sesuatu pada mereka," kata Abrizar.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Renji lagi.
"Sai mengirimiku pesan semalam."
Abrizar dengan hati-hati berjalan ke tempatnya biasa mengoperasikan laptop. Dia duduk, lalu membuka laptopnya.
"Kenapa tidak bilang dari kemarin?" Renji meninggikan suara.
"Aku mempelajari lampiran yang dikirimkannya. Lihatlah! Sejak semalam posisi yang dibagikan padaku sama sekali tidak berpindah."
"ABRI, coba kirim padaku!" pinta Eiji. Dia meninggalkan pekerjaan, lalu membuka laptop di sebelah Abrizar.
Begitu data dibagikan, jari Eiji bergerak cepat. Dia memanfaatkan proyeksi satelit untuk memperjelas gambar
Sekitar Lima tahun yang lalu, BGA telah berhasil menciptakan satelit dengan fitur-fitur lebih mutakhir. Satelit tersebut diangkasakan pada bulan pertama tahun itu juga. Para peneliti pun langsung menguji hasil temuan mereka.
Dibandingkan seratus ribu satelit terdahulu yang sudah mengorbit lama, performanya jauh lebih baik. Tidak ada kata lambat untuk jaringan internet. Lensa kamera yang terpasang pun bisa menghasilkan gambar yang amat jernih.
__ADS_1
Eiji terus menggerakkan tangkapan gambar mendekati bumi. Hasilnya tidak ada bedanya dengan potretan dari dekat.
"Titik itu hanya menunjukkan posisi mobil yang mereka bawa. Mereka tidak ada di sana," katanya.
Sementara itu di dapur, Fukai lupa menanak nasi. Dia lekas mencuci beras, lalu berkata, "Aku hanya bisa masak mi instan. Jika kalian ingin lauk, belilah ke luar!"
Dengan mata masih tertuju ke laptop, Eiji menyahut, "Di pojok dekat kulkas, ada robot seperti telur. Aktifkan saja kalau Paman kerepotan! Asal ada bahan, ia bisa menyiapkan sarapan untuk kita."
Robot dengan kecerdasan buatan itu sengaja dibuat Eiji ketika Sanubari dipenjara. Keisengannya untuk mengisi waktu luang setidaknya bisa bermanfaat untuk mereka. Waktu bisa mereka hemat untuk hal lain karena urusan makanan bisa diurus si robot. Jadi, mereka tidak perlu keluar setiap hari guna membeli makanan.
Sekembalinya Sanubari ke rumah, robot itu dimatikan. Dapur kembali menjadi area kekuasaan Sanubari. Fukai dan Juma belum pernah melihat benda itu bekerja karena mode aktifnya diatur otomatis hidup dini hari, ketika semua orang sedang istirahat. Masakan juga selalu siap sebelum mereka bangun.
Ketika bahan makanan habis, mereka tidak belanja. Para pria memilih untuk memanfaatkan jasa pesan dan antar makanan. Bisa dibilang, robot itu menjadi pengangguran sampai Sanubari benar-benar keluar dari penjara.
Fukai berjalan ke tempat yang dimaksud. Dia berjongkok di depan logam bulat telur sebesar balita meringkuk. Dia mencoba mencari tahu cara kerjanya. Ketika tangan dan kaki mekanik mendadak mencuat, Fukai terperenyak.
Di saat yang bersamaan, diskusi tentang apa yang terjadi pada Sai dan Sanubari masih berlangsung. Gambar di laptop Eiji lebih enak dipandang. Renji ikut melihat. Dibandingkan gambar di laptop Abrizar yang hanya menampilkan peta dua dimensi, gambar pada laptop Eiji lebih nyata.
Eiji mengabaikan celotehan Renji. Dia menyusuri pantai dengan kamera satelit. Namun, dia tidak bisa menemukan Sai dan Sanubari. Hanya ada nelayan yang melaut, panen garam, atau menjemur ikan. Eiji pun beralih dari bangunan ke bangunan.
Renji seketika melotot saat melihat perubahan pemandangan di layar laptop Eiji. "Hei, Ei, sejak kapan kau tahu cara ilegal mengintip orang sevulgar ini? Ini namanya kejahatan privasi. Mengerikan! Kita tidak akan pernah tahu ada yang diam-diam mengintip bila seperti ini. Bahkan dalam rumah pun tetap bisa diintip dari luar angkasa."
Renji merinding. Dia mendongak. Langit-langit di atas seolah bisa menelanjanginya.
"Tenanglah! Ini fitur rahasia yang hanya diketahui orang tertentu. Hanya intelijen L'eterna Volonta yang bisa mengaksesnya. Aku mempelajarinya ketika kita masih bekerja di BGA."
Tanpa pengalaman itu, Eiji mungkin tidak akan tahu ada fitur secanggih itu pada satelit yang baru diluncurkan. Walau hanya singkat, Eiji bersyukur pernah bekerja di bawah BGA. Dia belajar banyak hal dari catatan penelitian yang hanya bisa diakses oleh anggota riset dan pengembangan teknologi.
"Tetap saja itu mengerikan. Apa mereka hendak memeras seluruh orang di dunia dengan diam-diam mencuri momen terlarang paling personal?" cetus Renji.
__ADS_1
"Aku tidak tahu tujuan mereka. Tapi, mari akui bahwa teknologi ini sangat bermanfaat!" ujar Eiji.
"Tetap saja ini membuatku seperti tidak mempunyai ruang privasi," keluh Renji.
"Berhentilah berlebihan! Kau seperti tidak pernah menjajal kacamata tembus pandangku saja."
"Yang itu beda. Kacamata ciptaanmu terbatas jarak. Sementara ini, lintas benua pun ditembus."
"Berpikirlah realistis sedikit! Siapa yang mau membuang waktu menguntit miliaran jiwa di bumi tanpa tujuan?"
"Benar juga." Renji membuang napas. "Jadi penasaran siapa jenius yang bernaung di bawah BGA."
Abrizar pun tercengang mendengar percakapan mereka. Italia semakin maju menjadi negara adidaya melampaui Amerika. Perkembangannya pun terus bertambah pesat. Sebagian besar negara lain bahkan mulai ketergantungan dengan keberadaan Italia sebagai penyokong segala aspek.
Mereka belum tahu bahwa pengadaan satelit itu karena Sanubari. Beberapa tahun silam, Gafrillo pernah kelimpungan mencari keberadaan Sanubari setelah diculik. Oleh karena itu, dia menyerukan perintah untuk membuat alat yang bisa memantau permukaan bumi sampai ke pelosok.
Mencari orang bergerak memang sulit. Kurang lebih dua tahun berjalan sejak pengoperasian satelit, mereka belum bisa menemukan Sanubari. Sampai akhirnya, Sanubari pulang dengan sendirinya.
Saat ini, salah satu pemegang akses fitur terbatas itu adalah Damiyan. Dikombinasikan dengan mosan si nyamuk mata-mata yang tak ubahnya kutu bersarang di rambut Sanubari, dia tidak pernah kehilangan jejak pemuda itu.
Pada saat ini, Damiyan sedang duduk santai di balkon kapal pesiar sambil menyeruput es air kelapa muda. Angin laut bertiup, mengobrak-abrik rambut putihnya. Di sebelahnya, pelayan sedang menata bistik, lobster, dan menu sarapan lain pesanan Damiyan.
"Ini pekerjaan paling merepotkan, tapi juga tersantai yang pernah kulakukan."
Dia tersenyum menatap cakrawala. Tidak ada yang perlu dia khawatirkan. Dia sudah mendengar suara Sanubari. Pemuda yang dibuntutinya itu terdengar bersenang-senang dengan keadaannya sekarang.
"Adakah makanan dan minuman lain yang ingin Tuan pesan?" tanya pelayan itu setelah selesai menata makanan ke atas meja.
"Cukup! Nanti akan kupanggil lagi bila kepikiran ingin menambah sesuatu!" Damiyan mengangkat tangan.
__ADS_1
"Kalau begitu, saya mohon undur diri!"
Pelayan itu menunduk hormat, lalu keluar dari kamar Damiyan. Tinggallah Damiyan seorang duduk sendirian menatap lautan lepas. Dia akan menghabiskan waktu beberapa hari di atas kapal. Sama seperti Sanubari yang berada di kapal lain.