Santri Famiglia

Santri Famiglia
Mengupas Kulit Telur


__ADS_3

Sanubari terbangun dengan tersentak, seluruh tubuhnya terasa sakit akibat luka bakar. Dia mencoba bergerak tetapi rasa sakitnya terlalu berat untuk ditahan. Dia mengerang. Sekujur tubuhnya teramat perih.


Dia ingin melihat sekeliling. Namun, matanya lengket. Saat dipaksa terbuka, itu bertambah perih. Kesadarannya mengatakan bahwa dirinya terbaring di suatu tempat dan tempat itu bergerak. Hal terakhir yang dia ingat adalah pertarungan dengan pria bertopeng yang diidentifikasikannya sebagai bajak laut di kapal kargo, dirinya dibius, lalu semuanya menjadi gelap.


Damiyan yang menyadari pergerakan di pangkuan pun menurunkan pandangan. Dia hendak berkata syukur, tetapi urung dilakukan. Kondisi Sanubari jauh dari kata syukur.


Terbangun dalam kondisi seperti ini pastilah sangat tersiksa. Akan lebih baik bila obat penenang Sanubari bekerja lebih lama. Damiyan tidak sanggup melihat Sanubari yang merintih-rintih dengan memejamkan mata.


Mulut Sanubari terkunci. Sanubari membutuhkan upaya keras untuk membukanya dan itu sangat menyakitkan. Dia ingin duduk, tetapi rasa sakit menguras dayanya.


"Sanu, bertahanlah sebentar! Kita dalam perjalanan ke rumah sakit."


"Apa yang ...." Seluruh wajah Sanubari terasa panas saat dia berusaha berbicara. Bibirnya pun kasar. Padahal, sebelum pingsan, bibirnya tidak pecah-pecah. Dia masih beranggapan dirinya berada di atas kapal.


"Tubuhmu terbakar. Maaf," kata Damiyan.


Pikiran Sanubari penuh dengan rasa sakit. Dia tidak sempat memikirkan siapa yang sedang berbicara dengannya sekarang. Sanubari menangis.


"Tidak apa-apa, diam saja. Kita hampir sampai di rumah sakit," kata Damiyan berusaha menenangkannya.


Perjalanan mereka lebih aman. Helikopter meraung beberapa kaki di atas mereka, mengawal sampai rumah sakit. Kemudian, helikopter tersebut terbang menjauh ketika mobil Patrick memasuki pelataran rumah sakit.


Saat mereka tiba di rumah sakit, rasa sakit Sanubari makin menggila karena tubuhnya diangkat. Dia didorong ke ruang gawat darurat dan para dokter serta perawat segera mulai bekerja. Damiyan berdiri di sampingnya, memegang tangannya erat-erat.

__ADS_1


Sanubari meringis saat para dokter memeriksa luka bakarnya. "Seberapa buruk?" dia bertanya, suaranya bergetar.


"Lumayan parah," kata salah satu dokter sambil menggelengkan kepala. "Dia mengalami luka bakar tingkat dua dan tiga di sebagian besar tubuhnya. Kami harus segera melakukan operasi."


Damiyan merasakan keringat dingin keluar di dahinya. "Apakah dia akan baik-baik saja?"


Keselamatan Sanubari adalah tanggung jawabnya. Entah bagaimana Aeneas akan bereaksi bila mengetahui tubuh putranya rusak separah ini, Damiyan tidak ingin membayangkan itu. Dia tidak akan melapor untuk sementara waktu, sampai satu masalah ini bisa teratasi.


"Kami akan melakukan yang terbaik," kata dokter meyakinkan.


Saat mereka mendorongnya ke ruang operasi, pikiran Sanubari berpacu. Dia memikirkan semua hal yang masih ingin dia lakukan, semua orang yang masih ingin dia temui. Dia takut, tapi dia mencoba untuk tetap tenang.


"Sanu, jangan khawatir! Kau akan baik-baik saja," kata Damiyan dengan suara bergetar.


Damiyan meremas tangannya dengan erat. "Aku akan selalu ada untukmu, Sanu. Selalu. Kau pasti akan pulih seperti sedia kala!"


Mereka dipisahkan. Damiyan tidak diizinkan mengikuti lebih jauh. Dia memperoleh perawatan di ruangan lain.


Kamar rumah sakit yang steril berdengung dengan aktivitas ketika para profesional medis bergegas merawat pasien mereka. Di salah satu sudut ruangan, seorang pemuda terbaring tak bergerak di atas brankar, tubuhnya dipenuhi luka bakar yang menyiksa. Lampu neon yang menyala terang memancarkan cahaya menakutkan pada wujudnya yang tidak bisa lagi dikenali ekspresinya.


Dokter Emily Wishlord—seorang spesialis luka bakar yang terampil, mendekati pemuda itu dengan perasaan mendesak. Dia mengenakan masker bedah dan sarung tangan, wajahnya terukir dengan kekhawatiran saat dia menilai tingkat keparahan lukanya. Ruangan itu dipenuhi dengan aroma antiseptik yang tak salah lagi, berbaur dengan ketegangan yang menggantung di udara.


Saat Dokter Wishlord memulai pemeriksaannya, pemuda itu mengerang lemah, matanya terbuka sesaat sebelum menutup kembali. Tingkat luka bakarnya sangat parah, dengan kulit yang memerah dan melepuh menutupi hampir setiap inci tubuhnya. Wajah, lengan, dan dadanya menanggung beban kerusakan yang paling parah, dan rasa sakit yang dia alami terlihat jelas pada tinjunya yang terkepal dan alis yang berkerut.

__ADS_1


Dengan ketelitian yang halus, Dokter Wishlord memulai tugas berat untuk membersihkan dan membalut luka bakar. Tangannya yang bersarung tangan bergerak dengan tujuan, dengan lembut menyeka sisa-sisa abu dan kotoran, memberi jalan untuk sentuhan menenangkan salep luka bakar dan pembalut steril. Dia membisikkan kata-kata yang meyakinkan kepada pemuda itu, suaranya penuh dengan empati dan tekad.


Saat dia bekerja, napas pemuda itu menjadi sesak, dan tubuhnya gemetar karena rasa sakit yang luar biasa. Tiba-tiba, matanya berputar ke belakang, dan tubuhnya lemas. Dalam kepanikan, tim medis bergegas untuk menstabilkannya, dengan cepat menghubungkannya ke monitor dan melakukan tindakan penyelamatan jiwa. Dokter Wishlord meneriakkan perintah, suaranya tak tergoyahkan meskipun situasinya mendesak.


Beberapa saat kemudian, tanda-tanda vital pemuda itu menjadi stabil, dan Dokter Wishlord melanjutkan perawatannya, sekarang dengan tambahan rasa hati-hati. Dia terus membalut lukanya, memberikan tekanan lembut untuk memastikan perban menempel dengan benar. Suasana ruangan tegang, tim medis menyadari kritisnya kondisi pasien mereka.


Dan kemudian, seolah menentang semua ekspektasi, pemandangan yang mengejutkan sekaligus ajaib terbentang di depan mata mereka. Bekas luka bakar, yang dulu menyatu erat dengan kulit pria muda yang rusak itu, mulai terkelupas dalam lapisan halus, memperlihatkan jaringan segar dan sehat di bawahnya. Seolah-olah tubuhnya melepaskan sisa-sisa masa lalunya yang menyakitkan, seperti seekor ular yang membuang kulit lamanya.


Dokter Wishlord menyaksikan dengan takjub saat luka bakar pemuda itu berubah di hadapannya. Dia mengagumi kekuatan regeneratif tubuh manusia, ketahanan yang tersembunyi di bawah bekas luka. Tim medis, yang sesaat membeku dalam kekaguman, segera mendapatkan kembali ketenangan mereka, bekerja dengan cepat untuk menyesuaikan rencana pengobatan mereka untuk mengakomodasi perkembangan yang tidak terduga ini.


Dengan harapan dan tekad yang baru ditemukan, Dokter Wishlord terus memberi pemuda itu perawatan dan dukungan yang diperlukan. Dia tahu bahwa perjalanannya menuju pemulihan masih jauh dari selesai, tetapi bekas luka bakarnya yang tak terduga berfungsi sebagai simbol penyembuhan dan pembaharuan yang kuat.


Perban yang dipasang pun dibongkar kembali. Tindakan medis dihentikan. Mereka menguliti bekas luka layaknya mengupas telur rebus. Para staf kesehatan itu tidak henti-hentinya terkagum-kagum.


Damiyan mondar-mandir di depan ruang tindakan setelah mendapatkan perawatan. Saat Sanubari dibawa keluar, matanya terbelalak. Dia mengikuti Sanubari yang didorong ke kamar rawat.


"Hasil operasi kalian sungguh luar biasa! Syukurlah, dia tidak cacat setelah mengalami luka bakar separah itu."


"Kami tidak mengoperasinya. Luka-luka itu mengering, lalu mengelupas begitu saja. Untuk lebih jelasnya, Anda bisa mendengar langsung dari dokter nanti," kata perawat yang pergi setelah tugasnya selesai.


Infus menggantung. Pakaian pasien telah dipakaikan pada Sanubari. Sanubari tertidur.


Damiyan membuka baju dan celana Sanubari lalu merapikannya kembali. Kulit pemuda itu bersih dari luka. Itu sulit dipercaya. Rambut sedikit panjang Sanubari yang terbakar pun tidak memendek dan menjadikannya botak. Kepala menyerupai Aeneas muda itu masih berambut lebat. Damiyan menyentuhnya. Rambut itu terasa halus. Di tengah kerimbunan itu, animatronik nyamuk milik Damiyan masih hidup. Dia membiarkannya bersarang di sana.

__ADS_1


Kalau mengingat hari itu, perut Damiyan rasanya mulas. Dia beruntung karena keanehan tubuh Sanubari. Sekarang, hatinya bertanya-tanya, "Anak ini bisa mati, tidak, ya?"


__ADS_2