
"Untuk apa repot-repot mengikuti? Nanti juga pulang sendiri," kata Sanubari.
"Bisa saja kita melewatkan sesuatu," balas Sai datar.
"Kita kemari untuk menyelidiki keterkaitan si kyai dengan kasus Mas Akbar,.bukan menguntit kehidupan pribadinya."
Sanubari masih enggan mengambil alatnya. Pandangannya tertuju pada mobil yang berjarak beberapa meter di depan mereka. Mobil melaju, berbelok di perempatan. Sementara mereka terjebak di lampu merah
Enam puluh detik itu sungguh keterlaluan menurut Sanubari. Sai tidak lagi meminta Sanubari. Dia menurunkan kaca mobil, mengambil sesuatu dari laci dashboard, lalu menerbangkannya selagi mobil berhenti.
"Lanjutkan pengejaran, Sanu!"
Sai menyerahkan kendali pada Sanubari karena lampu telah hijau. Banyak mobil lain di hadapan mereka. Sai memanfaatkan setiap kesempatan untuk menyalip. Dia menyebutkan nomor plat yang harus mereka temukan.
Mau tidak mau, Sanubari mengambil alih kontrol. Bekerja bersama Sai membuatnya sedikit demi sedikit memahami tentang Sai.
"Mungkin Kak Sai ini bukti nyata dari less talk, more action," pikirnya.
Sanubari menerbangkan animatronik lebah dengan kecepatan tinggi. Lebah itu melewati mobil.boks, truk, dan beberapa kendaraan bermotor yang melaju dalam kecepatan rata-rata.
"Memangnya, kenapa kita harus membuntutinya sekarang?"
"Setiap bukti itu berharga."
"Apa gunanya bukti jalan-jalan?"
"Kau sudah membaca email dari Abri?"
"Belum." Sanubari malu mengakuinya.
Sementara Sai sedikit heran mendengarnya. Namun, dia mencoba memaklumi kelambanan Sanubari. Mereka hanya berbeda pengalaman. Andai Sanubari telah makan banyak asam garam lebih darinya, Sanubari mungkin tidak akan seperti ini.
Tanpa menghakimi sedikit pun, Sai mengatakan, "Sanu, untuk menyelidiki sebuah kasus, kau harus membaca seluruh informasi yang telah terkumpul supaya bisa bergerak lebih efektif. Sebagian fakta mungkin perlu diperiksa ulang, tapi itu akan membuat tindakan kita terarah. Lihatlah email itu nanti!"
"Iya, akan kulihat nanti!"
Lisan Sanubari memang berkata demikian, tetapi batinnya berkata, "Untuk apa membaca profil orang? Kayak orang kurang kerjaan saja."
Sanubari sama sekali tidak tertarik dengan biodata seseorang. Dia hanya membuka email untuk melihat foto orang-orang yang terlibat, lalu menghafalnya. Sisanya, dia abaikan.
Sanubari belum tahu bahwa Abrizar melampirkan file-file penting yang berharga untuk penyelidikan. Itu pula yang melandasi pengambilan keputusan Sai.
"Ketemu!" seru Sanubari.
Lebah itu didaratkan pada atap mobil. Magnet membuat benda itu menempel dengan kuat.
Sai belum bisa menyalip lagi. Di depan mereka, ada truk muatan material bangunan yang bergerak lambat. Sementara jalur kanan masih padat.
__ADS_1
"Sanu, sambungkan Pelacak ke GPS mobil!" pinta Sai.
Mereka terpaksa memperlambat laju. Sai menunggu lajur cukup aman untuk menyalip.
Sanubari mengaktifkan bluetooth. Tampilan monitor navigasi pun berubah. Mobil yang mereka ikuti terus menambah jarak, menuju ke luar kota. Begitu truk berbelok, Sai menambah kecepatan, menyusul ketertinggalan. Mereka melewati jalan meliuk-liuk di pegunungan.
"Sebenarnya, ke mana sih mereka?"
Sanubari menguap. Pantatnya lelah terlalu lama duduk. Sepanjang jalan, dia memperhatikan pemandangan. Satu sisi hutan lebat. Satu sisi lagi jurang dalam. Dia bisa melihat jalan yang berlika-liku di bawah.
Itu menimbulkan rasa ngeri. Salah sedikit saja, maka mobil akan terperosok dan terguling-guling. Senja mulai menampakkan langit keemasan. Akhirnya, mereka berhenti juga.
"Kak Sai, makan dulu yuk!"
Aroma sate dari rumah makan di depan membuat perut Sanubari keroncongan. Dia dan Sai parkir di mini market. Mereka hanya membeli roti dan air mineral.
Auto pilot pada animatronik diaktifkan sejak mobil yang mereka ikuti masuk tempat makan. Keduanya mendengarkan isi percakapan sambil makan. Sanubari menghela.
"Roti saja tidak akan cukup untuk mengganjal lambung. Mana bisa konsentrasi kalau perut lapar?" gerutu Sanubari.
Sai menimbang-nimbang. Dia khawatir orang yang diikuti akan menyadari keberadaan mereka. Akan tetapi, orang-orang itu tidak mengenal mereka. Kecil kemungkinannya kegiatan penguntitan mereka akan ketahuan. Jadi, Sai menyalakan mesin dan menuruti kemauan Sanubari.
"Mereka tidak di sini," bisik Sanubari setelah mengamati seluruh meja.
Sai tidak mempermasalahkan itu. Dia melihat mobil mereka saat parkir. Kyai Samad dan sopirnya pastilah masih di sini. Andaipun berselisih jalan, masih ada robot matamata yang bisa digunakan untuk mengintai.
Keduanya berjalan ke meja kosong. Mereka memesan bebek bakar. Sai terus memantau incaran mereka. Orang itu di tempat yang sama. Sai mendongak.
Koper uang dibuka di antara mereka. Rekan bisnis Kyai Samad tersenyum cerah. Sementara sang pendamping memeriksa keaslian uang kertas.
"Semua asli. Tidak ada kecurangan dalam setiap bendelnya."
"Tentu saja. Saya selalu menjunjung tinggi kejujuran. Kebohongan itu hanya akan menambah dosa." Kyai Samad tersenyum.
"Kau memang pandai merangkai kata, Sam!" Rekan bisnis Kyai Samad tertawa.
"Tapi, Pak, ini belum genap," timpal si asisten.
"Sisanya kalau sudah melihat barangnya langsung," ujar Kyai Samad.
"Kita sudah bertransaksi cukup lama. Aku tahu kebiasaanmu itu. Kupikir, kau akan memutus kerja sama kita setelah pulang."
"Tidak. Mana mungkin saya melepas prospek bisnis sebagus ini?"
"Prospek bagus, cuan mengalir, tapi juga berisiko tinggi," kata si rekan.
"Itu sebanding, bukan? Meskipun begitu, semua aman terkendali dan berjalan lancar selama ini. Usaha ini memang membawa berkah," balas Kyai Samad.
__ADS_1
"Berkah untuk orang seperti kita," ucap si rekan bisnis.
Mereka tertawa bersama. Meski tidak ada yang lucu, mereka tetap tergelak-gelak.
"Pengiriman berikutnya, bulan depan, hari yang sama."
"Tumben cepat?"
Kyai Samad tercengang. Pengiriman biasanya dilakukan enam bulan sekali. Paling cepat memerlukan sekurang-kurangnya tiga bulan. Belum pernah lebih cepat dari itu.
"Kali ini, diimpor dari negara terdekat. Mereka sedang singgah. Jalur berikutnya ditentukan setelah ada yang beli. Bila berminat, siapkan DP selambat-lambatnya minggu Depan!"
Semua percakapan itu terekam animatronik yang menempel pada langit-langit. Suara dan gambar terekam jelas. Sai dan Sanubari menonton di mobil setelah makan. Mereka hanya memutar ulang rekaman yang telah tersimpan.
"Kyai Samad hanya melakukan pertemuan bisnis. Tidak ada gunanya lagi mengikuti," kata Sanubari.
Namun, Sai berpikir lain. Dia lanjut menonton. Sanubari terpaksa ikut nonton lagi.
Saat sedang fokus memperhatikan, notifikasi target bergerak masuk. Sai menyalakan mesin. Dari tempat makan, terlihat Kyai Samad berjalan bersama beberapa orang.
Mereka naik mobil masing-masing, lalu pergi. Mobil Kyai Samad tidak kembali ke jalan pulang, melainkan melaju melewati hutan. Kera-kera duduk di pagar pinggiran. Pemandangan itu lebih menarik minat Sanubari daripada apa yang sedang mereka incar.
Sayangnya, pemandangan terlalu gelap untuk dinikmati. Kera-kera terkadang melompat ke dalam hutan setelah terkena sorot mobil. Namun, ada satu yang mengejutkan Sanubari.
Seekor kera melompat ke kaca depan, tepat di depan mata Sanubari. Tak pelak, dia pun berteriak. Kera menyalak-nyalak sebelum melompat pergi.
Sementara Sai fokus menyetir. Jalanan sangat sepi. Tidak ada kendaraan lain kecuali mobil Kyai Samad yang lebih dahulu melaju di depan. Sai harus ekstra hati-hati karena tidak ada lampu jalan.
Tidak lama kemudian, deburan ombak terdengar. Mereka memasuki kota pelabuhan.
"Pantai? Untuk apa Kyai Samad ke pantai malam-malam?" tanya Sanubari yang direspons dengan peringatan hilangnya sinyal animatronik.
Lokasi terakhir dikunci pada peta navigasi. Titik yang semula biru, menjadi merah berkedip-kedip.
"Kenapa robotnya mendadak hilang? Apa itu kehabisan baterai?"
"Seharusnya tidak. Kemungkinan, ada gelombang elektromagnetik yang mengacaukan sinyalnya atau mematikannya."
Sai hanya berasumsi. Dia pembuatnya. Dia tentu tahu berapa lama ketahanan animatronik tersebut. Sai melajukan mobil sangat pelan sampai berhenti sama sekali. Selain jaraknya yang sudah cukup dekat, firasatnya mengatakan ada yang tidak beres.
"Aku akan memeriksanya." Sanubari memakai kacamata, lalu membuka pintu.
"Tunggu, Sanu! Sebaiknya ...."
"Tenang saja! Aku tahu apa yang harus kulakukan!" katanya sok berpengalaman, kemudian berlalu begitu saja.
Dia berlari mengikuti garis pemandu yang diproyeksikan kacamata tanpa mau tahu yang ingin dikatakan Sai. Sanubari terlanjur tenggelam dalam pikirannya sendiri.
__ADS_1
"Ini mirip yang waktu itu," pikir Sanubari menganggapnya sebagai kesenangan. Dia teringat misi pertamanya ketika masuk Onyoudan.
Dia mengintip gang untuk memastikannya aman sebelum berjalan layaknya orang normal. Langkahnya membawanya semakin jauh dari Sai. Hingga tanpa dia sadari, pintu bangunan yang dia lewati dibuka. Balok kayu dihantamkan dengan keras pada Sanubari. Pukulan itu mengenai titik vital, Sanubari pingsan seketika.