
Abrizar sendiri tidak tahu mengapa dirinya dibawa ke mari. Saat keluar dari masjid, dua pria tiba-tiba menghadangnya. Sebenarnya, Abrizar menolak untuk ikut dua orang itu. Namun, mereka tidak menerima penolakan.
Kedua pria asing tersebut memaksa, mengancam akan menyebarkan identitas Abrizar sebagai momok dunia bawah bila melakukan perlawanan. Abrizar sungguh merasa sial. Dia tahu, cepat atau lambat, insiden penggeledahan beberapa waktu yang lalu akan berujung pada hal merepotkan seperti ini.
Secara tidak langsung, dia mengatakan Sanubari bersamanya saat mencoba membebaskan remaja itu dari kejaran L'eterna Volonta. Kemudian, rumahnya dimasuki pencuri. Yang menurut prediksinya, mereka bukanlah pencuri sungguhan.
Tidak pernah ada kasus pencurian di Italia. Pengangguran pun tidak ada. Sudah menjadi pengetahuan umum, siapa pun bisa mendapatkan pekerjaan selama mau berkonsultasi ke biro ketenagakerjaan. Konsekuensi bagi pelaku pencurian dan tindak kriminal lainnya pun tidak main-main.
Gafrillo terlalu cerdas untuk mengabaikan jejak jelas yang dengan cerobohnya ditinggalkan Abrizar. Semua itu gara-gara Sanubari.
Eiji, Renji, Sai, dan Abrizar—mereka berempat mengalami nasib yang serupa, mengalami kesialan, berkumpul di hotel mewah ini gara-gara Sanubari. Mereka belum tahu hal baik ataukah buruk yang akan segera menyambut.
Tidak berselang lama setelah mereka berkumpul, Aeneas datang bersama Dantae. Itu pemandangan baru untuk mereka. Saat di rumah dan rumah sakit, Aeneas selalu bersama Kelana. Kali ini, Kelana tidak ada.
Hal itu karena Kelana berada di rumah Aeneas. Dia sedang mengajari Sanubari pengetahuan umum, bidang studi yang dibutuhkan untuk mendapatkan sertifikat setaraf ijazah sekolah menengah.
Pendidikan Sanubari tertinggal jauh akibat peristiwa penculikan sebelumnya. Sekembalinya ke Italia, sebuah tragedi malah membuat Sanubari menjadi anak yang kabur-kaburan. Rencana belajar yang disusun Kelana pun sia-sia. Hari ini, dia mulai menjalankan pembelajarannya lagi.
"Aku tidak mau membaca semua ini lagi. Membosankan. Apa gunanya aku menghafal semua ini? Lebih baik langsung bekerja."
Sanubari melempar pensilnya ke atas buku, kehilangan minat untuk sekolah. Di kepalanya, hanya ada keinginan segera mendirikan organisasi bersama Abrizar dan Eiji. Dia terlalu lama berhenti sekolah, minatnya kembali menyelesaikan jenjang pendidikan pun menguap entah ke mana.
"Sekolah itu penting untuk menambah wawasan. Dan untuk bekerja, kauperlu bersekolah terlebih dahulu."
"Omong kosong! Semua ini tidak berguna untuk bekerja. Memangnya teori umum bisa digunakan untuk merakit pesawat? Aku maunya langsung praktik saja."
Sanubari bersedekap. Dia benar-benar mogok belajar, tidak ingin membuang-buang waktu untuk menatap barisan kalimat berjam-jam.
Kelana berusaha tetap sabar. Ini bukan kali pertama dia harus menghadapi kekeraskepalaan Sanubari.
"Sanu, banyaknya wawasan akan membentuk kepribadianmu lebih baik. Kau bisa berpikir lebih kritis dan mendapatkan pekerjaan lebih baik.
__ADS_1
Kaukenal Eiji, kan? Papamu menerima dia di perusahaannya karena Eiji merupakan lulusan Mekatronika terbaik. Lalu, Abrizar. Teman tuna netra mu itu bisa bekerja tanpa keluar rumah. Kaupikir kenapa?
Karena dia pernah menempuh pendidikan teknologi informatika. Jadi, dia memiliki kemampuan pemrograman yang luar biasa dan klien pun mencari-carinya tanpa diminta. Pemerintah satu negara bahkan mempercayakan keamanan data negara padanya.
Itu semua karena sekolah. Karena sekolah, mereka bisa menggali potensi. Karena sekolah, mereka memiliki ilmu yang bermanfaat."
Kata 'aman' yang diucapkan Kelana membuka mata Sanubari. Dia tidak menyimak kalimat berikutnya. Namun, satu kata itu cukup untuk membuat Sanubari luluh.
"Jadi, dengan sekolah, kita bisa menciptakan dunia yang aman?"
"Iya."
Kelana mengangguk mantap. Sanubari pun merasa diyakinkan. Dia kembali serius menekuni pelajarannya.
Tidak terasa, lima belas menit berlalu setelahnya. Sesi belajar mereka berakhir. Sanubari lekas berdiri dan mengambil kunci mobil. Namun, Kelana memegangi pundaknya.
"Mau ke mana?"
"Rumah kak Abri."
Kelana merebut kunci dari tangan Sanubari. Akan tetapi, Sanubari menyambarnya kembali.
"Aku bisa berangkat sendiri," tolaknya tegas. Dia tidak mau lagi serba dilayani. Ada yang mengantar ke mana pun ingin pergi, ada menyiapkan apa pun yang ingin dimakan memang enak. Akan tetapi, Sanubari tetaplah Sanubari. Dia ingin berguna setidaknya untuk diri sendiri.
"Kaubelum boleh menyetir sendiri! Melajukan mobil saja belum lancar. Kauboleh melakukannya sendiri setelah mahir dan tentunya mempunyai SIM."
Kunci telah berada di tangan Kelana lagi. Kepala Sanubari tertekuk. Dia tidak bisa mengingkari fakta yang disebutkan Kelana.
Kehidupan di Italia benar-benar tenang. Tidak ada orang yang mengucilkannya. Tidak ada teman yang suka menjahilinya. Sanubari menatap jalan malam yang menawarkan kedamaian.
Seharusnya, Sanubari merasa ini cukup, tetapi hatinya ingin lebih. Dia saja belum bisa menemui adik-adiknya dengan leluasa. Itu artinya, dunia ini belum benar-benar damai.
__ADS_1
"Paman, titip salam untum papa. Hari ini, aku menginap di rumah kak Abri," kata Sanubari sesaat sebelum sampai.
Kelana tidak mencegah. Dia membiarkan Sanubari memasuki rumah dua lantai itu, lalu pulang. Dia tidak perlu ikut tinggal. Tiga penjaga sudah lebih dari cukup untuk mengawasi anak itu.
Lagi-lagi, rumah Abrizar tampak lengang. Hanan, Hana, dan Anki ada di rumah, tetapi Abrizar serta yang lain tidak. Sanubari mengikuti Anki ke dapur. Gadis itu mengeluarkan susu dari kulkas, menuangkan ke gelas, lalu menghangatkannya.
"Anki, andai kak Eiji membuat keluarga bersamaku. Ah, maksudku, mendirikan rumah singkong untuk menjaga perdamaian dunia. Ah, itu maksudku, kita bisa berjualan, usaha, atau apalah itu namanya. Lalu, berbagi dengan mereka yang membutuhkan dari sebagian hasil kita. Kalau seperti itu, kamu setuju enggak?"
Saking bingungnya, Sanubari tidak bisa menyampaikannya dengan kalimat yang lebih ringkas. Yang tidak perlu pun diucapkannya.
"Itu ide bagus dan aku akan dengan senang hati menjadi pegawainya."
Kamu setuju?"
"Tapi, jangan lupa izinkan aku terlibat di dalamnya juga!" balas Anki memberikan anggukan mantap.
Sanubari sangat senang. Ternyata, ini lebih mudah dari perkiraannya.
Sementara itu di hotel, empat pria sedang tegang. Tidak ada yang berani berbicara. Steak hangat di hadapan pun tampak tidak lagi menggairahkan karenanya. Kesunyian itu berlangsung sampai santapan di piring masing-masing habis.
Aeneas tiba-tiba mendongak dan berkata, "Akan kubekukan langit bagimu."
Dia menyeringai. Empat pemuda di hadapannya familiar dengan sebaris kalimat itu. Terutama Abrizar. Itu ciri khasnya setiap kali melakukan penyerangan.
"Bukankah langit malam ini cukup indah untuk diabadikan?"
Aeneas menurunkan pandangan kembali, menatap lurus pada Abrizar. Ketenangan suaranya membuat Abrizar merasa terintimidasi, meski dia tidak bisa melihat sorot mata Aeneas.
"Sial! Apa orang ini berencana membocorkan identitas rahasiaku di sini?" batin Abrizar yang masih bergeming.
Eiji, Sai, dan Renji belum tahu arah percakapan ini. Jadi, mereka juga diam, takut menyinggung Aeneas. Selama di rumah, Aeneas sangat ramah dan murah senyum, meski irit kata. Namun, rentetan kecelakaan prapemecatan membuat nuansa malam ini terasa mencekam bagi tiga orang Jepang.
__ADS_1
Jamuan mewah malam ini bisa jadi hanya kamuflase. Prediksi-prediksi liar tidak terelakkan.
Usai memberi jeda, akhirnya Aeneas membeberkan, "Tidak kusangka, sosok Frosty Sky ternyata adalah seorang tuna netra."