
Burung elang melayang di pekatnya langit malam. Terbang merendah, hinggap di dahan salah satu pohon tidak berpenerangan. Mata nyalangnya menatap lurus, tertuju pada Sanubari yang melangkah lebih ke tengah.
Pemuda itu berlari ke sana ke mari, menunduk, mencari jejak-jejak keberadaan rumah di tanah lapang. Jangankan pondasi, secuil genting pun tidak ada. Rumah anyaman bambunya telah lenyap. Sanubari berdiri terbengong.
Hanya beberapa tahun, dia dan ibunya meninggalkan rumah. Seingatnya, rumah itu masih ada ketika mereka tinggalkan ke Italia. Namun, fakta malam ini seolah mengatakan bahwa tidak pernah ada rumah di tempatnya berpijak sekarang.
Eiji, Sai, Renji, dan Abrizar berdiri di belakang Sanubari, menyandang ransel masing-masing. Tidak banyak barang yang mereka bawa.
"Sanu, kau yakin salah satu bangunan di sini bukan rumahmu?" tanya Eiji mengedarkan pandangan.
Di sebelah kiri dan kanan mereka, terdapat rumah cukup mewah. Di seberang juga ada rumah gedong lain dengan pelataran luas. Sudah menjadi pengetahuan umum, navigasi satelit tidak selalu akurat seratus persen. Jadi, Eiji berpikir bahwa satu di antara bangunan itu pastilah rumah Sanubari.
Namun, Sanubari menggeleng seraya berkata lemah, "Rumahku hanyalah rumah anyaman bambu dengan rangka kayu."
Tersirat kesedihan dari setiap patah kata yang melewati pita suara. Meski rumah itu sangat sederhana dan orang bilang tidak lebih baik dari kandang sapi, tetapi rumah itu penuh kenangan. Dia pernah besar dan tumbuh di rumah itu. Getaran menghimpit dada bergemuruh dalam diri ketika Sanubari memikirkan rumah yang hilang tanpa tahu penyebabnya.
Kedua telapak tangan Sanubari secara instan terkepal. Kepalanya mulai berprasangka buruk. Dia tahu, orang-orang di sini memang tidak pernah menyukai kehadirannya. Sanubari selalu berusaha memaklumi. Akan tetapi, melenyapkan milik orang lain tanpa persetujuan itu keterlaluan. Manifestasi kebencian atas ketidakadilan hidup mendobrak kesabaran Sanubari.
Mereka terdiam, mencipta hening. Hanya simfoni alam yang enggan mengakhirkan pertunjukan.
Gemerisik dedaunan tertiup angin hilang timbul berulang kali. Renji berjalan mendekati Sanubari.
"Sepertinya, kita harus mencari penginapan malam ini."
Pria itu menepuk pundak Sanubari. Sejauh mata melihat, tidak ada satu pun rumah yang membuka pintu. Renji bisa maklum. Lagipula, ini sudah malam.
Dari balik jendela, seseorang mengamati mereka. Rumah-rumah di desa memang tidak kedap suara, meski dinding bangunan terbuat dari batako tebal. Sehingga, percakapan dari luar bisa terdengar jelas.
Orang itu terbeliak ketika mendengar nama 'Sanu' disebut. Dahulu, satu-satunya anak yang dipanggil seperti itu hanyalah Sanubari. Namun, dia tidak mengenali wajah-wajah asing yang berdiri di halaman rumahnya. Masih ada satu pemuda yang memunggunginya.
"Nginceng opo to, Bu?"
__ADS_1
Seorang pria paruh baya penasaran dengan tindakan sang istri. Wanita itu duduk di sofa, menyibak sedikit gorden, tampak begitu serius mengintip sesuatu di luar.
"SSST! Enek wong-wong aneh Nang latare awake Dewe iku lo!" jawab wanita itu lirih.
Penasaran dengan para orang yang disebut aneh, pria yang memakai sarung kotak-kotak hijau tua itu ikut mengintip. Dia berdiri di belakang istri, menyibak pinggiran gorden di atas wanita itu.
Pada saat itu, seorang pemuda berbalik badan. Pemuda lain menghalangi pandangan. Mereka melangkah, wajah pemuda yang tadi memunggungi pun tampak jelas di keremangan malam.
"Lah, kae kok koyok Sanu anake Sanum, Yo?"
Meski lama tidak bertemu, tetapi pria itu yakin bahwa pemuda di halamannya adalah Sanubari. Wajah usia sepuluh tahun Sanubari dan sekarang tidak jauh berbeda.
Wanita itu langsung turun dari kursi. Dia berlari ke pintu depan, membuka kunci dengan buru-buru.
Dia keluar, dengan lantang memanggil, "Sanu!"
Mereka semua berhenti. Sanubari menoleh. Wanita bermasker memakai daster berdiri di teras. Sanubari tidak mengenalinya karena wajahnya ditutupi. Namun, rumah tempat wanita itu berdiri memberi petunjuk.
Wanita itu mengangguk. "Iyo, iki aku. Pangling to?"
Arti mengajak mereka singgah ke rumahnya. Sanubari memperkenalkan teman-temannya. Karena tidak ada yang paham bahasa Jawa selain Sanubari, Arti dan suaminya pun berbahasa Indonesia.
Mereka berbasa-basi sejenak sebelum Sanubari menanyakan tentang rumah lamanya. Ternyata, rumah itu terbakar pada dini hari setelah Aeneas dan Kelana datang untuk menjemput Sanubari serta Sanum.
Seluruh bangunan hangus menjadi abu dan arang. Pagi harinya, warga gotong royong membersihkan puing-puing. Sejak saat itu, tanah bekas rumah dibiarkan kosong. Tidak ada yang tahu pasti penyebab kebakaran tersebut.
Itu terdengar aneh. Dia dan ibunya pergi ketika hari masih terang. Dapat dipastikan tidak ada lampu teplek yang dinyalakan. Ganjil rasanya bila rumah biesa mendadak terbakar, sementara sumber api saja tidak ada.
Akan tetapi, Sanubari tidak ingin bertanya lebih lanjut. Tidak ada gunanya memikirkan masa lalu seperti itu. Kalaupun ada yang sengaja melakukan, pelakunya mungkin sudah lupa. Dia bersyukur pergi bersama ibunya hari itu. Andai tidak, mungkin dirinya dan sang ibu akan terpanggang dalam rumah.
Usai cerita panjang, Sanubari mengungkapkan niat untuk kembali membangun rumah di tanah itu. Namun, Arti keberatan.
__ADS_1
"Tanah itu milikku. Jika kau ingin membangun di sana, bayar dulu seratus juta sebagai sewa tanah. Selain itu, rumah yang berdiri di atasnya akan menjadi milikku jika kau tidak membayar biaya perpanjangan sewa."
"Tapi, itu milik Mamak dan Kakek. Untuk apa aku harus membayar pada Bude?"
Dahulu, Arti pernah meminta hal serupa pada Sanum. Lebih tepatnya, dia mengakui tanah itu sebagai miliknya setelah kakek Sanubari meninggal. Sanubari yang berusia sepuluh tahun kala itu belum begitu paham. Jadi, ingatannya tentang hal itu samar.
"Kau tahu apa anak baru gede? Saat Sanum dan kakekmu pindah ke sini saja kau belum lahir. Mereka itu hanya menempati tanpa membelinya."
Arti menyeringai di balik maskernya. Sanubari tidak bisa mengotot karena tidak memiliki bukti kepemilikan. Ibu dan kakek yang tahu tentang ini pun telah tiada.
"Ibu ini bicara apa?"
"Bapak tidak usah ikut campur! Kita butuh uang untuk membeli serum itu. Jadi, aku tidak akan memberikan halaman sebelah secara cuma-cuma."
"Tapi tanah itu ...."
"Bapak diam saja! Bapak ingin putri kita sembuh, kan?"
Pertanyaan itu membuat suami Arti seketika bungkam. Mereka saat ini memang dalam kondisi habis-habisan. Harta mereka ludes. Yang tersisa hanyalah rumah tempat tinggal mereka.
"Kalau kau membayar satu miliar sekarang juga, tanah itu menjadi milikmu. Termasuk rumah ini. Aku dan keluargaku akan pindah malam ini juga. Bagaimana?" tambah Arti karena Sanubari belum juga memberikan keputusan.
"Ibu yakin mau menjual rumah ini?"
Suami Arti melotot tidak percaya. Itu keputusan yang nekad.
"Yakinlah, Pak. Kita akan pergi ke tempat yang lebih aman sesuai rencana."
"Anu, apa yang kalian maksud dengan tempat yang lebih aman? Memangnya, ada apa dengan tempat ini? Kenapa pula kalian terus memakai masker di rumah sendiri?" tanya Eiji.
Itu cukup mengganggu pikirannya. Sepasang suami istri itu tampak mencurigakan. Dilihat dari rumahnya, mereka seharusnya tidak kekurangan untuk membawa seseorang berobat.
__ADS_1