Santri Famiglia

Santri Famiglia
Jatuh Semua


__ADS_3

"Ah, ada perahu di sana. Bagaimana rasanya bila mengelilingi sungai ini dengan perahu, ya?" gumam Sanubari menoleh ke kanan.


Sungai ini sangat panjang. Sanubari merasa sedang berada di kota dermaga. "Cocok sekali dijadikan latar untuk sebuah film," batinnya sambil menyandarkan tangan pada pagar pembatas dan bertopang rahang.


Selama ini, dia pikir hanya alam saja yang bisa menjadi obat penenang. Rumahnya di Indonesia, masih kental dengan nuansa pedesaan dan pepohonan rindang. Kediamannya di Italia pun menyuguhkan pemandangan alam yang amat indah.


Terlebih lagi, pondok kakek Canda di pedalaman sebuah pegunungan di Chili—sangat alami dan menyegarkan. Sanubari cukup nyaman tinggal di sana selama lima tahun, meskipun jauh dari peradaban. Selama masa hidupnya yang hampir genap delapan belas tahun, Sanubari selalu dekat dengan alam yang masih alami.


Baginya, alam adalah sahabat sejati di kala kesepian bertandang. Kapan pun dan di mana pun, alam selalu hadir menenangkan, serta tidak pernah berkhianat.


Ternyata, arsitektur yang unik pun mampu menjadi penghibur yang baik bagi hati. Sanubari memperoleh energi positif dari sense of place yang diberikan tata letak distrik ini.


Bangunan-bangunan tampak rapat, seperti gerbong kereta yang saling bertautan. Namun, sama sekali tidak tampak sesak dan pengap. Bebauan kurang sedap pun tiada yang terendus hidung. Area untuk berjalan pun sangat lapang.


Awan putih berarak di langit biru, sesekali menghalangi matahari, membuat cuaca cerah tidak begitu menyengat. Hangat, embusan angin acap kali mengusir kehangatan, meninggalkan kesejukan sesaat sebelum sinar mentari kembali menyentuh kulit.


Keheningan fana tersebut didobrak derap yang kian mendekat. Tak sedikit pun Sanubari acuh untuk mencari sumber bunyi. Dia hanya ingin menikmati alam yang telah dipoles manusia menjadi peradaban berkelas.

__ADS_1


"Argh!" jerit Sanubari setengah memicingkan sebelah mata ketika pundaknya mendadak terasa tertimpa beban.


Sesuatu melayang di atasnya. Sanubari sedikit mengangkat kepala. Matanya terbeliak kala melihat pria terbang—tak lagi menapak pada permukaan padati.


Sontak saja Sanubari berteriak, "Awas!"


Tubuhnya secara refleks menaiki pagar dan melompat. Sanubari khawatir lelaki itu akan jatuh ke sungai. Maka dari itu, dia nekad melompat. Maksud hati ingin menolong. Akan tetapi, dirinya sendiri kurang pertimbangan.


Sanubari memang berhasil menangkap sang pria. Sayang, posisi keduanya sama saja. Alhasil, mereka pun jatuh bersamaan.


"Hyun Jo!" Sina berseru panik. Dia lekas menuruni anak tangga, berpegangan pada pagar pembatas. Kepalanya menyorot ke kanan.


Deburan keras sampai ke telinganya. Sina mencari-cari posisi jatuhnya sang tuan muda. Air menyembur ke atas, tercipta gelombang kecil pada permukaan yang semula tenang. Kedua pria itu tak tampak menyembul.


"jeolm-eun sabu hyeonjoneun suyeong-eul moshaeyo," ucap Sina merasa ini gawat. Tuan mudanya itu tidak bisa berenang. Wanita itu takut dia tenggelam.


Ketika Sina hendak melepas sepatunya, sebuah tangan menyentuh pundaknya. Refleks dia menoleh, lalu berkata, "Jae Hyun."

__ADS_1


Lelaki itu melompati pagar layaknya atlet renang yang terjun dari papan loncat. Deburan terdengar untuk kedua kalinya. Sina tidak jadi ikut melompat.


Wanita itu harap-harap cemas memandang permukaan air yang mungkin berjarak kisaran tiga meter dari tempatnya berdiri. Di saat yang bersamaan, Sai juga memantau bayang-bayang Sanubari dalam air.


Bersambung ....


Teman-teman yang bisa bahasa Korea, DM saya di Instagram, ya! Yang tidak bisa pun juga boleh DM kalau mau ngobrol. Hehe.


Serius saya kesulitan menulis chapter ini.


P : Kenapa tidak pakai Mbah G. Penerjemah? Bukannya Mbah G serba bisa, ya?


J : Sudah, tapi hasilnya aneh. Meskipun saya tidak bisa berbahasa Korea, sedikitnya saya pernah mendengar. Jadi, saya tahu hasil terjemahan itu tidak biasa. Entah sesuai dengan konteks atau tidak, saya pun bertanya-tanya. hal ini pula yang saya rasakan sepanjang pengerjaan naskah novel ini.


Yah, itu salah saya sendiri. Siapa suruh bikin multibahasa. Haha. Saya sampai butuh waktu lebih lama lagi untuk tanya sana-sini.


Semoga bahasa Indonesia benar-benar menjadi bahasa internasional di dunia nyata seperti hasil keisengan Sanubari dalam novel ini. Jadi, penulis macam saya tidak perlu repot-repot memikirkan bahasa. Reportnya cukup buat menyelidiki budaya dan latar lain saja.

__ADS_1


__ADS_2