
Alarm berbunyi nyaring, menggemparkan gedung tiga puluh lantai. Semua yang masih berada di lantai masing-masing berhambur, berlarian menuruni tangga darurat.
"Apa yang terjadi?" Pertanyaan klise itu keluar dari mulut ke mulut.
"Ini kali kedua."
Tanda bahaya tersebut memang berbunyi lebih dari satu kali. Yang pertama berbunyi semalam. Pemicunya adalah kebakaran di ruang arsip.
Beberapa dokumen hangus. Sementara yang lain basah terkena penyiram otomatis. Ruangan tersebut masih dibiarkan apa adanya sampai pagi ini, sampai alarm berdering kembali.
"Mungkinkah ada kebakaran lagi?"
Orang-orang di lobi bawah ikut was-was. Mereka berlomba-lomba keluar dari gedung.
Kepala keamanan langsung memantau monitor. Ada tiga titik berwarna merah pada denah gedung digital. Dia bergegas memerintahkan beberapa orang untuk membawa tabung pemadam kebakaran.
Kepala keamanan langsung melaporkan bencana tersebut kepada Kyouhei. Kemudian, Kyouhei meneruskannya pada Shima.
"Inilah mengapa aku malas berurusan dengan kuil."
Shima yang masih berada di Osaka pun mondar-mandir cemas. Pagi-pagi sekali, dia sudah mendapatkan kabar tidak mengenakkan secara beruntun.
Kantor pusat Onyoudan di Nagoya terbakar. Itu belum seberapa. Tidak ada korban jiwa. Kerusakan yang diderita pun tidak terlalu parah.
Yang lebih mengejutkan adalah, ratusan-ratusan anggota yang diutus untuk mengepung kuil tewas dalam semalam. Hanya Tarou dan Jirou yang berhasil selamat dari insiden tersebut. Shima baru menerima berita itu dari Tarou.
"Ini bahaya. Mereka bahkan ada di antara para polisi."
Shima mengempaskan pantatnha kasar ke atas ranjang. Dia memegangi kepala memakai kedua tangan dengan siku bertumpu pada paha. Sementara ponsel diletakkan di sebelahnya.
Dia terpekur dengan mata terpejam. Dadanya naik turun dengan cepat. Dia seperti berada di antara cengkeraman burung karnivora dan jurang berpaku raksasa.
Tak lama kemudian, ponsel kembali berdering. Kali ini, panggilan dari Jong Hyun. Panggilan yang sangat singkat.
Setelah panggilan berakhir, Shima bergegas ke tempat lelaki Korea itu. Wajahnya masam karena semua masalah ini.
Sesampainya di tempat Jong Hyun, Shima dipersilakan masuk. Jong Hyun tengah menonton acara televisi. Matanya tidak berkedip sama sekali.
__ADS_1
Dia tampak serius menyimak berita yang disampaikan reporter dalam televisi. Namun,sebenarnya tidak demikian. Siaran itu telah diputar berulang—hasil siaran langsung malam sebelumnya.
Shima tidak enak mengganggu acara menonton Jong Hyun. Dia pun hanya berdiri mematung dan membisu.
Dari sudut matanya, Jong Hyun bisa melihat kedatangan Shima. Dia pun memerintahkan, "Duduklah!"
Bagi pembicara, satu kata itu terdengar biasa-biasa saja. Namun, bagi Shima, itu terdengar sedingin Antartika. Badai es seolah baru menerpa tubuh Shima. Dia bergerak dengan kaku.
Suara sintesis bahkan tidak terdengar sekaku intonasi Jong Hyun itu. Siaran televisi yang berlangsung terdengar seperti musik horor bagi Shima. Dia bergidik ngeri. Namun, Shima tetap berusaha tenang sambil memikirkan solusi.
Tiba-tiba, Jong Hyun menunjuk layar yang menampilkan gelimpangan jenazah seraya menoleh pada Shima dan bertanya, "Kau dengar itu?"
Dengan gugup, Shima menjawab, "Iya, Tuan Kim."
"Kenapa kau biarkan kekuatan berbahaya seperti itu berada di antara masyarakat?"
"Kekuatan kuil yang melindungi gadis itu jauh di atas perkiraanku. Aku akan mempersiapkan anggota yang lebih ahli untuk membereskan semua ini."
"Kau gagal mempersembahkan gadis itu. Ingat untuk mengganti rugi!" Jong Hyun mengatakannya dengan enteng.
Shima mengepalkan kedua telapak tangan. Keringat dingin membasahi bagian dalamnya. Perasaan kesal dan takut menjadi satu.
"Gadis itu sudah pergi dari kuil. Akan segera kuperintahkan orang untuk menjemputnya."
"Itu bagus. Tapi sepertinya, aku harus pergi secepatnya dari sini. Tempat ini sepertinya tidak lagi aman."
Matahari merangkak naik. Jarum jam pendek pun tepat menunjuk ke atas. Suasana tampak permai seperti biasanya di beberapa tempat. Namun, tiada yang tahu sampai kapan perdamaian akan berlangsung.
Jalan-jalan di sekitar kuil diblokir. Biasanya, badan penanganan bencana bergerak cepat untuk membersihkan lokasi kejadian.
Namun, kasus pembantaian ini tampaknya lebih lambat ditangani daripada kasus-kasus pada umumnya. Jalan-jalan masih dibiarkan apa adanya. Pihak konstruksi pun belum dihubungi untuk memperbaiki bangunan yang rusak. Hanya para korban yang berhasil dipindahkan dari tempat kejadian.
Sedangkan di salah satu rumah sakit Nagoya, Fukai menuju lantai rahasia sesuai yang dijanjikannya. Dia berkumpul dengan Eiji dan yang lain untuk makan siang. Tentunya, setelah mengontrol kondisi Sanubari.
Di tengah-tengah acara makan bersama itu, Fukai mengatakan mandat dari Raiden. Tidak semua dia beberkan. Sebab, dia merasa mereka tidak perlu mengetahui detailnya.
"Bagaimana dengan kakek?" Anki menghentikan gerakan sumpitnya. Kengerian kejadian semalam terbayang dalam kepalanya. Mendadak, dia kehilangan selera makan saat melihat nasi.
__ADS_1
"Kakek Rai baik-baik saja. Jangan khawatir! Ada polisi yang menjaga beliau," jawab Fukai setelah menggigit kakiage.
"Kenapa kakek tidak ikut kita sekalian saja?" Anki menuntut penjelasan. Dia sangat berharap tetap bisa bersama kakeknya ke mana pun.
"Dia harus bersaksi di kepolisian atas kerusuhan semalam. Kalian sudah terlibat dalam organisasi yang merepotkan. Kakek Rai tidak ingin terjadi apa-apa pada kalian andaikan gerakan susulan terjadi. Kuharap kau mengerti ini, Anki!"
"Kami berencana ke Italia. Kebetulan, teman kami ternyata memiliki tempat tinggal di sana," ucap Eiji setelah menghabiskan makanannya. Dia kemudian mengambil sebotol air mineral dan menenggaknya.
"Baguslah bila tujuan sudah ditentukan. Kita akan bergerak malam ini. Kudengar, kapal kargo Meiwa akan berlayar malam ini. Kita bisa menumpang di sana," ujar Fukai.
Setelah mendapat telepon dari Raiden, Fukai memikirkan cara untuk keluar dari Jepang tanpa bisa dilacak. Dia bahkan sampai keluyuran malam-malam sampai dini hari guna mencari informasi. Kepalanya sekarang pun masih terasa agak berat karena hanya tidur setengah jam sebelum berangkat kerja.
Sayangnya, realisasi tidak semulus rencana. Malam harinya, rumah sakit dikepung. Puluhan orang berseragam hitam memblokir jalan keluar. Sementara beberapa orang berlarian dari lantai ke lantai, memeriksa ruangan.
Mereka terus mengulangi penyisiran. Namun, yang dicari-cari tetap tidak ketemu.
"Lantai bawah tanah dua, bersih."
"Lantai bawah tanah satu, bersih."
"Lantai satu bersih."
"Lantai dua bersih."
"Lantai tiga bersih."
Laporan dari lantai demi lantai itu disampaikan melalui alat komunikasi nirkabel kepada ketua pengepungan. Ketua itu mengatakan semuanya kepada dua elite yang duduk di hadapannya.
"Apa Jirou sama dan Tarou sama yakin mereka ada di rumah sakit itu? Ketua itu menoleh ke bangunan rumah sakit yang tampak menjulang.
Mereka duduk di atap gedung sepuluh lantai. Sake dan makanan pendamping tersaji di atas meja. Teropong portabel pun tergeletak di antara makanan itu.
"Kau yakin tidak ada yang terlewatkan?" Jirou memasukkan kacang ke mulutnya.
"Mereka sudah berkeliling lima kali. Toilet wanita pun bahkan mereka masuki," balas ketua itu."
"Mungkin mereka tidak bisa mengenali gadis itu dan orang-orang yang membawanya kemarin."
__ADS_1
"Sebagian besar yang ikut dalam misi ini sangat mengenal Sai, Ren, dan Ei. Sebagian dari mereka bahkan hafal dengan Anki. Mana mungkin mereka tidak bisa mengenali. Sangat disayangkan, tiga orang besar seperti mereka berkhianat pada asosiasi." Ketua itu berdecak.