
Beruntung ia sudah memasang penerjemah offline sebelum berangkat. Ia menggunakan aplikasi tersebut untuk mencari tahu cara menanyakan toilet, menghafal, lalu mempraktikannya.
"Kocchi kara, massugu itte, hidari e magatte! Toire wa asoko Ni arimasu Yo!" jawab perempuan yang baru saja ditanya.
Dia memberi arahan pada Abrizar. Jika ingin ke toilet maka Abrizar harus berjalan lurus dari posisinya ke arah yang ditunjuk. Setelah itu berbelok ke kiri. Di sekitar sanalah toilet berada.
Abrizar terbengong. Ia sama sekali tidak paham. Ia pun kembali mengetik, lalu menunjukkannya pada perempuan itu.
Bahasa asal Indonesia :
"Maaf, saya tunanetra dan tidak mengerti bahasa Jepang. Bisakah Anda mengantar saya ke toilet?"
Bahasa terjemahan Jepang :
`Sumimasen, watashi wa mōmoku de nihongo ga wakarimasen. Toire ni tsureteitte moraemasu ka?'
Abrizar mengetuk-ngetuk layar ponsel, mengisyaratkan pada gadis itu untuk membaca tulisan di sana. Terlalu lama jika dirinya sendiri yang harus mengucapkannya sendiri. Berhubung si perempuan sedang buru-buru, dia membawa Abrizar pada petugas stasiun.
"Ano, Ekiin san, moushiwake gozaimasen ga, kochira no kata wa toire e ikitai ndesu kedo me ga warukute hitori de iku no ga muri tte ...."
Wanita itu meminta bantuan petugas stasiun. Ia menjelaskan tentang Abrizar yang ingin ke toilet, tetapi kondisi penglihatan tidak memungkinkan bagi lelaki itu untuk menemukan toilet sendiri.
"Hai, wakarimashita. Go annai shimasu," balas petugas stasiun bersedia mengantar Abrizar.
"Arigatou gozaimasu." Wanita itu pergi setelah mengucapkan terimakasih.
"Kochira e douzo!" Petugas stasiun menggandeng Abrizar supaya mengikutinya.
Petugas itu mengantar Abrizar ke toilet. Ia memberitahukan fungsi-fungsi benda di sana dengan membuat Abrizar menyentuhnya. Ada toilet duduk dengan tombol-tombol di sana. Setelah mengerti, Abrizar kembali membuka ponsel.
"Bapak bisa kembali ke tempat bapak. Dari sini saya bisa sendiri. Terima kasih." ketik Abrizar yang diterjemahkan dalam bahasa Jepang menjadi `Anata wa anata no basho ni modoru koto ga dekimasu. Koko kara watashi wa sore o jibun de suru koto ga dekimasu. Arigatō.'
Petugas stasiun itu pergi setelah membaca ketikan Abrizar. Abrizar sekali lagi meraba-raba bilik yang ia masuki. Hanya ada tisu dan toilet duduk. Tidak ada air sama sekali.
Ia keluar, mencari keberadaan wastafel. "Ketemu!"
Ia langsung melepas sepatu dan kaos kaki. Tongkat ia sandarkan di sebelahnya. Dengan sangat terpaksa, ia berwudhu di wastafel. Selanjutnya, ia mencari tempat pojok di dekat kursi tunggu.
"Bismillah, semua tanah milik Allah. Semua tanah itu suci."
Abrizar beribadah di tempat itu tanpa peduli anggapan orang. Ia khusyuk, walau tak tahu arah kiblat. Dia hanya ingin melaksanakan kewajiban, meski dalam kondisi darurat seperti ini. Selagi situasi masih memungkinkan, akan ia lakukan dimana pun.
Abrizar memutuskan untuk menunggu sebentar lagi. Ia akan pergi jika Sanubari tidak kunjung datang. Lima jam lebih ia menunggu remaja itu. Jam dua siang lebih sedikit, barulah Sanubari muncul.
__ADS_1
"Syukurlah ketemu juga." Sanubari langsung memeluk Abrizar.
Setelah itu, Sanubari selalu mengajak Abrizar naik ke gerbong bagi penumpang berkebutuhan khusus untuk mengantisipasi kejadian seperti tadi. Keluar dari stasiun, mereka masih harus tersasar Berjam-jam gara-gara Sanubari yang payah dalam membaca peta. Sanubari sengaja mengambil beberapa peta yang disediakan gratis di setiap stasiun. Niatnya untuk mempermudah perjalanan. Kenyataannya tak semudah itu.
Bulan belum memasuki April, tetapi sakura sudah mekar sempurna. Guguran kelopak bunga merah muda itu berserakan di sepanjang trotoar yang dipijak Sanubari dan Abrizar. Pemuda itu berhenti sejenak.
"Cantik. Seperti melihat bidadari dari terowongan sakura," gumam Sanubari.
Di sebelah kiri memang berjajar pohon sakura, membentuk kanopi merah muda yang menjuntai ke sungai hijau sebelah kanan. Pagar putih yang membentang di sisi kanan pun memperindah pemandangan. Belum lagi kelopak-kelopak sakura yang mengambang di sungai, genangan air di beberapa sisi trotoar, serta air hujan yang masih membasahi bunga-bunga menambah kesegaran sore.
Di depan Sanubari, ada seorang gadis berkimono putih dengan hakama merah. Rambut hitam legamnya lurus sampai pantat. Dia tersenyum memegang bunga sakura yang mengarah ke sungai tanpa memetik dari pohonnya. Saat tangkai dilepas dari tangan, bulir-bulir air membasahi pipi putih mulusnya. Gadis itu tertawa, tersenyum, berputar-putar bahagia seperti menari, lalu berlari.
Jarak mereka mungkin belasan meter, tetapi Sanubari bisa melihat dengan sangat jelas. Gadis itu sangat menawan. Sanubari sampai tidak berkedip.
"Ayo, Kak!" Sanubari menggelandang tangan Abrizar, mengajaknya berlari, mengejar sang gadis.
"Waaa, Saanu! Apa-apaan kau ini? Ada apa?" seru Abrizar.
"Ada bidadari lewat!" jawab Sanubari dengan lugunya sambil berlari.
Sontak saja Abrizar membuat diri mereka mengerem laju. Ia memukul kening Sanubari dengan tongkatnya. Ia geram dengan kelakuan bocah beranjak remaja itu.
"Aw!" Sanubari memegang keningnya.
"Maaf-maaf. Habisnya seperti terhipnotis begitu saja." Sanubari terkekeh.
"Dasar!" Abrizar mendengus.
"Istirahat di sana saja dulu, yuk! Capek dari tadi jalan terus." Sanubari lagi dan lagi menggeret Abrizar.
Mereka duduk di sebuah angkringan kecil dari kayu. Sempit, tetapi terlihat nyaman dan bersih. Tidak jauh dari sana, terdapat gerbang masuk kuil Shinto. Sanubari terus memandangi gerbang itu. Di sanalah sang gadis menghilang.
Tak lama berselang setelah keduanya beristirahat. Abrizar mendengar suara yang sengaja ia hafal. Suara itu sangat jelas.
Suara seorang lelaki yang memanggil, "Anki!"
"Okaeri, onii Chan!" Sambut gadis kuil yang masih memegang sapu lidi pada sang kakak.
Abrizar yang mendengar suara itu langsung berbisik kepada Sanubari, "Kau lihat siapa saja yang ada di sini selain kita?"
Sanubari menghentikan aktivitasnya. Ia celingukan mengamati sekitar. "Memangnya kenapa?"
"Ada Shiragami Eiji di sini," bisik Abrizar lagi.
__ADS_1
"Apa? Dimana?" Sontak saja Sanubari makin heboh.
"Pelankan suaramu! Jika kau melihat lelaki berbicara dengan perempuan di dekat ini, itu dia. Bagus jika kau bisa memperhatikannya."
"Tidak ada siapa-siapa di sini."
Sepi, tidak ada orang satu pun sejauh Sanubari memandang. Lagi-lagi, pandangannya terhenti pada gerbang kuil. Teringat dengan gadis yang menghilang di sana.
"Mungkinkah ...," Sanubari mengajak Abrizar berjalan lagi, "kurasa aku tahu dimana mereka. Ayo!"
Baru sampai di ambang gerbang, Sanubari menghentikan langkah, pandangannya tertuju pada gadis berkimono putih dengan hakama merah, rambutnya dikuncir kuda. Dia tersenyum manis, menampilkan gigi gingsulnya. Walau dia orang Jepang, tetapi matanya terlihat lebar, menambah kesan imut. Sanubari terpesona. Dia bidadari menawan yang dikejar Sanubari sebelumnya.
"Ada gadis cantik di sini." Remaja itu tersenyum memandangnya.
Abrizar menoyor kepala Sanubari. "Jangan perhatikan ceweknya! Pria yang bicara sama dia tuh target kita. Kau harus bisa menariknya untuk bekerja sama dengan kita."
"Hm, hampiri saja kalau begitu yuk!"
Abrizar mencekal lengan Sanubari. "Jangan gegabah! Kau pikir kau ini siapa? Dengarkan saja percakapan mereka! Siapa tahu ada cara lain untuk mendekatinya."
———©———
Catatan :
Gaya tulisan saya rubah, ya. Yang tadinya selalu mencantumkan terjemahan dalam kurung ketika ada dialog asing, sekarang makna itu pindah ke narasi. Hanya diambil inti saja.
Soalnya sering ada yang kelupaan kalau pakai kurung buka tutup. Jadi, narasi sama dengan dialog. Khusus bagian bahasa asing saja.
Anata : kamu
Panggilan pak atau bapak beda lagi nanti. Berhubung kata bapak yang ditulis Abrizar setara dengan kamu, maka kata bapak diterjemahkan jadi Anata.
Ekiin : petugas stasiun
Nah, petugas stasiun ini jika san ditambah dibelakangnya maka kata san bisa diterjemahkan jadi pak.
Ekiin san : PAk petugas stasiun
Bukan berarti san itu artinya pak loh ya! Maknanya bisa disesuaikan. Bisa jadi Bu kalau melekat pada perempuan. Bisa juga dihilangkan tanpa diterjemahkan.
....
Waduh! Maaf, Kawan-kawan! Mendadak seperti ada catatan kelas bahasa di sini.
__ADS_1