
"Mana mungkin orang sebaik itu penjahat. Kakak pasti keliru."
"Terserah kau percaya atau tidak. Tapi, aku yakin ingatanku tidak salah."
"Kakak hanya menyimpulkan dari suara. Itu saja tidak cukup untuk mengansumsikan bahwa mereka adalah orang yang sama. Di dunia ini, banyak yang suaranya mirip. Bahkan, yang bisa menirukan suara orang lain pun ada."
"Selama mereka sudah dewasa atau melewati masa-masa dimana suara masih bisa berubah, aku yakin bisa mengenali dengan akurat. Bahkan, aku bisa membedakan peniru dan yang asli. Jangan meremehkan pendengaranku!"
Keduanya terus berbincang—membahas tentang Mitsuki sepanjang jalan. Lima menit yang lalu, mereka melewati masjid Honjin. Sanubari dan Abrizar berjalan sangat santai, sehingga memakan lebih banyak waktu untuk sampai ke rumah. Percakapan mereka terhenti begitu memasuki halaman kediaman Mohammad.
"Yamete!"
Sebuah jeritan terdengar ketika Sanubari membuka pintu. Suasana rumah begitu gaduh. Baik Sanubari dan Abrizar bisa mendengar teriakan meminta tolong dalam bahasa Jepang bercampur dengan raungan tangisan. Entah apa saja yang mereka katakan, Abrizar tidak mengerti.
Di antara suara para perempuan yang tidak berdaya, ada suara beberapa pria asing. Sanubari segera berlari terlebih dahulu. Dia menuju ruang tengah. Setibanya di sana, kondisi ruangan telah berantakan.
Kursi patah, jilbab lebar diinjak-injak kaki tidak bertanggung jawab. Sanubari mengepalkan tangan marah. Kekesalannya memuncak ketika melihat Bilal terkapar di lantai tidak sadarkan diri—sepertinya habis dipukuli. Sementara Bila menangis tanpa hijab dalam dekapan seorang pria.
"Kanojo wo hanase!" geram Sanubari meminta mereka untuk melepaskan sang gadis.
Perhatian lima pria berbaju hitam sontak tertuju pada Sanubari. Salah satu dari mereka bertanya siapa, "Dare KA omae?"
Bila bersyukur atas kehadiran Sanubari. Dia berharap Sanubari bisa menolongnya. Sedangkan Mohammad dan istrinya yang diikat malah menggeleng.
"Sanu, lari cari bantuan!"
Teriakan Mohammad itu membuahkan pukulan di pipi dan tendangan di dada. Lelaki itu sampai batuk berdarah. Sanubari melotot menyaksikannya.
"Nani wo itteru no, Jiji?" ucap salah satu penindas dengan penekanan artikulasi pada huruf r dan melotot, kesal atas ketidak Tahuan terhadap ucapan Mohammad.
"Yamete!" teriak Sanubari menyuruh mereka berhenti.
Tanpa gentar, dia menendang dua pria yang menganiaya Mohammad. Tindakan Sanubari memicu amarah kelima penindas. Mereka mengumpat.
"Kisama!"
"Jangan paksa aku untuk menggunakan kekerasan!" ketus Sanubari.
Kalimat Sanubari yang tidak dipahami, membuat mereka makin kesal. Empat orang menyerang bersamaan. Satu orang yang tersisa memanfaatkan kesempatan itu untuk membawa kabur Bila.
Abrizar yang masih berada di koridor bisa mendengar rintihan perempuan yang diseret paksa. Langkah kaki terdengar kian mendekat ke arahnya. Abrizar berdiam diri di tempat.
__ADS_1
"Mau kemana, Tuan?" tanya Abrizar santai. Dia bahkan tersenyum.
Bila kehilangan harapan. Dia makin terisak tanpa bisa melepaskan diri. Sanubari sedang dikepung, sedangkan yang ada di hadapannya kini tinggal seorang tunanetra.
"Doke!" bentak pria itu meminta Abrizar untuk menyingkir.
Abrizar memang sengaja merentangkan tongkat hingga menyentuh dinding untuk menghalangi jalan sambil berkacak pinggang sebelah. Dia dengan sangat tenang menanggapi, "Doke? Apa itu doke? Oh, apakah itu doket? Tapi, maaf. Aku tidak tahu doket apa yang Anda maksud."
"Urusai!" sergah pria itu tidak tahan dengan keberisikan Abrizar. Dia pun menerjang tongkat Abrizar.
Tentu Abrizar tidak membiarkan pria itu berlalu begitu saja. Dia mencekal lengan orang yang tertahan tongkatnya. Setelah memastikan itu tangan yang tepat, dia memelintirnya. Abrizar segera mencari titik vital untuk melumpuhkannya. Satu pukulan kemudian, pria itu pingsan.
Bila termenung—antara syok dan terpana. Dia tidak menyangka akan diselamatkan seorang tunanetra. Tubuhnya masih gemetar ketakutan. Namun, sedikitnya dia merasa lebih lega.
"Ada apa ini?" tanya Abrizar bingung dengan kekacauan tiba-tiba.
Bila tidak menjawab. Gadis itu malah kian terisak.
"Tenanglah, Bil! Kamu aman sekarang," ucap Abrizar meyakinkan sebelum mengajak gadis itu kembali ke tempat yang lain.
Sanubari baru saja selesai menumbangkan keempat pria saat Abrizar tiba. Dia lega melihat Bila datang bersama pria difabel itu. Sanubari pun melepaskan ikatan Mohammad.
"Sepertinya kita harus lapor polisi," saran Sanubari sambil memotong tali yang mengikat istri Mohammad.
"Bukankah mereka orang jahat? Mengapa tidak bisa?" Sanubari mengernyit heran.
"Mereka kebal hukum," lirih Mohammad tanpa daya.
"Apa? Negara macam apa yang membebaskan penjahat?" sela Sanubari bersungut-sungut.
"Mereka Yakuza," lirih Mohammad lagi.
"Oke, aku tahu Yakuza itu legal. Tapi mereka sudah keterlaluan. Sekekebal apa pun mereka terhadap hukum, pasti ada batasannya," Sanubari bertambah geram melihat para penjahat yang menurutnya tidak berperi kemanusiaan, "oh, apa mereka Onyoudan?"
Satu nama organisasi itu tercetus begitu saja. Satu-satunya mafia yang melekat pada memori Sanubari saat ini. Dia tidak akan pernah memaafkan Onyoudan bila mereka benar-benar terlibat.
Namun, Mohammad menggeleng lalu berkata, "Meiwa."
*****
Satu Minggu setelah kejadian itu, Bilal dan Bila tidak pernah dibiarkan sendiri di rumah. Mereka selalu diajak ke kedai saat jam buka. Abrizar juga lebih sering bersama mereka untuk berjaga-jaga. Dia hanya pergi sesekali untuk menemui Anki.
__ADS_1
Semenjak hari itu pula Sanubari merelakan gaji pertamanya untuk meminta bantuan Onyoudan. Tarif keamanan mereka benar-benar tinggi. Akan tetapi, itu sepadan. Berkat mereka, tidak ada tanda-tanda serangan balik.
Orang-orang Onyoudan pula yang mengurus lima penindas dari rumah Mohammad setelah kejadian itu. Mereka juga membantu memperbaiki bagian rumah yang rusak. Sanubari tidak menyesal menghamburkan belasan juta hanya untuk memanggil Onyoudan. Lagi pula, keluarga Mohammad sudah banyak membantunya dan Abrizar.
"Kuharap aku akan segera bisa mewujudkannya." Sanubari berdiri bergumam di depan kedai halal, menunggu Abrizar yang masih di toilet.
Remaja itu menengadah. Langit biru begitu cerah tanpa awan. Dia menghirup oksigen menyegarkan dalam-dalam, berharap kedamaian ini akan berlangsung lama.
Satu terpaan angin kemudian, Abrizar datang bersama Bilal. Keduanya pun berpamitan dengan pemuda seumuran Sanubari itu.
*****
Di tempat berjarak kurang dari dua jam kereta, dua mobil hitam terparkir berjajar. Sore itu, kantor Onyoudan cabang Nagoya kedatangan tamu yang tidak terduga. Suasana lobi yang semula lengang, mendadak tegang. Resepsionis segera berdiri, membungkuk sembilan puluh derajat guna memberi hormat. Pun dengan dua petugas keamanan yang sedang berjaga.
"Selamat datang, Tuan Kim!" sambut mereka dengan bersemangat.
Indonesia sebagai bahasa internasional kedua setelah Inggris, selalu menjadi pilihan mereka ketika dikunjungi tamu dari manca negara. Berhubung para pegawai Onyoudan tidak ada yang bisa berbahasa Korea, mau tak mau mereka beralih bahasa karena tamu mereka belum tentu mengerti bahasa Jepang.
Pria Korea bersetelan jas rapi itu berjalan diikuti anak buahnya yang berjumlah empat orang. Langkahnya terlihat sangat berwibawa. Perawakannya pun kharismatik. Patut bila menyandang gelar mantan idol yang berjaya di masanya. Kejayaan itu pun belum luntur, walau sebelas tahun telah berlalu setelah dia secara resmi mengundurkan diri dari panggung hiburan.
"Mohon tunggu sebentar Di sini! Saya akan memanggilkan Tuan Akamizu." Resepsionis wanita itu mengarahkan Kim Jong Hyun untuk duduk di sofa lobi.
Setelah itu, resepsionis wanita bergegas menelepon bagian pantry untuk menyiapkan suguhan, lalu menghubungi Kyouhei. Shima berpesan kepada seluruh anggota untuk memberi tahu Kyouhei terlebih dahulu jika ada tamu penting. Sebab, Kyouhei lebih profesional dalam bekerja dibandingkan saudaranya. Bila Kyouhei tidak bisa dihubungi, maka mereka boleh menghubungi Kouhei.
Jonghyun duduk di sofa, menghadap ke jalan. Dinding kaca transparan membuatnya bisa melihat pemandangan luar dengan jelas. Secangkir kopi hangat dan beberapa makanan ringan yang di antar beberapa saat lalu, menemaninya dalam penantian.
"Maaf sudah membuat Anda menunggu, Tuan Kim!" ucap Shima yang datang bersama kedua putranya.
Tepat saat itu, mata Jong Hyun menangkap sosok gadis berambut sepantat tengah tertawa riang. Dia memperhatikan gadis yang berjalan beriringan dengan seorang pria berkacamata hitam. Kepalanya bergerak mengikuti gadis itu tanpa menghiraukan kehadiran Shima.
"Bagaimana kalau kita pindah ke tempat yang lebih nyaman?" tawar Shima tersenyum lebar.
Namun, Jong Hyun tidak merespons. Dia malah balik bertanya, "Siiapa gadis itu?"
Shima dan kedua putranya berbalik badan, mengikuti arah pandangan Jong Hyun. Ada dua wanita yang berada di lobi saat ini. Keduanya sedang berbincang-bincang sebelum salah satunya masuk lebih dalam bersama seorang pria.
"Mana yang Anda maksud, Tuan Kim?" tanya Shima untuk memastikan.
"Yang baru saja pergi," jawab Jong Hyun, matanya masih mengikuti arah kepergian sang gadis. Walau sekarang dia hanya bisa melihat dari belakang, tetapi tetap cukup menarik baginya.
"Itu Anki—adik Eiji," sahut Kouhei yang mengenalinya.
__ADS_1
Anki sering datang saat Eiji berada di kantor. Hampir semua pegawai yang menetap tahu tentangnya. Parasnya yang sedap dipandang membuat semua orang muda mengenalinya. Hanya saja, tidak ada yang berani menggoda karena ancaman Eiji.
"Aku ingin dia," ucap Jong Hyun yang sontak membuat ketiga pria Jepang menoleh.