Santri Famiglia

Santri Famiglia
Syarat ke Dua


__ADS_3

Sanubari memandangi foto pria berwajah oriental dengan rambut hitam bergaya Harajuku, bibirnya tipis memberi kesan manis. Ia terus membaca profil pria bertinggi seratus delapan puluh centimeter itu. Biodata pria asing itu sangat lengkap.


Shiragami Eiji adalah pria berusia dua puluh satu tahun berkewarganegaraan Jepang. Dia merupakan mekanik jenius yang menyelesaikan pendidikan perguruan tingginya pada usia dua puluh tahun. Kemampuannya dalam merakit benda elektronik tidak diragukan lagi.


Sebagai mekanik nomor satu, ia juga bekerja di perusahaan otomotif nomor satu—Yamata yang perusahaan utamanya berlokasi di prefektur Aichi, Jepang. Selain itu, ia merupakan teknisi andalan Onyoudan—yakuza di balik Yamata. Sudah banyak perusahaan yang berhasil diperas berkat campur tangan Shiragami Eiji. Kelihaiannya dalam mencari kelemahan dan keburukan perusahaan bisa diacungi jempol.


Karena peran besar Shiragami Eiji itu pula Onyoudan berhasil menguasai Yamata sepenuhnya dan menjadi mafia terkaya ke dua setelah Laterna Volonta alias Sang Kehendak Abadi. Hal ini pula yang menjadi alasan Abrizar menginginkan Shiragami Eiji bergabung dengannya. Dari segi pemrograman, kemampuan Abrizar bisa dibilang lebih tinggi daripada Shiragami Eiji.


Akan tetapi, ada hal yang dikuasai Shiragami Eiji, namun tidak bisa dilakukan Abrizar. Yaitu, rakit merakit elektronik. Keahliannya itu bisa menjadi pelengkap bagi kelompok kecil mereka kelak.


"Dia akan memperkuat kita dengan kemampuannya merakit senjata. Dengan kecerdasannya, aku yakin dia bisa menciptakan senjata lebih apik dari Aifka. Yang pastinya akan menguntungkan kita. Bagaimanapun caranya, kau harus bisa mendapatkan dia. Ini syarat mutlak!" ujar Abrizar.


Seekor nyamuk terbang di sudut ruangan, matanya memindai dua manusia yang berbicara, mengunci wajah Sanubari. Kemudian, si kecil berdenging itu terbang mendekat, melayang-layang di atas Sanubari, menjadi penguping ulung percakapan keduanya.


"Itu artinya kita harus ke Jepang?" Sanubari beralih memandang Abrizar.


"Yaps."


"Tetapi, bagaimana caranya? Mereka pasti tahu kemana pun aku pergi. Yang ada, kita akan dicekal sebelum berhasil keluar dari Italia." Sanubari mengingat kejadian ketika berusaha pulang ke Indonesia, pangkal peristiwa yang mempertemukannya dengan Abrizar.


Tiba-tiba saja Abrizar menepuk kedua telapak tangan di atas kepala Sanubari. Bunyi dengungan yang mengganggu pun berhenti. Sanubari sedikit terlonjak akibat ulah dadakan Abrizar.


"Kok malah tepuk tangan sih? Bikin kaget aja," gerutu Sanubari.


"Ada nyamuk," jawab singkat Abrizar yang kemudian membuka telapak tangan dan merabanya.


"Tidak kena." Sanubari mengamati telapak tangan bersih Abrizar.


"Aneh," batin Abrizar merasa ada yang janggal.


Sebenarnya, wajar-wajar saja jika tepukannya meleset. Nyamuk adalah makhluk hidup, tidak mustahil jika ia menghindar sebelum tertekuk. Namun, firasat Abrizar mengatakan ada sesuatu.


"Ah, mungkin hanya perasaanku," ucap Abrizar mencoba menepis sesuatu yang mengusik pikirannya.

__ADS_1


"Perasaan?" Sanubari mengangkat Alis tidak mengerti.


"Bukan apa-apa," kilah Abrizar.


Sementara itu, nyamuk yang hampir tergencet telapak tangan Abrizar mendarat di rambut Sanubari. Ia bersembunyi di sela-sela helaian rambut Sanubari yang bak hutan lebat. Kaki-kakinya berpegangan erat supaya tidak tergelincir .


"Jadi, bagaimana caranya kita pergi ke Jepang tanpa ketahuan?" Sanubari menggaruk kepalanya yang terasa gatal, seperti ada yang sedang jalan-jalan di sana.


"Aku sudah memikirkan itu. Kita akan meminjam paspor istri Abi Jun untukmu. Kau harus memakai baju yang dulu pernah kupinjamkan padamu waktu pertama kali bertemu."


"Apa? Tidak adakah cara lain? Kenapa aku harus berpenampilan seperti perempuan lagi?" protes Sanubari tidak terima.


"Sayangnya, hanya ini yang bisa kita lakukan. Petugas bandara tidak akan memeriksa kebenaran identitasmu. Selama kau tidak terdeteksi membawa benda terlarang, mereka pasti akan dengan mudah meloloskan tanpa pemeriksaan lebih lanjut."


"Apa boleh buat." Sanubari mendengus pasrah.


Hari yang ditetapkan pun tiba. Paspor, visa, tiket pesawat, dan kelengkapan lainnya sudah siap. Mobil Aljunaidi terparkir di halaman rumah Abrizar. Hari ini, ustaz tersebut yang akan mengantar keduanya menuju bandara.


"Pria buta itu, mau kemana dia? Tumben naik mobil. Siapa pula orang berpenampilan aneh serba merah muda itu? Dimana Sanubari? Tidak biasanya dia tidak ikut keluar." Pria itu menggerakkan teropongnya ke sekitar rumah Abrizar.


Ia tidak bisa menemukan keberadaan Sanubari. Ia pun bergegas menyalakan ponsel pintar dan membuka sebuah aplikasi. Animatronik nyamuk yang dikirimnya bergerak melewati jalanan. Itu artinya Sanubari sedang bergerak karena animatronik tersebut selalu diatur untuk bersarang di rambut Sanubari setiap malam.


Ia berpindah ke kamera animatronik. Namun, hanya kegelapan yang terlihat. Pengeras suara juga ia aktifkan, tidak terdengar percakapan apa pun. Pada tampilan sistem pelacak, animatronik nyamuk tersebut terus menjauhi lokasi semula dengan kecepatan tinggi.


Ia tidak memiliki kendaraan untuk menyusul. Satu-satunya cara untuk mengejar adalah mengetahui tujuan Sanubari. Menguntit sebenarnya adalah pekerjaan membosankan. Ia tidak pernah seharian mengamati pergerakan animatronik mata-matanya. Yang terpenting ia tahu dimana dan bagaimana keadaan Sanubari. Untuk mengetahui apa yang terjadi, ia memutar balik rekaman pengintaian beberapa hari ini dengan sangat terpaksa. Percakapan antara Abrizar dan Sanubari pun terdengar.


"Kok gamis ini masih ada di Kakak? Bukannya sudah Kakak kirim ke adik kakak?"


"Aku beli baru untuknya. Rasanya tidak enak saja memberikan bekas pakaimu. Siapa sangka sekarang itu berguna lagi."


"Kakak tega. Jangan-jangan Kakak sengaja merencanakan ini. Uh, aku merasa tertipu. Mau ditaruh mana mukaku kalau Em dan Zunta tahu aku memakai baju perempuan begini. Mana warnanya pink-pink pula. Sedap sih dipandang. Kalem Dimata."


"Hanya sekali. Jangan banyak protes!"

__ADS_1


"Sekalipun hanya sekali."


"Sudahlah ...."


"Untuk tiket pesawat, bagaimana kalau pakai kartuku? Kita berdua bisa ke Jepang gratis."


"Kartu apa?"


"Katanya sih semacam freepass. Aku boleh membawa satu rekan katanya."


"Atas namamu?"


"Iya."


"Simpan itu untuk lain waktu! Kita tidak bisa memakai namamu sekarang. Mereka pasti akan melacaknya. Jangan khawatirkan masalah tiket! Aku yang akan membelinya untuk kita."


Lelaki berambut putih itu menghentikan rekaman. "Jadi, mereka akan ke Jepang hari ini."


Ia langsung keluar dari aplikasi pengintaian dan menelepon seseorang. Sambil menunggu telepon tersambung, ia membereskan barang-barangnya. Beberapa saat kemudian, sapaan pun terdengar dari seberang telepon.


"Halo."


"Paman, hari ini aku ingin ke Jepang. Siapkan semua secepatnya!"


"Apa-apaan kau ini? Kenapa dadakan sekali? Bukankah kau di—"


"Dia hari ini dalam perjalanan ke Jepang."


"Dia?"


"Iya, Sanubari. Maaf, aku baru tahu hari ini. Paman cari tahu saja tujuan pria buta bernama Abrizar itu! Itu jika Paman ingin aku tetap mengikuti mereka. Jika tidak, maka aku akan tetap di sini, menunggunya pulang ke rumah itu, tetapi aku tidak yakin dia akan segera kembali. Kudengar mereka akan menghampiri markas Onyoudan."


"Baiklah, akan kusiapkan segera. Ini tidak bisa dibiarkan.""

__ADS_1


__ADS_2