
Setelah dijelaskan sedemikian rupa, orang-orang masih saja tidak percaya. Jin hanya bisa menunggu Kelana untuk memperkuat asumsinya. Sampai saat itu tiba, Jin akan menerangkan apa pun yang dia ketahui, mengulur sedikit waktu untuk menahan mereka supaya tetap di sana.
"Adakah di antara kalian yang bekerja di dunia per-film-an? Khususnya editor video. Mungkin bisa membantuku menjelaskan pada bapak-bapak polisi ini? Sepertinya aku kurang pandai menjelaskan. Katakan pada mereka bagaimana kalian menghilangkan keberadaan terekam kamera yang tidak kalian inginkan tanpa memotong Framenya!" Jin mengatakannya dengan suara keras sembari mengedarkan pandangan ke semua orang yang ada di sana.
Namun, tidak ada yang menanggapi. Entah mereka takut dianggap orang bodoh seperti Jin ataukah memang semua yang hadir di sana adalah orang-orang awam. Semua orang hanya saling berbisik tanpa mau mengeraskan suara.
Teknik pengeditan video yang diutarakan Jin seharusnya bisa dipahami mereka bila mereka pecinta film. Kenyataannya, semua orang menganggapnya lelucon ketika Jin mengungkapkannya. Sepertinya mereka tidak pernah menonton film sampai detik terakhir. Padahal biasanya di akhir sebuah film dimunculkan adegan behined the scene atau di balik layar. Yang mana biasanya rahasia dari proses produksi film itu ditampilkan secara mentah. Termasuk adegan eror yang mengharuskan beberapa kali pengambilan gambar ulang.
Mungkin juga karena kebanyakan dari mereka Adalah pecinta tontonan romansa atau tipikal sinetron keseharian lainnya yang tidak memerlukan teknik tinggi maupun rumit dalam pembuatannya. Lain halnya dengan seorang pecinta serta pengamat sejati film aksi, sci-fi, fantasy semacamnya, pengamat biasanya tidak hanya menikmati acara. Melainkan juga memperhatikan setiap detail adegan. Mereka seharusnya bisa satu frekuensi dengan Jin. Akan tetapi, mayoritas dari mereka sepertinya hanyalah penikmat yang tidak peduli bagaimana film tersebut bisa menjadi tayangan epik.
Saat ini, Jin tidak boleh menyebut alat pembunuhan itu sedikit pun. Jin memang tahu alat tersebut. Namun, dia belum tahu siapa pemiliknya. Pelaku bisa saja memanfaatkan ketidak Tahuan mereka untuk melenyapkan barang bukti bila gegabah.
Di tempat yang sama, Kelana menerima email dari seseorang. Ia membuka email tersebut. Isinya cukup mengejutkan. Segera ditunjukkannya isi email tersebut kepada Jin.
"Jin, aku sudah mendapatkan informasi yang kau minta."
"Wah, cepat sekali! Terimakasih, Paman Kelana."
"Ya," kata Kelana yang kemudian mengembalikan pisau kepada polisi, "terimakasih sudah meminjamkan pisaunya sebentar."
__ADS_1
Jin membaca data pada email di ponsel Kelana. Ia juga memperhatikan foto yang terlampir di sana.
"Manis tapi mematikan." Jin menyeringai.
"Pemuda ini sepertinya gila. Omongannya tidak nyambung lagi," gumam seorang polisi.
"Seperti yang kukatakan sebelumnya, ada orang lain yang menerbangkan pisau tersebut dari langit-langit. Lebih tepatnya sih bukan orang yang merayap di dinding tetapi sebuah animatronik. Animatronik inilah yang dikendalikan dari jarak jauh untuk membunuh korban. Aifka. Ah, kurasa nona penjual tiket mengetahui dengan baik tentang Aifka ini. Bila kitA ingin tahu pelakunya maka kita harus bertanya kepada nona penjual tiket. Iya 'kan, Nona Kiara?"
Jin menoleh pada penjual tiket. Ia melangkah mendekati wanita itu. Seringaian Jin memberikan tekanan tersendiri bagi wanita bernama Kiara itu.
"Siapa Aifka? Aku tidak mengenalnya," jawab Kiara tergagap.
"Artificial Intelligence Flying Knife Armorer. Kita akan tahu pelakunya Nona atau bukan bila melihat isi ponsel pintar Nona. Bisa serahkan ponsel Anda untuk diperiksa polisi?" ucap Jin penuh Intimidasi.
Aifka mampu terbang layaknya helikopter mini. Animatronik kini juga bisa bertransformasi menjadi tabung, menempel pada langit-langit serta merayyap pada dinding. Ukurannya tidak terlalu besar. Orang awam mungkin hanya memandang robot capung ini sebagai mainan anak-anak bila menemukannya. Padahal benda ini bisa menjadi senjata mematikan jika tahu cara pakainya.
Yang mengesankan dari animatronik ini adalah ia dibekali teknologi mutakhir. Sistem kamuflase yang mengimitasi mimikri pada bungklon terpasang apik. Aifka bisa menyembunyikan keberadaannya dengan mudah menggunakan teknologi tersebut.
Kaki-kaki ramping Aifka menyembunyikan beberapa kawat mekanik kecil yang bisa digunakan untuk menyadap kamera atau benda eletronik lainnya. Bahkan Aifka juga ditanami sistem autoretas—sebuah sistem yang mampu meretas apa pun sekalipun penggunanya tidak memiliki kemampuan peretasan sedikit pun.
__ADS_1
Empat kamera pengintai berkualitas tinggi yang mampu berputar tiga ratus enam puluh derajat tersembunyi dalam salah satu ruas ekor. Sementara bagian lain yang juga berfungsi sebagai kamera adalah mata majemuk. Aifka benar-benar didesain berdasarkan anatomi capung.
Pada dua mata besarnya, terpasang banyak lensa yang mengarah ke segala arah sehingga tidak ada titik buta sama sekali. Sayap transparannya berfungsi layaknya panel Surya. Bisa menangkap cahaya matahari dan menjadikannya sebagai cadangan energi selain asupan listrik. Baterai dalam keadaan penuh bisa bertahan selama tujuh hari digunakan secara terus menerus tanpa isi ulang.
Perut Aifka menyimpan senjata berbasis senapan dengan amunisi pisau hitam legam yang sangat tajam. Total pisau hanya sepuluh bilah. Masing-masing pisau hanya memiliki panjang tujuh belas centimeter. Sementara tebal gagangnya kurang dari satu centimeter.
Aifka didesain sebagai senjata jarak jauh. Aifka mampu menembakkan pisaunya secara akurat dengan jarak maksimal satu kilometer. Sama dengan batas maksimal antara remot pengendali dan Aifka. Bila Aifka berada di luar jangkauan remot kontrol, maka Aifka tidak lagi bisa dikendalikan melalui remot.
Setiap pisau dibekali dengan kamera pengintai kecil, empat kaki dan dua roda yang terlipat rapi dalam gagang pisau. Pisau bisa dijadikan robot berjalan supaya bisa kembali kepada pemiliknya setelah digunakan. Sistem pelacak dua arah mampu mengunci koordinat masing-masing dengan tepat. Dengan demikian, pisau bisa menemukan lokasi induk Aifka. Sistem yang tertanam akan memperbarui titik lokasi secara berkala sehingga tetap bisa bertemu walau keduanya sama-sama bergerak.
Uniknya, sistem pelacakan pada pisau dan animatronik induk memiliki cakupan radius tidak terbatas. Jadi, sejauh apa pun mereka terpisah, pisau akan tetap bisa menemukan jalannya kembali selama daya masih ada.
Fungsi tersebut sangatlah praktis dan menguntungkan bagi pemilik Aifka. Mereka tidak harus selalu membeli pisau baru karena pisau bawaan hilang setelah digunakan. Sayang, beberapa pengguna masih belum mengetahui fungsi pada pisau sedetail itu. Apalagi orang yang malas membaca buku panduan manualnya.
Untuk saat ini, Aifka diproduksi secara terbatas. Total yang telah didistribusikan ada seratus unit. Dua di antaranya dipegang oleh orang Indonesia.
Salah satu pemiliknya adalah Kiara. Wanita yang tadinya tenang selama proses penyelidikan berlangsung itu kini mendadak panik. Ia takut para polisi akan merampas ponselnya. Semua ini gara-gara Jin. Dia tidak bisa berkutik. Para polisi dan banyak orang memperhatikannya.
"Cari dimana ponsel pintarnya!" perintah ketua penyidik.
__ADS_1
Mereka pun langsung memeriksa area sekitar meja tempat Kiara. bekerja. Salah satu dari mereka menemukan ponsel di laci. Ia pun membuka ponsel yang tidak terkunci. Digulirnya layar hingga berhenti di salah satu halaman.
"Ada aplikasi bernama Aifka di ponsel pintar ini," kata penyidik itu.