Santri Famiglia

Santri Famiglia
Taruhan


__ADS_3

Semua orang sontak menoleh pada Abrizar. Hanya Abrizar seseorang berkebutuhan khusus di sana. Tidak pelak, Eiji, Sai, dan Renji pun membelalakkan mata. Itu di luar dugaan mereka.


Mereka bertiga pernah melawan Frosty Sky bersama. Tentu, mereka paham seberapa berbahaya Frosty Sky. Eiji yang paling jenius di antara mereka pun bisa sampai dipukul mundur.


Yang sangat mengejutkan adalah, Frosty Sky ternyata disandang sosok yang paling tidak mungkin di mata mereka. Ketiganya tertegun cukup lama. Ternyata, Frosty Sky selama ini ada di dekat mereka.


Eiji teringat penculikan Anki sekitar setahun yang lalu. Ketika Eiji sendiri tidak mampu membobol sistem pintu ciptaannya sendiri, datang Sanubari yang dengan mudahnya meretas dan membuka pintu. Eiji sempat mengira itu kemampuan Sanubari sendiri.


Namun, Eiji kini sadar. Teman yang dimaksud Sanubari waktu itu pastilah Abrizar. Semua itu tampak masuk akal baginya sekarang.


"Mungkinkah yang menyelesaikan tes kemampuan waktu itu juga Abrizar?" batin Eiji mengingat satu-satunya nilai sempurna tes masuk Onyoudan yang dikerjakan Sanubari.


"Itu luar biasa!" puji Aeneas penuh kekaguman.


Dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya itu. Bagaimana tidak? Orang-orang dengan mata normal yang dipekerjakannya saja tidak bisa mengalahkannya. Karenanya, BGA merugi miliaran euro.


Mengingat banyaknya kerugian yang disebabkannya, Abrizar merinding. Dia dalam posisi tidak bisa menghindar andaikan Aeneas menuntut ganti rugi. Sulit baginya kabur dari tempat ini bila sampai dikepung. Namun, dia tetap menampilkan ketenangan tanpa seulas senyum.


"Terima kasih atas pujiannya."


Berbeda dengan Abrizar, Aeneas malah mengumbar senyum. Senyumnya kian lebar setelah balasan datar Abrizar.


Kondisi ini membuat Sai, Eiji, dan Renji kesulitan menafsirkan situasi. Mereka berempat seperti sedang berada dalam sebuah sesi wawancara masal demi memperoleh beasiswa. Tidak ada yang menyela sebelum dipersilakan.


"Aku salut dengan ketenanganmu. Aku merasa tidak pernah mengenalmu sebelum ini. Tapi, kenapa kau sepertinya ingin sekali menjatuhkanku? Atau mungkin, aku pernah tanpa sengaja menyinggungmu?"


"Tidak, kita memang tidak pernah saling mengenal sebelum pertemuan di rumah sakit waktu itu. Aku sama sekali tidak ingin menjatuhkan Anda. Seperti yang selalu kukatakan saat menghubungi Anda, aku hanya ingin penyelundupan senjata dan alkohol dihentikan," jawab lugas Abrizar.


Itu membuat Aeneas mengernyit. Transaksi yang dilakukannya selama ini saja mampu meningkatkan GDP dan membuat Italia menjadi negara paling sejahtera. Aneh sekali rasanya mendadak ada yang protes atas kegiatannya. Itu alasan yang sulit dipercaya bagi Aeneas.


"Kenapa aku harus menghentikannya? Apa itu merugikanmu? Tidak, kan?"


"Memang tidak. Tapi, tindakan Anda itu merugikan banyak pihak. Alkohol bisa merusak tubuh. Lebih banyak korban perang fisik berjatuhan karena pasokan senjata-senjata mutakhir dari Anda. Termasuk pembunuhan berencana yang tidak bisa diselidiki karena inovasi senjata perusahaan Anda."

__ADS_1


Penjelasan Abrizar itu membuat Eiji tersentil. Dia terlibat dalam inovasi teranyar yang memasuki proses produksi saat ini. Selama ini, orientasinya hanya mencipta dan mengembangkan. Dia tidak pernah memikirkan dampaknya sejauh itu.


Meski dia pernah menjadi anggota Onyoudan, tetapi Eiji masih memiliki nurani. Kalimat-kalimat Abrizar menjadi renungan baginya. Dia menunduk.


Sementara Aeneas lagi-lagi tersenyum. Mendengar keterangan Abrizar itu, dia mendadak teringat istri. Dia juga teringat rekaman terapi Sanubari.


"Bagaimana jika kita bertaruh?"


Mendengar itu, Eiji kembali fokus pada Aeneas. Renji dan Sai pun merasa aneh dengan ajakan Aeneas itu. Mereka baru saja dipecat dari perusahaan Aeneas. Kemudian, mereka terjebak dalam situasi canggung bersama Aeneas. Tentu ini masih membingungkan bagi mereka.


Sebagai respons atas ajakan itu, Abrizar berkata, "Maaf, tapi judi terlarang bagiku."


"Bukan, bukan judi. Tapi, aku akan berhenti sesuai permintaanmu jika kau bisa mewujudkan dunia dalam pikiranmu."


Mewujudkan dunia?"


"Kau dan Sanu ingin membuat dunia yang aman dan tentram, kan?"


"Eh, apa?"


"Jika kau dan Sanu bisa melampauiku, aku akan menepati janjiku."


"Anda ini lucu, Tuan. Bagaimana mungkin seorang ayah ingin bersaing dengan anaknya sendiri?"


"Apa salahnya ingin melihat seorang anak bisa lebih sukses?"


Aeneas sadar bahwa dia tidak bisa terus-terusan mengekang Sanubari, memanjakannya secara berlebihan juga tidak baik. Dia juga mendapatkan nasihat dari Canda untuk membebaskan anak itu, membiarkannya mencari banyak pengalaman. Dengan begitu, mentalnya juga akan tumbuh lebih kuat. Mengurungnya di rumah hanya akan melemahkannya.


"Kurasa, semua orang tua menginginkan yang seperti itu."


Perlahan demi perlahan, Abrizar berhasil mengendalikan perasaannya. Dia bisa bersikap normal lagi. Apa yang dikhawatirkan sepertinya tidak akan terjadi.


"Aku tahu kalian dekat dengan Sanu. Karena itu, kuharap kalian berempat bersedia menjadi pembimbing, pelindung, sekaligus teman yang baik untuknya."

__ADS_1


Kali ini, pandangan Aeneas tersebar ke Abrizar, Eiji, Renji, dan Sai.


"Karena alasan sesederhana inikah kami dipanggil?"


Itu hanya terucap dalam hati Eiji. Dia mulai berspekulasi mungkin Aeneas berpikir bahwa pemutusan hubungan kerja yang terjadi bisa berimbas ke hubungan mereka.


Abrizar menjawab paling pertama, "Tanpa Anda suruh pun aku akan tetap berteman dengan Sanu."


Disusul Eiji, Sai, dan Renji yang silih berganti berkata, "Aku juga."


Sanubari sudah banyak membantu Eiji. Dahulu, hubungan mereka mungkin sebatas rekan satu tim. Namun, Sanubari telah masuk dan diterima dalam lingkaran pertemanan Eiji setelah membantu menyelamatkan Anki. Eiji tidak lagi melihat Sanubari sebagai bawahannya. Terlebih lagi, setelah Eiji tahu bahwa Sanubari adalah putra Gafrillo. Fakta itu bahkan sempat membuatnya merasa canggung. Namun, lekas tercairkan karena kepribadian Sanubari.


"Ajari dia dengan baik! Masalah honor, tidak perlu khawatir! Aku akan menggaji kalian."


"Tidak perlu melakukan itu! Pertemanan kami tanpa syarat. Sejak pertama kali bertemu, aku sudah memutuskan untuk membantunya."


Eiji ikut menimpali, "Benar."


Sebenarnya, Renji sangat menyayangkan keputusan Eiji. Mereka baru menerima tawaran kerja baru, tetapi ditolak begitu saja. Namun, sebagai rekan yang setia, dia harus mengambil keputusan yang sama.


Sai pun angkat bicara, "Kurasa Sanu tidak akan senang bila mengetahui Anda membayar kami hanya untuk bersamanya."


"Ikatan karena uang itu bukan ikatan sesungguhnya," tambah Renji.


Andai Sanubari mendengar pernyataan mereka, mungkin dia akan sangat senang. Tidak banyak orang yang mau dengan senang hati mengajaknya berteman, kecuali orang-orang di sekitar Aeneas dan keluarga Parra.


"Terima kasih, dan tawaranku padamu masih berlaku, Abri," balas Aeneas.


Mereka berdiskusi cukup lama. Mereka pulang agak larut. Aeneas sengaja membiarkan keempatnya keluar ruangan terlebih dahulu. Sementara dirinya dan Dantae masih tetap di sana.


"Tuan Aeneas, apa Anda yakin dengan keputusan ini?" tanya Dantae.


Ruangan itu sangat hening sekarang. Aeneas memandang panorama hamparan kota malam.

__ADS_1


"Aku yakin mereka orang yang dapat dipercaya."


Aeneas selalu mengamati mereka setiap kali datang ke rumah. Dia melihat ada ketulusan dari para pemuda itu.


__ADS_2