Santri Famiglia

Santri Famiglia
Bertemu Mitsuki Lagi


__ADS_3

Pukul setengah delapan pagi, Sanubari dan Abrizar sudah berdiri di depan pintu kediaman Shiragami. Bersamaan dengan dibukakannya pintu, seorang lelaki tiba di belakang Sanubari. Lelaki itu tersenyum tanpa menyela Anki yang sedang berbicara.


"Sanu, Kak Abri, kenapa pagi-pagi ke sini?"


"Kak Eiji menyuruhku menemanimu seharian hari ini. Jadi, sekalian saja kuajak kak Abri," kata Sanubari tersenyum.


Dia senang saat mendapat perintah semacam itu. Terdengar seperti kencan awalnya. Namun, karena takut canggung bila hanya berdua, Sanubari memutuskan untuk mengajak Abrizar.


"Hm, sebenarnya aku hari ini aku ada kompetisi. Tapi, kita bisa berjalan-jalan bersama setelahnya. Ayo masuk!" Anki meraih tangan Abrizar dan Sanubari, "aku sedang menunggu teman."


Gadis itu membuat kedua pria yang ditariknya menjangkah melewati gawang pintu. Ketika satu kaki baru menginjak area dalam, lelaki di belakang Sanubari dan Abrizar tiba-tiba menyapa, "Pagi, Anki!"


Mendengar mereka berbahasa Indonesia, lelaki itu hanya ingin menyesuaikan. Dirinya sendiri lebih suka memakai bahasa Jepang selama di dalam negeri.


Anki berhenti. Tubuh Sanubari dan Abrizar yang seperti dinding membuat gadis itu tidak bisa melihat dengan jelas seseorang di belakang keduanya sebelumnya. Anki pun mendusel di antara dua pria tersebut. Tanpa menoleh, Abrizar sudah tahu siapa yang menyapa sebelum Anki memanggil namanya.

__ADS_1


"Mitsuki!" Anki membuat mata tersenyum, senang yang ditunggu juga sudah tiba.


Sanubari menoleh. Dia mendapati pria bersetelan kimono dan hakama hitam berdiri di halaman. Yang lebih mengejutkan, Sanubari mengenali wajah itu sebagai, "Penjaga Toko Ramah!"


Lelaki itu menggerakkan sepasang netranya pada Sanubari. Dia juga masih ingat dengan pemilik sepasang iris hijau di hadapannya. Dengan senyuman khasnya, dia membalas, "Ah, yang waktu itu mencari makanan tanpa babi?"


Anki menoleh dan mendapati Sanubari mengangguk sambil tersenyum. Lalu, remaja laki-laki itu mengucapkan, "Tidak kusangka kita akan bertemu lagi."


"Kalian saling kenal?" Anki mengernyit heran. "Dunia ini begitu sempit," pikirnya.


"Ngomong-ngomong, kalian sudah sarapan? Mau makan dulu?" tawar Anki setelah melihat jam tangan yang melingkar di pergelangannya. Masih ada cukup waktu sebelum pertandingan dimulai.


"Aku dan kak ABRI sudah makan beberapa onigiri dan sandwich."


"Aku juga sudah makan roti dan ramen instan. Kita bisa langsung berangkat jika kamu sudah siap," timpal Mitsuki.

__ADS_1


Otak Anki merespons cepat untuk memberi jawaban, "Oke, tunggu sebentar!"


Gadis bertinggi rata-rata itu berbalik badan. Lari kecilnya menimbulkan bunyi berderap, memancing Sanubari untuk memutar badan. Sama seperti Mitsuki, Anki juga mengenakan baju tradisional Jepang. Hanya saja, berbeda warna.


Tak lama kemudian, Anki keluar dengan tas yang selaras dengan pakaiannya. Seperti biasanya, Anki tampak seperti putri bangsawan ketika berlari kecil melewati koridor dengan pakaian tersebut. Dua pria yang melihatnya, sepakat dalam hati. Entah bagaimana dengan Abrizar andaikan lelaki itu juga bisa melihat.


Anki mengunci pintu sebelum pergi. Mereka berjalan dua-dua. Anki dan Mitsuki memimpin. Sedangkan Sanubari yang berjalan bersama mereka di belakang merasa iri disuguhi pemandangan di depan matanya. Pakaian Anki dan Mitsuki selaras, membuat keduanya terlihat seperti pasangan.


Tanpa mereka sadari, seseorang mengikuti mereka dari jarak yang tak terlalu jauh. Sementara itu, sepasang mata lain menjadi pengamat dari tempat tidak terduga lima manusia yang berjalan. Di langit biru, seekor nyamuk berdenging.


"Hm, apa ini? Karnaval?" gumam lelaki yang lantas memasukkan bola-bola takoyaki Ke mulutnya.


Dia sedang duduk di sudut ruangan sebuah kedai kebab sambil menonton ponselnya. Tiga gulung kebab kalkun belum tersentuh, tergeletak di mejanya. Kedai sangat ramai, tetapi hampir tidak ada yang makan di tempat. Lelaki itu seperti pemilik ruangan satu-satunya karena pelanggan lebih suka menunggu di luar, dan langsung pergi begitu pesanan didapatkan.


"Haruskah kuhampiri ke tempatnya sekarang? Ah, tapi dia menuju ke sini. Mungkin kutunggu saja di sini."

__ADS_1


__ADS_2