
Kelana segera berkata, "Aspetti, signor Aeneas! Sembra che voglia dire qualcosa."
(Tahan dulu, Tuan Aeneas! Sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu.)
Aeneas menurunkan tangannya. Dia meletakkan pistol kembali ke atas meja, memberi kesempatan kepada mereka untuk berbicara. Informasi dari mereka masih sangat penting. Aeneas masih perlu mendengar kesaksian mereka supaya bisa menumpas ancaman sampai ke akarnya.
"Aku sama sekali tidak berniat menyakiti Sanum. Aku hanya melakukan perintah seseorang. Aku terpaksa melakukannya karena butuh uang. Kumohon ampuni aku!" kata pria itu memelas.
"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Kelana.
"Seorang pria," jawab pria itu.
"Siapa namanya?"
"Aku tidak tahu. Dia meneleponku dengan nomor rahasia. Uang yang kuterima pun tiba-tiba sudah berada di halaman rumah. Kami tidak pernah bertemu," jelas pria itu.
Bos penculik juga mulai angkat bicara setelah pria itu membuka mulut. Dia berkata, "Kami pun hanya melakukan perintah sahaja."
Penculik lain menimpali, "Betul. Kala itu ada seorang perempuan datang. Dia kasih banyak-banyak money. Lepas itu kami tak pernah jumpa lagi."
"Siapa namanya?" tanya Kelana beralih memperhatikan para penculik.
"Kami pun tak tahu."
"Apa kalian ingat bagaimana wajahnya?" tanya Kelana lagi.
"Dia tak nampakkan wajahnya," jawab salah seorang penculik.
"Dia pakai topeng dan sun glasses," tambah yang lainnya.
"Yang kami tahu dia punya rambut putih," imbuh yang lain lagi.
Investigasi ini masih menemui titik buntu. Dua orang berbeda membayar penjahat yang tidak ada kaitannya sama sekali. Kelana juga belum bisa menebak apakah dua penyuruh itu saling berhubungan atau tidak. Kelana menyampaikan jawaban mereka semua kepada Aeneas.
Keterangan dari para tersangka itu sama sekali tidak membantu. Tidak ada gunanya lagi menahan mereka lebih lama. Aeneas kembali mengangkat pistol milik penculik yang telah disita.
Tanpa basa-basi, Aeneas langsung menembak kening mereka satu per satu. Setelah itu dia keluar ruangan tanpa kata. Kelana mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
Kelana menyuruh orang-orang yang berada di rumah itu untuk membereskan mayat para penjahat yang telah berani mengusik keluarga Aeneas. Aeneas memang tidak banyak bicara ketika bertindak. Seluruh anak buahnya dituntut mengerti tanpa ada perintah. Kelana sudah terbiasa dengan kondisi yang cukup sering terjadi ini.
Selanjutnya, mereka kembali ke rumah sakit dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Aeneas menyambut pelukan putranya dengan senyuman hangat. Dia juga mencurahkan kasih sayangnya kepada Sanum.
Minggu ke dua Sanum dirawat, mereka memutuskan untuk kembali ke Italia. Kondisi kandungan Sanum sudah cukup stabil. Sedangkan terapi dan perawatan lebih lanjut akan dilakukan di Italia.
Hari Kamis pagi mereka mendarat di Italia. Seperti saat pertama kali Sanubari ke Italia, kali ini pun mereka juga membawa banyak camilan Indonesia. Sanubari turun mobil sambil memakan sebungkus ekstra besar keripik singkong pedas. Aeneas menggendong Sanum. Kelana mengeluarkan kursi roda yang terlipat di bagasi lalu menyiapkannya di depan Aeneas.
Namun, Aeneas menyuruh Kelana membawa masuk kursi roda tersebut tanpa penumpang. Aeneas tetap menggendong Sanum.
"Nonna!" teriak Sanubari yang langsung berlari memeluk neneknya.
Nonna adalah bahasa Italia dari nenek. Sanubari terbiasa memanggil Asia seperti itu sejak pertama kali diperkenalkan. Asia menyambut hangat cucunya yang baru datang. Segera setelah itu, Asia menatap garang kepada Aeneas yang sedang menggenddong Sanum.
Aeneas merasa dejavu. Matilda berdiri di samping ibunya. Kali ini wanita itu tidak memeluk dan mencium Aeneas seperti biasanya. Mungkin karena dalam gendongan Aeneas ada Sanum.
"Aeneas, la mamma vuole parlarti."
(Aeneas, ibu ingin bicara denganmu.)
Aeneas menurunkan Sanum ke kursi roda. Kemudian dia menyuruh Kelana membawa Sanum dan Sanubari. Asia meminta Matilda untuk menemani Sanum. Setelah itu mereka berdua berbicara di ruangan terpisah.
(Kenapa Ibu membawa Ilda kemari lagi?)
"Da oggi resterà qui.
(Mulai sekarang dia akan tinggal di sini.)
"Cosa? Non ho detto prima che non l'avrei mai sposata?"
(Apa? Bukankah sebelumnya sudah kubilang bahwa aku tidak akan pernah menikahinya?)
"Non ti ho detto di sposarla. Rimarrà qui per accompagnare e badare a Sanum."
(Aku tidak menyuruhmu untuk menikahinya. Dia akan tinggal di sini untuk menemani serta menjaga Sanum.)
"Posso prendermi cura di me stesso."
__ADS_1
(Aku bisa menjaganya sendiri.)
"Cosa puoi fare? Hai quasi fatto perdere a mia mama la sua unica nuora e un nuovo nipote. La moglie incinta è stata lasciata indietro. Che cosa hai fatto, eh?"
(Bisa apanya? Kau hampir saja membuat ibu kehilangan menantu satu-satunya dan calon cucu baru. Istri hamil ditinggal-tinggal. Apa yang kau lakukan, hah?)
Aeneas terdiam dia mengakui bahwa dirinya memang salah. Sebagai seorang suami, dia kurang memperhatikan istrinya.
Sebenarnya Aeneas tidak terlalu setuju dengan usulan Asia. Entah mengapa ia tidak suka dengan kehadiran Matilda di sekitar Sanum. Akan tetapi, dia tidak bisa melawan ibunya.
Sejak hari ini Matilda tinggal bersama keluarga Sanubari. Dengan telaten dia mengurusi Sanum, membantunya terapi jalan serta menjadi tutor bagi Sanubari. Mereka pun semakin akrab.
Akhir pekan, Sanubari melaksanakan Tes kemampuan bahasa Italia level C1. Namun, dia gagal. Dengan sangat terpaksa Sanubari harus menunggu dua tahun untuk bisa bersekolah umum.
Dia juga semakin rajin belajar karena Kelana mengancam bahwa dia harus menunggu tahun berikutnya lagi jika gagal dalam ujian C1. Sanubari tidak sabar untuk segera memperluas jaringan persahabatan. Dia ingin memasarkan singkong kejunya ke teman-teman sekolah. Dantae yang terkadang datang pun sering dia tawari. Alhasil, Dantae pun selalu pulang dengan membawa banyak singkong keju. Terkadang Sanubari memberikannya secara cuma-cuma. Terkadang dia juga meminta Dantae untuk membelinya.
Semua anak buah Aeneas yang pernah singgah di vila danau Garda tidak ada yang tidak pernah mencoba singkong keju Sanubari. Bocah itu selalu mendekati semua orang tanpa sungkan. Kemudian, dia akan menyuruh mereka membeli singkong keju yang ditawarkan tanpa rasa berdosa. Tentu para pekerja yang bekerja di bawah Aeneas itu tidak ada yang bisa menolak tawaran putra kesayangan sang Bos. Para anak buah Aeneas mulai menjuluki Sanubari sebagai 'Bos Singkong Kecil' karena kebiasaannya itu.
*****
Dua tahun kemudian, Amerika Serikat.
Matahari musim panas bersinar terik. Bunyi deburan air mendominasi di ruangan luas beratapkan transparan. Riak-riak saling bertabrakan dalam genangan air yang cukup dalam dan luas.
Sanubari menyembulkan kepala dari dalam air. Dia segera menghirup udara banyak-banyak. Bulir-bulir air berjatuhan, menambah riak di sekelilingnya.
"Empat puluh detik untuk dua ratus meter," kata Kelana menghentikan pengukur waktu, "ini rekor terbaikmu, Sanu! Kurasa tahun ini pun kau akan mendapatkan emas."
"Dua emas. Itu artinya jalan-jalan lagi. Yes! Yes! Yes!" Sanubari tertawa mengangkat-angkat kedua tangannya masih dalam posisi mengapung dalam air.
"Jalan-jalan terus yang kau pikirkan. Ingat! Bulan September kau mulai masuk sekolah. Bulan Desember kau ada jadwal noken," kata Kelana.
"Itu dipikirkan nanti saja. Yang penting aku bisa keliling dunia dengan jalan berenang lalu membuat semua orang merasakan nikmatnya singkong keju." Sanubari tertawa.
Kelana menghela napas. Kemana-mana ujung-ujungnyq singkong tetap dibawa. Sanubari tidak pernah berubah dari pertama kali Kelana bertemu dengannya sampai saat ini.
———©———
__ADS_1
Catatan Kaki :
Noken adalah akronim dari nouryoku shiken (tes kemampuan bahasa Jepang).