Santri Famiglia

Santri Famiglia
Selamat Datang Kembali


__ADS_3

Sanubari mengucek matanya. Seekor belalang kecil baru saja melompat di depannya. Dia tidak mengerti, daun singkong di hadapan mendadak lenyap.


Dia berdiri. Sejauh mata memandang, hanya ada petak-petak sawah dengan varietas berbeda.


Aroma tanah menguar. Udara terasa sangat menyegarkan. Bulir-bulir air masih menempel pada rerumputan dan tanaman sawah.


Sanubari berdiri di tengah pematang. Junior berjalan di depannya. Dia merentangkan tangan sambil memegang sandal jepit.


Sanubari berjalan mengikutinya tanpa memanggil. Junior berlari, melompat ke sungai. Dia tertawa lepas.


Sanubari tersenyum. Dia ingin kembali seperti itu, seperti anak-anak yang bisa menghabiskan hari tanpa beban.


"Tuhan pasti memaafkanmu selama kausungguh-sungguh bertobat."


Suara lain terdengar dari belakang. Sanubari berbalik. Abrizar telah berdiri di sana, tersenyum padanya.


"Terimalah ketakutanmu sebagai teman, Sanu!"


Tiba-tiba, Canda telah berdiri di sebelah Abrizar begitu saja. Dia juga tersenyum padanya. Tanpa Sanubari sadari, sepasang tangan mendekapnya dari belakang.


"Kauakan baik-baik saja. Papa selalu di sini, bersamamu!"


Bisikan itu terdengar lembut, menghangatkan telinga Sanubari. Namun, dia memberontak, mendorong Aeneas, sampai dirinya sendiri nyaris terjatuh. Sebelum itu terjadi, seseorang menangkapnya dari belakang. Orang itu memegang kedua bahunya.


"Kamu tidak boleh melakukan itu! Lihatlah! Kamu membuat papamu sedih."


Dia menunjuk Aeneas yang murung. Namun, Sanubari hanya melihatnya sekilas. Dia berputar untuk melihat wanita di belakangnya.


Sanubari terbelalak. Itu adalah wanita yang paling berharga bagi Sanubari. Remaja itu tersenyum lebar.


Dia berseru girang, "Mamak!"


"Berdamailah dengan dirimu sendiri! Berdamailah dengan papamu!"


Sanum mengusap kepala Sanubari dengan lembut. Itu kebiasaan yang sering Sanum lakukan saat Sanubari masih kecil.


Sanubari menggeleng. Dia sudah berusaha keras memaafkan Aeneas, tetapi sulit baginya kembali bersikap biasa terhadap pria itu seperti dahulu kala. Ada desir tidak nyaman dalam dada setiap kali dia melihat Aeneas.


Meski dahulu Sanubari sangat senang Aeneas menjadi ayahnya, menjemputnya, mengentaskannya dari kemiskinan dan perundungan, memberikannya kehidupan yang layak, tetapi satu peristiwa itu mengubah segalanya. Hatinya terlanjur terluka karena Aeneas.


Luka itu begitu membekas. Lisannya mungkin bisa memaafkan. Namun, batinnya sangat sulit diajak kompromi. Dia menggeleng keras.


"Papa jahat! Aku tidak mau lagi papa. Lebih baik aku sama Mamak saja tetap di Indonesia tanpa papa. Andai bisa begitu, mungkin, mungkin, mungkin ini tidak ...," begitulah isi pikiran Sanubari yang disuarakan lantang.


Bahu Sanubari bergetar. Tubuhnya terasa menyusut, terus mengerdil. Kepalanya bahkan hanya setinggi perut Sanum.

__ADS_1


Sanum lekas mencengkram pundak Sanubari. Dia berlutut, mensejajarkan tinggi dengan Sanubari.


"Hentikan! Kamu tidak boleh seperti ini, Sanu! Kamu tidak boleh menghapus kehadiran mereka semua! Kamu tidak boleh sendirian di sini!"


Sanum menghapus bulir yang menuruni pipi Sanubari dengan jempol kanannya. Mereka saling bertatapan.


"Sendiri?"


Sanubari mengerjap. Dia tidak begitu paham dengan ucapan Sanum. Saat ini, dia tidak merasa sedang sendirian. Ada ibunya. Keberadaan Aeneas, Canda, dan Abrizar yang menghilang luput dari perhatian Sanubari.


"Ini sudah takdir. Berandai-andai tidak akan mengubah apa pun."


Perkataan itu memantik hasrat pemberontakan dalam diri Sanubari. Tangannya terkepal erat. Sementara matanya melotot.


"Takdir? Takdir apanya? Papa mengakhiri takdir mamak!"


Intonasi Sanubari meledak-ledak. Tidak pernah sebelumnya, dia meninggikan suara di depan Sanum seperti ini. Sanubari kalut.


Bayangan tragedi malam itu mengaduk-aduk emosi Sanubari. Namun, saat menyadari Sanum ada di hadapannya, Sanubari menjadi tergugu-gugu.


"Mamak masih hidup? Mamak ada di sini. Aku tidak sendiri."


Sanubari tertawa canggung. Sanum menariknya dalam pelukan.


"Sanu, papamu tidak bersalah. Ingat ini baik-baik! Papamu sangat menyayangimu. Seperti aku mencintaimu. Kamu tahu apa yang akan dilakukan seseorang bila menyayangi orang lain?"


Sanum bersuara lagi, "Menjaga perasaanmu."


Sanubari tersentak. Sanubari mempertanyakan hal itu. Dia tidak bisa menemukan apa pun bila menengok enam tahun ke belakang. Kebersamaannya dengan Aeneas sangat singkat. Hanya dua tahun.


"Untuk itu, tidak mungkin papamu menyingkirkan seseorang yang kamu sayangi, kan?"


Pertanyaan itu menyeret Sanubari ke awal pertemuannya dengan Aeneas. Waktu itu, dia sempat menolak pergi ke Italia jikw ibunya tidak diajak.namun, Aeneas ternyata tidak meninggalkan Sanum.


Aeneas tidak pernah memarahi dirinya maupun Sanum. Keduanya bahkan lebih sering menampilkan kemesraan di banyak kesempatan. Sanubari mengerjap bingung. Dalam sekejap, pikirannya kosong.


"Kami menyayangimu."


Aeneas kembali hadir, memeluknya dari belakang. Sanubari terhimpit, seperti daging dalam hamburger.


"Bukankah kamu berjanji akan mengajariku membuat singkong keju?"


Anki tiba-tiba muncul entah dari mana. Berdiri di belakang Sanum. Sanubari mengangkat kepalanya.


"Bagaimana dengan perjanjian kita?"

__ADS_1


Abrizar muncul kembali, berdiri di sebelah Anki. Di sebelah kiri Anki, muncullah Eiji.


"Bagaimana kita bisa menjadi keluarga bila kamu malah memilih menjauh dari kami?"


"Kami di sini hanya ingin kaukembali tanpa syarat."


Sosok Canda muncul bersama Zunta. Gadis itu berkata, "Bagaimanapun latar belakangmu, kamu tetaplah Sanu."


"Apa pun kesalahanmu, kami ingin tetap bersamamu."


Kelana tersenyum. Semua orang tersenyum. Termasuk Junior yang berdiri di sisi lain.


Waktu seolah membeku sejenak bagi Sanubari. Sosok Sanum kian memudar, makin transparan, lalu lenyap sama sekali.


"Penerimaan adalah kebebasan sesungguhnya."


Suara itu membuat Sanubari menoleh ke kanan. Di sanalah Junior berdiri.


Belalang-belalang kecil terbang melewati Sanubari. Mereka berkumpul di sekitar Junior, terus bertambah, sampai seluruh tubuhnya tertutup. Saat para serangga hijau itu berhamburan, Junior menghilang.


Pemandangan di sekeliling Sanubari bertransisi dari persawahan, menjadi perkebunan singkong yang cukup lebat. Tubuh Sanubari membesar.


Umbi-umbi singkong berserak di mana-mana, batang-batang singkong patah. Orang-orang di sekitar Sanubari bertambah.


Hana dan Hanan juga ada di sana. Sai dan Renji memeganginya di sebelah kiri dan kanan. Sementara Canda berjongkok di depan Sanubari. Dia menekan kaki remaja itu sambil menatap matanya lekat-lekat.


"Kalian semua, kenapa berkumpul di sini? Ke mana perginya para belalang raksasa?" tanya Sanubari.


Seingatnya, dia sedang memanen singkong bersama para belalang. Akan tetapi, belalang-belalang itu mendadak hilang. Yang ada, hanyalah orang-orang yang dia kenal.


Menyadari perbedaan pada Sanubari, Abrizar langsung bertanya, "Sanu, siapa aku?"


"Kak Abri."


"Bagaimana kaumelihatku?"


"Berkacamata hitam, membawa tongkat hitam."


Jawaban itu tidak memuaskan Abrizar. Seperti itu pulalah Sanubari menganggapnya semenjak jatuh sakit. Dia memerlukan jawaban yang lebih spesifik.


Maka, Abrizar pun lanjut bertanya, "Aku manusia atau belalang?"


Mendengar pertanyaan konyol itu, Sanubari mengernyit. Dia menjawab, "Tentu saja manusia."


"Baguslah matamu sudah bekerja dengan benar kembali!"

__ADS_1


Renji menekan kepala Sanubari, menyebabkan kepala remaja itu tertunduk. Zunta berjubal di antara para pria. Dia memeluk Sanubari.


Canda tersenyum puas. Metode hipnoterapinya kali ini berhasil menarik Sanubari keluar.


__ADS_2