Santri Famiglia

Santri Famiglia
Bantai


__ADS_3

Bunyi ledakan mengalihkan perhatian Jirou. Pun semua orang. Mereka celingak-celinguk dan bertanya-tanya, "Apa yang terjadi.


Waktu seolah terjeda sekian detik karena keterkejutan. Debuman itu terus berlanjut, disusul dengan letupan-letupan senpi tanpa jeda. Didengar dari bunyinya, itu sepertinya senjata api jenis bren.


Mereka kebingungan. Jirou pun berlari keluar, menerobos kerumunan, meninggalkan Abrizar yang masih tengkurap. Dia mencari sumber jeritan dan raungan senapan mesin RIngan tersebut.


Lelaki itu mengaktifkan mode menerawang pada kacamatanya, memindai area yang lebih luas. Namun, dia tidak bisa melihat apa pun, kecuali kekosongan—pemandangan bangunan sekitar tanpa manusia. Pendeteksi panas tubuh manusia pun tidak bisa mendeteksi apa pun.


"Sial! Orang itu pasti menggunakan granat asap multispektrum."


Jirou mematikan mode menerawangnya. Dia bisa melihat, kepulan asap bergerak kian mendekati area kuil. Dia mencari tempat aman untuk mencari tahu apa yang terjadi.


Dalam kelamnya malam, tragedi berdarah terjadi. Asap membumbung ke langit petang. Selongsong-selongsong berdentang-denting, berserak di jalanan yang dipenuhi mayat.


Warga sekitar yang tanpa sengaja menyaksikan itu pun menjerit ketakutan. Dia berlari menjauhi tempat kejadian. Sementara mereka yang berada dalam bangunan tidak berani keluar.


Mereka mengunci rapat pintu, lalu mematikan lampu. Kengerian membuat sebagian dari mereka melaporkan insiden tersebut. Malam itu, kantor polisi dibanjiri dengan keluh kesah warga.


"Hai, wakarimashita." Entah berapa kali aparatur itu berkata demikian. Telepon terus berdering lagi dan lagi setelah ditutup. Mereka melaporkan hal yang sama.


"Doushimashita ka?" rekan satu ruangannya penasaran. Ini momen langka. Tidak biasanya telepon terus berdering seperti itu.


"Sengoku jidai wa kurikaeshisou desu." Polisi itu hanya bercanda. Akan tetapi, tampaknya era perang dalam negeri akan benar-benar segera terulang.


"Joudan jikan ja nai desu Yo!"


"Iya, kore wa jijitsu desu. Jitsu wa ...." Meski tidak yakin, dia mengatakan bahwa candaannya itu bagian dari fakta. Dia pun menceritakan apa yang didengarnya dari telepon.


Bagaimanapun juga, mereka adalah aparat keamanan. Tidak baik bila mengabaikan laporan warganya. Sebagai petugas keamanan, mereka harus memberikan pelayanan terbaik demi kenyamanan penduduk. Tindakan harus segera dilakukan untuk menanggapi laporan yang masuk. 


Seorang polisi pun dikirim untuk membuktikan kebenaran laporan warga sebelum tindakan lanjutan diambil. Betapa terkejutnya polisi tersebut ketika sampai ke lokasi. Jalanan Inou Chou tak ubahnya kota hantu.


Asap menyerupai kabut yang menghalangi pandangan belum menghilang, membubung ke atas, menerobos kelopak-kelopak sakura yang mekar sempurna. Di dalamnya, jasad-jasad tergeletak. Terbatasnya jarak pandang membuatnya gentar untuk melangkah lebih dekat.

__ADS_1


Polisi itu tidak tahu, di dalam asap itu aada dua pria yang berjalan cukup santai. Satu orang menyandang tiga senapan serbu di punggung dan satu digunakannya.


Satu lagi hanya membawa sebuah senapan serbu. Senapan berisi tiga ribu peluru itu sudah cukup baginya. Pada jarak tertentu, dia melempar granat fragmentasi dan asap secara bersamaan.


Serpihan-serpihan benda tajam tersebar ke mana-mana. Daya ledak membuat kekuatan merusak dari serpihan-serpihan benda tajam yang berasal dari granat itu kian tinggi. Para Yakuza tidak bisa menghindar karena visi mereka terganggu.


Mereka yang terkena benda tajam tepat di jantung langsung meninggal di tempat. Sementara mereka yang tertusuk di bagian lain melolong. Tembakan seketika menyusul, mengakhiri penderitaan mereka. Sedangkan beberapa terjatuh ke sungai akibat daya empas.


Guguran kelopak-kelopak sakura yang meliuk-liuk bagaikan pengganti bunga makam, berserak di antara gelimpangan darah. Kedua orang itu terus maju tanpa segan.


"Sepertinya kita memang rekan yang serasi." Pria itu tertawa sambil terus menembak.


Tidak ada tanggapan dari pria di sebelahnya. Mendekati gerbang utama kuil, pria pendiam itu tidak lagi melempar granat, meski persediaan di tas pinggangngnya masih ada. Dia mulai mengangkat satu-satunya senapan yang dimilikinya.


"Pesta ini menyenangkan, Aibou!" Pria itu terbahak, entah apa yang Lucu.


Asap kian menipis, membuat keberadaan keduanya menjadi mudah ditemukan. Kendati demikian, satu demi satu manusia tumbang sebelum sempat mengangkat senjata.


Misil-misil yang mengenai keduanya pun tidak mempan. Dua pria itu memakai pakaian anti peluru dari ujung kaki ke kepala. Masker oksigen membantu mereka melewati labirin asap. Dengan lensa khusus yang melengkapi masker pelindung seluruh kepala itu, mereka bisa melihat jelas dan mudah.


"Omaera Nani?" Para Yakuza tergagap.


Fakta bahwa senjata mereka tidak bisa menembus kekebalan dua pria yang berdiri lima meter di hadapan, membuat mereka bergidik ngeri. Mereka tidak yakin lagi kedua orang itu apa.


"Bakemono da!" Mereka ketakutan dengan orang yang dianggap monster.


Ada yang memilih berbalik badan untuk kabur. Akan tetapi, mereka kesulitan berlari karena terlalu banyak orang di sana.


"Bakemono da! Nigerou!" teriakan untuk kabur itu diteruskan.


Mereka tidak memiliki kesempatan untuk menyerang. Meskipun hanya berdua, gerakan mereka cukup cepat dan efektif. Area jalan menjadi kacau.


Mereka yang takut mati, pengecut, dan masih agak jauh dari keduanya segera bersembunyi ke gang-gang atau pergi sejauh-jauhnya. Sedangkan yang merasa hebat dan bertahan terbunuh di tangan keduanya.

__ADS_1


"Sayang sekali, ada dua, tiga yang kabur." Dia memandang jalanan lurus di hadapan setelah menembak yakuza terakhir yang melarikan diri. Dia tidak bisa berbuat apa-apa terhadap mereka yang berbelok tepat waktu.


Dia sama sekali tidak berminat untuk mengejar mereka. Ada hal lain yang harus dia prioritaskan. Rekannya sudah mulai membantai orang-orang yang ada di halaman kuil. Dia pun menyusul.


Memasuki halaman, untuk pertama kalinya, rekannya berbicara, "Jangan lagi menembak asal-asalan!"


"Oke, aku juga tidak ingin diamuk gara-gara salah sasaran."


Kedatangan keduanya menebarkan kepanikan. Pasalnya, mereka memakai senjata jarak jauh. Satu demi satu Yakuza sudah tertembak terlebih dahulu sebelum sempat bereaksi. Apalagi, yakuza-yakuza itu tidak memiliki kemampuan melihat kecepatan peluru untuk menghindari tembakan.


"Cepat bawa gadis itu pergi dari sini!" teriak seorang Yakuza.


"Lari! Ada pembunuh gila!" tambah Yakuza lainnya.


Mendengar itu, pria yang mencangklong tiga senapan pun tertawa terbahak-bahak. "Apa-apaan kalian? Apa kalian ini benar-benar seorang Yakuza? Di mana harga diri kalian sebagai Yakuza?"


Dia tidak lagi menembak sejak mendapatkan peringatan. Pria itu hanya berkacak pinggang menjadi pengamat dengan punggung senapan tersandar pada bahu.


"Ayo pergi!" Ketua Yakuza itu menggelandang Anki. Dia ikut panik mendengar peringatan kawan-kawannya.


Bagaimana tidak, jika pembunuh yang dimaksud itu bisa membubarkan seratus lebih orang di sana, maka dapat dipastikan dia orang yang tak dapat dihadapinya. Dia pasti orang hebat. Ketua Yakuza itu tidak mau ambil risiko.


Naas, sebelum dia sempat melarikan Anki bersamanya, sebuah peluru telah menembus batok kepalanya. Orang itu ambruk seketika. Anki yang terkejut ikut jatuh.


Sangat mudah mengincar kepala ketua Yakuza itu tanpa melukai sang gadis. Sebab, tinggi gadis itu tidak lebih dari bahu sang pria.


Anki merinding. Seumur hidup, dia belum pernah melihat mayat sebanyak ini secara nyata. Ini terlalu mengerikan baginya.


Tidak ada lagi Yakuza yang masih hidup. Abrizar bahkan tertindih jasad orang yang tadi menyiksanya menggantikan Jirou.


Yato yang masih berdiri pun memasang kewaspadaan. Meski luka di tubuhnya bertambah, dia tetap tidak gentar mengacungkan pedang. Dia menatap curiga pada dua pria berpakaian serba hitam yang membawa senapan itu.


"Siapa kalian? Apa urusan kalian ke mari?"

__ADS_1


__ADS_2