
Berlari melewati pertokoan, Sanubari terus memaksa kakinya untuk bergerak. Napasnya terengah. Hingga akhirnya, dia terjungkal dan membuat kedua lututnya berdarah.
"Sial!"
Pemuda itu menggeram, memukul trotoar yang tidak bersalah. Kekesalannya memuncak.
"Menyebalkan! Menyebalkan! Menyebalkan!"
Dia terus berteriak dan meninju-ninju tanpa peduli tangan menjadi lecet karena ulahnya senya sendiri. Dia ingin marah, tetapi entah pada siapa. Sejak keluar dari rumah sakit, kondisi fisiknya menurun drastis. Sesaat setelah sadar, dia bahkan mengalami kelumpuhan. Tangan dan kakinya berangsur bisa digerakkan seminggu kemudian. Kendati demikian, tubuhnya masih terasa lemas. Dia seperti kehilangan banyak kekuatan. Sanubari bisa merasakan perbedaannya.
Saat ini pun dia merasa sangat tidak bertenaga. Sekujur tubuhnya bergetar, sama sekali tidak memiliki daya untuk bangkit. Sanubari berbaring di trotoar.
Sebuah mobil berhenti di dekat tempat berbaringnya Sanubari. Pintu dibuka. Seorang pria berlari panik menghampiri Sanubari.
"Tuan Muda!
Dia membantu Sanubari bangun dan membawanya ke .obil. Kendaraan tersebut kembali melaju. Reste dan Bio memang ditugaskan untuk mencari Sanubari yang melarikan diri.
Tidak ada obrolan sepanjang jalan. Sanubari tampak sangat kelelahan. Jadi, mereka membiarkan pemuda itu mengatur napas sambil memperhatikan jalan.
Sesampainya di rumah, Reste dan Bio memapah Sanubari. Aeneas sudah mondar-mandir cemas di teras. Berdiri pula Canda menanti kehadiran Sanubari.
"Cepat bawa ke kamar!" perintah Aeneas begitu melihat Sanubari dipapah.
Itu hal biasa. Sanubari memang sudah bisa berjalan. Namun, dia sering mendadak kehilangan kekuatan dalam waktu acak. Itu membuat Aeneas khawatir ketika tidak bisa menemukan Sanubari di kamarnya.
Bio melepaskan Sanubari dia menatakan tempat tidur supaya Sanubari bisa duduk bersandar dengan nyaman. Di meja sebelah ranjang, makanan hangat dan jus buah telah tersaji.
Canda masuk kamar belakangan sambil membawa kotak P3K. Dia duduk di pinggir ranjang, membersihkan luka Sanubari.
"Jangan memaksakan tubuhmu untuk bergerak jika ingin sembuh total!" hardiknya.
Dia sengaja menekan luka Sanubari sembari sesekali memperhatikan ekspresinya. Namun, Sanubari hanya memasang wajah masam. Dia tidak mendesis maupun merintih kesakitan.
Tubuh Sanubari memang mati rasa. Dia sama sekali tidak merasakan perih atas luka goresnya. Ngilu karena meninju benda padat dengan sekuat tenaga pun tidak.
__ADS_1
"Juga, kau ini sudah besar. Jangan lagi kabu-kaburan seperti anak kecil yang takut jarum suntik! Makan yang banyak, minum obatmu secara teratur! Bukankah kau ingin cepat sembuh?"
Selesai membersihkan luka pada lutut, Canda beralih meraih tangan Sanubari. Pemuda itu membiarkan Canda melakukannya. Lagipula, dia tidak memiliki tenaga untuk memberontak.
"Sanu, aku tahu kau sedih karena kondisi tubuhmu. Tapi, percayalah, kau akan sembuh! Tidak perlu terburu-buru. Memaksakan tubuhmu hanya akan berakibat fatal padamu. Jadi, jangan bertindak gegabah lagi!"
"Sekarang, ayo makan dulu!"
Aeneas mengambil makanan di meja. Dia menyuapi Sanubari. Tiada yang bisa dilakukan Sanubari sela8in pasrah.
Selalu duduk dan berbaring di kamar itu membosankan. Ketika Sanubari kembali memperoleh energinya, dia meminta untuk di antar ke tempat Abrizar.
Aeneas tidak mengizinkan Sanubari bepergian sendiri karena kondisi tubuhnya yang labil. Mau tidak mau, Sanubari menerima perlakuan itu lagi. Namun, dia tidak ingin ditemani ketika sampai ke rumah Abfizar nanti.
Dia mengatur perasaannya, tidak ingin memperlihatkan kelemahan pada teman-teman. Sanubari sungguh menyesal. Mereka baru saja mengambil langkah pertama, tetapi terpaksa harus berhenti gara-gara dirinya.
Hanya beberapa menit, mereka tiba di rumah Abrizar. Mengetahui Ajrizar ada di rumah Aljunaedi, dia menyusul. Seorang gadis kecil bercadar. Saat Sanubari mengulurkan tangan, mengajak kenalan. Gadis itu hanya mengangkat tangan yang tenggelam dalam lengan baju. Dia menyatukan kedua telapak tangan itu tanpa mau menyentuh Sanubari.
Pandangannya tidak lepas dari gadis kecil itu. Dia memiliki mata yang sangat jernih. Mau itu persis seperti milik Abrizar. Pandangannya pun selalu tertunduk. Gadis itu hanya mau melihat Sanubari sekilas, lalu menurunkan pandangan lagi. Kemudian, dia pergi begitu Abrizar datang.
Dia mendengar kabar dari Anki bahwa keluarga Abrizar datang. Mereka menginap di rumah Aljunaedi. Setahu Sanubari, Aljunaedi tinggal sendirian. Jadi, dia mengira gadis yang menyambutnya tadi adalah adik Abrizar.
Pria tuna netra itu tersenyum. Tidak ada penolakan dari mulutnya. Yang artinya, dugaan Sanubari benar.
"Seriusan?" Sanubari seakan tidak percaya, "Gamis yang pernah Kakak pinjamkan padaku itu mau Kakak berikan padanya? Mana pas, Kak? Yang ada, bocah itu bakal tenggelam. Di aku saja masih longgar."
Sanubari membayangkan tubuh kecil gadis tadi. Tingginya bahkan tidak ada sebahu Sanubari. Pilihan Abrizar sungguh membuatnya mengernyit.
Pada saat itu, Aradia datang membawa dua cangkir teh dan toples camilan. Diletakkannya makanan dan minuman itu ke meja sambil menimpali, "Kamu benar. Padahal, sudah kubilang untuk tidak mengirimi adiknya gamis lagi, tapi dia tetap membelikannya. Banyak sekali gamis bagus hanya tersimpan di almari karena belum muat di tubuh Fai."
"Aku mana tahu ukuran Fai. Jadi, kubelikan saja yang menurutku kainnya nyaman."
"Adikmu itu masih setinggi anak SD, Bri! Sementara gamis yang kamu berikan itu seukuran gadis dewasa. Masih lama terpakainya," jelas Aradia.
"Aku tidak tahu setinggi apa anak SD itu. Bagus kalau masih kebesaran, kan? Daripada kekecilan dan tidak bisa dipakai."
__ADS_1
Abrizar menjawab seperti anak polos. Namun, itu fakta. Dia tidak bisa melihat. Jadi, tidak bisa mengira-ngira ukuran baju seseorang.
"Repot kalau mau memberi tahu kamu. Kuharap hobi anehmu itu bisa membaik suatu saat."
Aradia geleng-geleng. Dia tidak pernah bisa melarang Abrizar. Pria itu selalu bertindak seenaknya, meski menurutnya terkadang itu adalah pemborosan.
"Apanya yang aneh? Aku hanya membelikan pakaian untuk keluarga," sangkal Abrizar.
Sanubari memperhatikan ibu Abrizar. Rupanya, Abrizar dan adiknya mewarisi mata sang ibu. Ketiganya memiliki mata sama persis. Kecantikan sang ibu pun menurun pada Abrizar.
"Ya, ya, ya, terserah kamu saja! Kalian lanjutkan ngobrolnya. Maaf tadi menyela," ucap Aradia yang kemudian berpamitan.
"Itu tadi ibuku. Ayahku juga ada di sini, tapi sedang keluar dengan Abi Jun," ungkap Abrizar.
"Ah, rasanya aku juga ingin ibuku sendiri ada di sini. Ibu Kak Abri baik, ya."
"Begitulah. Aku bersyukur masih memiliki ibu dan ayah pengganti yang baik. Tidak masalah siapa pun ayah kandungku. Ayahku Yang sekarang sudah seperti ayah kandungku sendiri. Jika kau ingin ibu, kau bisa meminta ayahmu untuk menikah lagi."
Sanubari menggeleng. Bagi Sanubari, ibunya hanya satu. Satu itu tidak tergantikan.
"Aku tidak mau ibu baru. Mungkin aku tidak akan bisa bersikap seperti Kakak, andai memiliki ibubaru."
"Latar belakang kita memang beda. Tapi, bagaimana bila ayahmu ingin menikah lagi?"
"Entahlah."
Sanubari mengangkat bahu. Dia tidak ingin membayangkan itu terjadi. Maksud hati ingin mencari hiburan. Namun, pembicaraan keluarga ini malah membuat Sanubari makin muram.
Untuk itu, dia mengalihkan topik, "Kapan Kakak siap untuk langkah berikutnya?"
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Bagaimana kondisi tubuhmu?"
"Aku baik-baik saja. Aku siap kapan pun. Buktinya, aku bisa berjalan sampai sini," dusta Sanubari.
Dia tidak perlu mengatakan bahwa dia sempat jatuh saat berusaha lari ke sini. Kondisi tubuhnya sekarang sangat merepotkan. Dia tidak ingin itu menjadi penghalang baginya untuk terus maju.
__ADS_1