
"Itu karena mereka belum mendapatkan kunci terakhir," jawab Kelana.
"Untuk apa kunci terakhir itu?" tanya Eiji.
"Kurang tahu. Tapi, Tuan Gafrillo dan Tuan Aeneas sampai dikejar-kejar karenanya. Mungkin itu sesuatu yang menentukan keberhasilan misi mereka. Mereka tidak pernah muncul di hadapan Tuan Aeneas lagi setelah tahu Tuan Aeneas tidak memiliki tanda seperti Tuan Gafrillo."
"Jadi, mereka sudah menemukan kunci terakhir? Karena itukah mereka memutuskan untuk segera melancarkan rencana?" terka Abrizar.
Para sahabat Sanubari membayangkan kunci layaknya kunci pintu. Mereka mengira itu mungkin saja kunci untuk membuka suatu ruangan, brankas, atau mungkin untuk menyalakan sesuatu. Namun, itu sebenarnya lebih dari yang mereka bayangkan.
"Bisa jadi. Proyek mereka benar-benar mengerikan. Selain memasang penghancur di bawah tanah, mereka juga membiakkan monster-monster yang katanya akan dibawa ke permukaan," jawab Kelana.
Sai teringat kepiting, buaya, ular listrik, serta ikan-ikan aneh yang disebut Kelana sebelumnya. Itu mengingatkan Sai pada Jurassic Park dan Godzilla yang sudah mengalami remake berulang kali. Untuk mengalahkan makhluk sebesar itu, apalagi memiliki cangkang keras, rudal pada pesawat tempur pada umumnya tidak akan cukup. Dia harus menciptakan sesuatu yang lebih efektif dan efisien untuk bersiap sebelum itu benar-benar terjadi.
"Berbicara soal monster, salah satu rekan kami juga bisa menetaskan kucing dari telur ayam."
"Paman Fukai, mana bisa kucing sekepal bersayap disebut monster?" Renji tertawa.
"Intinya, mereka sama-sama bermain-main dengan gen makhluk hidup untuk menciptakan binatang aneh. Mungkin kita bisa minta bantuan Mana kalau hewan-hewan abnormal berbahaya sungguh di lepasliarkan."
"Kucing kecil memang tidak bisa dibandingkan dengan monster yang saat ini sedang dikembangkan di bawah tanah. Mayoritas dari mereka dua kali lipat lebih tinggi dari manusia. Yang lebih buruk dari itu, mereka dirangsang untuk menumbuhkan kebuasan," timpal Kelana.
Renji menyahut, "Aku tidak mengerti dengan pola pikir orang semacam itu. Kupikir hanya Sanu saja bocah naif yang tidak masuk akal. Ternyata, ada yang lebih tidak masuk akal lagi dari dia."
"Kami sudah berusaha mengumpulkan banyak informasi. Kami juga mencoba mengirimkan orang ke bawah tanah. Namun, mereka selalu berakhir lenyap tanpa kabar. Perlu percobaan ribuan alat mata-mata hingga akhirnya kami bisa menyusupkan satu untuk mengumpulkan informasi."
"Jadi, kalian memberitahukan semua ini pada kami karena ingin kami terlibat sebelum mereka benar-benar melaksanakan rencana itu?"
"Kau sungguh bisa menangkap poinnya dengan tepat meski belum diminta. Kau memang hebat, Abri! Kami yakin kalian semua pasti bisa memiliki kemajuan lebih dari kami. Apalagi, ada orang seperti Abri di antara kalian. Sanu sungguh pandai mengumpulkan teman," puji Kelana.
"Itu terdengar berbahaya. Tapi, aku akan membantu bila ini memang berkaitan dengan keberlangsungan kehidupan," ujar Eiji.
Renji mengangguk "Benar. Orang macam apa yang ingin meledakkan tempat tinggal sendiri? Apa orang-orang gila itu berniat bertransmigrasi ke jupiter?"
Kelana tersenyum. "Kami akan sangat bersyukur bila kalian sungguh bersedia terlibat. Ini informasi terakhir untuk kalian. Sebagian besar jalan ke bawah telah dimusnahkan. Hanya tersisa empat yang kami ketahui. Pertama, tambang emas besar di Irian Jaya. Kedua, tambang minyak di Brunei Darussalam. Ketiga, perairan yang dikenal Segitiga Bermuda. Keempat, ada di sekitar Pulau Mafia."
__ADS_1
Pembicaraan panjang malam itu memberikan tujuan baru. Mereka sepakat untuk melanjutkan penyelidikan yang telah dilakukan Aeneas. Pada mulanya, mereka sempat bimbang antara akan melanjutkan agenda yang telah ada atau tidak.
Pasalnya, bila hari kehancuran itu benar-benar tiba, proyek yang mereka bangun pastilah hancur tepat saat baru berdiri. Itu terdengar menyakitkan, seolah melakukan hal yang sia-sia. Akan tetapi, tidak melakukan apa-apa karena takut dihancurkan pun bukan pilihan bijak. Mereka akan sangat menyesal hanya berdiam diri andaikata yang diinformasikan Kelana ternyata tidak jadi terjadi di masa depan.
Setelah melakukan diskusi lanjutan di rumah Abrizar, mereka sepakat untuk tetap menjalankan agenda seperti rencana semula. Keabsenan Sanubari tidak akan mereka biarkan menjadi pembubaran organisasi yang baru dirintis. Mereka harus memanfaatkan waktu yang ada untuk membuat perkembangan sebisa mungkin.
Perencanaan pencegahan dari segala kemungkinan kehancuran akan mereka pikirkan sambil jalan. Untuk saat ini, mereka memprioritaskan proyek terdekat. Salah satunya adalah memastikan kasus Samad yang menyeret Akbar bisa terselesaikan.
Pada hari yang telah ditetapkan, Sai dan Renji bersiaga. Mereka mengapung di atas laut, menantikan detik-detik penyergapan. Sai memperhatikan monitor. Layar pada layar tanam di dashboard menampilkan sosok yang berdiri di dermaga. Itu merupakan proyeksi hasil rekaman langsung animatronik yang diterbangkan Sai.
"Sepertinya, keren juga bila kita bisa menjadi orang pertama yang ke bulan dengan naik mobil." Renji berbaring di jok kemudi.
Dia merebahkan sandaran jok hingga tubuh bisa melihat ke atas tanpa mendongak. Atap mobil diubah ke mode transparan. Bulan bergerak semakin tinggi. Jalan bulan secara perlahan memudar.
"Nama kita mungkin akan ditulis dalam sejarah." Renji terkekeh.
"Sudah Mulai," ucap Sai pelan.
Renji lekas bangkit. Sandaran diposisikan seperti semula. Kini, visinya fokus pada pemandangan di hadapan.
Angin laut bergemuruh. Tiupannya memberatkan langkah. Namun, bukan masalah bagi anak buah kapal terlatih.
Dermaga tampak remang-remang. Beberapa bangunan telah memadamkan penerangan. Dari salah satu bangunan gelap tersebut, polisi berhambur.
"Diam di tempat!" teriak komandan operasi, "angkat tangan kalian!"
Samad tersentak. Polisi berseragam lengkap berlari ke arahnya. Kera kecil di pundak sang rekan sontak menyalak. Ia melompat, berlari karena terkejut akibat suara-suara ramai yang mendadak menyergap.
Para ABK berhenti. Mereka melakukan perintah polisi. Meskipun begitu, mereka tampak lebih tenang dari yang dibayangkan.
Empat polisi langsung mengapit Samad dan rekannya. Polisi lain mendekati ABK satu per satu. Mereka menodongkan pistol.
"Buka ini!"
"Siap, Dan!"
__ADS_1
"Periksa juga truk itu!"
Para polisi lain lekas menyebar. Mereka membuka peti dengan pisau, juga memanjat truk untuk melihat isinya. Tidak tanggung-tanggung, mereka membongkar muatan dan peti yang sudah ada di dermaga.
Gelondongan kelapa berdebum-debum. Mereka menggelinding ketika pintu belakang truk dibuka. Bunyinya begitu berisik, seperti bebatuan yang jatuh dari ketinggian.
"Lapor, Dan! Truk ini hanya berisi kelapa."
"Di sini juga hanya ada buah-buahan."
Persik, kiwano, semangka menggunung sepanjang dermaga. Anjing polisi hanya menggonggong. Mereka mengendus-endus tanpa memberikan pertanda berhasil menemukan barang terlarang yang dicari.
"Apa-apaan ini? Kenapa kalian menodongkan pistol pada kami?" kata Samad.
"Pak Polisi, kalian tidak hanya menghambat pekerjaan kami, tapi juga memperbanyak pekerjaan kami. Saya harap kalian berkenan bertanggung jawab, membantu mengemas semua ini."
"Apa yang sebenarnya kalian cari dari peti-peti kami?" Samad tersenyum.
Ketika para polisi dalam kebingungan, sebuah suara tiba-tiba terdengar dari alat komunikasi yang mereka sematkan ke telinga. Suara asing itu memberikan instruksi. "Pecah semua kelapa dan buah yang ada! Yang kalian cari ada di sana."
Tanpa banyak bicara, seorang polisi mengambil sebuah persik. Dia membelahnya menjadi dua. Serbuk putih sedikit tercecer. Kening mereka seketika berkerut. Daging buahnya hanya setebal jari kelingking, sedangkan tengahnya berongga. Di antara rongga itulah serbuk putih tersimpan. Buah persik tidak seharusnya seperti itu.
Anjing polisi langsung berlari mendekat. Hewan itu mengendus. Salakannya mengudara.
"Dan, ini heroin."
"Ada sabu-sabu juga dalam semangka."
Alih-alih daging merah menyegarkan, benda terlarang itulah yang mereka temukan ketika membelahnya. Para polisi semakin tercengang. Dilihat dari mana pun, semua kulit buah tampak segar. Tidak ada bekas goresan maupun belahan.
"Bagaimana bisa semua ini dimasukkan ke dalam buah utuh?"
"Dalam kelapa juga ada ganja!" seru seorang polisi. Merasa tidak yakin, dia mengambil kelapa lain secara acak. Kemudian, dia mengayunkan golok lagi. Begitu terbelah, daun-daun ganja lagi-lagi terlihat berjubal di tengah kelapa yang airnya telah mengering.
"Jadi, ada dukun yang terlibat dalam peredaran obat-obatan terlarang ini?" celetuk salah satu polisi.
__ADS_1
Mereka ingin menyangkal. Namun, pemandangan di depan mata terlalu nyata. Memasukkan benda-benda asing ke dalam sesuatu yang tidak berlubang—itu terdengar seperti pekerjaan supranatural.