
Langit biru bagaikan lautan. Seorang anak memakai hoodie jumper berwarna senada tengah berjongkok, memandang pohon singkong yang baru mendekati tiga minggu usianya. Bocah lakii-laki itu sedang melakukan ritual paginya yang telah menjadi rutinitas wajib. Dialah Sanubari.
Seusai mengakhiri kewajibannya, Sanubari keluar dari rumah kaca hangat. Dia memasukkan kedua telapak tangannya ke saku yang ada di perut. Sanubari menghembuskan napas dari mulutnya. Kepulan karbondioksida berwujud asap pun terlihat.
"Dinginnya."
Ini adalah suhu terendah yang pernah dirasakan Sanubari. Suhu terendah di kabupaten Blitar adalah tujuh belas derajat Celcius. Menurutnya suhu serendah itu saja sudah sangat dingin. Apalagi kondisi di sekitar danau Garda pagi ini yang mencapai sembilan derajat celcius.
Sanubari sudah seperti berada di dalam almari pendingin ketika berada di luar ruangan. Hembusan angin membuat tubuhnya semakin merinding meskipun sudah memakai jumper hangat. Dia terus berjalan dengan gigi gemeretak. Hawa dingin itu pun berganti menjadi hangat ketika Sanubari memasuki rumah.
Pagi ini ada pemandangan berbeda. Tiba-tiba dua anak kecil berlari menghampiri Sanubari. Salah satu dari mereka menyapa terlebih dahulu.
"Hai! Kau pasti SanubaRI, kan?" tanya seorang anak berambut pendek.
"Iya, kalian siapa, ya?" tanya Sanubari.
"Kenalkan, aku Kumbara!" Anak berambut pendek itu mengulurkan tangannya.
Sanubari menyambut uluran tangannya. Dia memperhatikan kedua anak itu. Mereka berdua tinggi. Sanubari hanya setinggi telinga mereka.
"Salam kenal, aku Sanubari."
"Sudah tahu.
"Oh, iya. He he he."
"Namaku Embara. Panggil saja Em!" Anak berambut panjang dengan kuncir dua juga mengulurkan tangannya.
Sanubari beralih menjabat tangan Embara. "Salam kenal juga, Em! Wajah kalian sama. Tapi, untung ya model rambut kalian berbeda."
"Sebenarnya aku juga tidak ingin memiliki wajah serupa dengannya. Tapi, apa boleh buat. Kami kembar," jawab Embara.
"Oh, jadi kalian berdua perempuan?" tanya Sanubari.
"Enak aja! Em memang perempuan tapi aku ini cowok tulen tahu! Aku bisa membuktikannya padamu." sanggah Kumbara.
"Maaf. Habisnya muka kalian sama. Jadi kupikir ...."
"Kau mau lihat buktinya?" tawar Kumbara yang tidak terima dikira perempuan.
"Tidak-tidak!' tolak Sanubari sambil menggeleng dan membuat gestur penolakan dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Rasanya aku ingin cepat besar seperti papa. Jadi, aku bisa memiliki suara yang lebih keren dan tidak akan ada lagi orang yang mengira aku sebagai perempuan," gerutu Kumbara yang kemudian ditertawakan oleh Embara.
Kedua anak kembar itu pun pada akhirnya berdebat. Sebenarnya ada hal lain yang mencuri perhatian Sanubari. Akan tetapi, kedua bocah ini terburu menghadangnya.
Aeneas hari ini berpenampilan berbeda. Biasanya dia memakai baju kasual. Namun, hari ini dia memakai setelan jas rapi. Selain itu, ada pula Dantae. Kelana, Dantae dan Aeneas terlihat mengobrol sejenak.
Setelahnya, Aeneas menghampiri Sanum lalu mengecup keningnya. Berikutnya dia berjalan mendekati Sanubari.
"Papa hari ini terlihat berbeda," ucap Sanubari.
"Apa papa jelek?" balas Aeneas.
"Papa sangat keren!"
"Wah, ternyata Paman Aeneas bisa berbicara bahasa Indonesia," timpal Kumbara.
"Terimakasih kepada papa kalian," ucap Aeneas kepada Kumbara dan Embara, "kalian berteman Sanubari!"
Aeneas memang sudah bisa berbicara bahasa Indonesia. Namun, dia belum fasih. Aeneas baru bisa memahami sedikit dari kata yang dia ketahui saja.
"Siap!" jawab Embara dan Kumbara bersamaan.
"Papa mau kerja. Sampai jumpa, Sanu!" Aeneas mengusap pelan puncak kepala Sanubari lalu pergi.
"Anak-anak, kenapa masih berdiri di situ? Ayo cepat kemari!" panggil Sanum.
Mereka bertiga pun menjawab lalu berlari ke meja makan. Sebenarnya Embara dan Kumbara sudah sarapan di rumah tetapi mereka ikut sarapan lagi di rumah Sanubari. Mereka hanya sarapan roti dan selai di rumah. Ini pertama kalinya bocah kembar itu menyantap nasi pagi-pagi.
*****
"Kenapa sulit sekali mengalahkan Kumbara?" batin Sanubari.
Ini adalah duel ke lima hari ini. Empat kali berturut-turut Sanubari kalah telak. Dia tidak bisa menyentuh tubuh Kumbara Sama sekali. Bertahan dari serangan Kumbara pun tidak bisa.
Bunyi hentakan kaki, decitan dan logam bergesekan serta saling berbenturan terus bergema di ruangan. Sanubari mundur untuk menghindari tusukan Kumbara.
"Uwa!" Sanubari terjatuh. Punggungnya membentur loper.
"Cukup!" Kelana menghentikan mereka berdua.
Sanubari masih berbaring. Kumbara mendekati Sanubari. Dia mengulurkan tangannya, bermaksud membantu Sanubari bangun. NAmun, Embara ikut-ikutan mendekat dan mengulurkan tangan.
__ADS_1
"Kenapa kau kemari, Em?" Kumbara menoleh kepada saudara kembarnya.
"Tentu saja untuk membantu Sanu."
"Aku saja cukup. Kau tidak usah ikutan!"
"Kenapa kau melarangku? Papa saja tidak melarangku. Suka-suka aku dong!"
"Pinjamkan aku tangan kalian berdua!" sela Sanubari mengulurkan kedua tangannya.
Sementara foil miliknya ia biarkan tergeletak di atas loper. Dia hanya ingin menengahi mereka berdua. Hatinya merasa senang. Untuk pertama kalinya ada teman seumuran yang memperhatikannya. Semenjak ikut bersama ayahnya, banyak sekali hal baru yang didapat Sanubari.
Sanubari pun bangkit dengan bantuan kemnbar. Dia melepas maskernya dan meletakkan ke sebelah tempatnya duduk. Latihan ini sangat melelahkan. Napasnya terengah-engah.
"Minum dulu, Tuan Muda!" Kelana menyerahkan sebotol air mineral kepada Sanubari dan satu lagi untuk Kumbara.
"Terimakasih, Paman," ucap Sanubari lalu meneguk airnya.
"Anda masih sering menyeret kaki baik ketika melangkah maju atau mundur. Usahakan untuk tidak menyeret kaki supaya Anda bisa bergerak lebih mudah," ucap Kelana mengevaluasi hasil latih tanding hari ini.
"Papa kenapa dari tadi pakai bahasa sangat formal begitu?" tanya Kumbara.
"Iya benar. Terdengar kaku tahu!" balas Embara menyetujui Kumbara.
"Tuan Muda Sanu ini tuannya papa. Sudah sewajarnya papa bersikap sopan terhadap Tuan Muda meskipun Tuan Muda Sanu masih kecil," jelas Kelana.
"Em dan Kumbara benar, Paman. Anggap saja aku ini seperti anak sendiri! Kurasa papa tidak akan memarahi Paman hanya karena bahasa." Sanubari tersenyum.
"Iya, aneh tahu kita dengarnya kalau Papa berbicara seformal itu," imbuh Embara.
"Baiklah kalau begitu."
Latihan diakhiri. Keluarga Kelana pulang setelah makan malam bersama. Selepas makan malam pun Sanubari pergi ke kamarnya. Dia merebahkan tubuh ke atas kasur.
Tubuhnya terasa pegal-pegal. Sanubari memikirkan kekalahannya hari ini. Satu poin pun dia tidak bisa mencetak skor.
Rasa takut mulai menghampirinya. Sekitar dua setengah bulan lagi pertandingan sesungguhnya dimulai. Sedangkan dalam latihan saat ini saja Sanubari tidak bisa apa-apa.
Sanubari takut mempermalukan keluarganya. Sanubari takut mengecewakan ayahnya. Apalagi Sanubari harus membawa nama Indonesia dalam ajang internasional. Itu merupakan beban berat baginya.
Bayangan tentang dirinya yang dulu dihina dan dijauhi karena matanya kembali terlintas. Dia khawatir hal yang sama akan terulang jika ia gugur di awal pertandingan nanti. Bahkan mungkin lebih buruk dari yang dulu bisa saja bila ia mendapatkan kekalahan nanti.
__ADS_1
Sanubari berhuling-guling di kasurnya. Pikirannya tidak tenang. Dia tertekan dengan kondisinya sekarang.