Santri Famiglia

Santri Famiglia
Rencana Masa Depan


__ADS_3

"Aku akan menunggu sampai Kau siap," Embara mengusap air matanya, "ah, sampai saat itu tiba, bagaimana kalau kita berfoto bersama sekarang sebagai kenangan pertemuan kembali?"


Embara merangkul lengan Sanubari. Ia menyuruh pemuda itu tersenyum pada kamera. Saat Embara mengangkat ponsel untuk mencari sudut pengambilan gambar yang lebih bagus, tiba-tiba kepala ke tiga muncul di antara refleksi mereka berdua.


"Em-ba-ra."


Teguran itu membuat ke dua remaja terlonjak kaget. Untungnya, Embara tidak menjatuhkan ponsel Sanubari. Mereka berdua pun berbalik badan. Pandangan mereka disapa Kelana yang.berdiri bersedekap dengan muka masam.


"Pa-papa ...."


Embara tergagap. Jantungnya masih berdebar-debar tak terkendali.


"Mesra-mesraan malam-malam seperti ini di kamar lelaki, apa yang sedang kau pikirkan? Tidak sepatutnya anak gadis sepertimu berduaan di kamar bersama seorang pria. Cepat kembali ke kamarmu!" perintah tegas Kelana.


Embara tidak berani membantah. Buru-buru, ia keluar dari kamar Sanubari. Begitu tegangnya, sampai-sampai gadis itu lupa mengembalikan ponsel pada pemiliknya.


Ia baru menyadari bahwa ponsel Sanubari masih di genggamannya ketika merebahkan tubuh ke kasur. Meskipun dikejutkan dengan kedatangan Kelana, tetapi Embara berhasil menekan tombol tepat waktu. Gadis itu pun senyam-senyum mengamati foto dirinya bersama sang pujaan hati. Namun, ekspresinya mendadak berubah kala menyadari orang ke tiga yang turut terabadikan dalam satu lembar foto digital itu.


"Yah, papa ikutan kepotret. Padahal 'kan seharusnya aku cuma berdua dengan Sanu," dengusnya kesal, "ah, sudahlah! Anggap saja ini sama seperti unggahan pertama Sanu."


Embara memang mengambil foto itu untuk menyaingi unggahan pertama Sanubari. Kebetulan sekali kesempatan itu kini di tangannya. Embara segera duduk kembali.


Dengan hati gembira, Embara mengetikkan 'Masa depan yang ingin selalu kuingat' pada kolom keterangan. Tanpa pikir panjang, Embara langsung menekan tombol unggah. Tak lupa, ia juga menandai diri sendiri dan membuat akun Sanubari mengikutinya. Embara tersenyum puas telah berhasil membuat unggahan baru dengan akun Sanubari.


Sementara itu, di kamar Sanubari. Remaja yang tertangkap basah sedang berduaan merasa canggung. Terlebih lagi, yang memergoki adalah ayah si gadis. Meskipun mereka berduaan bukan atas kehendaknya, tetapi Sanubari tetap merasa tak enak hati.

__ADS_1


"Paman, aku tahu aku salah. Jika ada sesuatu yang bisa kulakukan untuk menebus dosa-dosa karena terlalu dekat dengan Em, kumohon beritahu aku! Aku tidak keberatan andaikan Paman menghukumku."


Kelana tidak menduga Sanubari akan bereaksi seperti itu. Sepertinya Sanubari telah tumbuh menjadi sosok yang sedikit lebih dewasa dan bertanggung jawab. Akan tetapi, Kelana tetap khawatir terhadap anak gadis satu-satunya itu. Bagaimanapun juga mereka sama-sama muda, tidak menutup kemungkinan Sanubari bisa jatuh pada godaan Embara yang terus-terusan menempel.


Kelana seharusnya sudah siap dengan resiko mengundang Sanubari ke rumah. Enam tahun lalu, ia sudah kecolongan dengan tindakan keduanya. Ia hanya berharap tidak akan kecolongan hal yang lebih besar, mengingat kamar Sanubari tidak jauh dari kamar Embara dan keduanya sudah sama-sama tumbuh menjadi remaja.


"Aku tidak keberatan kalian berhubungan dekat, tetapi kuharap kalian tahu batasan masing-masing," nasihat Kelana masih dalam posisi sama.


"Aku berjanji tidak akan melanggar batasan. Aku tahu batasan-batasan selama kami belum terikat pernikahan."


"Ah, sudahlah! Aku kemari sebenarnya bukan untuk membahas itu. Aku kemari untuk ...."


Kelana memberikan kartu-kartu yang disatukan seperti gantungan kunci kepada Sanubari. Kartu-kartu itu di antaranya adalah free pass yang didapatkan Sanubari ketika pertama kali memenangkan olimpiade anggar. Ada pula kartu debit—tempat penyimpanan semua hadiah olimpiade berupa uang serta penghasilan bersih kafe singkong Sanubari.


Selama ini Aeneas memang menyuruh Kelana menyimpan semua uang yang diperoleh Sanubari dengan usahanya sendiri dalam akun bank atas nama Sanubari. Sedikit pun Aeneas tidak mengurangi harta yang memang menjadi hak Sanubari. Selama ini Kelana yang menyimpan kartu-kartu itu karena Sanubari masih terlalu kecil. Sekarang Sanubari sudah cukup besar, Kelana merasa tidak ada salahnya menyerahkan itu semua sekarang. Ia berpesan kepada Sanubari untuk menyimpannya baik-baik.


Sanubari tersenyum memandangi pemberian Kelana. Sepertinya ia tidak perlu bekerja keras untuk kembali ke Indonesia. Ia juga memiliki cukup modal untuk merintis usaha. Kepalanya kini dipenuhi angan-angan tentang apa yang akan ia lakukan berikutnya.


"Selain itu, aku juga ingin membicarakan tentang masa depanmu." Kelana berpindah tempat, bersandar pada pagar pembatas di sebelah Sanubari.


Sanubari terbatuk. Mendadak ia menjadi gugup. Ia teringat perkataannya pada Embara barusan. Uang memang sudah di tangan, tetapi masih ada satu hal yang mengganjal hati Sanubari.


"Pa-paman, aku belum siap menikahi Embara. Um ... anu ... itu ... Paman tahu sendiri tahu, bukan? Aku ini hanya pria bodoh, tak pernah sekolah, tak punya pekerjaan pula. Belum lagi, kesialan terus saja menghampiriku. Banyak orang aneh yang mendadak menyerangku," cerocos Sanubari malu-malu.


Kelana tertawa lepas. Ia menepuk-nepuk bahu Sanubari. "Sanu-sanu! Siapa juga yang mau menyuruhmu menikah, hah?"

__ADS_1


Sanubari menoleh kepada Kelana yang masih terbahak. "Eh, tapi tadi Paman bilang mau membahas masa depanku?"


"Kau benar, tapi masa depan itu tidak harus berkaitan dengan pernikahan, kan?"


"Um." Sanubari tertunduk malu sambil mengangguk pelan.


"Aku di sini untuk membahas salah satu masalah masa depan yang kau khawatirkan ...."


Kelana mulai menjelaskan bahwa tidak masalah jika Sanubari tidak pernah lulus dari sekolah menengah, baik pertama maupun atas. Toh segala yang dipelajari pada jenjang tersebut tidak ada kaitannya dengan perguruan tinggi. Kelana berniat untuk mempersiapkan Sanubari menghadapi ujian masuk perguruan tinggi.


Tentu Sanubari diperbolehkan memilih bidang yang ia sukai. Kelana akan menyesuaikan materi berdasarkan pilihan Sanubari. Namun, Sanubari menolak.


"Biaya untuk kuliah pasti tidak sedikit."


"Jangan khawatirkan itu! Kau cukup fokus belajar! Semua biaya akan ditanggung tuan Aeneas."


Mendengar itu, raut muka Sanubari mendadak murung. "Aku tidak ingin mengandalkan papa."


Kelana menggaruk kepala seraya menghela napas. Remaja bau kencur yang satu ini suka sekali mempersulit diri sendiri. Padahal hidup bergelimang harta, ingin apa pun tinggal minta, tetapi ia malah memilih menjauh dari kemudahan.


Akan tetapi, Kelana bisa mengerti. Sanubari mungkin belum bisa menerima kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka berdua. Kelana tidak ingin mengulik permasalahan ini lebih dalam. Memberikan waktu bagi Sanubari untuk melebur segala rasa sepertinya satu-satunya pilihan terbaik saat ini. Meskipun demikian, pembicaraan topik utama tetap dilakukan.


"Kau bisa menggunakan uangmu sendiri jika tidak ingin tuan Aeneas ikut campur."


"Ini," Sanubari kembali memandangi kartu-kartu di tangannya, "aku berencana menggunakan uang-uang ini untuk hal lain."

__ADS_1


———©———


Teman-teman pemakai instagram, follow juga akun chonurv jika berkenan, ya!


__ADS_2