
Satu jam sebelum ke dotonbori.
"Asyik makan gratis! Rasanya aku rela maraton setiap pagi bila bisa bekerja sesantai ini dan makan enak tanpa harus susah payah," ucap Sanubari seraya memandang hidangan yang memenuhi mejanya.
Setengah pesanannya telah diantarkan setelah dia menghabiskan sirip hiu. Aneka olahan Cina itu seolah tersenyum menggoda, merangsang Sanubari untuk segera menikmatinya. Remaja itu menjilati bibir. Dia tidak peduli dengan tujuan sebenarnya diajak ke tempat ini. Satu tujuan yang kini dia tahu dan yakini. Yakni, makan-makan sepuasnya.
"Itadakimasu!" Sanubari mengatupkan kedua telapak tangan, "eh, tunggu dulu! Bukankah ini restoran Cina? Hm, apa bahasa Cinanya selamat makan?"
"Entahlah." Sai mengelap mulutnya dengan tisu. Sirip hiu miliknya juga sudah habis.
"Ah, terserahlah kalau begitu! Makan yang mana dulu, ya?" Mata Sanubari bergerak ke sana ke mari.
Dia bingung hendak mengawali santapannya dari mana. Pada akhirnya, dia mengambil lumpia dengan tangan telanjang karena tidak ingin direpotkan sumpit.
"Hm, ini enak," netra Sanubari menyipit seiring melebarnya bibirnya, " Kak Sai, ayo coba juga!"
"Habiskan saja sendiri! Aku sudah cukup." Sai tersenyum.
Sanubari benar-benar melahapnya tanpa sungkan. Bebek dan steak sapi pun dimakannya tanpa bantuan alat. Sisa-sisa bumbu yang menempel pada jari dijilatinya sampai bersih. Sai memandang heran dengan cara makan Sanubari. Menurutnya, Sanubari seperti anak kecil yang baru belajar makan.
Ketika Sanubari sedang menggigit ayam, lelaki yang menyambut mereka sebelumnya datang kembali. Pria itu berkata, "Maaf mengganggu acara makan kalian," memandang Sai dan Sanubari secara bergantian tanpa melepas senyum, " bagaimana hidangannya?"
"Mantap!" Sanubari mengacungkan jempolnya.
Sementara Sai memandang ke sekitar, mencari sosok yang mungkin datang bersama pria itu. Namun, dia tidak menemukan orang lain. Tempat itu masih sesepi sejak mereka pertama kali datang.
"Saya senang kalian menikmatinya. Sekali lagi saya mohon maaf."
Sai merasa aneh dengan permintaan maaf berulang tersebut. Firasatnya mengatakan ada yang sedang disembunyikan oleh pria di hadapannya ini. Namun, dia sama sekali tidak menyela dan mengungkapkan kecurigaannya.
"Tuan Yang hari ini tidak bisa hadir karena ada keperluan mendesak. Tapi tidak perlu khawatir, makanan di restoran hari ini tetap bisa kalian nikmati sepuasnya secara cuma-cuma." Pria itu melanjutkan.
"Bagaimana dengan kontraknya?" tanya Sai dengan tenang.
Sejak awal, perihal ini sebenarnya bisa diselesaikan tanpa harus melakukan tatap muka langsung. Seperti itulah sekelumit tugas divisi Eiji, menyelesaikan masalah melalui media digital. Anehnya, tugas tatap muka ini tetap diberikan kemarin.
__ADS_1
"Itu bisa dilanjutkan via email. Tuan Yang akan menyetujui semua tawaran. Begitulah yang disampaikan tuan Yang sebelum pergi," ungkap pria itu seraya tersenyum lebar.
Sai menatap pria itu penuh selidik. Dia tahu pria itu hanya menunjukkan senyum palsu. Ada ketegangan samar yang terdengar dari suara sang pria.
"Mengabaikan pertemuan ini merupakan kesalahan sedang. Jika tuan Yang berani mengingkari perjanjian atau membangkang, maka kami tidak akan segan." Sai memperingatkan.
"Tuan Yang paham akan resiko tersebut. Beliau tidak mungkin kabur secara diam-diam." Pria itu meyakinkan.
Sanubari tidak mengerti isi pembicaraan Sai dan orang itu. Tidak ada pelajaran yang bisa Sanubari peroleh dari pertemuan hari ini, sekalipun Eiji menyuruhnya menambah pengalaman serta belajar bersama Sai. Tak mau ambil pusing, dia pun menyibukkan diri dengan makanan, mengabaikan pembicaraan yang menurutnya tidak penting.
Makanan lain datang, pria itu pun berpamitan. Beberapa menit berikutnya dimanfaatkan Sanubari untuk mengosongkan isi piring di atas meja. Wine dalam botol menjadi satu-satunya yang utuh tak tersentuh.
Sai sedang tidak ingin minum minuman beralkohol pagi-pagi, sedangkan Sanubari tidak bisa meminumnya karena benda itu haram baginya. Keduanya hanya minum air putih. Begitu semua menu masuk ke perut Sanubari, mereka berjalan menuju stasiun.
"Ah, kenyangnya," celoteh Sanubari sambil menepuk-nepuk perut yang padat, "habis makan, jalan-jalan. Lumayan untuk mengosongkan isi perut lagi."
Sanubari terkekeh. Misi hari ini benar-benar hanya untuk jalan-jalan santai. Tak ada baku tembak, tak ada perkelahian. Misi yang bagus untuk menyegarkan mental bagi Sanubari.
"Ngomong-ngomong, kita mau ke mana setelah ini? Menyusul kak Eiji dan kak Ren?" tanya Sanubari yang mendominasi percakapan.
Mereka kembali melewati terowongan berhias grafiti. Sai mencoba mengingat perintah Eiji sebelum menjawab, "Kita jalan-jalan ke Dotonbori saja. Pemandangannya bagus di sana."
Dari pesan Eiji waktu di Shinkansen, Eiji tidak mengharapkan kedatangan Sanubari. Kehadiran Sai mungkin bisa meringankan pekerjaan. Namun, kehadiran Sanubari dengan keingin tahuannya yang tinggi bisa menjadi penghambat. Sai paham itu. Satu-satunya keunggulan Sanubari yang bisa Sai lihat sampai saat ini adalah ketangkasan fisiknya. Di luar itu, Sanubari sangat payah.
Mungkin karena sedikitnya pengalaman Sanubari, sehingga belum banyak potensi yang bisa dia tonjolkan. Untuk saat ini, Sai akan berperan sebagai pengasuh yang baik.
Selepas keluar dari stasiun dan berjalan beberapa meter, mereka disambut arak-arakan. Gadis-gadis berpakaian Miko berbaris rapi, menari diiringi musik yosakoi. Naruko kayu sakura berbunyi nyaring tiap kali tangan mereka gerakkan, membentuk harmoni bersama sorak semangat para penari serta lantunan lagu.
Penampilan mereka mengingatkan Sanubari pada Anki. Saat pertama kali bertemu, Anki menari di bawah labirin kanopi sakura. Gerakan gemulainya terbayang di pelupuk mata Sanubari yang berdiri tersenyum di antara barisan warga lainnya.
Dia cukup beruntung mendapatkan ruang kosong, sehingga bisa menyaksikan dengan jelas. Sai berdiri di sebelahnya. Alunan musik berubah, tempo pun melambat. Sanubari kembali pada pemandangan nyata di hadapannya.
Para penari berpencar secara teratur tanpa berhenti menari. Mereka menghampiri penonton yang berbaris di pinggir, memberikan sesuatu dari saku hakama masing-masing. Sai dan Sanubari menjadi salah satu yang beruntung.
Setelahnya, para penari kembali ke posisi semula. Musik berhenti, mereka mematung sejenak dalam pose yang bervariasi. Namun, elegan dan berseni. Musik kembali diputar bersamaan dengan taburan kelopak sakura yang ditebar dari mobil yang didekorasi menyerupai kastil, memberi efek hujan sakura. Tarian pun hidup kembali.
__ADS_1
Sakura menghujani para penari dan sebagian penumpang. Kelopak-kelopak merah muda meliuk-liuk tertiup angin, memperluas jangkauan persebaran. Dua, tiga kelopak mendarat di rambut Sanubari.
Pemuda itu menunduk, memperhatikan bingkisan di telapak tangannya. Sebungkus biskuit dark cokelat merk ternama dan gantungan lonceng persik.
"Pink lagi?" batinnya tidak habis pikir dengan apa yang didapatkannya, "mungkin nanti kuberikan pada Anki saja."
Sanubari menyimpannya ke dalam tas. Andaikan itu Hijau bergradasi putih atau biru bergradasi putih, mungkin Sanubari akan menggantung strap tersebut ke tasnya sendiri. Dia tidak butuh benda-benda pink, meskipun merah muda bergradasi putih itu terlihat bagus. Menurutnya, itu lebih pantas untuk Anki yang juga cocok dengan kalung berbandul sakura.
Mereka kembali berjalan setelah regu yosakoi tersebut berlalu. Arak-arakan masih panjang, tetapi Sanubari tidak berminat berdiri di tempat lebih lama. Dia lebih berminat dengan pemandangan indah yang dimaksud Sai.
"Kak Sai, berapa lama lagi kita akan tiba ke tempat berpemandangan bagus?"
"Kita sudah sampai."
"Sampai?" Sanubari mengangkat sebelah alis.
Dia berputar. Sejauh yang mampu di tangkap retina Sanubari, hanya ada jajaran bangunan yang tertata apik dan rapi. Arsitektur modernnya variatif serta unik. Sanubari tidak tahu bangunan apa saja itu. Namun, kondisi yang amat bersih membuat sedap dipandang.
"Kupikir kita akan melihat alam, tumbuhan, binatang. Mungkin rusa. Mungkin panda." Sanubari mendongak, menatap gambar pria raksasa berlari yang terpampang di atas gedung.
Awalnya, dia mengira gambar itu tidak begitu besar. Namun lagi-lagi perkiraannya salah setelah mereka kian dekat. Keduanya terus berjalan, melewati jembatan artistik. Nuansanya sangat berbeda dengan Indonesia.
"Kota ini indah, sangat berseni," komentar Sanubari tulus seraya menuruni anak tangga.
Pandangannya tak lepas dari aliran kanal yang cukup lebar. Jarak jembatan dan permukaan air pun cukup tinggi. Tampaknya, perahu bisa lewat di bawahnya.
Sampai akhirnya, hidung Sanubari mengendus aroma lezat, barulah kepalanya tertoleh ke arah lain. "Ini enak. Aroma apa ini?" tanyanya.
Sai menelusuri arah pandang Sanubari. "Takoyaki. Kau mau?" tanya Sai yang kembali menoleh pada Sanubari.
Remaja itu tersenyum lebar seraya mengangguk antusias tanpa malu. Dia baru saja berjalan jauh, kira-kira masih adalah ruang dalam lambungnya untuk beberapa porsi lagi. Sanubari yakin itu.
"Tunggu di sini! Akan kubelikan." Sai berlari kecil menuju kedai takoyaki.
Sanubari mengedarkan pandangan. Tempat ini dikelilingi pusat perbelanjaan. Namun, suasana begitu sepi, seperti jauh dari keramaian. Udara pun bebas polusi. Tempat yang sangat nyaman untuk menyegarkan pikiran.
__ADS_1
Karena tidak ada kendaraan bermotor, pejalan kaki tidak perlu khawatir tertabrak. Akan tetapi, siapa sangka di tempat yang laksana kota mati itu Sanubari akan diinjak oleh manusia lain.