
Kelana menyuapkan sesendok air hangat kepada Sanubari. Sesendok itu memang sedikit membasahi kerongkongan Sanubari, tetapi tidak memuaskan. Sanubari ingin menghabiskan sisanya hingga tandas. Namun, Kelana memukul tangan Sanubari dan menjauhkan gelas itu ketika ia mencoba meraihnya.
"Tidak boleh!" tegas Kelana dengan raut muka serius.
Sanubari cemberut. Ia merasa tersiksa secara fisik. Sedari tadi ia merengek-rengek meminta minum seperti anak kecil, tetapi Kelana sama sekali tidak mau memberinya barang setetes pun. Ketika ia senang akhirnya Kelana mau memberinya minuman, ternyata hanya sesendok saja yang boleh melewati tenggorokannya. Itu di luar ekspektasinya.
"Pelit! Aku sangat haus. Tenggorokanku kering. Apa Paman tidak kasihan padaku? Ayolah, Paman! Kumohon, biarkan aku minum!" Sanubari memelas.
Andaikan Sanubari bisa melarikan diri, ia pasti kabur dari sini sejak tadi. Beberapa saat yang lalu, tepatnya waktu terbangun dengan rasa luar biasa haus, Kelana sudah duduk di sampingnya, tak membiarkannya minum.
Sanubari sempat memberontak ingin mencari minuman sendiri. Namun, usahanya gagal. Beberapa orang mendadak masuk begitu Kelana mengatakan sesuatu sambil menahannya. Akibatnya, tangan dan kaki Sanubari diikat diranjang.
Sanubari memandang Kelana dalam-dalam dengan mimik meminta dikasihani. Ia benar-benar tidak kuasa menahan haus lebih lama lagi. Akan tetapi, tidak ada reaksi dari Kelana. Mengingat Kelana bekerja pada Aeneas, membuat Sanubari semakin kesal. Ia membuang napas kasar lalu memalingkan kepala.
"Paman pasti disuruh papa untuk menghukum ku, ya? Kupikir Paman berpihak padaku. Menyebalkan."
Emosi dalam dada Sanubari bergejolak. Ia sulit melupakan tragedi berdarah malam itu. Entah mengapa, rasanya sulit sekali memberikan kemakluman ataupun maaf. Tubuh Sanubari seperti tersengat sesuatu begitu memikirkan semua itu. Mati-matian ia menahan air mata yang memberontak di pelupuk.
Memang benar Kelana berada di rumah sakit bersama Sanubari atas perintah Aeneas. Namun, tuduhan Sanubari terhadapnya sama sekali tidak benar. Aeneas menyuruh Kelana untuk mewakilinya karena tahu bahwa Sanubari mungkin belum ingin berbicara dengannya. Ia ingin Kelana menjelaskan kebenaran kepada Sanubari dan membujuknya pulang.
__ADS_1
Sanubari mungkin tidak akan mendengarnya jika Aeneas yang berbicara. Namun, lain halnya bila Kelana yang berbicara. Aeneas tahu bagaimana dekatnya Sanubari dengan Kelana. Di masa lalu, Kelana selalu berhasil mempengaruhi Sanubari dan merubah sesuatu yang dibenci menjadi disukai Sanubari. Aeneas yakin Kelana bisa meluluhkan hati Sanubari serta meluruskan kesalah pahaman.
Sejujurnya, ia juga tidak tega melihat Sanubari yang memohon dengan wajah pucat seperti itu. Namun, Kelana memiliki alasan demi kebaikan Sanu bisanubari.
"Kau baru saja operasi. Dokter berpesan untuk tidak memberimu segelas air dalam sekali teguk. Itu membahayakan nyawamu katanya. Sebaiknya tunggu dokter kembali memeriksamu dan bersabarlah! Ayahmu tidak ingin terjadi apa-apa padamu."
"Aku ingin nonton TV."
Sanubari mengalihkan pembicaraan. Satu kalimat itu hampir membuat air mata lolos dari kelopak mata Sanubari, ia menarik napas dalam, menatap televisi berlayar lebar yang belum menyala. Saat ini Sanubari tidak ingin mendengar maupun mengingat tentang ayahnya.
Kelana mengambil remot lalu mencarikan saluran yang cocok dengan Sanubari. Sanubari tidak menjawab meskipun Kelana menanyainya ingin menonton apa. Akhirnya Kelana berhenti di sebuah siaran anime. Kembara sangat menyukai acara itu, Kelana berpikir mungkin Sanubari juga akan menyukainya.
Mereka terdiam selama acara berlangsung. Kelana membiarkan Sanubari menikmati jalannya cerita. Ketika lagu penutup diputar, barulah Kelana angkat bicara. Ia mengatakan penyebab kematian Sanum yang sesungguhmya. Ia juga menjelaskan betapa sayangnya Aeneas terhadap Sanubari.
Kelana benar-benar gemas dengan remaja naif di hadapannya. Bisa ia rasakan sikap keras kepala Aeneas menurun pada Sanubari. Sekali meyakini satu hal, maka akan sulit merobek keyakinan itu.
Hal ini juga yang dikhawatirkan Aeneas. Bahaya jika Sanubari terlanjur meyakini kesalahan sebagai kebenaran. Pun sebaliknya. Oleh karena itu, selama ini pendidikan Sanubari diserahkan kepada Kelana yang memiliki kemampuan komunikasi di atas rata-rata.
"Aw!" Sontak saja Sanubari melirik Kelana yang menyentilnya.
__ADS_1
"Kau ini sudah ditusuk pakai pisau beracun, tetapi masih menganggap penusukmu itu wanita baik-baik?"
"Mungkin saja Zia Ilda sakit hati terhadap perlakuan papa. Jadi, dia melampiaskannya padaku. Aku bisa memakluminya."
Hati Sanubari terlalu polos, dengan mudahnya digiring ke arah yang salah. Ini benar-benar membuat Kelana kerepotan. Untuk ke sekian kalinya Kelana harus memutar otak demi menggeser kekeliruan dari pikiran Sanubari.
"Matilda mungkin memang sakit hati. Tapi, apa kau tahu apa yang membuatnya sakit hati?"
"Tentu karena papa menuduhnya membunuh mamak dan papa menyiksanya. Padahal papa sendiri yang mem—"
"Salah. Dia sakit hati karena gagal menikah dengan Aeneas. Karena itu dia terus berusaha melukaimu, ibumu dan saudara-saudaramu. Dia juga yang membayar orang untuk menculikmu sampai terpisah selama ini dari keluarga. Aku tidak mengada-ngada. Apa yang terlihat baik dimatamu belum tentu baik."
Sebagai asisten pribadi satu-satunya yang terlibat langsung dengan percintaan Aeneas, Kelana tahu banyak hal. Termasuk Aeneas yang hampir menikah dengan Matilda, andaikan ia tidak menemukan keberadaan Sanubari dan Sanum. Kasus-kasus yang menimpa Sanubari dan Sanum pun ia yang menangani. Tidak ada peristiwa yang terlupakan. Kelana menceritakan segala yang ia ketahui sedetail-detailnya. Setelah bercerita panjang lebar, Kelana melembutkan suaranya kembali.
"Renungkanlah mana yang benar menurutmu! Perlu kau ingat bahwa tidak semua orang bisa dipercaya. Tetapi jika kau butuh seseorang yang bisa dipercaya, maka aku akan selalu ada untukmu. Aku tidak akan pernah berbohong kepadamu.," Kelana mengusap kening Sanubari dengan lembut, tersenyum lalu keluar dari kamar rawat itu.
Kini Samubari sendirian dalam kamar rawat luas yang mewah.Dilema melanda hatinya. Ia tidak tahu harus mempercayai matanya sendiri, perkataan Kelana ataukah keterangan Matilda. Jika dipikir-pikir, ia memang tidak melihat kejadian pembunuhan itu dari awal. Ia hanya melihat Aeneas yang memeluk Sanum dalam keadaan bersimbah darah begitu masuk kamar. Itu bukan bukti yang cukup untuk menyalahkan Aeneas.
Bisa jadi Sanum memang sudah meninggal sebelum Aeneas datang. Kemudian, dirinya yang baru masuk ke kamar kebetulan melihat Aeneas yang masuk lebih dulu. Kemungkinan-kemungkinan semacam itu memang bisa saja terjadi.
__ADS_1
"Andaikan aku bisa melihat masa lalu, mungkin tidak akan sulit melihat kebenaran." Sanubari mendengus.
Ia akan sangat menyesal jika salah mencurigai ayahnya sampai membenci seumur hidup. Akan tetapi, ia akan lebih menyesal jika membiarkan pembunuh ibunya begitu saja. Sanubari dipusingkan dengan semua ini. Pikirannya kacau. Ia mengeluhkan keluarganya yang menjadi berantakan. Berulang kali ia protes pada takdir yang menyulitkannya.