
Kamar rumah sakit di Verona menjadi markas sementara para pengungsi dari Negeri Matahari Terbit. Mereka tidak lain adalah, Abrizar, Renji, Sai, Fukai, Hanan, Hana, Anki, dan Eiji. Para anak manusia berbeda kewarganegaraan itu berkumpul di antara dua ranjang. Mereka menggeser kursi dan mencari tempat duduk sendiri-sendiri.
"Sanubari tidak mempunyai saudara," Abrizar dan Eiji menyangkal bersama setelah mendengar Anki.
Keduanya sudah menyelidiki latar belakang Sanubari. Sayangnya, informasi yang mereka peroleh sebatas data yang tercatat negara. Mereka belun tahu bahwa banyak informasi tentang Sanubari yang belum mereka ketahui.
"Tapi, Kak, orang tadi mirip sekali dengan Sanu. Matanya sama-sama hijau. Kulitnya, wajahnya pun sama. Hanya rambutnya saja yang berbeda. Bisa saja salah satu dari mereka mengecat rambut, kan?"
"Bisa jadi itu ayahnya." Eiji terdengar tidak yakin. Dia sendiri masih bingung, apakah yang ditemuinya tadi Gafrillo, atau benar Bari.
"Anki, tadi kau bilang ada orang berjas yang menyeret Sanu, kan?" Abrizar meminta kepastian.
"Iya." Anki refleks mengangguk, meskipun tahu Abrizar tidak bisa melihat.
"Apa di saku jas mereka ada bordiran emblem?"
Pertanyaan Abrizar itu membuat Eiji ikut berpikir. Dia merasa bodoh. Seharusnya, dia memperhatikan pakaian mereka tadi. Dengan begitu, pertanyaan-pertanyaan dalam benaknya mungkin akan terjawab.
Anki membutuhkan waktu sedikit lama untuk berpikir. Dia tampak ragu untuk menjawab, "Sepertinya, ada."
"Aku tidak yakin, tetapi kurasa aku perlu mengatakan ini ...." Abrizar menghela napas. Dia menceritakan tentang Sanubari yang dikejar mafia sebelum bertemu dengannya.
"Maksudmu, ayah Sanu adalah mafia?" tanya Renji yang bersila di atas ranjang sambil memeluk bantal. Begitulah kesimpulan Renji setelah mendengar keterangan Abrizar, Anki, dan Eiji.
"Atau, Sanu diculik karena wajahnya sangat mirip dengan Bos Besar?" tambah Eiji menyampaikan tebakan lain.
"Mana mungkin ada alasan penculikan seperti itu? Dugaanmu itu sama sekali tidak masuk akal, Eiji!" sergah Fukai geleng-geleng.
"Kalian semua yang tidak masuk akal! Aku yakin orang itu adalah kerabat Sanu. Kalaupun benar penjahat, maka kita harus menculik Sanu dari mereka dan membawanya pergi dari sini. Anki pun tidak mau kalah mengutarakan pendapat subjektifnya.
"Ngomong-ngomong soal pergi, itu artinya kita akan segera keluar dari Italia?" Renji mengedarkan pandangan.
__ADS_1
Eiji tampak bingung. Mereka baru saja tiba di tempat ini. Rasanya, melelahkan sekali bila harus pergi secepat itu.
Fukai menyerahkan semuanya pada dua Shiragami. Tugasnya hanya membawa keluar Jepang dan melindungi dua anak ini. Dia akan ikut ke mana pun mereka pergi.
Hana dan Hanan akan ikut ke mana pun Abrizar pergi sesuai amanah orang dtuanya. Sedangkan Sai menjadi pendengar yang baik di antara mereka. Keputusan Eiji adalah keputusannya juga.
Abrizar lekas menyahut, "Tidak perlu. Tempat ini aman untuk kalian. Mereka hanya mengincar Sanu."
"Kalau begitu, kita memang harus pergi," ucap Anki tanpa keraguan.
"Daripada berprasangka tidak jelas seperti itu, bukankah lebih baik kita mengunjungi Sanu? Dengan begitu, kita bisa tahu Sanu bersama keluarganya atau tidak." Sebagai sosok tertua, Fukai memberikan jalan tengah.
Usai diskusi panjang itu, mereka mencapai mufakat. Mereka akan bersama-sama naik ke lantai atas mencari kamar Sanubari.
Sementara itu, Aeneas dan Kelana juga kembali ke atas setelah berbicara dengan dokter. Mereka cukup terkejut ketika melihat lebih banyak orang berdiri di depan kamar Sanubari.
"Kenapa tidak boleh? Bukankah ini masih jam besuk?" Anki bertanya asal-asalan. Dia tidak tahu bagaimana aturan rumah sakit ini. Yang dia yakini, siang hari merupakan waktu yang diperbolehkan untuk menjenguk.
Batinnya tidak bisa menahan untuk berkata, "Jadi, orang tadi benar Gafrillo? Kenapa Sanu bisa sampai berurusan dengan Bos Besar?"
Eiji memandang pintu kamar naratama yang tertutup rapat. Pikiran Eiji berkata, "Tidak mungkin bukan bila seseorang disekap di kamar VIP sebuah rumah sakit, kan?"
Namun, sisi lain hati Eiji berkata, "Tapi kurasa penyekapan itu tidak mengenal tempat. Tapi, untuk apa Gafrillo melakukan ini?"
Eiji tidak melihat sesuatu dari Sanubari yang cukup berharga untuk dijadikan sandera. Setahunya, Gafrillo tidak mendukung perdagangan manusia.
"Maaf, mengganggu. Tapi, Sanubari sekarang sedang istirahat. Belum bisa dijenguk."
Semua orang berbalik badan, melihat pada seseorang yang baru saja berbicara. Itu adalah Kelana yang datang bersama Aeneas. Perhatiannya tertuju pada Anki dan Eiji.
"Wah, tidak kusangka kalian kembali ke sini secepat ini," lanjutnya dengan perhatian terhenti pada Abrizar.
__ADS_1
Kelana tidak menyangka pria tuna netra itu ada di antara mereka. Pun dengan Aeneas. Lelaki Italia itu tersenyum. Putranya membawa sedikit kejutan kecil. Dia bangga, Sanubari telah bisa menemukan teman-teman yang benar-benar peduli.
"Paman, kami ingin tahu kondisi Sanu. Jadi, izinkan kami melihatnya walau hanya sebentar!" Anki memelas.
"Benar, kami mengkhawatirkannya. Apalagi, dia tidak sedang baik-baik saja dalam perjalanan ke mari." Fukai menguatkan permintaan Anki.
"Sanu tidur. Kembalilah nanti!" jawaban Aeneas terdengar sangat singkat.
Seketika, Abrizar terperanjat. Hanya dua kalimat, tetapi cukup untuk mengenali suaranya. Mustahil Abrizar melupakan sosok yang terkadang dia coba hubungi.
"Anda tidak sedang berencana mengancam Sanu untuk berpura-pura, kan?" pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Abrizar ketika merasa gawat bila Sanubari jatuh ke tangan Bos Besar ini.
Dia tidak tahu apa yang akan terjadi kepada Sanubari setelah tertangkap. Abrizar mencemaskannya.
"Untuk apa aku mengancam putraku sendiri?" Aeneas mengangkat sebelah alis. Menurutnya, pertanyaan Abrizar itu terdengar aneh.
Abrizar membeku seketika mendengar jawaban lugas itu. Dia seakan tidak percaya.
"Jadi, selama ini, aku membantu Sanu untuk kabur dari ayahnya sendiri?" pikir Abrizar sedikit ganjil.
Dia ingat nama keluarga Sanubari. Tidak ada tanda-tanda dia berhubungan dengan mafia mana pun. Abrizar pun kembali bertanya, "Siapa nama Anda?"
"Aeneas," begitulah dia memperkenalkan diri. Nama yang hanya dipakai ketika dalam keluarga sendiri.
"Bukankah ayah Sanu bernama Bari?" Eiji ikut mengutarakan rasa penasarannya. Dia tidak kalah terkejut mendengar fakta ini.
"Itu nama pemberian istri Tuan Aeneas. Saya pikir Sanu sudah lupa. Ngomong-ngomong, maaf tadi sempat mengusir kalian," sahut Kelana.
Eiji dan Abrizar merasa canggung. Mereka berada dalam situasi yang sangat aneh. Abrizar yang selama ini berperan sebagai hama di sebuah ladang, nyatanya kini berteman dengan anak pemilik ladang itu sendiri. Itu sebuah pola hubungan yang konyol. Dia sempat mengira Sanubari sebagai burung yang harus dilepaskan dari pemilik ladang.
Tidak berbeda dengan Eiji. Dia malah menjadikan anak dari orang yang diseganinya sebagai bawahan. Setelah mengetahui fakta itu, Eiji tidak bisa lagi berkata-kata. Sanubari bukan lagi sekadar penyelamat. Dia seperti dewa perlindungan yang memang dikirim padanya sebelum semua bencana ini terjadi.
__ADS_1