Santri Famiglia

Santri Famiglia
Menjauh


__ADS_3

Kelana mendadak memasang raut muka panik. Ia baru saja mendapatkan kabar yang hampir membuat jantungnya melompat keluar. Sementara Aeneas di sebelahnya masih belum mengetahui penyebab perubahan drastis ekspresi Kelana. Dari air muka Kelana, Aeneas bisa membaca bahwa ada sesuatu yang tidak beres.


"Ikuti dia! Jangan sampai kehilangan jejak!"


Selesai mengatakan perintah tersebut, Kelana berlari ke atas. Ia tidak tahu bagaimana harus mempertanggungjawabkan ini semua kepada Aeneas andaikan laporan mereka benar. Ia memasuki sebuah kamar diikuti Aeneas.


Pandangan Kelana menyapu seisi ruangan. Kosong—tidak ada siapa pun di kamar. Buku-buku tertata rapi di atas meja, gorden tersibak dan pintu beranda terbuka lebar. Cepat-cepat Kelana memeriksa almari. Barang-barang Sanubari sudah tidak ada.


Aeneas turut mengamati kamar tersebut. Ia masih belum memahami dasar tindakan Kelana. Ia juga tidak tahu kamar siapa yang mereka masuki saat ini.


Berikutnya, Kelana berlari keluar beranda. Ia menyisir pandangan ke kanan dan kiri. Tidak ada benda apa pun yang bisa digunakan untuk membantu turun. Ia mengeratkan pegangan pada pagar pembatas dengan penuh emosi.


"Bagaimana bisa?" gumamnya sambil mengerutkan dahi, "sepertinya aku terlalu meremehkan perkembangan tuan muda."


Kelana tersenyum ironis. Beberapa tahun tidak bersama Sanubari membuatnya seperti tidak mengenal remaja itu dengan baik. Sanubari memang pernah bercerita bahwa dirinya tinggal bersama seorang kakek petani dan cucunya selama lima tahun ini. Namun, Kelana tidak pernah mendengar tentang Sanubari belajar mendarat dengan aman dari ketinggian tanpa alat bantu.

__ADS_1


Seharusnya Kelana menyadari ini. Sejak pertama kali bertemu tujuh tahun silam, Sanubari memang sudah menunjukkan bakat luar biasa dalam bidang olah fisik. Namun, siapa sangka Sanubari bisa memiliki kemampuan semacam ini sekembalinya dari asuhan seorang petani tua.


"Ada apa, Lan? Kenapa kelihatannya kau sangat gelisah?"


Aeneas menyusul Kelana ke beranda. Ia masih bingung dengan situasi saat ini. Sempat terlintas sebuah pemikiran bahwa mungkin saja baru ada pencuri karena sebelumnya Kelana memeriksa almari. Selain itu, terdengar pula bunyi benda jatuh sebelum akhirnya Kelana berlari tergesa memasuki sebuah kamar.


"Maafkan saya, Tuan Aeneas!" Kelana berbalik badan, berlutut penuh penyesalan.


"Maaf? Untuk apa?"


Sebelum Kelana menyelesaikan keterangannya, Aeneas berjalan cepat melewati lelaki itu. Kini ia tahu bahwa bunyi debuman yang membuat Kelana mendadak merubah ekspresi tadi merupakan bunyi Sanubari terjatuh dari lantai dua. Tentu Aeneas sangat mengkhawatirkan keadaan putra sulungnya itu. Matanya dengan gesit bergerak ke sana kemari, memindai halaman rumah Kelana. Namun, Aeneas tidak bisa menemukan Sanubari.


"Tidak ada siapa pun di bawah." Aeneas menurunkan kecemasannya.


Pandangannya masih terarah ke bawah. Dalam balutan temaram lampu tanam, Aeneas bisa melihat tidak ada noda darah di atas rerumputan. Tidak ada pula raga yang tergeletak di bawah sana.

__ADS_1


"Tuan muda Sanu sudah melarikan diri dari sini, tetapi Tuan Aeneas tidak perlu khawatir. Saya sudah meminta mereka yang di bawah untuk membuntuti tuan muda."


Kelana menjawab tanpa berani mengangkat kepala. Ia telah dipercaya untuk mengasuh Sanubari, tetapi malah menunjukkan kelengahan. Kondisi ini membuat batin Kelana berprasangka, "Mungkinkah dia melihat kedatanganku dengan tuan Aeneas?"


Kelana jelas mengetahui alasan Sanubari menghindari Aeneas. Remaja itu masih menunjukkan reaksi tidak senang ketika membahas Aeneas meskipun kesalahpahaman sudah coba ia luruskan. Kejadian hari ini mengingatkan Kelana pada satu hal—Sanubari belum sepenuhnya percaya padanya.


Sikap Sanubari beberapa hari ini nampak lebih tenang dibandingkan waktu menyinggung Aeneas di rumah sakit. Kelana berpikir bahwa Sanubari mungkin saja sudah mulai bisa mencerna kenyataan. Kendati demikian, Kelana belum mempertemukan remaja itu kepada Aeneas karena tidak menutup kemungkinan Sanubari belum bisa membuka hati. Oleh karena itu, Kelana mengajak Aeneas datang malam-malam ketika ayah Sanubari itu berkata ingin menemui putranya.


Kelana berniat membuat Aeneas melihat Sanubari yang terlelap. Kejadian hari ini sungguh di luar prediksinya.


Aeneas terdiam. Tidak pernah terpikir olehnya bahwa sang putra masih mampu berlari setelah terjun dari ketinggian. Ia merasa Sanubari semakin asing baginya. Banyak hal yang tidak ia ketahui tentang putranya sendiri.


Padahal ia hanya ingin hidup tenang bersama keluarga kecilnya, tetapi sang putra pertama malah menjauh. Aeneas hanya memiliki kesempatan dua tahun untuk mengenal Sanubari. Takdir seakan Senang sekali membuat kedua ayah dan anak ini berpisah.


Angan Aeneas menerawang jauh, sementara bibirnya berucap, "Lan, katakan apa yang harus kulakukan supaya dia kembali padaku!"

__ADS_1


__ADS_2