
Sanubari memandang uang sepuluh dolar di tangan. Dia menghela napas panjang. Lantas, pandangannya terdongak, beralih menatap bulan yang menggantung.
"Kenapa hanya diam berdiri? Ayo pulang!" Damiyan menepuk pundak Sanubari. Kata pulang jelas bukan merujuk pada tempat yang saat ini mampir dalam kepala Sanubari, melainkan pondok kecil yang menjadi rumah sementara mereka. Jaraknya tidak jauh dari rumah Kakek Fang.
"Tidak adakah pekerjaan dengan upah lebih besar dari ini?"
"Itu upah minimum di negara ini." Kebohongan terucap lancar dari mulut Damiyan. Dia sudah berbincang dengan Kakek Fang. Sanubari seharusnya digaji 20 dolar per jam dan dia berhak menerima lebih dari itu karena sudah bekerja lebih dari satu jam. Namun, sesuai kesepakatannya dengan Damiyan, Kakek Fang hanya memberi 10 dolar tidak peduli berapa lama Sanubari bekerja.
"Kalau seperti ini, seumur hidup pun aku tidak akan pernah bisa pulang. Satu juta seratus ribu dolar. Coba bayangkan berapa hari itu! Satu juta saja nolnya enam. Dikurangi satu nol dari upah harian jadi 110 ribu hari. Aku tidak tahu lagi berapa tahun itu." Sanubari cemberut.
"Mau bagaimana lagi? Walau kulitmu ajaib, bisa sembuh kurang dari satu hari, tapi biaya pencangkokan kulit, pengobatan infeksi, pemulihan nutrisi, serta perawatan lain memang tidaklah murah. Meskipun begitu, seharusnya kau bersyukur! Lukaku akibat ledakan susulan ketika menyelamatkanmu saja belum pulih."
Mereka berjalan beriringan di jalan desa yang sunyi. Jarak rumah satu dan yang lain cukup jauh. Kanan kiri dan belakang selalu diapit kebun atau sawah. Udara pun terasa menyegarkan tanpa polutan.
Sanubari menoleh pada Damiyan. Otaknya seakan meminta kepastian. Oleh karena itu, dia mencengkeram lengan Damiyan.
Sontak, Damiyan menjerit. "Aw, aw, aw! Apa yang kau lakukan?"
Dia menatap sengit pada Sanubari, sementara tangannya menyingkirkan tangan Sanubari. Luka yang tertekan terasa ngilu. Sedikitnya, Damiyan kesal. Gara-gara Sanubari, pemulihan lukanya bisa saja menjadi lebih lama.
Sanubari tidak menunjukkan air muka bersalah. Dia beralih mencubit, menepuk lengan sendiri, sambil meresapi perkataan Damiyan. Tubuh Sanubari sungguh baik-baik saja, tidak seperti baru mengalami luka parah. Berulang kali, Sanubari memikirkan hal ini.
"Maaf, mungkin aku hanya terlalu khawatir memikirkan hutang tidak masuk akal ini."
__ADS_1
Kekhawatirannya lebih dari itu. Dia telah meninggalkan banyak urusan di Indonesia tanpa kabar, entah bagaimana keberlangsungan Santri Famiglianya setelah ini. Apakah mereka akan membubarkan diri dengan menggilangnya Sanubari? Bagaimana pun, Pioner perintisan tersebut adalah Sanubari. Sekarang, dirinya malah terpisah tanpa tahu kapan akan kembali.
"Yang penting, jangan bertindak ceroboh lagi setelah ini! Itu kalau kau tidak mau hutangmu bertambah banyak lagi!"
Malam bergulir begitu cepat. Pagi-pagi, Sanubari sudah harus kembali ke sawah. Mulai dari mengairi, memupuk, dan menanam bibit baru—semua dilakukan atas bimbingan Alfred si tukang kebun yang pernah memukul Damiyan. Dia istirahat sejenak untuk sarapan yang dikirim Sumi. Kemudian, melanjutkan pekerjaan lain. Pekerjaannya baru selesai sekitar pukul 10. Dia berlari ke rumah Kakek Fang.
Pemilik perkebunan dan persawahan maha luas itu sedang duduk di teras, membonsai pohon jeruk. Lahan yang dimilikinya tidak main luasnya. Dengan duduk bersantai pun pria tua itu tidak akan kekurangan pangan. Semua lahan yang dimilikinya dipercayakan pada para pekerja.
Sanubari mengobrol banyak hal dengan Alfred ketika sedang bertugas. Seluruh warga desa kecil tersebut ternyata menggantungkan kehidupan dari pekerjaan yang diberikan Kakek Fang.
Fakta lain yang tak kalah mengejutkan adalah bahwa desa tersebut dibangun oleh Fang. Dia menampung orang-orang yang kesulitan hidup di kota. Meskipun begitu, penduduk desa belum genap 20 kepala keluarga karena Kakek Fang hanya menerima mereka yang datang meminta perlindungan atau mereka yang ditawari untuk masuk desa. Dia hanya menawari mereka yang benar-benar tidak memiliki apa-apa.
Letaknya lumayan jauh dari perkotaan. Tidak banyak anak muda yang betah menetap. Sebagian besar yang tinggal hanya orang-orang paruh baya ke atas, sementara anak-anak mereka menempuh pendidikan di luar kota.
Perkataan Alfred itu Sanubari catat baik-baik dalam memori. Kakek Fang tidak terdengar sepelit dugaan Sanubari. Pemuda itu mengerti satu hal. Untuk membuktikan cerita Alfred, dia harus mencobanya sendiri. Sanubari harus bekerja lebih giat. Bukan tidak mungkin Sanubari bisa pulang lebih cepat bila keterangan Alfred itu benar.
Sanubari menyapa dengan senyum sumringah, lalu bertanya, "Ada lagi yang harus kukerjakan, Kek?"
"Istirahat saja dulu! Nanti agak siang ikut aku!" Kakek Fang tersenyum. Dia memotong daun tanaman untuk mempercantik tampilan.
Damiyan juga ada di sana. Dia hanya duduk mengamati, lalu bergerak ketika dimintai mengambilkan sesuatu. Pria berambut putih alami itu menjadi satu-satunya pengangguran sejati di antara mereka.
Sanubari melihat-lihat. Banyak sekali bonsai tertata apik di pot, entah itu berjajar di lantai, rak, maupun menggantung. Mereka beraneka ragam. Sebagian besar buah-buahan seperti jeruk, varietas Persik, pir, apel, bunga, dan banyak lagi. Lucunya, buah yang dihasilkan ikutan mini. Sanubari memetik jeruk yang hanya sebesar bola ping pong. Buah kuning itu berkilau menyegarkan diterpa sinar matahari. Sanubari yang baru pulang dari sawah tergoda untuk membasahi kerongkongan dari sarinya. Dia lantas mengupas dan memasukkan semua sekaligus.
__ADS_1
"Manis! Enak pula ditelan dan tanpa biji!" Tanpa sadar, tangannya terulur ke depan, memetik satu lagi jeruk. Dia masih berjongkok di depan pohon yang sama.
Kakek Fang dan Damiyan menoleh. Mereka melihat Sanubari yang sibuk mengupas jeruk. Kulit jeruk berserak di sekitar kakinya.
Damiyan berseru, "Sanu, hutangmu bertambah lagi!"
Menyadari kesalahannya, Sanubari lekas minta maaf. "Aku sudah lancang. Tidak seharusnya aku memetik tanpa izin."
"Bukan cuma memetik, kau bahkan memakannya. Kau harus membayar mahal untuk itu. Itu pohon dengan perawatan khusus loh!" Damiyan tersenyum jahil.
"Maafkan aku! Aku sungguh tidak sengaja!" Sanubari bersujud.
"Tidak apa-apa! Coba saja mana pun yang kau suka! Aku tidak akan menganggapnya sebagai hutang."
"Sungguh? Sanubari mengangkat kepala.
"Ya." Kakek Fang mengangguk.
"Kenapa tidak memasukkan itu ke tagihan hutangnya saja, Kek?" kata Damiyan.
"Dulu kau juga pernah melakukannya. Mau yang waktu itu kutagih?" Kakek Fang terkekeh. Dia memindahkan pohon yang sudah selesai, lalu mengambil tanaman lain. Di hari tuanya, tidak ada kegiatan yang lebih menyenangkan selain merawat tanaman. Ini adalah hari-hari pensiun idamannya—damai, jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Dia tidak kesepian karena ada tetangga serta asisten rumah tangga. Anak dan cucunya juga sering datang di akhir pekan serta hari libur. Keluarganya sudah sering memintanya untuk pindah bersama mereka.
Namun, dia selalu menolak karena tidak suka hidup di kota. Dia ingin mereka yang mengikutinya ke desa. Sayangnya, prinsip itu tidak mencapai titik temu. Alhasil, mereka hanya bisa saling menghargai jalan masing-masing. Kembalinya Damiyan membuat Kakek Fang senang.
__ADS_1