Santri Famiglia

Santri Famiglia
Salah Paham Berakhir


__ADS_3

"Tapi ini memang kenyataan, Sanu."


"Bohong! Kakek pasti berbohong!"


"Aku sendiri yang menguburkan mereka setelah menyelamatkanmu. Dan aku menemukan dua pisau itu ketika membongkar mobil yang kau tumpangi bersama kedua orang tuamu. Aku juga sudah memeriksa pisau tersebut. Sayangnya tidak ada sidik jari yang bisa menuntun kepada pelaku. Sepertinya itu memang bukan piesau biasa. Ada sistem pelacak di dalamnya tetapi sudah kubuang," jelas Canda.


Ia masih mengingat bagaimana kondisi kedua orang tua Sanubari waktu itu meskipun dua tahun telah berlalu. Sanubari bisa menjadi satu-satunya yang selamat itu merupakan sebuah keajaiban. Andaikan hari itu Zunta tidak bermain ke ladang semangka, pastilah Sanubari akan meninggal bersama kedua orang tuanya. Sebab, Canda sendiri tidak berencana menengok ladang semangka. Memanen melon saja sudah cukup melelahkan. Apalagi cuaca hari itu tidak terlalu bagus.


Ia ingin segera pulang setelah mendapatkan berkwintal-kwintal melon. Namun, Zunta malah memaksanya untuk menjemput si Bocah Sekarat. Melon ditinggal begitu saja. Sebagai gantinya ia malah membawa pulang bocah kritis.


Canda mendapatkan pekerjaan besar setelah sekian lama. Memang aneh peristiwa waktu itu. Seharusnya tidak ada mobil yang bisa terperosok sampai ke dasar lembah karena Canda sudah memasang pagar dengan gelombang elektromagnetik untuk berjaga-jaga.


Di atas lembah memang ada jalan tol yang konon katanya merupakan area rawan kecelakaan. Pada meter tertentu, pemerintah memasang pagar jaring untuk mencegah mobil terperosok lebib jauh. Sedangkan beberapa meter setelahnya Canda juga memasang pagar pribadi dikarenakan ia menggunakan area tersebut sebagai lahan pertanian. Canda menelusuri arah datangnya mobil kala itu. Pagar berlapis telah rusak seolah Canda memang ditakdirkan untuk bertemu dengan anak itu.


Meskipun pagar jebol tertubruk mobil tetapi gelombang elektromagnetik masih bekerja sangat baik. Belombang tersebut merusak seluruh komponen listrik yang ada pada mobil. Termasuk sistem pelacak pada dua pisau yang ditemukan Canda.


"Mobil yang kupakai bersama keluarga?"


"Iya, kecelakaan dua tahun lalu yang hampir merenggut nyawamu. Maafkan aku! Waktu itu aku tidak bisa menyelamatkan kedua orang tuamu. Mereka sudah meninggal saat kami tiba. Hanya kau yang kami temukan masih bernapas dalam mobil yang sudah rusak."

__ADS_1


Sanubari menghentikan tangisannya. Sepertinya air matanya sudah salah alamat. Seingatnya, dua tahun yang lalu ia tidak mengalami kecelakaan bersama orang tuanya.


"Kek, aku tidak naik mobil bersama orang tuaku waktu itu," ungkap Sanubari yang masih sesenggukan.


"Mungkin kau mengalami amnesia retrograde. Ada luka benturan keras di kepalamu yang bisa saja membuat ingatanmu terganggu."


Sanubari menggeleng. "Aku masih ingat, Kek. Setelah mengalami kebutaan aku sama sekali tidak bertemu dengan papa dan mamak. Aku mengenali suara mereka. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi banyak sekali suara orang asing. Tangan dan kakiku dirantai lalu aku dibawa berpindah-pindah. Kemudian kecelakaan itu terjadi. Mereka berdua orang asing. Aku tidak mengenal mereka."


Sanubari menceritakan semua yang belum ia katakan selama ini. Termasuk tentang kedua orang tuanya yang sekarang berada di Italia. Canda merasa malu telah salah menyangka dua penculik sebagai orang tua Sanubari.


Canda juga merasa prihatin terhadap Sanubari. Bocah itu ternyata mengalami perjalanan panjang penculikan. Ia juga nyaris berakhir dalam perbudakan.


Canda mengerti perasaan Sanubari. Wajar jika seorang anak ingin berkumpul dengan keluarganya. Dengan tanpa beban, Canda pun mengatakan, "Aku akan mengantarmu pulang."


"Aku bisa pulang sendiri. Kakek cukup beri tahu aku saja jalannya!"


"SANu, kau masih di bawah umur. Tidak mungkin melakukan penerbangan sendiri. Apalagi Chile dan Italia adalah dua negara yang jaraknya sangat jauh."


"Apa? Jadi aku tidak sedang di Italia?" Sanubari terkejut mengetahui hal ini.

__ADS_1


"Iya, ini bukan Italia. Sekarang istirahatlah! Besok kita berangkat ke Santiago. Kita harus mengurus dokumen mu di KBRI terlebih dahulu lalu melakukan pengajuan visa ke kedutaan Italia," pungkas Canda mengakhiri obrolan malam.


Mereka pun memasuki kamar masing-masing. Sanubari tidak sabar menunggu hari esok.


*****


"Kakek, yang ini juga dibawa, ya!" Zunta mengangkat kotak kayu berisi pisau yang kemarin ditinggalkan di atas meja dengan kedua tangannya.


Canda yang sedang berkemas pun menoleh lalu berkata, "Zunta, itu isinya cuma pisau. Untuk apa dibawa-bawa? Bukankah aku menyuruhmu untuk mengambil pakaian? Kenapa malah kotak pisau itu yang kau ambil?"


"Habisnya pisau ini keren. Aku mau menyimpannya."


"Tidak boleh! Pisau itu terlalu tajam untukmu!" larang Canda.


"Tapi, Kek ...."


"Tidak ada tapi-tapian. Cepat ambil pakaianmu sana!" perintah Canda dengan tegas.


Zunta merajuk. Ia berjalan dengan bibir mecucu dengan langkah setengah dihetak-hentakkan. Tanpa sengaja ia menabrak Sanubari yang baru saja datang membawa beberapa setel pakaian.

__ADS_1


"Hati-hati jalannya, Zunta!" tutur Sanubari."


__ADS_2