Santri Famiglia

Santri Famiglia
Investigasi


__ADS_3

"Siapa yang menemukan korban pertama kali?" tanya salah seorang penyidik dari unit investigasi.


"Kalau tidak salah wanita yang bersama pria blonde itu," kata pria yang tadi melempari Sanum dengan pop corn sembari menunjuknya, "dia berisik sekali waktu film sedang berlangsung. Kupikir terbawa suasana karena terlalu menghayati cerita tetapi ternyata memang ada mayat sungguhan di sebelahnya."


Penyidik itu memperhatikan Sanum. Ada bercak darah pada pakaiannya. Untuk saat ini status Sanum memang sebagai saksi. Namun, penyidik itu mencatat namanya sebagai calon tersangka yang patut dicurigai. Pasalnya, dia menjadi orang pertama yang menyadari ada pembunuhan di tengah keramaian. Padahal tidak ada satu pun orang yang mengetahui peristiwa itu.


Akhir-akhir ini sering terjadi kasus dimana tersangka berpura-pura menjadi saksi untuk menutupi kesalahan. Mereka menyiapkan alibi sedemikian rupa guna mengelabui pihak kepolisian. Tentunya hal sedetail ini tidak boleh dilewatkan saat melakukan penyelidikan. Penyidik tersebut kemudian mendekati Sanum guna mengorek informasi.


"Selamat malam! Saya dari tim investigasi kepolisian kota Blitar. Mohon kerjasamanya untuk mengungkap kasus ini. Saya dengar Anda menjadi orang pertama yang menyadari korban telah meregang nyawa. Bisa Anda ceritakan bagaimana awal mulanya?"


"Waktu itu film sedang berlangsung. Tiba-tiba wanita itu bersandar kepada saya. Saya pikir dia ketiduran. Tetapi, kemudian tubuhnya oleng saat saya bergerak. Dia menimpa saya. Sontak saja saya terkejut ketika mendapati luka menganga lebar di lehernya," ungkap Sanum sejujur-jurnya.


Keterangan Sanum tersebut menjelaskan mengapa ada noda darah pada pakaiannya. Penyidik itu kembali bertanya, "Apakah Anda melihat seseorang yang menikamnya atau mungkin saat korban berusaha memberontak ketika menyadari ada orang yang hendak mencelakainya?"


Sanum menggeleng. "Dia tiba-tiba jatuh begitu saja. Tidak ada suara berisik meminta tolong sebelumnya. Saya juga tidak tahu ada orang mendekat."


Para penonton haus konten berkerumun di sekitar mereka. Semuanya memasang telinga baik-baik, tidak ada seorang pun yang ingin ketinggalan informasi sekecil apa pun. Mereka bagaikan reporter yang berlomba-lomba mendapatkan berita utama dengan kualitas terbaik.


Jin juga mencuri dengar sambil menenangkan Sanubari. Sudut matanya sekilas seperti melihat lesatan sesuatu ketika film sedang diputar. Bila dugaannya benar maka ini adalah kasus yang mudah dipecahkan. Dia akan bisa tahu pelakunya sekali lihat barang bukti. Tentunya bila semua ini sesuai dengan apa yang dia pikirkan. Akan tetapi, dia saat ini tidak memiliki kesempatan untuk ikut campur dalam pengungkapan misteri pembunuhan bioskop ini.


Sekarang dia sedang duduk di kursi paling belakang studio tersebut bersama Sanubari. Tugasnya adalah menstabilkan sekaligus menguatkan mental bocah itu. Otak Jin sedang berpikir secara bercabang. Bila Gafrillo memang berniat menjadikan Sanubari sebagai penerus, maka tidak menutup kemungkinan bocah ini akan melihat hal semacam ini tidak hanya satu atau dua kali ke depannya. Bocah ini harus diberi perbekalan sejak dini.


Jika tidak, maka bisa saja kejutan besar akan menghancurkan mental dan kepribadian sang Bocah. Sebelum kejutan itu datang, setidaknya bocah ini harus memiliki presentase kesiapan tidak kurang dari tujuh puluh lima persen. Jin merangkul Sanubari dengan penuh kasih sayang. Ia tahu bahwa tidak seharusnya bocah di bawah umur yang berada di sisinya menyaksikan semua ini.


"Bila kau takut hanya dengan hal semacam ini, maka kau tidak akan bisa menghadapi neraka yang sesungguhnya," mulut Jin memang berkata demikian. Namun, benaknya berkata lain, "sial! Apa yang baru saja kukatakan? Mana mungkin bocah ini mengerti maksud ucapanku. Aku harus mengatakannya dengan cara lain. Argh! Berbicara dengan anak-anak rasanya merepotkan saja. Tapi aku pernah menjadi anak kecil. Aku pasti bisa!"

__ADS_1


"Apa maksud Kak Penculik Baik Hati? Siapa yang mau ke neraka? Kata mamak, neraka itu enggak enak. Sekali pun aku tidak ingin masuk neraka."


"Nah, itu dia maksudku! Bila kau terus menjadi penakut seperti ini, maka kehidupan yang menyengsarakan seperti neraka akan terus mendatangimu. Kau harus menjadi kuat dan berani! Lawan semua yang berpotensi menjadi neraka dalam kehidupan untuk menciptakan dunia indah yang kau inginkan! Hidup ini indah atau buruk, seperti surga atau neraka, semua itu tergantung pada dirimu sendiri. Kaulah yang harus memperjuangkannya sendiri!"


Kata-kata Jin benar-benar menginspirasi Sanubari kecil. Petuahnya itu terkenang dalam memorinya. Mungkin selama ini ia kurang berjuang makanya sampai sekarang belum memiliki teman. Selama ini ia juga tidak pernah berani melawan penindasan Aldin. Karena itu ia sering mendapatkan luka dan harus menahan iri ketika melihat yang lain bisa membeli jajanan. Padahal dia juga ingin tahu bagaimana rasanya jajanan sekolah teetapi Aldin selalu merampas uang sakunya.


Andaikan dirinya bisa lebih berani kala itu, mungkin kecelakaan yang menimpa Aldin tidak akan terjadi, mungkin saja dia masih bisa bersekolah sampai saat ini. Namun, semua itu sudah terlanjur terjadi. Kata andai tidak akan merubah apa pun.


Yang perlu dilakukan adalah menghimpun keberanian baru. Tidak ada lagi yang perlu ditakutkan, seburuk apa pun pemandangan di depan matanya. Karena orang-orang baik satu per satu mulai didatangkan padanya setelah semua masalah yang ada. Sanubari kecil yakin kehidupannya akan membaik.


"Bila kau tidak ingin melihat hal semacam ini lagi ke depannya, maka berantaslah penyebabnya! Jangan malah kau takuti! Satu-satunya yang harus kau takuti adalah ibumu yang cantik itu."


"Kenapa harus mamak?"


"Um." Sanubari mengangguk.


"Sudah merasa baikan?"


"Kurasa ya."


"Baiklah kalau begitu. Ayo kita juga beraksi! Rasa ingin tahuku membara!"


"Rasa ingin tahuku membara!" Sanubari mengimitasi gaya bicara Jin.


Sejak hari ini, Jin menjadi sosok yang selalu dikagumi Sanubari. Ia ingin menjadi seperti Jin. Padahal Sanubari belum mengetahui tentang Jin sepenuhnya. Namun, perlakuan Jin padanya sudah cukup mewakili kesan baik.

__ADS_1


Bergandengan tangan, Jin dan Sanubari mendekati kerumunan. Jin berusaha mendapatkan informasi. Sementara Sanubari hanya mengikuti kemana Jin melangkah.


Sebelumnya Jin dan Sanubari sempat mendekati tempat korban terbunuh. Namun, polisi melarang. Mereka bisa saja tanpa sengaja menghilangkan barang bukti yang berharga bila bermain-main di sana.


Tanpa diminta, si Pelempar Pop corn bersaksi ketika mendengar pertanyaan tentang ada tidaknya orang lain yang mendekati korban yang ditanyakan pada Sanum. Pelempar Pop corn itu duduk di kursi 12E.


"Aku duduk di belakang pria blonde ini. Lebih tepatnya tiga kursi ke kiri dari korban. Aku tidak merasakan adanya kelebat bayangan orang lalu lalang sesaat sebelum wanita ini berteriak," kata pria itu sambil menunjuk Sanum.


"Saya duduk di kursi 9F. Saya lihat lima kursi tepat di belakang dan depan korban kosong. Dua kursi di sebelah kanan korban juga kosong. Tidak ada orang yang menempati beberapa kursi kosong tersebut selama film diputar. Saya juga tidak melihat ada bayangan orang yang berpindah dari tempat duduk masing-masing," sahut seorang wanita.


Kecurigaan penyidik itu terhadap Sanum semakin kuat setelah mendengar keterangan dari beberapa saksi. Namun, dia tidak boleh terburu-buru dalam mengambil kesimpulan. Dia masih perlu menguak beberapa fakta supaya analisanya akurat.


"Apakah Anda pernah memiliki masalah dengan korban?"


"Saya tidak mengenalnya. Tapi wanita itu sempat marah-marah kepada saya karena anak saya menumpahkan minuman padanya."


Keterangan Sanum mengingatkan beberapa orang yang kebetulan melihat peristiwa itu. Mereka mulai bersuara satu per satu.


"Oh, jadi wanita pemarah itu yang mati?"


"Kalau tidak salah dia juga marah-marah dengan mbak penjual tiket di luar, kan?"


"Bukannya dia datang dengan tunangannya?"


"Sepertinya wanita itu terkena karma karena suka marah-marah."

__ADS_1


__ADS_2