
Senja telah berlalu, berganti dengan malam yang masih hidup. Sebuah mobil taksi melaju di jalanan ibu kota berpacu dengan waktu.
Di kursi penumpang, duduk dua pria berkebangsaan tidak sama. Satu berkewarganegaraan Indonesia. Sedangkan satunya lagi berkewarganegaraan Italia. Mereka adalah Aeneas dan Kelana.
Dalam heningnya perjalanan, dering ponsel mengusik. Itu adalah milik Kelana. Dia membuka layar kunci ponselnya lalu memeriksa pesan masuk.
"Signor Aeneas, giovane maestro Sanu ti ha mandato un messaggio."
(Tuan Aeneas, tuan muda Sanu mengirimi Anda pesan.)
"Gli hai comprato un cellulare? Perché non gli dai il mio numero di telefono?"
(Apa kau membelikannya ponsel? Kenapa tidak memberikan nomorku padanya saja?)
"No, non ho dato un telefono cellulare al giovane maestro. È ancora troppo presto perché il giovane maestro abbia il proprio cellulare. Temo che il suo sviluppo sarà compromesso negativamente se il cellulare viene regalato troppo presto. Dopotutto, il giovane maestro ha ancora molto da imparare. Quindi, penso che sia meglio che i telefoni cellulari non siano ancora stati dati in modo che il giovane maestro possa concentrarsi sullo studio."
(Tidak, saya belum memberikan ponsel kepada tuan muda. Masih terlalu dini bagi tuan muda untuk memiliki ponsel sendiri. Saya khawatir pemberian ponsel terlalu awal akan berpengaruh kurang baik terhadap perkembangannya. Lagipula ada banyak hal yang harus dipelajari tuan muda. Jadi, saya pikir lebih baik tidak membelikannya ponsel dulu supaya tuan muda bisa fokus belajar.)
"Allora, come può contattarti?"
(Lalu, bagaimana dia bisa menghubungimu?)
"Sembra che il giovane maestro abbia preso in prestito il cellulare di Jin. Dai un'occhiata a questo!"
(Sepertinya tuan muda meminjam ponsel Jin. Coba lihat ini!)
Kelana memberikan ponselnya kepada Aeneas. Aeneas memperhatikan isi layar ponsel tersebut. Di sana ada pesan dari Jin. Terlampir sebuah foto seorang anak kecil dengan perlengkapan selam berada dalam lautan. Anak itu berenang di sebelah ikan Napoleon yang berukuran jauh lebih besar darinya.
Tertulis juga keterangan di bawah foto yang berbunyi 'Paman Kelana, tunjukkan pesan ini kepada papa dan mamak, ya! Papa, mama look! I'm swimming wit Mr. Napoleon the Great Rare Fish. This is the bigges fish I've ever met. It's even higher from me. I lost from a fish. Hufffft! But this is amazing.'
__ADS_1
(Papa, mama lihat! Aku berenang dengan pak Napoleon si Ikan Raksasa Langka. Ini adalah ikan terbesar yang pernah kutemui. Dia bahkan lebih tinggi dariku. Aku kalah dari seekor ikan. Hufffft! Tapi ini menakjubkan.)
Aeneas tersenyum melihatnya. Masih ada satu foto lagi yang terlampir. Seorang pria yang lebih dewasa mendampingi Sanubari. Mereka berfoto bersama ikan Napoleon dan ikan-ikan kecil lainnya dengan latar terumbu karang warna-warni nan indah.
Di bawahnya tertulis keterangan 'Thanks to kak Penculik Baik Hati who invited me experiencing this wonderful under water scenary. Diving is so exciting! Let's do it together next time!'.
(Terimakasih kepada kak Penculik Baik Hati yang telah mengajakku merasakan pengalaman melihat pemandangan bawah laut yang luar biasa ini. Menyelam sangat mengasyikkan. Lain kali, ayo kita lakukan bersama!)
Sanubari tidak mencantumkan namanya pada pesan tersebut. Namun, gaya bahasa yang digunakan sudah cukup mewakili identitas pengirim pesan.
"Sembra che il giovane maestro abbia ereditato il tuo talento nel nuoto. È molto abile anche se ha imparato solo di recente."
(Sepertinya tuan muda mewarisi bakat berenang Anda. Dia sangat mahir meskipun baru belajar baru-baru ini.)
"Cos'è kak Penculik Baik Hati?"
(Apa itu kak Penculik Baik hati?)
(Oh, itu hanya panggilan yang diberikan tuan muda kepada Jin.)
Taksi yang mereka tumpangi berhenti di depan hotel. Mereka langsung menaiki elevator menuju lantai dua puluh dimana kamar mereka berada. Aeneas mengembalikan ponsel Kelana. Dia meminta Kelana untuk meneruskan pesan dari Sanubari ke ponselnya. Aeneas juga menyuruh Kelana mengirim pesan kepada Jin. Dia ingin Jin segera membawa Sanubari pulang.
Kamar yang mereka tuju adalah kamar Aeneas dan Sanum. Mereka pulang agak malam. Rencananya Aeneas ingin mengajak Sanum makan malam bersama. Oleh karena itu, dia meminta Kelana untuk menghubungi Jin.
Namun, betapa terkejutnya ia ketika memasuki ruangan dan mendapati Sanum yang tergeletak di lantai. Tubuh wanita itu mendingin, denyut nadinya pun melemah. Dengan panik Aeneas memanggil Kelana yang berada di luar.
Kelana segera menghubungi resepsionis hotel untuk menghubungi rumah sakit terdekat. Aeneas membopong Sanum dan membawanya ke lantai dasar. Tak lama, ambulans pun tiba. Sanum dibawa ke instalasi gawat darurat.
Aeneas menunggu dengan cemas di depan ruang IGD. Dia bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Lelaki menyesal telah meninggalkan Sanum sendirian.
__ADS_1
Kelana mendampingi Aeneas. Dia sudah mengirim pesan kepada Jin. Akan tetapi, belum ada balasan dari Jin. Cukup lama mereka menunggu hingga pintu ruang IGD pun dibuka. Aeneas dan Kelana diajak ke ruangan dokter. Mereka melakukan pembicaraan serius.
"Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ada beberapa jenis racun dalam tubuh nyonya Sanum. Saya sudah menetralisasi racun pada tubuh pasien. Tetapi sayangnya peristiwa keracunan ini berdampak pada janin yang dikandung," terang dokter yang menangani Sanum.
*****
Di pantai Tanjung Jumlai.
Jin segera memakai helm dan menyalakan mesin motor. Dia segera menyusul mobil hitam yang baru saja keluar. Dia sangat yakin Sanubari berada di dalam mobil tersebut.
Mobil melaju melewati hutan hinggga akhirnya mencapai jalan raya. Jin masih mengikutinya dari belakang. Dia menghafal plat nomor mobil tersebut untuk berjaga-jaga. Jin tidak ingin kehilangan jejak di tengah keramaian.
"Tolong! Kak Penculik Baik Hati, tolong aku!" Sanubari terus berteriak-teriak di dalam mobil.
"Bising tau tak, Budak?!" kata seseorang yang duduk di kursi depan.
"Aku bukan budak. Aku punya papa sama mamak. Lepaskan aku!" sanggah Sanubari.
"Apa awak cakap, Budak? Budak tetaplah budak," kata orang itu lagi.
"Aku tidak ingin menjadi budak. Lepaskan! Kak Penculik Baik Hati, tolong!" teriak Sanubari lagi.
"Pelik sungguh ini budak. Mane ade penculik baik hati? Awak pikir kami nak lepaskan awak bila awak puji-puji begitu?" kata yang lainnya menertawakan Sanubari.
Mobil berhenti di lampu merah. Jin memanfaatkan kesempatan itu. Jin melajukan motornya di bahu jalan sebelah kiri. Pemuda itu menghentikan motornya tepat di sebelah pintu belakang. Ia mencoba membuka pintu. Namun, pintu terkunci.
"Buka! Cepat buka dan lepaskan bocah itu!" teriak Jin sambil menggedor-gedor kaca mobil
Kaca mobil pun diturunkan. Namun, sebuah moncong pistol ditodongkan tepat ke wajah Jin. Pelatuk ditarik. Bunyi desingan pun menggelegar.
__ADS_1
"Kak Penculik Baik Hati!" teriak Sanubari.
Sanubari spontan memejamkan mata karena terkejut. Jantungnya berdebar-debar. Bocah itu mendadak ketakutan setelah mendengar bunyi letusan senjata api yang memekakkan telinga. Mobil kembali melaju secepat kilat.