
Abrizar dan Sanubari dibangunkan di waktu asar. Walau mata keduanya masih terasa lengket, mereka memaksakan diri untuk bangun beribadah. Selepas salat, Sanubari ingin tidur lagi tetapi perutnya keroncongan. Lelaki Siria yang mendengarnya pun mengajak mereka keluar.
Pengurus masjid Nagoya tersebut bernama Mohammad. Ternyata selain menjadi pengurus masjid, dia juga mengelola sebuah rumah makan halal tidak jauh dari masjid. Rumah makan sedang sepi sore itu, mereka bisa leluasa berbincang.
"Jadi kalian bisa bahasa Indonesia? Kebetulan sekali. Saya dan anak akan mengikuti tes kemampuan bahasa Indonesia. Jika berkenan, maukah kalian menjadi guru kami?" tawar Mohammad.
"Kami bisa saja membantu, tetapi keputusan ada di tangan kak Abrizar," jawab Sanubari.
Ia tahu bahwa dirinya tidak akan memiliki banyak waktu untuk dibagi. Tujuan mereka ke Jepang untuk mencari Shiragami Eiji, bukan bekerja. Di sisi lain, mereka butuh uang karena baru saja kerampokan. Itu pemikiran Sanubari.
"Saya akan membayar," bujuk Mohammad.
"Bisa didiskusikan. Tidak perlu membayar, tetapi bisakah Anda mengizinkan kami untuk tinggal sementara waktu di masjid?"
Sanubari langsung berbisik, "Kakak lupa bekal kita baru saja dirampok? Sisa uang pemberian perampok itu tidak cukup untuk makan dan transportasi. Kita butuh kerjaan."
"Jangan khawatirkan masalah uang! Kita sama sekali tidak kekurangan." Abrizar tersenyum.
Sanubari tidak mengerti jalan pikiran pria ini. Ia hanya bisa mengikuti saran Abrizar yang lebih berpengalaman.
"Kalian bisa menginap di rumah saya dan saya akan tetap membayar jika kalian setuju untuk mengajar." Mohammad serius dengan ucapannya.
Abrizar menerima tawaran itu. Pesanan mereka pun datang. Satu set paket orak-arik udang telur mayo dengan sayuran untuk Abrizar. Tiga mangkok ramen dan samosa untuk Sanubari. Uang sisa dua ratus Yen. Hanya bisa digunakan untuk sekali naik kereta jarak dekat. Sanubari memandangi kembalian itu sebelum mengantonginya.
Selesai makan, Mohammad mengajak mereka ke rumahnya. Jaraknya hanya sekitar tiga menit berjalan kaki. Mereka tidak kemana-mana setelah itu. Mohammad mengenalkan dengan putra-putri kembarnya. Mereka masih kelas tiga SMA, tinggal menunggu beberapa Minggu menuju kelulusan.
Malam harinya, kedua pemuda itu berdiam diri di kamar. Menggelar futon di lantai, Sanubari bersiap untuk tidur. Sedangkan Abrizar duduk bersandar di almari, membuka ponsel.
"Kak, kita besok sudah tidak punya uang untuk sarapan. Baju ganti juga tidak ada," adu Sanubari.
__ADS_1
"Besok kita mampir ambil uang sekalian cari markas Onyoudan."
"Ambil? Dimana? Memang bisa ambil begitu saja?"
"Di banklah. Masak di dompet orang? Sudah, tidur saja duluan kalau ngantuk! Aku masih ada urusan."
*****
Di suatu tempat di Kagoshima.
Sebuah Aifka terlihat sedang membuka resleting tas. Mata majemuknya waspada, mendeteksi keberadaan makhluk hidup.
"Sensor mendeteksi beberapa orang mendekat." Peringatan itu tiba-tiba menyala berulang.
Aifka segera menjauh. Ia menempel pada pohon di dekat bertumpuknya barang-barang, mengkamuflasekan keberadaannya. Dua orang membawa koper dan tas lain, lalu dilempar sembarangan. Tas target Aifka tertimbun.
Aifka menunggu orang-orang itu pergi, lalu beraksi kembali. Ia memindai keberadaan tas target, menyingkirkan satu per satu penghalang, dan menarik sebuah koyak cukup besar dari tas ransel. Bergegas Aifka mengangkat kotak tersebut, membawanya terbang menjauh menembus pekatnya malam.
"Yes, berhasil!" Abrizar mengangkat tangannya, "Akan kucuri lagi barangku yang kalian curi. Kalian boleh saja mengambil baju dan uangku, tapi tidak dengan laptopku."
Abrizar tersenyum simpul. Kemudian, ia teringat dengan jam tangan dan liontin yang mereka berikan di pesawat. Sebenarnya, dia curiga ada sesuatu di dalamnya. Oleh karena itu, ia menyuruh Sanubari untuk tidak membuangnya terlebih dahulu.
Abrizar ingin menyelidikinya. Akan tetapi, dia juga butuh istirahat. Pasalnya, besok mereka harus jalan-jalan. Yang tentunya membutuhkan kebugaran. Lelaki itu pun menunda rencananya.
*****
Kereta pagi begitu padat dengan mereka yang hendak berangkat bekerja. Orang-orang berjubal di pintu keluar, berlomba-lomba untuk keluar lebih dahulu, mengejar waktu. Sanubari berhasil keluar sesaat sebelum pintu menutup kembali.
"Sanu!"
__ADS_1
Panggilan lelaki itu pun tidak sampai ke telinga Sanubari. Suara pengumuman dan bunyi pintu mengaburkan segalanya. Belum lagi masih banyak orang yang berjubal. Abrizar kesulitan melewati mereka. Tidak seperti Sanubari yang dengan lihainya berdesakan, menyelinap menuju pintu terbuka.
Remaja yang dipanggil malah berjalan santai menjauhi peron. "Habis ini kita jalan kemana ya, Kak? Sepertinya aku butuh lihat peta lagi."
Sanubari menoleh, tetapi Abrizar tidak ada. "Loh?"
Ia panik. Sanubari berbalik badan, tetapi Abrizar tetap tidak ada. Kereta mulai berjalan lagi. Sanubari mondar-mandir.
"Bagaimana ini? Bagaimana ini? Kutunggu saja di sini atau kususul, ya? Tapi bagaimana kalau kak ABRI ternyata kembali ke sini, tetapi aku tidak ada?"
Sanubari mengacak-ngacak rambutnya frustasi. Tidak pernah ia sangka dirinya akan terpisah dari Abrizar seperti ini. Tiga puluh menit berlalu, sosok Abrizar tidak juga kembali. Ia sudah memasang mata lebar-lebar, sampai memicingkan mata ke peron seberang. Namun, Abrizar belum jua terlihat. Yang tampak hanya beberapa kereta singgah sejenak daj berlalu. Penumpang pun silih berganti nqik turun kereta.
Kemudian, Sanubari ingat bahwa Abrizar tidak bisa berbahasa Jepang. Pastinya sulit bagi lelaki itu untuk menemukan jalan pulang tanpa bisa melihat dan berkomunikasi. Sanubari pun lekas menyusul. Ia turun di stasiun berikutnya. Abrizar masih saja tidak bisa ditemukan. Sanubari sampai bertanya ke petugas stasiun. Namumn, para petugas tidak ada yang melihat pria dengan ciri-ciri yang dijelaskan Sanubari.
Sanubari berulang kali bolak-balik ke dua stasiun yang sama dengan hasil nihil, sampai akhirnya Sanubari memutuskan untuk mencari di satu per satu stasiun sampai perhentian terakhir.
Sementara itu, Abrizar terjebak dalam kereta, melewati beberapa perhentian. Dia baru bisa keluar setelah kereta lebih sepi. Abrizar melangkah dengan sedikit linglung. Ia duduk di kursi yang ada di peron.
"Tunggu di sini saja, ya? Mungkin Sanubari akan mencariku sampai sini."
Seumur hidup, Abrizar belum pernah menaiki transportasi umum sepadat itu. Ini pengalaman pertamanya menjadi anak hilang. Abrizar malu pada dirinya sendiri. Ia sudah dewasa—dua puluh tiga tahun, bisa-bisanya menjadi anak hilang seperti balita yang terpisah dari ibunya.
Mereka tidak bisa saling komunikasi. Ponsel masing-masing belum diisi kartu SIM lokal. Mereka juga tidak menggunakan layanan roaming.
"Lama!" Abrizar menekan tombol daya.
"Pukul dua belas nol nol," kata ponsel Abrizar.
Begitulah ponsel khusus untuk tunanetra. Semuanya serba bersuara. Bagi tunanetra, telinga adalah mata mereka.
__ADS_1
"Apa boleh buat." Abrizar menghela napas.
Abrizar hanya memiliki satu pilihan. Yaitu, keluar dari stasiun dan mencari WiFi gratis. Ia harus mengunduh peta offline menuju Honjin. Sanubari mungkin akan kembali ke sana jika mereka tidak juga saling bertemu. Namun, Abrizar tidak ingin terburu-buru dalam mengambil langkah. Ini sungguh di luar rencana mereka.