
Dalam gelap perairan, sesuatu bergerak dengan sangat cepat. Saat itu, Kelana tidak tahu bahwa keputusannya turun ke air merupakan kesalahan. Meski kesalahan itu menyelamatkan Aeneas dan Gafrillo, sebuah konsekuensi besar tengah menanti. Konsekuensi itu bergerak lebih cepat dan cepat setiap detiknya, mendekat dari jarak seribu mil.
"Baiklah kalau begitu, mari kita cari jalan ke luar bersama!" Gafrillo berdiri.
Aeneas ikut berdiri. Dia berjalan mengikuti ayahnya. Namun, Kelana lekas mencegah.
"Paman, tadi aku datang dari arah sana!" Kelana menunjuk arah sebaliknya.
Gafrillo berbalik badan, melihat arah yang ditunjuk Kelana. Dengan tersenyum, Gafrillo mengangguk-angguk, lalu berkata, "Kau yang pimpin jalan! Tunjukkan jalan yang kau ingat, Nak!"
Kelana mengangguk. "Ayo!"
Mereka berjalan di tepian lantai rumtuh yang seperti kolam. Aeneas melihat ke bawah. Jauh di dasar kegelapan, sesuatu berkedip padanya. Bocah itu tersentak, tak pelak langsung berlari lintang pukang sampai menabrak Kelana karena terus menoleh ke belakang.
Dia baru saja melihat sesuatu yang sulit dideskripsikan dengan kata-kata. Aeneas takut sesuatu itu akan berenang ke atas, lalu naik ke permukaan. Kemungkinan lebih buruk lagi, andaikata makhluk itu bisa bergerak cepat, kemudian menyerang mereka.
Akibat tabrakan itu, dua bocah itu terjatuh. Kelana yang lebih tersiksa, sudah hidung dan gigi menghantam lantai, tertimpa Aeneas pula.
"Aeneas! Ada apa? Mengapa mendadak berlari seperti itu?" Gafrillo lagi-lagi menoleh ke belakang. Namun, dia tidak bisa menemukan apa-apa, kecuali kesunyian.
Lorong panjang dengan garis hitam memanjang. Pada garis hitam itu, terlihat titik-titik cahaya layaknya bintang di langit. Itu sebatas yang bisa dilihat Gafrillo dan Kelana. Bila tidak ada yang berenang di jarak yang cukup dekat, Kelana pun tidak akan tahu bahwa kerlap-kerlip itu adalah ikan.
Lain halnya dengan Aeneas. Pria itu bisa melihat dengan sangat jelas tanpa harus berusaha keras. Dalam kegelapan yang tak bisa dijangkau mata Kelana dan Gafrillo, benda-benda bisa dia lihat dengan sangat jernih. Penglihatan itu yang kemudian menurun pada Sanubari.
Selain itu, Aeneas mendengar suara yang teramat samar, bukan dari makhluk yang baru saja dilihatnya. Suara itu seolah sangat jauh. Suara seperti gemuruh air, tapi bukan dari ikan-ikan kecil di luar jendela.
Aeneas berdiri. Pandangannya menyapu kegelapan yang tampak lebih terang dalam visinya. Dia berlari ke pinggir. Matanya bergerak ke atas. Ekspresinya mengeras.
Di ujung perairan, jauh di atas sana, tampak besi-besi melintang. Seluas mata memandang, hanya ada benda-benda lain yang belum bisa Aeneas identifikasi selain besi, material tanah, dan bebatuan. Material-material membentuk jalinan, menghampar sangat luas, seakan menutup langit layaknya atap.
"Mungkin Kelana benar." Hati Aeneas mencoba berpikir positif. Yang dilihatnya mungkin hanya atap lantai bawah tanah meski tampak ganjil.
"Kelana, kau tidak apa-apa, Nak?" Gafrillo berjongkok di sebelah Kelana.
Mata Kelana sedikit berair. Dia Duduk sambil melihat benda putih yang baru dia ambil dari mulut. "Gigi saya tanggal satu, tapi saya baik-baik saja."
Dia menoleh pada Aeneas. Bocah itu masih sibuk memperhatikan kegelapan. Hati Kelana bertanya-tanya, "Apa dia bisu? Sudah membuatku jatuh sampai gigi copot, tidak minta maaf pula."
Gafrillo menelusuri arah pandang Kelana. "Maafkan dia! Aeneas hanya tidak memiliki banyak teman. Jadi, dia kurang tahu bagaimana caranya bersikap."
__ADS_1
"Tidak masalah. Kalau begitu, biar saya yang menjadi temannya." Kelana berdiri. Lidahnya mengecap sedikit rasa asin dari darah yang keluar dari gusi. Setidaknya itu tidak menyakitkan.
Kelana berjalan mendekati Aeneas, lalu berdiri di sebelahnya. "Aeneas, kita berteman mulai sekarang, ya!"
Kelana menampilkan senyuman terbaik. Ibunya selalu bilang, "Terkadang, kita perlu mengatakannya untuk memperjelas status. Tidak semua orang bisa mengartikan sikap kita sesuai apa yang kita pikirkan. Tanpa kejelasan, kesalahpahaman bisa terjadi. Tanpa kejelasan, dua manusia tidak akan bisa bersatu. Salah satunya mungkin akan pergi, lalu melupakan karena menganggap yang lain bukanlah sesuatu yang perlu dipikirkan dan ingat."
Untuk itu, Kelana berusaha memperjelas statusnya. Walau hanya pertemanan, itu perlu menurutnya. Lebih baik dilakukan sejak awal daripada kecewa di kemudian hari karena pertemanan bertepuk sebelah tangan. Bukan hanya cinta bertepuk sebelah tangan saja yang bisa memicu sakit hati. Pertemanan pun demikian.
Akan tetapi, Aeneas hanya menoleh tanpa menyambut uluran tangan Kelana. Bocah itu menatap Kelana, tangan yang terulur, lalu Kelana lagi tanpa sepatah kata.
"Ayo, Aeeneas, raih tangannya! Hanya kau pandangi seperti itu, mana tahu Kelana kalau kau mau berteman dengannya."
Lagi-lagi, Gafrillo menjadi mediator di antara mereka. Dia memegang tangan Aeneas, membuatnya berjabatan dengan Kelana.
Begitu banyak pertanyaan dalam benak Kelana. Mengapa Aeneas begitu pendiam, mengapa Aeneas seolah enggan berinteraksi, padahal Gafrillo begitu ramah. Pada akhirnya, Kelana harus menyerah menerka-nerka sementara waktu. Dia fokus mencari jalan yang sebelumnya dilewatinya.
Setiap kali melewati lubang seperti kolam, Aeneas mengintip ke bawah. Makhluk itu masih mengikuti. Dia mempercepat langkah. Aeneas bisa mendengar air yang bergolak di bawah pijakannya. Bersamaan dengan itu, suara lain semakin jelas. Dia menoleh gelisah pada jendela kaca sebelum berbelok.
Sampai akhirnya, Kelana bingung karena ada persimpangan. Dia lupa berbelok di persimpangan ke berapa. Gafrillo beralih memimpin.
"Kita cari elevator saja! Bukankah elevator itu kalau tidak turun, pasti naik?"
"Tempat ini sepi sekali, seperti tidak pernah dihuni." Gafrillo membuka pintu sembarangan.
Sebagian besar berupa kamar-kamar. Namun, dekorasinya memberi nuansa tidak biasa.
"Entahlah, Paman," Kelana mengangkat bahu, "saya juga tidak berjumpa dengan seorang pun sejak tadi."
"Anehnya, semua penerangan menyala walau seperti tidak ada kehidupan di sini." Gafrillo membuka pintu lagi.
Meja-meja panjang tertata rapi di pinggir dan tengah ruangan. Peralatan elektronik yang belum pernah mereka lihat ada di mana-mana. Kelana berlari ke sebuah tabung kaca.
"Aku belum pernah melihat pencampur seperti ini."
Panel di bawah tabung menyala ketika Kelana tepat berada di depannya. Berbagai menu penggilingan terpampang di layar, termasuk pemerasan sari, serta pembersihan otomatis.
"Ini hebat! Yang seperti ini belum ada di negara kita. Di seluruh dunia pun kurasa belum ada. Kita bisa mengumpulkan banyak uang lebih cepat bila menjual barang-barang seperti ini, lalu kita bisa menebus adik dan ibumu, Aeneas! Hm, mari kita lihat adakah sesuatu yang bisa kita gunakan untuk mencatat! Rasanya mustahil membawa semua ini sekarang." Gafrillo melanjutkan penjelajahannya.
Begitu banyak peralatan dapur yang menerapkan sistem otomatisasi. Sensor gerak tertanam pada semua mesin. Setiap kali Gafrillo lewat, mesin berdenting menyala.
__ADS_1
Dia menngoperasikan mesin bistik dan spiedini atau sate. Gafrillo sudah memeriksa kotak bahan. Semua masih bagus, terbekukan sempurna entah berapa lama.
Aeneas mematung di depan almari es. Tangannya menggenggam makanan kaleng. Tatapannya tertuju pada tanggal kadaluarsa yang tercetak.
"2222?" Pikiran Aeneas merasa ganjil pada tahun yang tertera.
Sementara itu, Kelana terkagum-kagum dengan bistik dan sate yang bisa memanggang sendiri. "Kalau seperti ini, koki tidak dibutuhkan lagi."
Gafrillo menemukan benda pipih serupa ponsel pintar. Saat memotret model-model mesin dengan benda itu, layar tiba-tiba diarahkan ke sebuah halaman begitu gambar tersimpan. Halaman tersebut menampilkan kegunaan, sejarah, cara merawat, serta bagaimana membuatnya.
"Benar-benar praktis!" Gafrillo tersenyum puas. Pekerjaannya jadi lebih singkat dari perkiraan. Gafrillo pikir, dirinya harus membongkar peralatan untuk mengetahui cara kerjanya. Namun, benda pipih itu sungguh memudahkannya. Dia tidak membaca secara menyeluruh. Dia hanya melihat sepintas, lalu menyimpannya.
Catatan itulah yang kemudian menjadi materi penting cikal bakal BGA. Pada saat itu, teknologi manusia benar-benar mengalami kemunduran. Teknologi yang ada bahkan tidak lebih baik dari abad 19. Mesin cuci, blender, ponsel pintar bahkan belum ada sejauh yang mereka ketahui. Penemuan di gedung antah berantah itu tentunya menjadi harta berharga bagi Gafrillo.
Perusahaan yang akan Gafrillo dirikan akan menjadi satu-satunya perusahaan elektronik termutakhir di era kekacauan. Dia akan bergerak diam-diam. Karena jika tidak, pihak lain sudah pasti akan menyerang dan menjatuhkannya. Gafrillo sudah memikirkannya matang-matang.
Satu-satunya teknologi tercanggih yang mereka ketahui kala itu hanyalah kapal. Pesawat pun tidak ada kala itu. Padahal, besi terbang itu pernah ada sebelumnya. Setelah melakukan penyelidikan selama bertahun-tahun, barulah Aeneas dan Kelana tahu bagaimana teknologi bisa mendadak musnah hampir seluruhnya.
"Nah, Anak-anak, mari kita makan!" Gafrillo memindahkan bistik dan sate yang siap saji ke meja. Mesin-mesin itu tidak hanya memasak, melainkan juga mempercantik tampilan. Pekerjaannya tidak kalah rapi dari manusia. Selagi Gafrillo menuang susu, Kelana berlari ke meja. Dia mengambil satu kursi, sedangkan Gafrillo menyeret Aeneas.
"Apa kau tidak kedinginan berdiri di depan kulkas sedari tadi?" Gafrillo menggenggam tangan sang putra.
Tangan Aeneas sangat dingin. Gafrillo mengembalikan makanan kaleng yang dipegang Aeneas sebelum menutup dan pergi. Dia mendudukkan Aeneas di sebelah Kelana, sedangkan dia sendiri di depan mereka.
Aroma sedap berputar-putar di sekitar mereka. Gafrillo dan Kelana makan dengan lahap. Namun, Aeneas hanya bergeming.
"Aeneas, makanlah! Perutmu harus diisi. Ini lumayan untuk menghangatkan tubuh," tegur Gafrillo.
Kelana menoleh ke samping. Aeneas hanya memandangi makanannya. Dia diam bak patung. Tangannya tidak bergerak dari bawah meja.
"Ini enak kok. Empuk," kata Kelana.
"Makanlah, Aeneas! Ini aman." bujuk Gafrillo.
Aeneas mengangkat kepala, memandang Gafrillo. Pria itu mengangguk sambil tersenyum dan menyuapkan daging ke mulut sendiri. Akhirnya, Aeneas mau mengambil garpu dan pisaunya.
Kelana merasa ada yang aneh dari Aeneas, tapi tidak ingin memikirkannya terlebih dahulu. Saat Kelana hendak minum susu, Aeneas tiba-tiba menampik tangan Kelana. Susu tumpah. Gelas pun terjatuh dan pecah.
Kelana mendesis. Pukulan Aeneas lumayan menyakitkan. Dia menatap tidak mengerti pada susu yang tercecer. Namun, satu yang Kelana pahami. Bisa Kelana asumsikan dari tindakannya, Aeneas sepertinya tidak ingin berteman dengannya.
__ADS_1