
Sanubari tidak bisa pergi begitu saja setelah memperhatikan struktur bangunan tempatnya berada. Hampir keseluruhan bangunan terkonstruksi dari bahan yang mudah terbakar. Dahulu, waktu masih tinggal di Indonesia, ada tetangga yang rumahnya hangus dilahap api akibat petasan. Petasan yang diproduksi mendadak meledak dan menimbulkan percikan api yang kian membesar.
Mengingat waktu yang dimilikinya sangat singkat, dia tidak bisa menjelaskannya pada Eiji. Berbicara hanya akan membuang waktu dalam kesia-siaan. Dia butuh tindakan nyata saat ini.
Tanpa kata, Sanubari menepis tangan Eiji. Dia berlari duluan, sejenak memindai halaman, lalu berlari ke arah yang berlawanan, menuju halaman kosong.
"Sanu!" teriak Eiji dengan tangan kosong. Tangan kiri yang tadinya mencekal lengan Sanubari, kini meraih udara kosong.
Kakinya terpaku. Dia tidak bisa mengejar Sanubari yang meninggalkannya. Lebih tepatnya, dia tidak mau bunuh diri bersama.
Eiji masih memiliki adik yang membutuhkannya. Dia tidak boleh bertindak gegabah. Matanya masih belum teralihkan dari punggung Sanubari yang menjauh.
"Argh! Sepertinya aku sudah salah merekrut anggota. Bukan hanya tidak paham programming, sepertinya mental anak itu juga agak terganggu," pikir Eiji mengacak rambut risau, "akan merepotkan bekerja sama dengan orang seperti itu. Untungnya, dia tidak mengajak bunuh diri bersama."
"Semoga ada cukup waktu untuk melakukan ini," batin Sanubari sedikit diliputi kecemasan. Jantungnya kian berdentam liar seiring berkurangnya detik.
Sesaat kemudian, dia berhenti. Sanubari memperhatikan angka yang berkedip-kedip berubah. Sembilan detik tersisa. Dia menutup koper. Kemudian, sekuat tenaga melemparnya ke atas.
Eiji memperhatikan dari beranda. Koper melayang tinggi di udara, lalu meledak. Dia tersenyum penuh makna.
"Dasar Bocah!" batin Eiji menyiratkan pujian pada Sanubari.
Koper hancur berkeping-keping, berguguran ke tanah lapang tanpa menyebabkan kerusakan bangunan sedikit pun. Remaja itu juga berhasil kembali ke hadapan Eiji tanpa luka.
"Syukurlah tidak terjadi kebakaran." Sanubari menoleh ke tempatnya melempar bom.
__ADS_1
"Kau tidak perlu melakukan itu."
"Tapi, kasihan Paman pemilik rumah jika sampai kehilangan tempat tinggal."
"Pikirkan dulu dirimu sendiri! Bagaimana jika benda itu meledak di tanganmu sebelum kau sempat melemparnya?"
Sanubari hanya mengangkat bahu sambil berkata, "Yang penting itu tidak terjadi sekarang."
"Lain kali, tidak akan kubiarkan kau melakukan tindakan ceroboh seperti tadi."
Sanubari berbinar mendengarnya. SpontAan, dia menoleh pada Eiji. Dengan ceria, dia bertanya, "Apa itu artinya aku diterima?"
"Setiap orang berhak belajar. Aku akan mengajarimu nanti. Saa, kita lihat saja nanti, apakah kau cocok berada di divisiku atau divisi lain."
"Kumohon jangan tempatkan aku di divisi lain! Aku hanya ingin bekerja bersama Kak Eiji!"
"Syukurlah kalian baik-baik saja." Renji memelankan langkah. Pun dengan yang lain.
Dia melihat Sanubari yang berdiri di bawah dan Eiji yang berdiri di beranda. Orang-orang yang baru datang memperhatikan bangunan. Tidak ada yang rusak. Bekas ledakan pun tidak ada.
"Bunyi ledakan apa tadi? Mengapa tempat ini tidak menjadi puing-puing?" Renji memasuki ruangan, mengamati lokasi lebih cermat.
"Sanu meledakkannya di udara. Tempat ini aman," jawab Eiji tersenyum.
"Udara?" Kouhei mengerutkan dahi.
__ADS_1
Eiji menunjuk satu arah. "Di sana. Dia melempar bom tadi ke atas."
Semua orang memandang arah yang dituju. Tidak banyak yang bisa mereka temukan karena kepingan ledakan terlempar entah ke mana. Shima mengajak mereka masuk kembali. Pelayan juga menyajikan teh dan aneka senbei.
Shima membuka koper emas yang tadi nyaris ikut diledakkan. Dia tersenyum puas. "Kalian bekerja sangat baik! Nanti, akan kuberikan bonus masing-masing untuk kalian.
Eiji, Sai, dan Renji berterima kasih. Sementara Sanubari menggigit senbei bundar yang pinggirannya dilapisi rumput laut. Tiba-tiba, pandangan Shima tertuju pada Sanubari.
"Jadi, kau anak baru?"
"Iya." Sanubari menghentikan gigitannya sejenak.
"Apa hubunganmu dengan bos besar?" Tatapan Shima bertambah tajam. Namun, dia tetap berusaha menampilkan ekspresi ramah.
DiA sepertinya sedang mewaspadai Sanubari. Sejak pertama kali melihatnya, Shima merasa familiar dengan Sanubari. Kali ini pun dia menatap lekat remaja itu, memastikan penglihatannya tidak salah.
Sanubari tampak bingung dan gugup. "Aku ... aku tidak tahu siapa bos besar Onyoudan. Ini kali pertama aku bergabung."
Eiji menyimak dengan seksama. Dia tidak menyangka Shima akan menanyakan hal semacam itu.
Shima menggeleng. "Bukan, maksudku bos besar Gafrillo—raja dari para raja mafia, pemimpin tertinggi L'eterna Volonta yang saat ini bermarkas di Italia. Apa hubunganmu dengannya? Jika dilihat-lihat, kau sangat mirip dengannya."
———©———
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan!
__ADS_1
Semoga hari-hari kalian menyenangkan!
Teman-teman bila ada saran untuk karya ini, jangan sungkan untuk menuliskan di kolom komentar, ya!