
"Kak Eiji mau makan? Kebetulan sudah matang semua ini. Ada kabocha kesukaan kakak juga," tawar Anki yang baru mematikan kompor.
Eiji yang baru keluar dari kamar mandi pun menoleh. Dia berjalan menghampiri meja makan, meskipun mulutnya menolak, "Aku sudah makan."
Lelaki itu mengambil labu goreng dari tempatnya. "Kau masak banyak hari ini."
Anki mengelap area dapur bekasnya memasak, memindahkan perkakas yang belum sempat dibereskan. "Um. Hari ini temanku akan datang. Tapi, aku tidak tahu dia jadi datang atau tidak."
Gadis itu kepikiran tentang Abrizar. Lelaki tunanetra itu biasanya datang bersama Sanubari, walau pada akhirnya keduanya berpisah untuk urusan masing-masing. Akan tetapi, Sanubari yang seharusnya menjadi penuntun jalan malah tidak sadarkan diri di kamar sang kakak sekarang.
Suasana rumah Shiragami selalu tenang saat penghuninya berhenti bercakap-cakap. Gerajakan keran di wastafel puj terdengar sangat jelas. Satu per satu perkakas yang telah selesai dibilas naik ke rak peniris. Yang terakhir meninggalkan air terjun wastafel adalah jemari lentik Anki. Gadis itu mematikan keran, mengelap tangan, lalu berbalik badan.
Eiji mengambil labu keduanya. Dia meniup-niup labu berbalut tepung panir goreng yang masih hangat. "Teman, ya? Laki-laki atau perempuan?"
"Laki-laki." Anki melepas celemeknya.
Eiji terkesiap. Spontan, dia langsung menoleh, membuat bulir-bulir air yang masih menempel di rambutnya terempas. "Pacarmu?"
"Bukan." Gadis itu menggeleng seraya menggantung celemek.
"Anki, kau tidak boleh membawa pria menginap ke rumah jika aku tidak di rumah!"
"Kakak saja hampir tidak pernah ada di rumah, bagaimana aku melakukannya?" Anki tersenyum, berjalan ke arah Eiji yang duduk.
"Anki!" Ekspresi Eiji mengeras.
Pikirannya menjadi rumit. Dia mencemaskan adiknya.
__ADS_1
"Kakak tidak perlu khawatir! Dia itu muslim. Dia tidak akan berbuat macam-macam. Dia bukan kak Ren yang suka usil. Lagipula, Kakak seharusnya tidur saja di rumah kalau mengkhawatirkanku!" Anki berhenti di belakang kursi Eiji.
"Aku sibuk." Eiji kembali menggigit labu di tangan.
Anki meraih handuk yang terkalung di leher Eiji, lalu menggosok-gosokkannya pada rambut pria itu. "Keringkan rambutmu dengan benar!"
"Aku tidak bisa bermanja-manja padamu kalau kulakukan." Eiji terkekeh.
"Dasar Kakak!"
Keduanya saling bercanda sebelum akhirnya Eiji pergi lagi. Lima menit setelahnya, Abrizar datang. Anki cukup terkejut saat membuka pintu dan mendapati Abrizar berdiri di hadapannya.
"Kupikir Kak Abri tidak jadi datang." Gadis itu mengamati halaman di belakang Abrizar.
"Kita sudah sepakat untuk belajar bersama hari ini. Lagipula, tidak ada alasan bagiku untuk membatalkan pertemuan."
"Aku bisa berjalan sendiri. Koordinat rumah ini sudah kusimpan waktu pertama kali kemari. Jadi, aku bisa memanfaatkan fitur navigasi untuk ke sini walau tanpa Sanu."
"Oh, itu keren. Sekarang serba praktis, ya! Teknologi yang diperuntukkan bagi orang berkebutuhan khusus seperti Kak ABRI pun ada."
"Begitulah."
"Ayo masuk!" ajak Anki sambil menggandeng Abrizar.
"Bagaimana kau tahu aku tidak akan bersama Sanu?" tanya Abrizar seraya melepas sepatu.
"Itu ... soalnya, Sanu sedang tidur di kamar kak Eiji."
__ADS_1
"Sanu ada di sini?" tanya Abrizar lagi seakan tidak percaya.
Anki menceritakan apa yang dia ketahui dari kakaknya kepada Abrizar. Tentu lelaki itu marah. Sanubari mendadak hilang tanpa kabar, dihubungi tidak bisa. Begitu ditemukan, remaja itu Mala tak sadarkan diri akibat mabuk-mabukan
Cerita yang didengar dari Anki tidak lengkap. Sehingga, Sanubari terkesan bersenang-senang di mata Abrizar.
Dua jam berlalu begitu saja dan Sanubari masih belum bangun. Kini, Abrizar berdiri di samping ranjang tempat Sanubari terlelap. Anki mengantarnya setelah kegiatan belajar mereka selesai.
"Apakah keputusanku menyetujui ajakannya untuk bekerja sama benar?" batin Abrizar mulai meragukan keputusannya.
Sanubari masih sangat muda. Dia terlihat seperti anak-anak yang masih suka bermain-main bagi Abrizar. Namun, Abrizar terlanjur melibatkan diri sejauh ini.
Kepalang tanggung bila dia mundur sekarang. Sanubari pun pasti tidak akan berhenti mengganggunya bila dia mendadak menarik diri.
Abrizar terus menggoyangkan badan Sanubari sambil berpikir, "Ah, aku pun memulai debutku di usia yang lebih muda darinya. Tidak ada salahnya memberinya kesempatan, bukan? Tapi, aku harus mendidiknya dengan baik supaya dia tidak tersesat. Dunia keras ini terlalu rawan bagi perkembangannya."
Cukup lama Abrizar mencoba membangunkan, tetapi Sanubari hanya mengerang tanpa membuka mata. Abrizar kesal dibuatnya. Lelaki itu pun meninggikan suara seraya mencubit pipi Sanubari. "Bangun! Mandi! Sudah Maghrib!"
Anki yang mendengar, meninggalkan sisi Abrizar. Dengan sigap, dia mengambil celana panjang dan kaos lengan panjang dari almari kakaknya. Setelah itu, dia berkata, "Kak Abri, aku ke bawah dulu menyiapkan untuk mandi Sanu."
"Maaf merepotkan," ucap Abrizar yang melanjutkan membangunkan Sanubari, "Astaga! Anak ini seperti orang yang tidak tidur selama beberapa hari saja."
Abrizar meraba wajah Sanubari. Dia menekan hidung Sanubari hingga kesulitan bernapas.Sanubari membuka mulut sampai tenggorokannya terasa kering. Barulah kedua matanya terbuka lebar.
"Kak ... Kak ABRI? Ampun!"
Melihat sosok, Abrizar, Sanubari mendadak ketakutan. Apalagi menyadari tindakan yang dilakukan Abrizar padanya. Tubuhnya bergetar seolah sedang mengalami mimpi buruk.
__ADS_1
"Ampun! Aku tidak akan membunuh lagi. Aku tidak ingin. Aku tidak sengaja. Aku ... aku ... aku ... jangan balas aku! Jangan bunuh aku sekarang!" racau Sanubari menangis sambil memegangi lengan Abrizar.