Santri Famiglia

Santri Famiglia
Apa Itu Terdesak?


__ADS_3

Nagoya, Honjin, 3 Mei.


Damiyan menurunkan kaca jendela. Hawa dingin seketika menerpa wajahnya. Sanubari telah berdiri di sebelahnya, entah sempat melihat wajah Aeneas atau tidak. Namun, dia berharap kaca berfilm gelap yang menjadi sekat di antara mereka sebelumnya tak bisa ditembus Sanubari.


Dengan tenang, dia bertanya, "Urusanmu sudah selesai?"


"Um, Sanubari mengangguk, "Kak Dami enggak mau turun, istirahat dulu di dalam mungkin?"


"Aku tidak apa-apa. Mau lanjut perjalanan sekarang?"


"Kak Dami serius enggak mau istirahat?"


"Hanya dua jam perjalanan. Itu tak terlalu melelahkan. Naiklah!" Damiyan menggerakkan dagunya ke kiri seraya membuka kunci pintu.


"Oke."


Sanubari berlari kecil ke seberang. Dia duduk kembali ke tempatnya semula. Damiyan menginjak gas setelah Sanubari memasang sabuk pengaman.


Menit-menit pertama mobil dijalankan, Sanubari terdiam. Dia menatap kosong pada lengang aspal di hadapan. Ada rasa tak nyaman yang menyelusup dalam tubuh. Sanubari sendiri tidak mengerti mengapa, tetapi dia mencoba menahannya.


"Maaf, aku tidak bisa menepati janjiku untuk menemani ngobrol," celetuk Sanubari yang langsung menutup mulutnya dengan kepalan tangan. Perasaannya tidak enak ketika dia mencoba berbicara.


"Tidak apa-apa. Tidurlah jika merasa kurang enak badan! Kau tampak pucat dari tadi." Damiyan melirik Sanubari yang menunduk.


Rona wajah remaja itu bahkan tidak lebih baik dari kemarin siang. Damiyan tak tahu apa yang terjadi padanya. Yang jelas, Sanubari tampak lebih rapuh dari biasanya.


Dalam kondisi seperti itu, Sanubari tetap memaksakan diri untuk ke Osaka. Entah apa yang mendasari tindakan Sanubari itu, Damiyan tak habis pikir.

__ADS_1


Sejauh hasil pengupingannya, alasannya adalah, hanya karena ingin memastikan kabar seorang gadis. Hanya karena satu gadis itu, Sanubari rela tidak beristirahat.


"Ayolah! Alasan macam apa itu?" batin Damiyan kembali melirik pada Sanubari.


Remaja itu telah memejamkan mata. Dia menyandarkan pelipis pada kaca.


Saat itu pula, ponsel Damiyan bergetar. Lelaki itu menghela napas. Dengan tetap fokus memperhatikan jalanan, dia menggerutu dalam hati, "Apalagi bos besar yang satu ini—tipikal son complex."


Meskipun begitu, Damiyan tersenyum. Dia tidak pernah menyangka bahwa seorang raja dunia merupakan sosok ayah yang gampang panikan terhadap anaknya. Itu kelemahan terbesar yang baru Damiyan ketahui.


Mudah baginya meruntuhkan kekuasaan Aeneas dengan memanfaatkan Sanubari. Namun, dia dan famiglianya telah bersumpah setia pada Aeneas. Itu tidak akan berubah selamanya.


"Karena itukah aku ditugaskan di sini?"


Damiyan tenggelam dalam pemikirannya sendiri, membayangkan bagaimana bila status Sanubari diketahui publik. Dunia memang aman di bawah kepemimpinan Aeneas.


Sayangnya, sebagian lagi sepertinya bersiap-siap untuk agres1 dan merencanakan penggulingan diam-diam. Menghabisi satu per satu parasit itu merupakan pekerjaan Sampingan Damiyan sebelum dialih tugaskan menjadi pengawal bayangan Sanubari.


Bisa dibilang, karenanya, Damiyan mengetahui wilayah mana saja yang tergolong aman. Sejauh ini, hanya Italia dan Rus1a yang paling kondusif. Apalagi setelah ditekannya Pegagon, tidak ada konflik berarti di Italia.


Kesunyian itu membuat angan Damiyan melayang jauh sepanjang perjalanan. Sampai-sampai, perjalanan ini terasa benar-benar singkat. Tak terasa, mereka telah tiba di Abe no Harukas.


Tega tak tega, Damiyan membangunkan Sanubari di waktu orang-orang seharusnya masih bergumul dengan kasur masing-masing. Itu lebih baik daripada menunggu siang yang mungkin bisa lebih menyulitkan pemuda itu. Mereka berpisah setelah Sanubari mengucapkan terima kasih dan berpamitan.


Damiyan tidak langsung mengikuti. Dia membiarkan Sanubari mencari jalan sendiri untuk memasuki gedung yang belum beraktivitas itu.


Sementara itu, Damiyan meraih ponsel. Dia harus menghubungi balik sang bos sebelum terkena dampratan lebih panjang. Jam ganda di ponselnya menunjukkan pukul dua puluh lebih dua puluh tujuh menit tanggal dua Mei dan pukul tiga lebih dua puluh tujuh menit tanggal tiga Mei. Waktu yang masih pantas untuk menelepon.

__ADS_1


Dia sengaja memasang jam Italia dan Jepang supaya tahu perbedaan waktunya. Dengan begitu, dia tahu kapan harus menelepon dan tidak. Pantang bagi Damiyan menghubungi orang di atas jam sepuluh malam. Kecuali, sang bos yang menghubungi terlebih dahulu.


Nama 'Aeneas B. G.' digantinya menjadi 'Bos Lev' sejak dia memutuskan untuk muncul di hadapan Sanubari. Foto profil yang secara otomatis terpindai pun digantinya dengan gambar pria tua botak dengan pipi gembul dan jenggot putih. Foto yang dicomotnya sembarangan dari dunia Maya.


Itu dilakukannya untuk berjaga-jaga. Dia tidak ingin Sanubari tanpa sengaja melihat voto Aeneas ketika ponsel mereka secara tidak sengaja tertukar, atau Aeneas mendadak menelepon saat dia sedang bermain ponsel.


Nama Kelana pun hanya ditulisnya 'Lan' dan fotonya diubah menjadi balita mencium kucing. Foto gratisan yang lagi-lagi didapatnya dari situs berhak cipta bebas.


Saat panggilan grup ditekan, dua foto asing itu muncul di layar ponsel Damiyan, sampai gambar Aeneas muncul menggantikan foto kakek gembul. Detik itu juga, Damiyan berpikir, "Ah, mungkin aku harus mengaktifkan filter untuk menutupi wajah bos setelah ini. Setidaknya, aku bisa tenang ketika Sanubari mendadak muncul seperti tadi."


Karena Damiyan menggunakan aplikasi khusus, baik Kelana maupun Aeneas tidak sadar bila fotonya diganti. Tampilan foto berbeda itu hanya muncul di ponsel Damiyan. Sebelum Aeneas membuka mulut, Damiyan segera berbicara.


"Maaf Bos, tuan muda tadi menghampiriku. Jadi, panggilan terpaksa kumatikan."


Mendengar pengakuan Damiyan itu, Aeneas mengernyit. Dia mengakui kemampuan Damiyan. Akan tetapi, setelah melihat sikap Damiyan itu entah mengapa Aeneas menyangsikan keputusannya menjadikan pria Rus1a itu sebagai penjaga sang putra.


Melihat tatapan dingin Aeneas itu, Damiyan buru-buru menyambung kalimatnya, "Jangan salah paham dulu! Kali ini, tuan muda benar-benar terdesak ...."


Damiyan menjeda ucapannya. Bagian ini, dia ragu untuk mengatakannya. Entah bagaimana reaksi Aeneas bila dia mengirimkan video Sanubari yang menjerit-jerit seperti orang gila kemarin siang.


"Apa kau benar-benar mengerti apa itu maknanya terdesak? Sepertinya kau harus memeriksa kamus sekali lagi. Kau membiarkannya saat terjepit, tetapi menghampirinya saat tidak terjadi apa-apa?"


Bukan tanpa alasan Aeneas mengatakan itu. Sebelum Damiyan memutus sambungan sepihak tadi, Aeneas sekilas melihat wajah Sanubari dari jendela yang tertutup. Aeneas mengira Damiyan mengajak Sanubari jalan-jalan dengan mobil.


Damiyan menunduk pasrah. Yang dituduhkan Aeneas memang benar, meski tidak semua. Akan tetapi, dia tidak bisa membantah. Setelah mempertimbangkan beberapa aspek, dia lebih memilih untuk menutup mulut atas kondisi Sanubari saat ini.


"Tuan Aeneas, mohon maaf sebelumnya. Berhubung terlanjur begini, bagaimana jika ...."

__ADS_1


Kelana tidak terlihat dalam video, tetapi Damiyan bisa mendengar dengan jelas suaranya yang menyela. Damiyan diam menyimak usulan itu.


__ADS_2