
"Berapa pajak kuburan yang masuk?" tanya wali kota.
"Hanya satu dari lima kematian, Pak," jawab sang sekretaris.
Mereka dalam perjalanan menuju kantor wali kota. Sang sekretaris duduk di depan, berperan sebagai sopir.
"Bukankah kamu menerima laporan harian untuk urusan itu? Apa empat yang lain baru meninggal pagi ini?"
Walikota sedikit was-was karena satu pekan sebelumnya mendapat surat inspeksi. Dia khawatir akan terseret pada masalah yang tidak perlu. Pesan berikutnya tiba, memberitahukan bahwa eksekutor telah tiba di kota yang dia pegang.
Dia sedikit bersyukur bahwa sampai detik ini, para eksekutor tidak datang padanya. Dia berharap mereka tidak akan pernah menemuinya.
"Yang dua sudah sejak satu bulan yang lalu. Sementara yang tiga sekitar dua hari yang lalu. Saya juga tidak tahu kenapa bisa terlambat ini. Apa perlu kita kirimkan surat peringatan, Pak?"
"Tidak perlu. Orang dari atas langsung sudah mulai bergerak. Serahkan saja urusan itu pada mereka!"
Tidak sampai lima belas menit, mereka sampai ke halaman parkir wali kota. Beberapa karyawan mulai berdatangan. Mereka memberi hormat ketika wali kota turun dari mobil.
Walikota tersenyum membalas salam mereka. Dia dan sang sekretaris berjalan berdampingan memasuki gedung. Adapun pegawai yang langsung menyongsong demi memperoleh tanda tangan persetujuan proposal.
Wali kota menyuruhnya datang ke ruangan pada jam yang telah ditentukan. Pegawai itu berlalu setelahnya. Gedung sudah mulai sibuk meski jam efektif kerja baru akan dimulai lima menit lagi. Wali kota berjalan menyusuri koridor bersama sang sekretaris.
Elang melayang-layang di langit. Ketika wali kota memasuki ruangan, ia menukik, menerobos jendela yang terbuka. Kehadirannya membuat sang wali kota terperenyak sampai jatuh dari kursi.
Sang sekretaris pun sama terkejutnya. Apa pun yang ada di atas meja sampai dilempar. Berkas-berkas melayang.
"Keluar! Keluar sana, Burung Besar!"
Dokumen berhamburan di mana-mana, semakin berantakan tertiup angin. Wanita itu mengambil bendel, menimpuk elang yang masih mengepak-ngepakkan sayap dalam ruangan. Namun, benda itu dihindari, lalu mengenai muka wali kota yang berusaha berdiri.
Lekas, wanita itu berkata, "Maaf, Pak! Tidak sengaja."
Si pembuat kekacauan tampak santai. Ia mendarat di meja wali kota. Sementara sang wanita terlalu takut untuk mendekat tanpa senjata. Oleh karena itu, dia mendial nomor ekstensi yang terhubung ke pos keamanan.
"Datang ke kantor wali kota sekarang! Kami butuh bantuan untuk mengusir burung liar yang masuk," pintanya. Mata masih tertuju pada burung, waspada kalau-kalau burung mendadak terbang menyerang.
__ADS_1
Wali kota merapat pada dinding. Tatapan awas pada elang yang mondar-mandir di mejanya. Burung itu menguak-nguak, menjulurkan kaki kanan.
Ketika bunyi derap langkah terdengar masuk, walikota menyadari sesuatu. Dia teringat kenalannya. Namun, satpam datang mengacungkan tongkat.
"Enyah kau dari ruangan ini, Burung Liar!"
Terbang lah elang menghindari pukulan. Tongkat berkelotak menggebrak meja. Kepala satpam bergerak mengikuti burung.
"Aaaah!"
Berteriak lah wali kota karena makhluk bersayap itu bertengger di kepalanya. Cakar terasa kasar menempel pada kening. Burung itu bergerak-gerak.
"Waduh, bagaimana ini? Saya takut melukai Pak Walkot Burhan."
Menolehlah satpam pada sekretaris. Wanita itu hanya mengangkat bahu sambil menggeleng. Mereka sama-sama bingung.
"Tidak perlu mengusirnya dengan kekerasan. Ia bukan musuh. Kalian bantu saja aku menurunkan burung ini dan melepaskan sesuatu yang terikat di kakinya," ucap wali kota hati-hati.
Jantungnya sendiri berdebar cemas, khawatir cakar tajam itu menggores wajah, atau bahkan menusuk mata. Pria penyandang nama Burhan itu memejamkan mata.
"Siap, Pak!"
Sekretaris Burhan berdiri tegang di tempat. Dia seolah sedang menyaksikan adegan penyelamatan manusia dari serangan hewan liar. Itu mengingatkannya pada kasus penyerangan Di kebun binatang yang sering diviralkan.
Begitu tali terlepas, elang langsung terbang lagi. Dengan sendirinya, ia keluar dari ruangan. Semua orang melihatnya. Elang itu semakin mengecil, lalu lenyap sama sekali. Bingkai jendela hanya menyisakan pemandangan kota di bawah langit biru.
Sekretaris Burhan segera kembali ke pekerjaan. Dipungutnya dokumen-dokumen yang berserak.
"Ini, Pak."
Satpam menyerahkan sesuatu yang menggantung di tali. Burhan menerimanya, lalu berterima kasih.
"Tadi itu pasti hanya burung pengirim pesan," ucapnya. Burhan membuka sesuatu yang dibungkus rapi.
"Siapa yang masih menggunakan burung untuk berkirim pesan di zaman seperti ini? Aneh sekali. Zaman lebih mudah kok malah dipersulit dengan kembali ke zaman primitif?" komentar satpam.
__ADS_1
"Adalah pokoknya yang menganggap cara ini masih teraman. Daripada lewat gawai atau sureal yang bisa dibajak. Sudah, kamu kembali ke pekerjaanmu sana!"
Burhan menggerakkan tangan, mengisyaratkan pada satpam supaya segera meninggalkan ruangannya.
Satpam pun pergi. Sementara itu sekretaris Burhan merapikan ruangan sambil memperhatikan atasannya. Lelaki itu senyam-senyum duduk di kursi, membaca selembar kertas. Mirip sekali orang kasmaran.
Akan tetapi, selanjutnya, kertas itu dirobek-robek. Kemudian, Burhan mengambil kertas kosong. Dia menulis sesuatu.
"Ambilkan satu amplop, Lai!" perintahnya kemudian.
Burhan melipat kertas, memasukkannya pada amplop yang diberikan sang sekretaris bernama Laina. Selesai menyegel, dia menulis nama pada amplop.
"Lai, bawa ini ke kepolisian sekarang juga! Serahkan pada orangnya langsung! Jangan menitipkannya pada siapa pun! Mengerti?"
Surat itu berpindah ke tangan Laina. Dia membaca nama yang tertulis, lalu menjawab, "Mengerti, Pak."
Wanita itu mengambil tas. Disimpannya surat sebelum keluar. Burhan tersenyum puas.
"Akhirnya, hari ini tiba juga. Rasakan apa yang dialami keponakanku!"
Andai tidak ingat sedang di kantor, Burhan pasti sudah tertawa lepas. Namun, logikanya masih berjalan. Dia harus menjaga etika di tempat kerja.
Dua kali rencananya gagal. Namun, takdir selalu memberikan kesempatan berikutnya. Burhan senang tiada terkira.
Sementara itu, di desa, Wongso tertawa terbahak, seolah kebahagiaan tertular padanya. Dia baru saja menerima pesan yang merangsang hormon dopamin.
Aldin mengabaikan itu. Dia menonton televisi sambil makan ayam goreng.
[Perang dalam negeri di Jepang akhirnya mulai mereda setelah hampir dua tahun berlangsung. Kedua kubu memutuskan untuk melakukan gencatan senjata dan menandatangani perjanjian damai. Konflik yang selama ini tersembunyi dari mata dunia, hari ini terkuak.]
"Mau hadir di persidangan Sanubari, Din? Bapak baru menerima pesan kalau sidang gelar perkaranya akan segera diadakan. Hukuman yang iberikan pasti akan membuatmu senang," kata Wongso.
"Memangnya kapan itu?" Aldin menoleh dengan mulut penuh.
Jika masih dalam masa liburan, dia akan datang. Kalaupun tidak, dia akan menggeser jadwal kuliah supaya bisa hadir Ke sidang tanpa harus abzsen.
__ADS_1
Sebenarnya, Aldin ingin menemui Jin karena sejak tiba belum sempat berjumpa. Jin sedang keluar ketika dia datang ke rumahnya. Dia ingin ke sana lagi sampai bisa bertemu. Akan tetapi, sulit baginya melewatkan ekspresi Sanubari yang dihakimi. Jadi, dia memutuskan untuk datang.
"Besok."