Santri Famiglia

Santri Famiglia
Kembali


__ADS_3

Ujung tongkat kembali menyentuh permukaan. Berdiri tegap dengan kedua tangan bertumpu pada pegangan tongkat, Abrizar menjadikan benda sepanjang seratus dua puluh centimeter itu layaknya penopang tubuh. Tanpa menghadap ke Anki, lelaki itu menyampaikan tanggapannya, "Apakah kamu sedang berpikir ini tidak masuk akal? Logika itu tak sesederhana atau sedangkal pemikiran manusia. Apa yang kamu anggap tidak logis gisa jadi hanyalah ilmu pengetahuan yang belum kamu ketahui."


Jawaban yang menembus pikiran Anki. Tidak disangka, Abrizar akan memberikan jawaban seperti itu. "Apa maksudnya itu? Apa Kakak sedang berusaha mengalihkan pembicaraan untuk menyamarkan kebohongan?"


Anki tidak mengerti mengapa Abrizar melakukan ini. Padahal, dia sudah menganggapnya sebagai teman. Tanpa berpura-pura pun Anki akan tetap berteman dengannya. Apalagi pria itu telah menjadi guru yang baik baginya.


Abrizar menggeleng. Dia tersenyum menanggapi respons klise seperti ini, tidak peduli mereka baru saja mengalami peristiwa menegangkan. Setidaknya, mereka bisa sedikit bersantai dengan pingsannya para pria pengincar Anki ini.


Abrizar tahu Mitsuki dan Sanubari juga sudah membereskan tiga orang yang ada di gerbong. Dia bisa mendengar percakapan keduanya yang bersembunyi dan berencana membantunya. Dia tidak tahu benda apa yang membuat empat orang pingsan sekaligus, tetapi dia yakin Sanubari yang melakukannya.


"Apa jadinya bila besi dilempar ke atas? Besi akan kembali jatuh ke tanah, bukan? Namun, bagaimana bila logam dirangkai sedemikian rupa menjadi pesawat? Seonggok BEsi itu terbang. Iya, kan? Sebelum pesawat diciptakan, manusia mungkin beranggapan terbang itu mustahil. Namun, setelah penciptaan itu terjadi, apa yang mustahil berubah menjadi mungkin. Begitulah logika manusia. Bisa berubah sewaktu-waktu. Logika akan berkembang seiring bertambahnya pengetahuan manusia. Logika saja tidak cukup dipakai sebagai dasar penilaian."


"Oke. Apa yang tidak kuketahui dari kebutaan sehingga semua ini menjadi logis?"


"Kedua mata kepalaku memang hanya mengenal kegelapan. Namun, itu tidak masalah. Bagiku, seluruh tubuhku adalah mataku."


"Seluruh tubuh?"


"Bukankah kamu sendiri tahu harus menoleh ke mana ketika mendengar suara seseorang tanpa melihatnya sebelumnya, bisa mengikuti aroma untuk mengetahui dari mana aroma itu berasal?"


Anki terdiam. Kalimat-kalimat tersebut memberi petunjuk pada otaknya. Hal-hal kecil dalam aktivitas sehari-hari yang tidak pernah dipikirkannya, tiba-tiba berkelebat begitu saja. Teori Abrizar itu kian terbukti nyata ketika dia secara refleks menoleh setelah mendengar sahutan dari Sanubari.


"Kak Abri ini memang buta. Aku sudah lumayan lama bersamanya."

__ADS_1


Mata Anki tertuju pada Sanubari yang berlari. Dilihatnya pemuda itu berlari, membungkuk, mendekati satu per satu pria bermasker yang tergeletak. Entah apa yang diperiksanya. Dia hanya tahu wajah lelaki itu menyiratkan kelegaan setelah menyentuh raga sambil sesekali menggeleng kala membuka masker.


"Sanu, Mitsuki."


"Ayo segera keluar dari sini! Kita bisa ngobrol sambil jalan," ucap Mitsuki yang berjalan di belakang Sanubari. Dia mendahului semuanya menuju gerbang tiket.


"Kenapa tidak kembali ke kereta lagi saja?" tanya Sanubari. Kali ini, dia berjalan paling belakang.


"Seluruh kereta di stasiun Fushimi kurasa tidak akan beroperasi malam ini. Kita harus mencari kendaraan lain untuk pulang," jawab Mitsuki sambil menempelkan kartu ke pemindai pada gerbang tiket.


Anki mengambil kartu Abrizar ketika lelaki itu mengeluarkannya. "Akan kubantu."


"Terima kasih." Abrizar melewati gerbang setelah menerima kartunya kembali.


"Itu terlalu berisiko dalam kondisi seperti ini," tutur Mitsuki menapaki anak tangga ke atas satu persatu.


Ketukan langkah mereka bergema di lorong yang menanjak. Mendadak Mitsuki berbalik badan. Anki yang tepat di belakangnya mengernyit.


"Ada apa?"


"Cepat kembali ke dalam! Jalan keluar ini dijaga," ucap Mitsuki dengan suara yang dipelankan.


Semua orang berbalik badan. Mitsuki hanya melihat dua orang yang membawa senapan serbu di ujung jalan. Namun, dia yakin ada lebih banyak orang di luar. Akan sangat berbahaya memaksakan diri melewati pasukan bersenjata seperti itu. Terlebih lagi, jenis senapan yang mereka bawa mampu menembakkan banyak peluru dalam waktu singkat dari jarak delapan ratus meter.

__ADS_1


"Ke mana kita harus pergi?" Sanubari yang berbalik berada di posisi paling depan bingung. Dia tak tahu arah.


"Pintu lain," balas Anki yang mendadak tegang kembali.


Dia pikir bisa merasa lega setelah orang-orang tadi dilumpuhkan. Namun, fakta berkata lain. Sepertinya dia tidak akan bisa tenang sebelum sampai rumah.


"Oke." Sanubari memperlambat langkah, sengaja membiarkan Anki mendahuluinya. Gadis itu menggandeng Abrizar sekalipun telah melihat sepak terjangnya.


"Kembali ke kereta Tsurumai Line!" perintah Mitsuki.


"Apa? Bukankah katamu tadi kereta itu tidak akan jalan?" Sanubari mengangkat sebelah alis.


"Itu satu-satunya jalan keluar yang kita miliki. Pintu keluar yang lain pasti juga dijaga. Percayakan semuanya padaku!" ujar Mitsuki tanpa keraguan sedikit pun.


Perputaran arah mereka diketahui penjaga yang baru saja dilihat Mitsuki. Keduanya merasa aneh dengan gelagat Mitsuki yang mendadak berbalik badan bersama seorang gadis dan pria lain. Salah satu dari mereka pun mencoba menghubungi Tarou dan Jirou, tetapi tidak ada jawaban. Orang itu memutuskan untuk menyampaikan ke pasukan di sisi lain, lalu mengajak beberapa rekannya untuk mengejar.


"Tomare!" teriak salah satu pria bermasker menyuruh rombongan Sanubari berhenti.


"Lari!" seru Mitsuki setelah menoleh sesaat.


Enam pria bersenapan serbu sudah berada di ambang tangga terakhir. Melihat reaksi rombongan Mitsuki, kecurigaan para pria bermasker pun menguat. Mereka kian yakin gadis berambut panjang yang bersama mereka adalah Shiragami Anki.


Sanubari, Anki, Abrizar, dan Mitsuki kembali melewati gerbang tiket tanpa melakukan pemindaian kartu. Mereka mengabaikan denging peringatan yang mendadak berbunyi.

__ADS_1


__ADS_2