Santri Famiglia

Santri Famiglia
Ledakan


__ADS_3

Menteri mengintip pada kelopak mata Sanubari yang dibuka paksa Lance. Pertumbuhannya samar, tetapi dia melihat kornea itu membesar. Dia kembali duduk.


Jika pencangkokan organ bisa membuat anak-anaknya memiliki kemampuan regenerasi super, itu akan sangat menguntungkan baginya. Dengan kekuatan itu, dia bisa menggulingkan kekuasaan Labucona dan oposisi, lalu merambah ke dunia. Menteri itu berangan-angan.


Di sisi lain, dokter bawaan menteri bergegas melakukan tes kilat. Dia tampak kebingungan melihat hasil tes. Diulang berapa kali pun hasilnya tetap sama. Tanpa menunda lagi, dia menyampaikan apa yang diperolehnya.


"Golongan darah pemuda itu tidak bisa dideteksi. Ini aneh. Saya baru menjumpai struktur darah seperti ini. Darahnya sama sekali tidak bisa digolongkan menjadi A, B, O, maupun AB. Diperlukan penelitian lebih dalam untuk mengetahui darah macam apa ini."


Mendengar itu, Lance dan Mikki harap-harap cemas. Mereka akan gagal memperoleh tiga juta dolar bila sang dokter sampai mengatakan tubuh Sanubari tidak berguna. Keduanya diam menanti kalimat berikutnya.


Berbagai formula, serum, dan racun telah memaksa gen-gen Sanubari bermutasi untuk mempertahankan hidup. Perubahan itu telah berkembang jauh, sampai golongan darah Sanubari ikut berubah. Prosesnya masih terus berlangsung dari hari ke hari menuju tahap revolusi berikutnya. Entah apa lagi yang akan terjadi setelah ini, sang pemilik tubuh bahkan tidak menyadari perubahan pada raganya.


"Kabar baiknya, darahnya bisa menyatu dengan darah Ellion dan Eliosa tanpa efek samping sedikit pun. Setetes darahnya bahkan meningkatkan kualitas hemoglobin Ellion dan Eliosa," pungkas sang dokter.


Lance tersenyum. Itu hasil yang memuaskan. Tiga juta dolar dapat dipastikan akan jatuh ke tangannya.


"Jadi, dia bisa menjadi donor untuk anakku?" tanya sang menteri.


"Melihat hasil awal yang begitu menakjubkan, kemungkinan untuk itu sangat besar. Mereka berdua bisa jadi akan sembuh total."


Kabar itu membuat sang menteri senang bukan kepalang. Akhirnya, keturunannya bisa diselamatkan. Sejak menikah, dia kesulitan mendapatkan keturunan. Saat putra sulungnya lahir, bayi itu memiliki kelainan jantung.


Selang empat tahun, anak keduanya lahir. Sejak saat itu pula sang menteri dan istri divonis tidak akan bisa memiliki keturunan lagi. Awalnya, mereka lega dengan hadirnya putri kedua. Setidaknya, mereka masih memiliki seorang putri bila putra pertama meninggal.


Namun, nasib buruk masih senantiasa mengikuti mereka. Kesehatan sang putri pun tak sebaik yang diharapkan. Kini, dua bersaudara itu dalam kondisi kritis. Segala upaya dilakukan sang menteri untuk menyelamatkan mereka. Betapa bahagia sang menteri ketika sang dokter akhirnya mengatakan organ Sanubari akan cocok untuk anak-anaknya setelah ratusan calon yang diajukan.


"Jangan lupa untuk membuatnya selalu dalam keadaan tidak sadarkan diri! Jika tidak, dia bisa saja kabur sebelum kalian manfaatkan. Kemampuan bela dirinya lumayan, kecuali kalian memiliki kemampuan di atasnya. Ya, itu terserah kalian," pesan Mikki.


"Terima kasih atas peringatannya," kata sang menteri.


Pria itu langsung menyuruh para ajudan untuk membawa Sanubari. Mereka meninggalkan ruangan terlebih dahulu, sementara Mikki dan Lance masih ditahan di ruangan.

__ADS_1


"Mengapa kita tidak pergi bersama saja?" protes Lance. Dua koper sudah dalam genggamannya.


"Ini namanya etika berbisnis, Sayang," balas si perempuan yang mengantar Mikki dan Lance sebelumnya.


Saat menteri dan rombongannya berbelok. Ledakkan dahsyat terdengar. Kaca-kaca pecah. Lantai yang mereka pijak bergetar hebat.


Mikki, Lance, dan perempuan itu spontan berlari. Sirene kebakaran meraung nyaring. Tak berselang lama, lantai yang mereka tinggalkan runtuh ketika ledakan susulan terdengar. Jalan masuk mereka pun juga runtuh.


"Ikuti aku!" seru si perempuan.


Sontak, Mikki dan Lance menoleh. Mereka berjalan hati-hati di tepian lantai yang rapuh. Lance melihat ke arah jalan masuk sebelumnya. Sanubari dan orang-orang itu menghilang di seberang sana.


Kini, lubang selebar lebih dari 10 meter terbentang antara pijakan mereka dan tempat itu. Mustahil bagi mereka melompat ke seberang. Ledakan sebelumnya pun meruntuhkan lima atau enam lantai di bawah. Jika sampai jatuh, mereka akan mati. Tiga orang itu cukup beruntung tidak terdampak ledakan.


Perempuan itu membuka pintu. Mereka berlari menyusuri lorong mencari elevator. Sayang, benda kotak itu tidak berfungsi. Elevator darurat pun tidak bekerja.


"Sial! Gedung ini telah di sabotase!" Perempuan itu mengumpat, lalu mengajak mereka ke tangga darurat.


"Cari jalan lain!"


"Tangganya runtuh!"


"Jalan buntu!"


Kalimat-kalimat serupa terus dikumandangkan selama beberapa waktu. Beberapa yang telah mencapai ujung dan terdorong orang yang terburu-buru terjatuh. Mereka tewas seketika, sementara yang masih selamat terus berbalik arah.


Mikki menghubungi Lavatera. Dalam keadaan seperti ini, dia tidak akan bisa mengandalkan perempuan tak dikenal untuk menyelamatkan mereka. Lance pun paham itu. Dia berkonsentrasi supaya tidak terpisah dari Mikki.


"Oh, Micchan Sayang, apakah kau bosan hidup? Mengapa malah mendatangi gedung yang hendak dirobohkan?" Wanita itu tertawa di seberang saluran. Bunyi kelebatan kencang menjadi latar yang mengganggu. Namun, Mikki masih bisa menangkap jelas suara wanita itu.


"Nenek sialan! Ini kampung halamanmu. Seharusnya, kau ceritakan kondisinya secara detail! Atau jangan-jangan kau memang ingin menyingkirkan kami karena kami ini laki-laki?" Mikki mendongkol.

__ADS_1


"Salahmu sendiri berbisnis dengan perempuan tanpa tanya-tanya." Wanita itu terkekeh.


"Kita bahas itu nanti! Sekarang, cepat jemput kami di lantai 100 sebelum gedung ini binasa! Awas saja kau, Nenek Lava! Jika aku sampai mati, akan kuhantui kau!"


"Panggil aku kakak! Baru akan kujemput kau."


Suara gadis cilik tiba-tiba menyela, "Mikki, carilah tempat terbuka atau lapang! Kami sedang dalam perjalanan kesana."


"Lili Sayang, kenapa kau bocorkan rencana kita? Seharusnya, biarkan Micchan yang sombong itu memohon-mohon dulu!" sergah Lavatera.


"Tapi, Kak, ini kondisi genting," balas Liuna.


"Liu, kau dengar aku?"


"Iya, Mikki."


"Kami punya masalah di sini. Kami tidak tahu arah mana yang akan membawa kami ke tempat terbuka atau atap."


Mikki dan Lance mberhenti. Mereka menepi supaya tidak tertabrak-tabrak lagi. Kekacauan yang ada membuat mereka terpisah dari perempuan perantara transaksi mereka.


Orang-orang masih banyak yang berlarian. Itu pemandangan tidak terduga di lantai seratus.


Liuna tidak berbicara lagi setelah menyuruhnya menunggu. Lance dan Mikki memutuskan untuk berjalan melawan arus. Kemudian, suara seorang pria terdengar.


"Dua tikungan di depan, berbelok lah ke kanan!"


Mikki dan Lance berlari mengikuti panduan tersebut. Mereka tidak bercakap-cakap. Mikki hanya fokus pada navigasi demi navigasi yang diberikan. Sampai akhirnya, mereka mencapai atap setelah melewati 30 lantai. Mikki mendongak.


Sebuah heli kopter melayang. Helikopter itu menurunkan dua tali tanpa mendarat. Mikki menyambar tali pertama. Sedangkan Lance berpegangan pada tali setelah dengan cekatan mengikat koper. Keduanya bergelantungan.


Helikopter terbang menjauh. Dari atas, mereka bisa melihat beberapa lantai terbakar. Sementara sebagian lagi berguguran ke jalan raya karena ledakan berikutnya. Atap yang mereka tinggalkan tampak mulai miring.

__ADS_1


__ADS_2