Santri Famiglia

Santri Famiglia
Istirahat dengan Tenang


__ADS_3

Malam itu, mereka akhirnya bisa tidur nyenyak. Meski hanya berbaring di kasur rumah sakit, berdelapan dalam satu kamar dengan tempat tidur masing-masing, tetapi mereka bersyukur. Perjuangan menantang maut telah usai.


Eiji dan Hanan mendapatkan perawatan baik atas luka mereka. Entah siapa yang telah mengatur, hingga mereka dikumpulkan dalam satu kamar tidak berpasien. Karenanya, Sai, Renji, Hana, Anki, dan Abrizar yang tidak cidera pun bisa memanfaatkan ranjang kosong.


Malam bergulir sangat cepat, terasa seakan hanya sepemejaman mata. Azan subuh berkumandang dari ponsel Abrizar yang zona waktunya telah disesuaikan. Walaupun berat, tetapi dia memaksakan matanya untuk terbuka. Meraba-raba nakas, dia mengambil ponsel dan mematikan alarm.


"Subuh, ya?" Anki menguap. Dia mengerjap-mengerjapkan mata. Kamar masih remang, cukup nyaman untuk kembali tidur.


Namun, dia teringat dengan kewajiban. Dia pun membangunkan Hana dan Hanan. Bersama-sama, mereka berempat ke kamar mandi.


Sai, Renji, dan Eiji masih terlelap. Sampai selesai beribadah pun ketiganya masih nyenyak. Termasuk Fukai. Karena tidak tahu harus berbuat apa, mereka bertiga pun kembali tidur. Tinggallah Abrizar sendiri yang masih menggelar sajadah, berzikir hingga matahari merangkak naik.


Ketika pagi tiba, sarapan pun diantarkan untuk mereka semua, tanpa terkecuali. Perawat yang mengantar makanan meletakkan jatah masing-masing ke atas nakas, lalu berpesan kepada Abrizar sebelum pergi. Lelaki itu pun lantas menyimpan sajadah dan membangunkan yang lain.


Spageti, kue, roti lapis isi tuna, capcay, salad buah, dan jus menjadi menu sarapan mereka pagi itu. Walau hanya makanan rumah sakit, tetapi sangat kaya rasa.

__ADS_1


"Ini spageti terlezat yang pernah kumakan." Renji memejamkan mata. Dia tenggelam dalam sensasi creamy dari setiap suap yang masuk ke mulutnya.


"Ngomong-ngomong, kamar Sanu di mana, ya?" Anki memutar-mutar garpunya. Dia kepikiran dengannya.


Hanya Sanubari yang tidak bersama mereka sekarang. Semalam, ketika Anki hendak mengikuti para perawat yang membawanya, mereka melarang. Dia hanya bisa melihat Sanubari dibawa pergi bersama pria yang tampaknya mengenal Sanubari dan pria pirang yang sangat mirip dengan Sanubari.


Pria pirang itu kini duduk di kursi, di sebelah ranjang kamar rawat Sanubari. Dia mengusap lembut kepala Sanubari. Sorot matanya tampak sendu menatap Sanubari yang memejamkan mata.


Dadanya menyimpan selangit kerinduan. Namun, dia kurang pandai mengungkapkannya dalam rangkaian kata. Oleh karenanya, kebisuanlah yang tercipta di antara mereka.


Dia rindu celotehan bocah ciliknya yang kini telah beranjak remaja. Dia rindu kehangatan yang senantiasa ditebarkan bocah ciliknya yang pernah menghilang lama.


Vila danau garda telah kehilangan kehidupannya. Sejak kepergian Sanum dan Sanubari, vila itu tidak lagi ditempati. Rumah itu kosong, sekosong hatinya sekarang. Dia ingin anak yang terbaring di hadapan segera bangun, kembali mengisi kekosongan yang ada, kembali menghidupkan hati yang koma.


"Tuan Aeneas, Damiyan sudah tiba. Dia sekarang ada di hotel tidak jauh dari rumah sakit ini." Kelana menatap ponsel pintarnya, membaca pesan yang baru saja masuk dari pria albino.

__ADS_1


Berada di beranda hotel, pria albino itu berdiri menatap rumah sakit yang menjulang. Di tangan kanannya, tergenggam ponsel yang tidak menyala.


Cuaca sangat cerah. Awan-awan putih bergerak perlahan, mengarungi langit biru. Seekor elang yang terbang di atas rumah sakit seumpama ikan terbang.


"Menarik." Damiyan tersenyum.


Jarang-jarang, dia bisa melihat burung raksasa itu terbang di perkotaan. Biasanya hanya merpati, gagak, atau burung kecil lainnya di taman-taman tertentu.


Netra birunya mengunci fokus pada elang yang berputar-putar di gedung rumah sakit. Dia terbang merendah, lalu hinggap di pagar beranda.


Damiyan menyalakan kamera. Diarahkannya lensa pada burung yang bertengger itu. Dengan perbesaran maksimal, dia bisa melihat burung perkasa itu menghadap ke dalam, seolah sedang memperhatikan sesuatu. Ketika Damiyan menekan tombol Shutter, pesan dari Kelana masuk.


Dia membuka pesan itu. Isinya tentang pertemuan akan dilakukan di kantor terdekat. Terlampir pula alamat.


Damiyan berbalik badan, melewati pintu, lalu menggesernya, mengunci sebelum melangkah menyambar jaket jin biru kebanggaannya. Hangat masih bisa dirasakan telapak tangan Damiyan ketika menyentuh kain berjahit itu. Baju-bajunya memang baru saja keluar dari mesin pengering.

__ADS_1


Seperjalanan kemudian, mereka saling berhadapan. Mata Damiyan memandang ke bawah, segelas air merah disuguhkan padanya, seperti saat dia pertama kali menerima misi ini.


"Apa tugasku selesai sampai di sini?"


__ADS_2